
Kini Gita dan Dimas sedang menuju ke restoran terdekat untuk makan siang bersama.
Wanita itu tampak sedang memikirkan sesuatu. Dia begitu terganggu dengan pesan yang masuk di ponsel sang suami.
" Ada yang kau pikirkan?" tanya Dimas sambil merangkul bahu Gita.
" Tidak," sahut Gita singkat.
" Apa kau lelah? kau terlihat tak bersemangat," kata Dimas menghentikan langkahnya dan menatap wajah sang istri.
" Ya. Mungkin aku hanya kecapean," sahut Gita lemas.
Lalu Dimas berlutut di depan Gita.
" What are you doing, Honey?" tanya Gita.
" Naiklah ke punggung ku. Aku akan menggendong mu," sahut Dimas sambil menepuk punggung nya sendiri.
Wanita itu tampak tersenyum sumringah dan langsung naik ke punggung lebar sang suami.
" Apa aku berat?" tanya Gita dengan wajah yang ada di samping telinga Dimas.
" Tidak. Kau sangat enteng seperti kapas," sahut Dimas yang membuat Gita langsung tertawa.
Dimas berjalan menyusuri trotoar dengan sang istri yang ada di belakang punggung nya.
Jarak dari taman menuju restoran sangat dekat. Jadi tidak sampai 10 menit mereka sudah sampai di depan restoran yang bergaya klasik itu.
" Sudah sampai," kata Dimas menurunkan Gita.
" Tempatnya bagus. Apa makanan nya juga enak?" tanya Gita.
Dimas tak menjawab. Pria itu langsung menggandeng tangan Gita masuk kedalam restoran itu.
Mereka langsung duduk dan memesan makanan. Saat menunggu makanannya datang, Dimas tampak fokus dengan ponselnya.
Gita menatap sang suami yang seperti sedang membalas pesan dari seseorang. Wanita itu mengernyitkan keningnya melihat Dimas.
" Apa yang kau lakukan? Seperti kau sedang sibuk dengan ponsel mu itu," kata Gita.
" Aku hanya membalas email yang masuk, Honey."
" Benarkah?" tanya Gita seolah tak percaya.
Dimas menatap heran pada sang istri.
" Kau tak percaya?" sahut Dimas.
Gita hanya mengangkat kedua bahunya sambil mengalihkan pandangannya.
Lalu makanan mereka pun datang.
Mereka tampak fokus dengan makanannya masing-masing tanpa ada yang bersuara, sampai makan siang itu selesai.
" Kau akan kemana setelah ini?" tanya Dimas.
" Pulang. Aku ingin tidur, aku capek," sahut Gita sambil beranjak dari kursi dan langsung melangkahkan kakinya keluar dari restoran itu.
Dimas menatap heran pada sang istri yang tiba-tiba bertingkah aneh.
.
Kini mereka sudah berada di mansion. Gita langsung merebahkan tubuhnya di ranjang setelah berada di kamar nya.
" Honey ... bersihkan dulu tubuh mu," kata Dimas yang melihat Gita sudah tengkurep di atas ranjang.
" Aku mengantuk. Jangan ganggu aku," sahut Gita lemas.
Dimas menghampiri sang istri dan mengusap lembut puncak kepalanya.
" Tidurlah. Aku akan ke ruang kerja sebentar," kata Dimas lalu mengecup puncak kepala Gita.
Sebelum pria itu keluar dari kamar. Dia menyempatkan diri untuk ke kamar mandi.
Lalu pria itu keluar dari kamar mandi dengan badan yang sudah segar karena habis mandi.
Dimas melihat Gita yang sudah tertidur pulas dengan masih mengenakan sepatu nya.
Pria itu berjongkok dan langsung melepaskan sepatu Gita. Lalu dia membenarkan posisi tidur sang istri dan menutupi tubuh Gita dengan selimut.
Cup
Dimas mengecup kening Gita dan pergi dari ruangan itu.
.
Drt drt drt
Ponsel Wilda berdering. Wanita itu melihat nama Dimas di layar ponselnya dan langsung mengangkat panggilan itu.
" Hallo. Aku Wilda, maaf aku tak jadi menemuimu," kata Wilda.
" Kalau kau tidak sibuk. Bisakah kau menemui ku di cafe xx sekarang?" kata Wilda.
" Ya. Aku akan segera kesana." Dimas langsung menutup sambungan teleponnya dan bergegas pergi dari mansionnya.
.
Wilda menatap kearah jam tangan yang melingkar di tangan nya. Wanita itu pergi meninggalkan sang suami ketika pria itu sudah tertidur pulas di kamar nya.
Dimas tiba di cafe xx. Pria itu langsung masuk dan mencari sosok wanita paruh baya yang sama dengan foto dari ponselnya.
" Apakah anda aunty Wilda?" tanya Dimas pada wanita paruh baya yang tengah mengedarkan pandangannya.
" Apa kau Dimas? suami Anggit?" sahut Wilda balik bertanya.
" Ya. Saya Dimas Ganendra," sahut Dimas mengulurkan tangannya.
" Aku Wilda Prayoga, silahkan duduk," sahut Wilda menjabat tangan Dimas dan mempersilahkan pria itu duduk.
" Kita langsung ke intinya saja. Suami ku, Ardo tidak mau bertemu dengan putri nya. Dia merasa tidak pantas karena dia sudah menyia-nyiakan putri nya itu. Aku masih berusaha keras untuk membujuk nya," kata Wilda menjelaskan.
" Gita belum tahu keberadaan ayah kandungnya. Apakah masih hidup atau sudah mati. Dia tak pernah bertanya ataupun mencari tahu tentang ayah kandungnya. Karena dia berpikir ayah nya tak pernah menginginkan kehadiran nya," sahut Dimas.
" Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Wilda.
" Kita rencanakan pertemuan mereka. Kita buat pertemuan itu seperti pertemuan yang tak di sengaja. Perlahan aku akan memberi tahu pada istri ku tentang ayah kandungnya," kata Dimas.
" Baiklah. Aku akan berusaha untuk meyakinkan suamiku agar mau menemui putri nya. Sungguh, dia sangat bahagia saat mendengar kabar bahwa dia memiliki seorang putri," kata Wilda sendu.
" Ya. Ku harap pertemuan mereka nanti bisa membuat mereka dekat layaknya ayah dengan putrinya. Istri ku berhak mengetahui siapa ayah kandungnya," kata Dimas.
Setelah kurang lebih mereka mengobrol. Akhirnya mereka berpisah dan kembali ke mansionnya masing-masing.
.
.
" Beby ... kau belum selesai?" tanya Dev membuka pintu ruangan sang istri.
" Beby ...." Zea langsung bangkit dari kursinya dan menghampiri sang suami yang berdiri di ambang pintu.
Wanita itu langsung memeluk tubuh tegap Dev. Pria itu membalas pelukan itu sambil mengangkat tubuh Zea dan berjalan kearah sofa.
Mereka masih berpelukan lama. Seakan sudah lama terpisah dan tak ingin melepaskan pelukannya.
" Sampai kapan kau akan memeluk ku?" tanya Dev dalam pelukan itu.
" Entahlah. Aku hanya ingin seperti ini," sahut Zea lirih.
Lalu Dev melepaskan pelukannya. Pria itu menangkup wajah sang istri dan mengecup keningnya.
" Aku merindukan suara seksi mu," bisik Dev yang membuat Zea tertawa kecil.
Wanita itu melepaskan tangan Dev yang berada di pipinya dan berjalan kearah pintu.
Zea menutup pintu ruangan nya dan mengunci nya.
Dev tersenyum smirk melihat sang istri yang telah mengunci pintu nya dan dia bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
Zea berlari kecil kearah Dev dan langsung melompat kedalam pelukan sang suami dengan melingkar kan kakinya di pinggang Dev layaknya anak kecil.
Wanita itu langsung memagut bibir sang suami dengan penuh gairah hingga Dev kewalahan membalas ciuman sang istri.
Pria itu melangkah kakinya menuju kamar pribadi Zea yang ada di pojok ruangan nya. Dengan bibir yang masih saling bertautan.
Dev mendudukkan tubuh Zea di ranjang yang ada di kamar itu tanpa melepas pagutannya.
Pria itu perlahan membaringkan tubuh sang istri dan langsung membuka semua kain yang menempel di tubuhnya.
Tangan Zea tak tinggal diam. Wanita itu membuka satu persatu kancing kemeja Dev dan langsung melepaskan kemeja itu dari tubuh kekar sang suami.
Lalu Zea meraba punggung kokoh suaminya. Hingga pria itu merasa gairah nya terpancing.
Wanita itu membalik tubuh sang suami hingga posisi mereka kini berbalik.
Zea yang kini berada di atas tubuh kekar Dev dan langsung menelusuri tubuh pria seksi itu dengan kecupan nya.
" Beby ... kau terlihat sangat liar sekali," kata Dev yang mulai kewalahan menghadapi gairah sang istri.
" Entahlah ... Aku hanya ingin menikmati tubuh kekar suamiku," sahut Zea dengan senyum menggoda.
" I love you," kata Dev sambil memijat lembut dada sang istri.
Zea mulai bergerak liar di atas tubuh sang suami. Pria itu bergerak seirama sambil membantu Zea agar lebih cepat bergerak dengan memegang pinggul nya.
Tangan Zea menyibakkan rambutnya yang tergerai indah dan itu terlihat begitu seksi di mata Dev dengan benda bulat yang menari Indah di hadapan nya.
Lalu Dev bangkit dan memagut benda bulat itu sembari memijat lembut benda itu dengan tangan nya.
Lenguhan demi lenguhan terdekat di kamar itu. Cukup lama mereka bergulat di atas ranjang dengan mencoba berbagai posisi hingga akhirnya mereka mendapatkan puncaknya bersama-sama.