
Pesawat yang di tumpangi oleh Irza dan Valerie pun kini sudah mendarat di bandara internasional.
Hal itu sedikit membuat Valerie lega karena dia ingin buru-buru keluar dari jet pribadi itu.
Dia berjalan cepat menuju pintu pesawat hingga membuat Irza menahan tangan nya.
" Pelan-pelan, Honey!"
Irza menggandeng tangan sang istri menuruni tangga pesawat. Mereka sudah di tunggu oleh supir pribadi keluarga Irza dan pria paruh baya itu langsung menyambut nya dengan ramah.
Irza membawa Valerie masuk kedalam mobil yang pintu nya sudah di buka kan oleh supir nya. Dan dia ikut masuk kedalam kursi penumpang.
Valerie kembali memejamkan matanya karena dia msih merasa kan pusing. Dia menyandarkan kepalanya di bahu lebar Irza dan Irza langsung merangkul nya.
" Apa kita perlu ke rumah sakit?" tanya Irza.
Valerie hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan dari sang suami.
Irza mengusap lembut lengan Valerie dan wanita itu kembali terlelap.
Irza melihat kearah Valerie dan menatap nya heran.
" Kenapa dia gampang sekali tertidur?" gumam Irza.
Sang supir yang melihat kondisi istri dari Tuan nya dari kaca spion dan langsung memberikan komentar nya.
" Mungkin Nona mengalami jatlag, Tuan."
" Tapi dia baru kali ini mengalami jatlag. Kemarin saat kita terbang ke Turki dan juga Swiss dia baik-baik saja," sahut Irza.
Sang supir tak lagi menjawab dan hanya tersenyum. Dia bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi pada istri Tuan nya.
.
.
Mobil itu pun kini memasuki gerbang tinggi mansion. Supir itu keluar dan membuka kan pintu mobil untuk sang majikan.
Irza keluar dari dalam mobil sambil menggendong tubuh Valerie yang masih terlelap.
" Terimakasih, Paman!"
Supir itu hanya tersenyum tanpa menjawab perkataan sang majikan. Irza terus melangkah menuju pintu utama mansion dan membawa Valerie masuk.
Hal itu membuat Wilda yang ada di ruang tengah langsung terkejut sekaligus khawatir saat mendapati Irza datang dengan menggendong tubuh Valerie yang terlihat lemah.
Wanita itu beranjak dari sofa dan mengikuti langkah lebar Irza yang berjalan manuju kamarnya.
" Ada apa dengan nya, Ir?" tanya Wilda sambil membuka kan pintu kamar Irza.
" Dia hanya mengalami jatlag, Mom. Jangan khawatir," sahut Irza sambil membawa tubuh Valerie menuju ranjang.
Dia membaringkan Valerie di atas ranjang dan wanita itu langsung membuka matanya.
" Kita sudah sampai? kenapa kau tak membangun kan ku?" kata Valerie sambil berusaha duduk tapi kepalanya pusing.
" Tetaplah berbaring, kau masih merasa pusing, kan?" sahut Irza.
Valerie menganggukkan kepalanya dan dia melihat kearah Wilda yang melihat kearah nya dengan tatapan khawatir.
" Mom ... maaf jika aku membuatmu khawatir," kata Valerie yang merasa tak enak hati.
Wilda tersenyum dan duduk di samping Valerie. Sementara Irza langsung masuk kedalam kamar mandi.
" Tidak, sayang. Aku lega karena kau hanya mengalami jatlag, istirahatlah. hmmm?"
Valerie tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu dia merentangkan tangannya agar Wilda memeluknya.
Wilda tersenyum dan memeluk sang menantu.
" I Miss you, Mom."
" I Miss you to, sayang. Apa kau sudah makan?" tanya Wilda sambil melepaskan pelukannya.
Valerie menggelengkan kepalanya dengan cepat.
" Aku hanya tidur sepanjang perjalanan, Mom. Dan sama sekali tak merasakan lapar," sahut Valerie.
" Oh my. Aku akan mengambil kan makanan untuk mu, sebentar!"
Wilda langsung beranjak dari ranjang dan berjalan keluar dari kamar itu.
Tak sampai 15 menit, Wilda kembali ke kamar Irza dengan membawa makanan untuk sang menantu.
" Mom ... Kau tak perlu repot-repot mengambil kan makanan itu," kata Valerie saat melihat Wilda kembali dengan membawa makanan.
" Tidak apa, sayang. Ini karena Momy tidak ada pekerjaan lagi. Mau Momy suapi?" tanya Wilda.
Bersamaan dengan itu, Irza keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan bath rub nya yang berwarna coklat.
" Biar aku saja yang menyuapinya, Mom."
Wilda dan Valerie melihat kearah Irza yang berjalan menuju ranjang.
" Baiklah. Mommy akan keluar dan meneruskan kegiatan Momy," sahut Wilda.
" Apa yang Momy kerjakan? jangan terlalu lelah, Mom!"
Wilda tersenyum dan mengusap pipi sang putra yang masih terasa dingin karena pria itu baru saja mandi.
" Hanya merajut untuk calon cucu Momy yang akan segera hadir," sahut Wilda sambil tersenyum.
Valerie dan Irza hanya menatap kearah Wilda yang berjalan kearah pintu dan keluar dari kamar itu.
Irza menoleh pada sang istri dan Valerie hanya menghendikkan bahunya.