
Dimas menyunggingkan senyumnya saat Gita memberi lampu hijau untuk meneruskan kegiatannya.
Pria itu langsung merebahkan tubuh Gita di sofa yang lebar di ruangan itu.
Lalu dia langsung mencium bibir Gita yang sudah menjadi candunya.
Entah apa yang di pikirkan oleh Gita sehingga dia memutuskan untuk melanjutkan kegiatannya itu.
Wanita itu hanya ingin menuntaskan apa yang sudah mereka mulai, karena dia memang penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.
Gita mengalungkan tangannya di leher Dimas sembari membalas ciuman dari pria tampan yang sangat di rindukan nya.
Satu demi satu kancing abaya itu terbuka dan kini hanya tampak kemben saten yang membungkus indah tubuh Gita hingga dadanya terlihat berdesakan.
Dimas mulai menyusuri leher jenjang Gita dan bahunya yang terbuka.
Wanita itu melenguh ketika menerima sentuhan dari Dimas di area leher nya.
Kini mereka seakan kehilangan kendali dan tak bisa menghentikan nya.
Dimas terus menyusuri setiap jengkal leher wanita itu hingga tercipta tanda kepemilikan disana.
Tangan nya mencari dimana letak resleting dari kemben itu. Dan sesekali dia mengumpat saat tak kunjung menemukan resleting itu.
Gita tertawa pelan saat Dimas tak kunjung menemukan resleting kembennya, lalu dia menahan kepala Dimas yang sedang asik bermain di area bahunya.
" Stop, Honey. Kita lanjutkan setelah kita menikah," ucap Gita menangkup wajah Dimas.
" Honey ... are you kidding me?" kata Dimas yang kini sudah merasa gairahnya sudah ada di ubun-ubun nya.
" No, kau tak bisa membuka kain saten ini, kan? jadi itu artinya kesempatan mu sudah berakhir," kata Gita menatap mata pria yang kini sudah berkabut gairah.
" No, kau harus bertanggung jawab dan menyelesaikan permainan ini!" sahut Dimas tegas.
" Bertanggung jawab untuk apa, Honey?" tanya Gita dengan polosnya.
Lalu Dimas beranjak dan melepaskan semua kain yang membaluti tubuhnya.
Lalu Gita mengingat perkataan Zea ketika dirinya menanyakan tentang bagaimana rasanya bercinta.
Wanita itu menelan Saliva nya dengan susah payah, sambil terpaku dengan pemandangan indah yang ada di hadapannya.
' Oh my God, sepertinya aku harus menuntaskan permainan ini,' batin Gita masih terpaku melihatnya.
Sementara Dimas kini sedang berusaha membuka kain yang menutupi tubuh bagian bawah Gita.
Dimas langsung menindih tubuh wanitanya saat dia berhasil menyingkirkan kain itu. Dan berkata.
" Aku memang tidak bisa membuka kain saten mu, tapi aku sudah berhasil membuka kain yang menutupi bagian bawah tubuh mu," kata Dimas ber bisik.
Dan tanpa basa basi Dimas langsung mendaratkan mulutnya di bagian sensitif wanita itu.
" Aaakkkhhh ... Dimas." Gita terpekik saat Dimas mencumbunya di bagian itu.
Dimas terus bermain di area itu dan tak memperdulikan suara Gita yang terus memintanya untuk berhenti.
Setelah merasa puas. Dia menatap wajah Gita yang terlihat sangat cantik ketika itu dengan seringai tipis di mulut nya.
" Apa yang kau lakukan?" ucap Gita lirih dengan mengatur nafasnya yang berat.
Dimas menyunggingkan senyumnya saat melihat ekspresi wajah Gita dan membisikkan sesuatu di telinganya.
" Ini baru permulaan, Honey. Bahkan kita belum memulai nya."
Gita terpaku mendengar bisikan dari Dimas.
' Oh my, Bersiaplah Gita,' batin Gita sambil menggigit bibirnya.
Dan tanpa aba-aba Dimas langsung melakukan penyatuan yang tak seharusnya mereka lakukan saat ini.
Namun karena mereka sudah sama-sama kehilangan kendali dan dengan kerinduan yang sama-sama mereka rasakan. Akhirnya mereka melakukannya.
Gita kembali terpekik saat Dimas melakukan penyatuannya dengan sekali hentakan dan itu membuat Gita meringis kesakitan.
' Shiiittt, aku merasakan punyaku telah di robek, Zea kau benar,' batin Gita mengingat semua perkataan dari saudarinya.
" Kau milikku, hanya milikku dan selamanya akan menjadi milikku," ucap Dimas dengan nafas yang memburu.
" Oouuwh ... Honey, I love you so much." Dimas mulai mempercepat permainannya.
Keduanya sama-sama mengerang saat melakukan pelepasan nya.
Dan mengakhirinya dengan saling berpelukan.
.
Ketika mereka berpelukan, Dimas mendengar isakan tangis dari Gita, dia langsung melepaskan pelukannya dan menangkup wajah wanitanya yang kini sudah memerah karena menangis.
" Honey ..." panggil Dimas.
" Aduh sakit pak dokter, perih ...," kata Gita merasakan perih di area sensitifnya.
" Oh my." Dimas langsung beranjak dan melihat darah yang keluar dari area itu.
Gita melihat senyuman yang tersinggung di bibir Dimas dan semakin mengeraskan suara tangisannya.
" Oh my, Honey ... Kecilkan suaramu itu, nanti orang-orang mengira aku melakukan sesuatu padamu," kata Dimas yang membuat Gita semakin mengencangkan tangisan nya.
" Kau sudah mengambil kehormatan ku, pak dokter. Kau harus bertanggung jawab. Nanti ... nanti kalau aku hamil bagaimana? Nanti kalau papah tahu, bagaimana?" kata Gita sambil terisak.
Dimas membungkam mulut Gita dengan bibirnya sembari memeluknya lagi agar wanita itu merasa tenang.
" I love you, kau milikku dan aku akan secepatnya menikahi mu," ucap Dimas dan membuat Gita menghentikan tangisan nya. tapi masih terisak.
" Kau jahat pak dokter, aku sudah mengatakan untuk berhenti tapi kau malah langsung menyerang ku." Gita mencebik dengan bibir yang manyun dan itu membuat Dimas gemas dan langsung mencium bibirnya.
" I'm sorry ..." ucap Dimas pelan sambil meletakkan tangannya di telinga nya.
" Apakah sakit?" tanya Dimas.
" Hmmm," sahut Gita menganggukkan kepalanya.
Lalu Dimas mengangkat Gita, menggendong nya ke kamar mandi dan mendudukkan nya di closed.
Pria itu menyala kran air dan mengisi bathtub hingga penuh.
Lalu mengangkat tubuh Gita dan menurunkannya di bathtub yang sudah terisi dengan air hangat.
" Thanks pak dokter. Aku ingin berendam sebentar, sendiri !!" ucap Gita dengan menegaskan kata sendiri.
" Baiklah, aku akan mandi di kamar sebelah," kata Dimas lalu mengecup puncak kepala Gita dan keluar dari kamar mandi.
Gita melihat kepergian Dimas lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar.
" Huuffft ..." Lalu wanita itu menyandarkan kepalanya ke bathtub, merilekskan tubuhnya sambil memejamkan matanya.
" Lucu sekali, aku sudah tidak perawan lagi." Gumamnya.
" Dan itu terjadi dengan sangat cepat." Wanita itu kembali mengingat apa yang baru saja terjadi hingga merenggut kehormatan nya.
.
.
Sementara di tempat lain, Dev dan Zea yang sedang ingin memulai penyatuannya, di kagetkan dengan teriakan seorang wanita yang terus memanggil nama Dev.
" KAk DEEVV ... AKU DATANG, KAKAAAKK ... KAK DEEVV WHERE ARE YOU ...!!!" teriak Alina ketika memasuki resort mewah milik sang kakak.
" Shiitt, gadis manja itu mengganggu saja," umpat Dev saat kegiatannya bersama sang istri terganggu.
" Kita lanjutkan nanti saja, oke! kita temui dulu adik mu dan Momy," kata Zea mendorong tubuh Dev yang menindih nya, lalu memungut baju-bajunya yang berserakan di lantai dan bergegas ke kamar mandi.
" Aaaarrggh ... Beby. kita harus menuntaskan ini semua, kalau tidak aku bisa pusing karena ini," kata Dev menyusul istri nya masuk kedalam kamar mandi.
Tanpa basa basi Dev langsung melakukan penyatuan kilat di kamar mandi.
Zea hanya tertawa pelan melihat tingkah sang suami yang sangat tergila-gila padanya. Bahkan tak memperdulikan teriakan sang adik yang kini sudah menggedor pintu kamar nya.