My Lovely Girl

My Lovely Girl
S2 Valerie - Irza 6



Valerie melanjutkan langkahnya menuju ruang perawatan adiknya. Dia baru saja dari ruangan dokter yang menangani Lenski.


Kondisi Lenski saat ini sudah stabil dan sudah melewati masa kritisnya. Bahkan Lenski sudah di pindahkan ke kamar perawatan VVIP di rumah sakit itu.


CEKLEK


Valerie membuka pintu dengan perlahan. Dia melihat kearah ranjang yang sudah ada Lenski sedang terbaring disana.


Wanita itu melangkah kan kakinya masuk dan menutup pintunya. Dia berjalan kearah ranjang dan duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang.


Valerie mengangkat tangan nya perlahan dan mendarat kan di kepala Lenski. Dia mengusap puncak kepala sang adik yang masih memejamkan matanya.


Lenski merasakan sentuhan lembut di puncak kepalanya. Dia membuka perlahan matanya dan mengerjapkan matanya.


Valerie tersenyum saat melihat adiknya yang sudah membuka matanya.


" Kakak ..." lirih Lenski.


" Ya ... apa ada yang sakit? katakan pada kakak dan kakak akan memanggil kan dokter," kata Valerie dengan suara lembutnya.


" Tidak."


Anak itu terus menatap kearah wajah cantik sang kakak.


" Ada apa? kenapa melihat ku seperti itu?" tanya Valerie dengan tangan yang masih tetap mengusap puncak kepala Lenski.


" Dari mana Kakak mendapatkan uang untuk biaya operasi ku? dan kamar ini?" tanya Lenski tak habis pikir.


Dia masih mengingat saat dirinya mendengar rencana sang kakak yang ingin menjual tubuh nya demi mendapatkan uang untuk biaya operasi nya.


Valerie tak menjawab dia hanya tersenyum pada Lenski.


" Jika kakak mendapatkan uang dari hasil menjual diri kakak. Maka aku tidak akan bisa hidup dengan tenang. Bahkan aku lebih memilih untuk menyusul Mom and Dad dari pada harus melihat kakak bekerja seperti itu," ucap Lenski yang cukup membuat Valerie tertegun mendengar nya.


" Tidak. Kakak tidak mendapatkan uang dari pekerjaan itu," sahut Valerie tersenyum.


" Lalu?" tanya Lenski.


" Kakak bertemu dengan seorang pria kaya yang baik hati. Dia membiayai semua pengobatan mu," sahut Valerie.


Lenski tampak mengerutkan keningnya seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kakak nya itu.


" Masih adakah manusia sebaik itu di muka bumi ini?" tanya Lenski.


Anak itu masih tak percaya. Lenski memang masih berusia 10 tahun, namun dia memiliki sifat yang sudah dewasa karena keadaan. Dia bahkan sering membantu kakak nya dalam mencari uang dengan menjadi tukang semir sepatu di pinggir jalan jika sudah pulang sekolah.


Namun karena kesehatan nya yang kembali menurun. Dia tak lagi bisa bekerja dan bahkan bersekolah.


Valerie menatap wajah pucat Lenski dan mengangguk cepat.


" Kau tak percaya?" tanya Valerie.


" Aku tidak yakin, jika belum melihat orang nya," sahut Lenski.


Anak itu hanya menganggukkan kepalanya. Dan Valerie baru tersadar kalau pria itu tak tahu dimana kamar perawatan Lenski.


' Tapi mungkin dia akan bertanya pada perawat, Bukan?' batin Valerie saat memikirkan pria itu.


.


.


Sementara di dalam ruang perawatan Ardo. Semua masih berkumpul disana dan sedang menikmati sarapan pagi nya bersama.


Gita dengan telaten menyuapi sang daddy yang terlihat lemah diatas ranjang.


Wanita itu berusaha keras untuk tak terlihat sedih di depan Ardo. Dia mengingat ucapan dari dokter.


" Cukup, sayang. Aku sudah merasa kenyang," ucap Ardo lirih.


Gita tersenyum dan meletakkan piring di meja dekat ranjang.


" Baiklah. Daddy minum dulu, dan setelah ini daddy harus minum obat," kata Gita menyodorkan gelas berisi air putih ke mulut pucat Ardo.


Pria paruh baya itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu meminum perlahan air nya.


Setelah selesai memberikan obat pada Ardo. Gita meletakkan kembali gelas nya di meja.


Lalu dia mengusap lembut tangan Ardo. Dia juga menciumi punggung tangan nya.


" Ada yang kau pikirkan, sayang?" tanya Ardo saat melihat Gita menyandarkan tangan Ardo ke wajah nya.


" Tidak. Aku hanya ingin menghabiskan waktu ku dengan daddy," sahut Gita tersenyum kaku.


" Daddy baik-baik saja, jika itu yang kau khawatir kan," sahut Ardo dengan suara lemah nya.


Gita mengangguk kan kepalanya cepat sambil terus mencium punggung tangan Ardo.


" Aku tahu daddy akan selalu baik-baik saja, dan aku akan selalu menemani daddy," kata Gita.


Lalu Ardo melirik kearah Irza. Pria itu baru menghabiskan makanannya dan kini sedang meminum air mineral nya.


" Bagaimana dengan permintaan daddy, Ir?"


" Uhukk ... uhukk."


Pria itu langsung tersedak mendengar perkataan dari sang daddy.


Semua tampak menoleh pada Irza dengan kening yang berkerut.


" Kakek ... aku tadi melihat uncle sedang tertidur dengan seorang wanita cantik di lorong rumah sakit," celoteh Arkana yang membuat Irza kembali tersedak.


Semua tampak menatap tajam kearah Irza dengan tatapan yang penuh pertanyaan.