My Lovely Girl

My Lovely Girl
Bab 28



"SIAPA KALIAN?" tanya Zea dengan suara yang begitu lemah.


Dan pertanyaan itu membuat semua orang yang ada disana begitu Terkejut dan menatap kearah Dimas.


"Saya mohon, kalian tunggulah di luar. Saya akan menangani nya," kata Dimas pada semua anggota keluarga disana.


"Tapi Dimas __" perkataan Dev langsung terpotong oleh Dimas.


"Percayalah padaku Dev, dia akan baik-baik saja," kata Dimas.


Lalu mereka semua perlahan berjalan keluar dari kamar itu kecuali Anggita karena tangannya masih saling menggenggam dengan tangan Zea.


Lalu perlahan Gita melepaskan tautan tangannya sambil melihat kearah Zea yang tampak melihatnya.


"Aku tahu kau menyayangiku," ucap Zea dengan suara yang begitu pelan tapi masih bisa di dengar oleh orang yang ada didalam kamar itu.


"Aku mendengar semua yang kau bicarakan padaku," kata Zea tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya pada Gita.


Gita tersenyum dan langsung memeluk tubuh Zea sambil terisak.


Pemandangan itu begitu mengharukan bagi semua orang yang masih di ambang pintu yang sedang melihatnya.


"Tetaplah disini menemaniku." Pinta Zea dalam pelukannya.


Lalu Gita melepaskan pelukannya dan melihat kearah Dimas seakan meminta izin untuk tetap disana dan Dimas membalasnya dengan anggukan kepala.


"Aku akan selalu menemani mu, asal kau tetap sadar seperti ini, aku bosan setiap aku menemanimu disni, tapi kau hanya tertidur pulas," kata Gita sambil menghapus air matanya.


"Maaf, aku terlalu lelap dalam tidur ku," sahut Zea tersenyum dan kembali menggenggam tangan Gita.


.


.


Semua anggota keluarga menunggu di ruang tengah dengan perasaan yang senang karena Zea sudah sadar, tapi juga dengan perasaan sedih karena Zea tak mengingat anggota keluarganya sendiri.


Lalu Dimas keluar dari kamar Zea dan langsung menghampiri semua orang yang sedang menunggu penjelasan dari nya.


"Dokter Dimas, apa yang terjadi pada putriku, kenapa dia tidak mengingat kami?" tanya Adi saat Dimas sudah ada diruangan itu.


"Hmm, aku akan menjelaskan semuanya," kata Dimas sambil duduk bergabung di sofa itu.


"Ya, katakan," ucap Dev tak sabar.


"Dia menderita amnesia, akibat dari kepalanya yang terbentur begitu keras serta efek dari gegar otak yang terjadi padanya, dan membuat dia kehilangan memory otaknya," kata Dimas menjelaskan.


"Lalu apa yang harus kita lakukan Dokter? dan apakah dia bisa mengingat kenangannya lagi," tanya Abel khawatir.


"Ya, tentu saja dia akan mengingat semua kenangannya lagi, termasuk mengingat siapa keluarganya tapi secara perlahan. Jangan pernah memaksa nya untuk mengingat suatu hal. Cukup dampingi dia dan biarkan mengalir apa adanya agar tidak memicu sakit di kepalanya," kata Dimas memberi saran.


"Lalu bagaimana keadaannya sekarang, Dokter? " tanya lisa.


"Untuk saat ini keadaannya cukup baik, dan saat ini dia hanya ingin berada di samping Gita," jawab Dimas lalu memberikan secarik kertas pada Dev.


"Ini resep obat yang harus kamu tebus, Dev. Dan harus segera di minum oleh Zea. Aku permisi dulu," kata Dimas lalu beranjak dari sofa itu.


"Tunggu Dimas, ini sudah waktunya makan siang. Ayo kita makan siang bersama disini," ajak Dev.


"Tidak perlu Dev, aku tidak ingin mengganggu kebersamaan keluarga ini," sahut Dimas.


"Nak Dimas, apa kau lupa kalau kau tadi sudah berani melamar putriku? Dan aku sudah menerima mu, jadi kau juga bagian dari keluarga saat ini. Apa kau masih ingin menolak makan bersama dengan keluarga mu?" ucap Adi.


"Hmm, baiklah Uncle," sahut Dimas lalu duduk kembali di sofa itu.


"Aku akan menyiapkan makan siang dulu," kata Abel dan disusul oleh Lisa yang juga membantu menyiapkan makanan.


Lalu Dev memanggil pelayan untuk segera menebus resep obat yang di berikan oleh Dimas.


.


.


"Baik bik, terimakasih," sahut Dev.


"Mari Pah, Dimas. Kita makan siang bersama," ajak Dev selaku tuan rumah mempersilahkan Adi dan Dimas.


"Duduklah Pah, aku akan memanggil Gita dulu," ucap Lisa dan hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh Adi.


.


"Sayang .. ayo kita makan siang dulu," ajak Lisa yang masih di ambang pintu.


Gita dan Zea menoleh ke sumber suara.


"Mom ..." kata Zea pelan sambil tersenyum.


Lisa masih terpaku dan terkejut mendengar Zea memanggilnya dengan sebutan Mom, karena Zea tidak pernah menganggapnya dulu mengingat hubungan mereka yang seperti seorang musuh.


Lisa pun menghampirinya lalu memeluknya.


"Aku tahu kau hanya Momy tiriku dari Gita," ucap Zea dan Lisa langsung melepaskan pelukannya.


"Maafkan perlakuan buruk Momy padamu dulu, Sayang," kata Lisa sambil terisak dan menggenggam tangan Zea lalu menciumnya.


"Lupakan masa lalu itu, Mom. Karena aku tak mau mengingat nya lagi," sahut Zea tersenyum.


"Terimakasih sayang. Oouuwh ... Momy sangat menyayangi kalian," kata Lisa memeluk kedua putrinya.


"Aku keruang makan dulu, Mom" kata Gita melepaskan pelukannya.


"Ya sayang, layani Papah mu, Karena Momy ingin menemani putri Momy dulu disini," ucap Lisa.


"Oke Mom, aku akan menyuruh pelayanan untuk mengantarkan makanan kalian kemari," sahut Gita lalu keluar dari kamar itu.


.


"Dimana Momy mu, sayang" tanya Abel ketika hanya melihat Gita yang keluar dari kamar Zea.


"Momy ingin menemani Zea dulu, Aunty," jawab Gita menghampiri meja makan.


"Zea menerima kehadiran Momy, sayang?" tanya Adi melihat kearah Gita.


"Ya pah, aku yang memberi tahunya," jawab Gita langsung mengambilkan makanan untuk sang Papah.


"Lalu bagaiman keadaannya? Apa dia tidak tidur?" tanya Dev penasaran.


"Dia sangat baik, dia bilang tidak mau menutup matanya lagi karena akan sulit untuk membukanya lagi," jawab Gita lalu memberikan makanan itu pada Adi.


"Terimakasih sayang," kata Adi dan Gita tersenyum padanya.


Dan perkataan Gita membuat semua orang yang ada disana tersenyum dan merasa lega mendengar kondisi Zea yang sangat membaik.


'Inilah yang aku inginkan, keluarga yang utuh dan bahagia,' batin Gita melihat Adi yang begitu menyayangi nya.


"Oiya Aunty, suruh pelayan untuk mengantarkan makanan untuk Momy dan Zea," kata Gita sambil mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


"Baiklah," jawab Abel lalu mengambilkan 2 porsi makanan dan menyuruh pelayan untuk mengantarkan makanan itu beserta obat yang sudah di tebus oleh pelayan tadi.


Dimas melihat gerak gerik Gita yang lain dari biasanya, lalu dia mengambil piring yang sudah terisi makanan dari tangan Gita.


"Terimakasih calon istri," kata Dimas lalu menyantap makanan itu.


"Heii itu milikku, Tuan," kata Gita mencebik.


"Bukankah kau juga ingin melayani ku, seperti kau melayani Uncle?" kata Dimas sambil fokus pada makannya.


"Iiishhh benar-benar menyebalkan," gumam Gita lalu mengambil piring lagi untuk makanannya.


Lalu mereka pun makan siang bersama.