My Lovely Girl

My Lovely Girl
Bab 17



Dirumah sakit, Dev menghubungi anak buahnya untuk menyelidiki kecelakaan yang menimpa pada Zea.


Pria itu curiga ini adalah perbuatan seseorang untuk mencelakai calon istrinya.


"Cepat selidiki masalah ini, aku melihat ada mobil yang mengikuti taksi itu ketika keluar dari area mansion ku," perintah Dev pada anak buahnya.


"Baik bos," jawab sang asisten kepercayaannya.


"Periksa dulu cctv di mansion ku," perintah Dev lagi.


"Oke bos, secepatnya saya akan menyelidiki kasus kecelakaan ini," jawab jack.


Lalu menutup panggilan telepon itu.


'Jika kecurigaan ku terbukti, aku tidak akan mengampuni mu biitcch,' batin Dev mengepalkan tangannya.


Kini Adicipta sudah tiba di rumah sakit dimana Zea di tangani.


Pria paruh baya itu langsung masuk dan menuju ruangan IGD.


"Dev, bagaimana keadaannya?" tanya Adi ketika melihat calon menantunya.


"Dokter masih menanganinya Uncle, jangan khawatir," jawab Dev.


"Bagaimana ini bisa terjadi Dev?" tanya Adi lalu duduk di kursi tunggu itu.


"Maafkan aku Uncle, seharusnya aku bisa memaksanya agar pulang bersama ku," jawab Dev meremas rambutnya.


"Tidak Dev, jangan menyalahkan dirimu sendiri." Adi menepuk pundak Dev.


"Apa kau sudah menyelidiki kasus ini?" tanya Adi.


"Iya Uncle, aku sudah memerintahkan anak buah ku untuk menyelidiki kasus ini," sahut Dev.


Lalu tampak seorang dokter keluar dari ruang IGD.


Dev dan Adi langsung menghampiri dokter itu dan menanyakan keadaan Zea.


"Bagaimana keadaan putri saya dokter?" tanya Adi pada dokter itu.


"Kita akan memindahkan nya ke ruang ICU, keadaan nya cukup parah. Dia kehilangan banyak darah dan benturan di kepalanya cukup keras dan dia mengalami gegar otak ringan," jawab dokter itu yang cukup membuat Dev dan Adi terpaku di tempatnya berdiri dengan lemas mendengar penjelasan dari dokter.


"Lakukan yang terbaik untuk calon istri ku dokter, selamat kan dia," jawab Dev dengan lutut yang ditekuk menyentuh lantai.


"Jangan seperti itu Tuan, bangun lah kami akan melakukan yang terbaik untuk calon istri anda," kata dokter itu sambil memegang bahu pria yang bertekuk lutut di hadapan nya dan membantunya berdiri.


Lalu ada seorang perawat yang keluar dari ruangan IGD itu.


"Dokter keadaannya semakin melemah." Dev dan Adi yang mendengar ucapan dari perawat itu langsung lemas.


Dokter itu langsung masuk kembali kedalam ruangan itu.


Sementara Dev dan Adi semakin cemas dengan keadaan Zea.


Dev mengepalkan tangannya dan meninju dinding yang ada di belakangnya bertubi-tubi hingga tangannya berdarah.


"Cukup Dev, jangan sakiti dirimu sendiri!!" bentak Adi.


"Seharusnya aku yang mengantarnya, seharusnya aku bisa memaksanya Uncle, ini salahku." Dev bersandar di dinding rumah sakit itu.


"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri Dev, kita doakan yang terbaik untuk Zea," kata Adi menasehati calon menantunya yang sedang terpuruk.


Setelah itu tampak pintu ruangan IGD terbuka lebar dan beberapa perawat keluar dengan mendorong ranjang Zea beserta dokter yang menanganinya.


Dev dan Adi menghampiri ranjang itu dan melihat keadaan Zea yang terbujur lemah di atas ranjang itu dengan segala alat penunjang hidup yang menempel pada tubuhnya.


Adi yang melihat putrinya dalam keadaan seperti itu langsung lemas dan bersandar di dinding rumah sakit itu.


"Uncle, kuatkan dirimu. Kita harus menemani Zea uncle, ayo." Dev merangkul bahu calon mertuanya.


Mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit itu mengikuti kemana para perawat itu membawa Zea.


Lalu mereka berhenti pas di depan ruangan ICU rumah sakit itu dan membawa masuk ranjang Zea kedalam ruangan itu.


Dev dan Adi hanya bisa melihat penanganan Zea dari jendela raksasa ruangan itu.


"Dokter, detak jantungnya semakin melemah," kata salah satu perawat diruangan itu.


"Siapkan alat pompa jantung," kata dokter.


Dan terdengar bunyi BIP panjang yang menunjukkan kondisi sangat kritis dari pasien itu.


Dev dan Adi yang melihat layar monitor sudah bergerak lurus tampak semakin panik dan meneteskan air matanya.


"Tidakk ... ohh God, kumohon jangan ambil putri ku dariku," kata Adi yang sudah terisak.


Dev hanya merangkul bahu sang calon mertua yang sudah kehilangan semangat.


Lalu dokter memompa jantung Zea beberapa kali dan akhirnya jantungnya mulai berdetak kembali meskipun masih lemah.


.


.


BRAKKK


Suara pintu dibuka dengan begitu keras dan mengagetkan seseorang yang sedang duduk di sofa dengan menatap layar ponselnya.


"Nico, bisakah kau membuka pintu dengan perlahan. Kau mengagetkan ku," kata Lena pada sepupu nya itu.


"Apa yang sudah kau lakukan pada Zea? kau mau membunuhnya!!" Kata Nico dengan nada yang membentak.


"Aku hanya menyenggol kan mobil ku ke mobil yang ditumpanginya Nico, jangan B/berlebihan," jawab Lena santai.


"Kau tahu apa akibatnya dari perbuatan mu itu, Lena?" tanya Nico geram.


"Yes i know, dia akan celaka bahkan mungkin bisa mat,i" jawab Lena masih santai.


"JAGA BICARAMU LENA!!" bentak Nico sambil menggebrak meja yang ada di sampingnya.


"Kenapa?? Kau tak terima kalau wanita itu mati??" kata Lena menatap tajam mata Nico.


"Kau akan berurusan dengan ku kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Zea," kata Nico dengan nada yang mengintimidasi dan menunjukkan jari telunjuknya tepat di depan mata Lena.


Lalu pergi dari kamar Lena.


"Kau mau kemana Nico?? Jasadnya sudah terbakar habis di dalam mobil itu!!!" teriak Lena yang menghentikan langkah Nico.


"Jasat itu berjenis kelamin laki-laki Lena, dan Zea tidak ada didalam mobil yang terbakar itu," jawab Nico sambil menoleh kearah Lena.


"Shiitt, jadi wanita itu masih selamat!!" umpat Lena berdiri dari Sofanya.


Sementara Nico langsung pergi meninggalkan Lena dan mencari tahu dimana Zea.


.


.


Di rumah sakit.


Dev menerima panggilan telepon dari sang asisten.


"Hallo Jack, bagaimana kau sudah menemukan pelakunya ??" tanya Dev langsung.


" Ya Tuan, nona Lena yang bertanggung jawab atas kecelakaan ini," jawab jack di seberang telepon.


"Tapi mobil itu tidak terlihat seperti mobil Lena," kata Dev mengingat mobil itu.


" Iya Tuan, mobil itu hanya mobil sewaan, dan setelah melakukan rencananya nona Lena langsung mengembalikan mobil itu," jawab jack.


"Shiitt, lakukan apa yang harus kau lakukan padanya Jack," kata Dev dengan suara yang tegas.


"Baik Bos," sahut Jack lalu menutup sambungan teleponnya.


"aku akan menghancurkan hidup mu, biitcch", kata Dev pelan yang hampir tak bersuara sambil mengepalkan tangannya.


Lalu Dev kembali ke ruang tunggu yang berada didepan kamar ICU dimana Zea dirawat.


Dev langsung duduk di kursi itu sembari melihat kearah Adi yang sedang mengangkat teleponnya.


"Bagaimana Dev? sudah ada titik terang mengenai kecelakaan ini?" tanya Adi ketika sudah menutup sambungan teleponnya.


"Ya Uncle, pelakunya sudah terungkap," jawab Dev menoleh pada Adi.


"Siapa pelakunya?" tanya Adi dingin.


Lalu tampak dokter keluar dari ruangan ICU.


Dev dan Adi langsung menghampirinya.


"Kita bicara di ruangan ku," kata dokter itu lalu Dev dan Adi berjalan dibelakang dokter itu dan mengikuti nya.


"Bagaimana keadaannya, dokter??" tanya Dev ketika sudah ada diruangan pribadi dokter itu.


"Untuk saat ini keadaannya masih kritis dan kening besar dia akan mengalami koma," kata dokter itu yang langsung membuat Dev dan Adi terkejut.


"Benturan di kepalanya cukup keras, dan dia sudah dalam keadaan tidak sadar ketika sampai disini. Tadi kami sempat kehilangan dirinya, tapi beruntungnya kami masih sempat memicu detak jantungnya," kata dokter itu menjelaskan.


"Kalian cukup berdoa saja agar nona Zea bisa melewati masa kritisnya," kata dokter itu lagi.


"Ya, lakukan yang terbaik untuk putri ku dokter," kata Adi.


"Kami akan melakukan yang terbaik untuk putri anda, Tuan," kata dokter itu


setelah itu Adi keluar dari ruangan itu


lalu disusul oleh Dev yang mengekori langkah nya keluar dari ruangan itu.