
"Heii, apa ini Gita. Kau bertunangan tapi tidak mengundang ku?" kata Arga menutupi kegalauan nya.
"Aku akan mengundang mu nanti saat pesta pertunangan ku," jawab Gita tersenyum.
"Ohh, jadi itu masih rencana?" sahut Arga merasa tenang karena dia merasa punya kesempatan untuk mengutarakan perasaannya, serta merebut Gita dari Dimas.
Dan dia memang tak melihat cincin yang melingkar di tangan Gita saat itu.
"Ya, rencana pertunangan yang pasti akan digelar dan tidak akan batal. Iya kan, Honey?" jawab Dimas menggenggam tangan Gita dan tersenyum pada nya.
"Ya, Pasti," sahut Gita membalas senyuman Dimas.
Gita mengucapkan itu bukan karena apa, tapi memang karena Gita merasa cocok dan nyaman dengan Dimas.
Apalagi dengan apa yang baru saja terjadi diantara mereka.
Arga melihat senyuman Gita yang tulus pada Dimas dan itu membuat hatinya memanas.
Lalu pelayan pun datang dengan membawa makanan yang mereka pesan dan menghidangkan makanan itu di meja.
Mereka menyantap makanannya bersama dan tanpa ada obrolan sama sekali, sampai mereka menyelesaikan acara makan siangnya.
Tiba-tiba ponsel Arga berbunyi dan dia langsung mengangkat telponnya.
"Hallo" jawabnya datar.
"Kita akan melakukan meeting setelah makan sian, Tuan" kata seseorang di seberang teleponnya.
"Ya, aku akan segera ke perusahaan," jawab Arga lalu mematikan sambungan teleponnya.
"Maaf, aku harus segera ke perusahaan. Gita apa nomor mu masih sama?" kata Arga.
"Masih Kak," sahut Gita sambil meminum jusnya.
"Oke , nanti aku akan menghubungi mu lagi," ucap Arga sambil melirik kearah Dimas yang sedang menatapnya.
"Baiklah, hati-hati Kak. Bye," ucap Gita melambaikan tangannya pada Arga yang berjalan keluar restoran.
Dimas menatap tajam pada Gita dengan ekspresi begitu tak enak di pandang dan Gita sadar dengan hal itu.
"Ayo, kita kembali ke apartemen ku," ajak Gita menarik tangan Dimas setelah membayar semua makanan pada seorang pelayan yang membawa struk.
Dimas berjalan cepat di depan Gita sambil menaruh kedua tangannya di saku celananya.
Gita merasa ada yang aneh dengan sikap Dimas yang berubah drastis, setelah acara makan siang tadi, dan Gita sangat tahu apa alasannya.
Setelah mereka di dalam lift, mereka hanya terdiam tanpa obrolan sama sekali.
Seakan sibuk dengan pikiran masing-masing.
'Apakah dia cemburu dengan kak Arga?' batin Gita.
'Aku sangat tak suka dengan situasi ini, bagaimana aku bisa pergi meninggalkan Gita sementara disini jelas-jelas ada pria yang ingin merebut Gita dari ku' batin Dimas.
TING
Bunyi pintu lift terbuka dan menyadarkan lamunan mereka. Gita pun keluar dan berjalan mendahului Dimas dan langsung membuka pintu apartemen nya.
Dimas langsung menutup pintu apartemen Gita setelah mereka masuk, dan menarik lengan Gita hingga wanita nya terjatuh di pelukannya.
Dimas memeluk erat tubuh Gita dan Gita pun membalas pelukan itu.
Mereka hanya menikmati pelukan nya tanpa ada pembicaraan sama sekali dari mereka.
"Aku tidak bisa jauh darimu," ucap Dimas setelah melepaskan pelukannya.
Gita menangkup wajah Dimas dengan kedua tangannya dan menempelkan keningnya di kening Dimas.
"Aku tahu kegundahan mu. Dia hanya senior ku dulu, dan aku hanya menganggapnya sebagai kakak ku karena dia selalu membantuku," ucap Gita sambil menatap mata Dimas.
"Tapi tetap saja, itu akan membuat ku tak tenang," sahut Dimas lalu memeluk tubuh Gita.
"Jadi kau tidak percaya padaku?" sahut Gita melepaskan pelukan Dimas.
"Entahlah ..." jawab Dimas lemas. dan mengambil coatnya lalu mengenakan nya.
Lalu Dimas pergi dari apartemen Gita dengan segala kegundahan di hatinya setelah mencium kening Gita.
"Aku akan membuktikan ucapanku, bahwa aku tidak ada hubungan dengan Arga sampai kau kembali," ucap Gita lirih sambil menatap punggung Dimas yang sudah menjauh dari pandangannya.
.
.
.
Kini Dimas sudah dalam perjalanan menuju bandara, karena dia akan terbang ke luar negeri untuk mengurus perusahaan nya disana.
"Aku tidak boleh diam saja, aku harus mengawasi gerak gerik Arga," ucap Dimas lalu menghubungi seseorang dari ponselnya.
"Hallo, Dev. Aku butuh bantuan mu," ucap Dimas to the poin.
"Ya, katakan," sahut Dev dari seberang telepon.
"Aku harus pergi ke luar negeri untuk mengurus perusahaan ku, dan aku tidak bisa menjaga Gita di sana," kata Dimas menjelaskan.
"Lalu?" kata Dev.
"Aku butuh anak buahmu untuk menjaga Gita dari seseorang yang bernama, Arga. Pria itu sepertinya punya rencana untuk merebut Gita dari ku," kata Dimas.
"Hmm, jadi kau punya saingan?" kata Dev mengejek.
"Ayolah Dev, ini serius. Aku tidak mau pertunangan ku sampai gagal karena pria itu," jawab Dimas.
"Baiklah, percayakan masalah ini padaku. Aku akan menangani nya," kata Dev.
"Oke Dev, thanks," jawab Dimas lalu menutup sambungan teleponnya.
"Setidaknya ada yang mengawasinya disana," gumam Dimas yang masih kepikiran dengan Gita.
.
.
.
"Siapa yang menghubungi mu, Dev?" tanya Zea dari ranjangnya.
"Dimas meminta bantuan ku untuk mengawasi Gita," sahut Dev yang masih berkutat dengan ponselnya memerintahkan anak buahnya menjaga Gita.
"Emang nya ada apa dengan Gita?" tanya Zea mulai risau.
"Dia tidak apa-apa, Beby. Hanya saja Dimas tidak bisa menjaganya karena Dimas haru ke luar negeri untuk urusan perusahaan nya," jawab Dev menghampiri Zea.
"Oh ... apa dokter Dimas benar-benar mencintai Gita?" tanya Zea menatap Dev.
"Ya, aku sangat tahu Dimas mencintai Gita. Karena dia tidak pernah se khawatir ini pada seorang wanita," jawab Dev meyakinkan Zea.
"Seperti aku yang sangat mencintaimu," ucap Dev menatap manik mata Zea lalu mencium punggung tangan nya.
"Ck, kau menggombal lagi," sahut Zea yang membuat Dev tertawa karena Zea tidak pernah serius menanggapi pernyataan cintanya.
"Apa kau ingin ke taman? aku akan menemani mu," kata Dev.
"Hmm ... baiklah. Tapi aku ingin di gendong di belakang punggung mu," ucap Zea tersenyum lebar.
"Baiklah, Tuan Putri," sahut Dev lalu membungkuk di hadapan Zea.
Dengan cepat Zea naik ke atas punggung kokoh suaminya itu, dan mengalungkan tangannya di leher Dev. Lalu mengapitkan kedua kakinya di pinggang Dev.
"Are you ready?" tanya Dev menoleh kearah Zea.
"Yeah, I'm ready," sahut Zea tertawa pelan.
Lalu Dev menggendong tubuh Zea di punggungnya berjalan keluar kamar.
"Bye Mom ...," ucap Zea sambil melambaikan tangannya kepada Abel yang sedang duduk di sofa ruang tengah.
"Ada-ada saja kalian ini," kata Abel tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Abel menatap senang pada anak dan menantunya itu, yang kini mulai menjalani pernikahannya dengan bahagia.
Dan abel berharap Zea akan segera memberinya cucu.