
Kini rombongan Dev sudah tiba di mansionya. Semua tampak langsung masuk kedalam dan menuju kamarnya masing-masing.
Zea masuk kedalam kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang tanpa membuka sepatu nya. Sementara Dev langsung masuk kedalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Dev keluar dari kamar mandi dan melihat kearah Zea yang kini sudah memejamkan matanya.
Pria itu menghampiri sang istri dan membuka sepatu nya. Lalu Dev membenarkan posisi tidur sang istri dan menaikkan selimut nya.
" Selamat beristirahat my lovely girl," kata Dev mencium kening sang istri lalu keluar dari kamarnya.
Dev berjalan menuju ruang kerjanya dan menghubungi seseorang.
" Hallo, Bagaimana keadaan Momy Lisa, Pah?" tanya Dev setelah panggilan itu terjawab.
" Hallo, Dev. Dia sudah baik-baik saja, dan terlihat normal seperti biasanya," sahut Adi.
" Emm, syukurlah."
" Dev, bisa kah kau ikut aku menemui Tuan Yosi setelah makan siang nanti?" tanya Adi.
" Baiklah. sampai jumpa nanti, Pah." Lalu Dev memutuskan panggilan itu.
.
.
Di apartemen Dimas. Terlihat Anggita yang sedang sibuk menata barang-barangnya di apartemen itu.
Lalu Dimas datang dengan memeluk tubuh sang istri dari belakang.
" Dimas, jangan menggangguku dulu," kata Gita sambil menata barang-barangnya.
" Aku hanya ingin memelukmu," kata Dimas.
Lalu Gita membalikkan tubuhnya dan mengalungkan tangannya dileher sang suami.
" Apa kita akan berbulan madu?" tanya Gita menatap lekat mata Dimas.
" Kau ingin kita bulan madu?" tanya Dimas balik.
Gita hanya menganggukkan kepalanya sambil mengusap lembut pipi Dimas yang mulai berjambang.
" Emmm ... kau ingin berbulan madu kemana? Ke Paris? Korea? atau ke gurun Sahara?" kata Dimas sambil memeluk pinggang Gita.
Gita tertawa mendengar tawaran dari Dimas.
" Kita akan berbulan madu, Honey. Dan ke gurun Sahara sepertinya bukan pilihan yang tepat," sahut Gita.
Dimas juga tertawa karena dia hanya asal saja tadi menyebutkan gurun Sahara.
" Aku ingin ke tempat yang dingin, karena kita akan melakukan hal yang panas." Dimas tertawa mendengar ucapan dari sang istri sambil mengacak rambutnya.
" Kita pikirkan ini nanti, kau sudah menelepon Momy?" tanya Dimas.
" Ah ya ... aku lupa. wait, aku akan menghubungi Momy." Gita langsung melepaskan diri dari dekapan sang suami dan mengamuk ponselnya.
Sementara itu, Dimas masuk kedalam kamar mandi.
" Hallo, Mom."
" Hallo, sayang. Apa kau masih berada di resort?" tanya Lisa.
" Aku sudah kembali, Mom. Aku sedang berada di apartemen Dimas," sahut Gita sambil melanjutkan kegiatannya menata barang-barangnya.
" Ah ya, bagaimana keadaan Momy? Momy baik-baik saja, kan?" tanya Gita.
" Ya, Momy hanya kecapean, sayang. Dan sekarang Momy sudah baik-baik saja."
Lalu mereka mengobrol lama di telepon.
.
.
Kini Adi sudah ada di cafe teria, dia mengirimkan lokasinya pada Dev sambil menunggu Yosi datang.
Dev menerima pesan dari sang mertua dan langsung berangkat menuju lokasi yang sudah dikirimkan oleh Adi.
Yosi datang dan langsung menghampiri meja Adi.
" Maaf jika kau menunggu lama," kata Yosi menjabat tangan Adi.
" Tidak masalah, Tuan. Duduklah, maaf jika aku mengganggu waktu mu," kata Adi.
" Hmmm, jadi apa ada hal penting yang bisa aku bantu?" tanya Yosi.
" Pah, Uncle. Maaf aku terlambat," kata Dev datang menghampiri kedua pria paruh baya itu.
" Kau juga memanggil Dev?" tanya Yosi.
Lalu Adi menjelaskan keadaan Lisa. Dia mengutarakan keinginannya untuk mencari pria yang telah memperkosa Lisa.
Adi ingin pria itu tahu, bahwa dia memiliki seorang putri dari hasil hubungan paksa itu. Dia ingin Gita mengetahui siapa ayah kandungnya.
Dan tidak lagi menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Lisa.
" Aku akan membantu mu, Tuan Adi. Tapi apa itu tak akan menjadi masalah nantinya?" tanya Yosi.
" Ya, Pah. Apakah Gita akan menerima pria itu sebagai ayahnya?" tanya Dev.
" Entahlah," jawab Adi tak yakin.
" Begini saja, aku akan melacak keberadaan Ardo. Tapi aku tidak ingin menemui nya," kata Yosi.
" Aku yang akan menemuinya, Uncle. Dan membawanya kemari," kata Dev.
" Lalu apa yang akan kau lakukan setelah bertemu dengannya, Tuan?" tanya Yosi.
" Aku akan memikirkannya nanti," sahut Adi.
Lalu mereka melanjutkan perbincangan itu dengan di selipkan masalah bisnis nya.
.
.
Zea terbangun dari tidurnya. Dia mengedarkan pandangannya dan tak melihat sang suami di kamar nya.
Lalu dia bangkit dan masuk kedalam kamar mandi.
CEKLEK
Dev membuka pintu kamarnya dan dia tak melihat Zea di ranjang. Dia masuk dan membuka coatnya.
Lalu dia berjalan kearah kamar mandi, dan dia berhenti di depan pintu kamar mandi saat mendengar Zea sedang bernyanyi.
CEKLEK
Dev membuka pintu kamar mandi secara perlahan, dia melihat kearah sang istri yang sedang asik berendam di bathtub sambil bermain busa sabun yang melimpah.
" Boleh aku bergabung?" kata Dev berdiri di belakang Zea.
Zea menoleh dan meniupkan busa sabun yang ada di tangan nya kearah Dev.
Dev tertawa melihat tingkah Zea. " Kau tak menjawab dan itu artinya kau mengizinkan nya." Dev langsung membuka pakaian nya dan bergabung dengan sang istri.
Dev duduk di bagian pojok bathtub dan menghadap pada Zea.
Zea mengangkat kakinya dan menyuruh Dev untuk menggosoknya.
Dev menggosok kaki indah sang istri dengan sesekali menciumi kaki jenjang itu.
Lalu Zea mengulurkan tangannya pada Dev dan menyuruh nya untuk menggosoknya.
Dev pun menuruti perintah sang istri. Mengingat kesepakatan mereka saat dirinya kalah bertarung dengan Zea.
Dia harus menuruti apapun perintah sang istri selama satu minggu.
' Jika ini perintah nya, tidak usah bertanding pun aku akan menuruti nya,' batin Dev sambil menggosok lengan Zea sembari memberi kecupan manis pada lengannya.
Lalu Zea mendekatkan tubuhnya pada Dev. 'Oohh aku menyukai hukuman ini,' batin Dev.
Zea membalikkan tubuhnya dan membelakangi Dev. " Gosok punggung ku," kata Zea.
Lalu Dev langsung menggosok punggung mulus sang istri sambil memberi kecupan di setiap jengkal punggung nya.
Lalu Zea menyandarkan tubuhnya pada tubuh Dev yang ada di belakangnya.
Dev melingkarkan tangannya di perut sang istri sambil menggosok nya.
" Aku ingin mengendarai motor ku lagi," kata Zea menyandarkan kepalanya di bahu kokoh sang suami.
" Hmmm, asal kau tak melakukan balapan liar di jalanan," kata Dev.
Zea tersenyum mendengar ucapan dari Dev.
" Tapi aku juga ingin kau mengendarai motor dengan ku, dan kita akan balapan," kata Zea lagi.
" What ... balapan? Beby, aku tidak terlalu mahir mengendarai motor," sahut Dev keberatan dengan permintaan sang istri.
" Tapi kau harus menuruti apapun kemauan ku, Dev. Apa kau lupa?" kata Zea mengingat kan.
Zea tahu, bahwa Dev tak terlalu suka mengendarai motor. Karena dia memang tak mahir mengendarainya. Dan Zea ingin Dev bisa mahir mengendarai motor agar bisa mengajak nya touring bersama teman-teman geng motornya.
" Huuuft ... Baiklah," jawab Dev tersenyum sambil menaikkan tangan nya mengarah ke dada sang istri.
" Aahh ..." ******* itu keluar dari mulu Zea saat merasakan sensasi saat Dev memainkan puncak dadanya.