
" Momy sakit setelah kepergian mu," ucap Irza lirih sambil mendaratkan dagunya di bahu Valerie.
Mendengar ucapan dari Irza membuat Valerie merasa khawatir. Dia melepaskan tangan Irza yang berada di perut nya dan membalik tubuhnya hingga menghadap kearah Irza.
" Lalu bagaimana dengan sahabat tersayang mu itu?" tanya Valerie sambil menatap lekat mata tajam Irza.
Irza mengerutkan keningnya dan kembali memegang kedua tangan Valerie.
" Dia tidak penting, dan aku tahu semua rencana busuknya yang ingin memisahkan kita. Dan lihat kita sekarang? dia benar-benar berhasil dengan rencana nya karena kau pergi meninggalkanku," sahut irza.
" Jadi ... jika kau tak tahu tentang rencananya, kau tak akan mencari ku, begitu?" sahut Valerie dengan nada dingin nya.
" Bukan seperti itu, Beby. Oke aku memang salah karena aku lebih memperhatikan dia dari pada kau, tapi percayalah itu semua hanya rasa simpati ku pada nya," sahut Irza.
Valerie tersenyum miring dan memalingkan wajahnya, dia juga melepaskan tangan Irza yang memegang tangan nya lalu dia berjalan meninggalkan Irza untuk kembali ke penginapan nya.
" Beby ... maafkan aku!" teriak Irza sambil berjalan di belakang Valerie.
.
.
Kini Irza dan Valerie sudah tiba di penginapan, mereka langsung bergabung dengan Bibik Nuri dan juga Rani yang sedang makan malam bersama.
Valerie hanya fokus dengan makanan nya dan sama sekali tak melihat kearah Irza yang masih menatapnya.
Setelah makan malam selesai, Valerie langsung pergi dari ruang makan dan berjalan kearah kamar nya. Irza terus mengikutinya dari belakang dan tak berbicara apapun.
Valerie langsung masuk kedalam kamar nya dan langsung menutup pintunya saat Irza sudah ada di dekat pintu, dia juga langsung mengunci pintunya hingga membuat Irza tak bisa masuk kedalam kamar nya.
" Huuffft ... sepertinya aku memang harus lebih bersabar menghadapinya. Tapi aku lega karena setidaknya dia aman dan aku tak akan kehilangan dia lagi," gumam Irza yang masih berdiri di depan pintu kamar Valerie.
Lalu dia berbalik dan berjalan menuju kamar yang sudah biasa dia tempati jika sedang menginap di penginapan itu.
.
.
Pagi menjelang.
Valerie sudah tampak sibuk di dapur bersama Bibik Nuri untuk menyiapkan sarapan paginya dan juga pengunjung di penginapan nya.
Tampak Rani baru saja muncul dan bergabung untuk menyiapkan makan pagi bersama.
Valerie hanya tersenyum tipis dan menggeleng kan kepalanya dan berjalan kearah ruang makan untuk menyajikan makanan yang sudah siap di hidangkan.
Rani mendekati Bibik Nuri dan juga menyenggol lengan nya.
" Bibik ... sepertinya kita harus menyusun rencana agar pasangan itu bisa berbaikan. Bukan kah semalam mereka tidak tidur sekamar?" kata Rani dengan suara pelan karena takut jika Valerie mendengar ucapannya.
" Ssstt ... jangan mencampuri urusan rumah tangga seseorang. Apa kau mau jika suatu saat nanti ada seseorang yang mencampuri urusan rumah tangga mu juga?" sahut Bibik Nuri sambil berjalan kesana kemari untuk mengambil beberapa bumbu.
Rani mengikuti langkah kaki Bibik Nuri.
" Tapi Bibik, mereka harus berbaikan dan Valerie harus mau kembali ikut dengan suaminya. Karena Aunty Wilda sedang sakit dan sangat ingin bertemu dengan Valerie," sahut Rani.
" Lalu apa yang bisa kita lakukan agar mereka berbaikan?" tanya Bibik Nuri.
" Nanti akan ku pikirkan."
Pembicaraan itu pun terhenti karena Valerie sudah kembali ke dapur.
.
.
Irza masih di dalam kamar nya, dia masih menghubungi anak buahnya yang akan membawakan pakaian yang sudah dia minta karena dia memang tak membawa apapun selain dompet dan juga ponselnya.
Lalu terdengar ketukan di pintu dan Irza langsung mengakhiri panggilan itu. Dia berjalan menuju pintu dan membuka daun pintu.
" Sarapan sudah disiapkan, Tuan. Ayo kita sarapan makan pagi bersama," kata Bibik Nuri.
" Apakah Valerie juga ada di ruang makan?" tanya Irza.
Bibik Nuri tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu dia pergi dari hadapan Irza.
Irza menutup pintu kamarnya dan berjalan di belakang Bibik Nuri ke ruang makan.
Di ruang makan sudah ada beberapa para pengunjung yang menginap di penginapan Valerie. Mereka makan pagi bersama di ruang makan yang terdapat meja makan panjang disana.
Irza melihat Valerie sudah menyantap makanannya. Dia berjalan mendekati Valerie yang tampak fokus dengan makanan nya dan langsung mengecup kepala nya, lalu dia mengambil posisi duduk di samping Valerie dan mengusap perut buncitnya.
" Makan yang banyak agar mereka sehat di dalam sana," ucap Irza.
Perlakuan manis itu menjadi pusat perhatian di ruangan itu namun tak membuat Valerie menoleh ataupun melihat kearah Irza.