My Lovely Girl

My Lovely Girl
Bab 39



Ponsel Zea berbunyi dan dia langsung mengangkatnya.


"Hallo, Pah." Zea menjawab panggilan itu.


"Hallo, Sayang. Kau sedang apa?" tanya Adi di seberang telepon.


"Aku hanya bersantai dengan Momy Abel, ada apa, Pah?" tanya Zea.


"Aku akan mengajakmu ke perusahaan, apa kau mau?" kata Adi.


"Ya, aku mau Pah," sahut Zea melihat kearah Abel.


"Baiklah, Papah sedang dalam perjalanan kesana, sebentar lagi sampai," jawab Adi.


"Baiklah. Aku akan bersiap dulu, bye Pah," ucap Zea lalu mematikan sambungan teleponnya.


"Ada apa, Sayang? apa ada hal yang penting?" tanya Abel.


"Tidak Mom, Papah hanya mengajak ku ke perusahaan," jawab Zea sembari tersenyum.


"Oh begitu, baiklah kau pergi lah bersama papah mu, Sayang," ucap Abel mengusap rambut Zea.


"Ya Mom, aku bersiap dulu," sahut Zea tersenyum, lalu masuk kedalam mansion dan berjalan menuju kamarnya.


.


.


Kini Adi dan Zea sudah sampai di perusahaan.


Zea menatap gedung yang menjulang tinggi di hadapan nya itu dan terbesit ingatan kecil di kepalanya.


"Are you oke, Honey?" tanya Adi sambil merangkul bahu sang putri.


"Yeah ... I'm oke, Pah," jawab Zea tersenyum pada Adi.


Dan mereka masuk kedalam. Saat melewati lobby perusahaan, banyak para pegawai yang menunduk hormat pada Adi dan Zea, serta mengucapkan selamat pada Zea karena sudah kembali ke perusahaan.


"Ruangan siapa ini, Pah?" tanya Zea saat masuk kedalam ruangan yang begitu familiar di ingatannya.


"Ini ruangan mu, Sayang," jawab Adi menggandeng tangan Zea masuk kedalam ruangan itu


"Benarkah? jadi aku seorang CEO di perusahaan ini, Pah?" tanya Zea menoleh pada Adi.


"Ya, Sayang. ,dan perusahaan ini milik mu," sahut Adi mendudukkan Zea di kursi kebesarannya.


Zea mengedarkan pandangannya ke segala sudut ruangan itu, dan memandang takjub karena ruangan itu adalah ruangan nya dulu.


Lalu Zea terpaku menatap sebuah bingkai foto yang terdapat foto dirinya dan Adi tapi bukan dengan Lisa, momy tirinya.


Zea beranjak dari kursinya menghampiri letak foto itu lalu mengambilnya.


"Itu ibu kandung mu, Sayang," ucap Adi seakan tahu apa yang ada di fikiran putri nya itu.


"Hmm ... aku mengingat wajah ini," sahut Zea masih memandangi foto itu lalu menaruhnya kembali.


"Pah, aku ingin kembali bekerja di kantor ini," ucap Zea berjalan menuju mejanya.


"Kau yakin, Sayang?" tanya Adi menatap sang putri.


"Ya Pah, aku sudah sangat sehat. Aku bosan hanya berdiam diri berada di mansion," sahut Zea.


"Baiklah, Papah akan menyuruh sekretaris untuk membawa berkas-berkas kemari," jawab Adi lalu keluar dari ruangan itu.


Setelah beberapa menit ada seseorang mengetuk pintu ruangannya.


"Masuk" ucap Zea.


"Ini beberapa dokumen kantor ini yang membutuhkan persetujuan dari anda, Nona," ucap salah satu asisten di perusahaan itu dan memberikan dokumen itu pada Zea.


"Baiklah, siapa nama mu?" tanya Zea.


"Namaku Nita, Nona," jawab pegawai itu.


"Baiklah, terimakasih Nita," ucap Zea lalu memeriksa dokumen itu.


"Jika Anda membutuhkan sesuatu panggil saja saya, Nona," kata Nita.


"Oke, kau boleh keluar," sahut Zea tersenyum.


Lalu Nita pun pergi dari ruangan itu.


.


.


"Shiitt, kenapa dia sama sekali tidak menghubungi ku," umpat Dimas saat tidak ada satupun pesan atau panggilan dari Gita.


Lalu dia menghubungi salah satu anak buahnya Setelah berada didalam ruangan nya.


"Dimana dia sekarang?" tanya Dimas to the poin saat panggilan itu tersambung.


"Nona Gita sedang berada di restoran x, Tuan. Dia bersama teman-temannya," kata salah satu anak buah Dimas .


"Sedang apa dia?" tanya Dimas lagi.


"Nona Gita terlihat sedang mendiskusikan masalah kuliah nya, Tuan," jawabnya lagi.


"Berikan foto kegiatan nya saat ini," perintah Dimas lalu langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Ting ..


Ponsel Dimas berbunyi tanda pesan masuk.


Dia langsung membuka WhatsApp itu dan melihat foto kegiatan Gita yang baru dikirim oleh anak buahnya.


"Kenapa dia terlihat baik-baik saja tanpa ku, dan aku disini seperti orang stres saja selalu memikirkan dirinya," kata Dimas bergumam sendiri sambil melihat foto-foto di dalam ponselnya.


"Shiitt," umpatnya saat melihat Gita tampak tertawa dengan salah satu teman nya yang bernama Leon.


Lalu pria itu langsung menghubungi Gita, dering pertama belum terjawab, dering kedua juga belum di angkat bahkan setelah entah berapa kali Dimas menghubungi Gita, tapi wanita itu tidak menjawab panggilannya.


"Shiitt, berani sekali dia tidak menjawab panggilanku," ucap Dimas sambil melempar ponselnya ke sofa dengan begitu kesal, karena baru kali ini dia di abaikan oleh seorang wanita.


.


.


Sementara itu di dalam restoran yang dekat dengan kampusnya, Gita sedang asik mengobrol dan bersenda gurau bersama para temannya yang sebentar lagi akan berpisah karena akan segera lulus kuliah.


Gita memang tak mendengar suara ponselnya yang berdering, karena keadaan disana memang sangat ramai.


"Ah ya ... Gita aku dengar kau akan bertunangan deng seorang dokter tampan?" tanya salah seorang teman wanitanya.


Gita yang mendengar pertanyaan itu langsung melirik ke arah Monik yang langsung mengalihkan pandangannya saat Gita memandang nya.


"Benarkah? kapan acaranya? apa kau tak mau mengundang kami?" tanya seorang temannya yang lain.


"Nanti aku akan mengirimkan undangannya pada kalian semua, awas saja kalau kalian tidak datang," jawab Gita sambil memelototi Monik.


"Aku penasaran, pria seperti apa yang berhasil membuat play girl yang satu ini bisa melabuhkan hatinya," ucap temannya lagi sambil menyenggol lengan Gita.


Gita hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan dari temannya sambil meminum jus yang di tangan nya.


"Kalian pasti akan iri melihatnya, dia pria yang sangat tampan, baik dan juga sangat perhatian," sahut Monik membayangkan seorang dokter Dimas.


"Benarkah? kau pernah melihatnya, Monik?" tanya temannya yang lain.


"Iya ... aku pernah mengantarkan nenekku kontrol ke rumah sakit dan kebetulan yang menangani nenekku adalah dokter Dimas, tunangannya Anggita," jawab Monik.


"Waah, aku jadi penasaran setampan apa dokter itu. Apa dia lebih tampan dari kak Arga?" tanya seorang wanita yang duduk di sebelah Gita sambil melirik kearah nya.


"Iiishhh, kalian ini. Stop, jangan membicarakan tentang ini. Kita ganti topik," sahut Gita.


Leon yang mendengar pembicaraan dari para wanita itu hanya menggelengkan kepalanya, dan merasakan hatinya yang sakit dengan kenyataan yang tak berpihak padanya.


"ANGGITA ...," panggil seseorang dari belakang.


Gita langsung menoleh kearah sumber suara dan tersenyum.


"Kak Arga? kau disini juga?" kata Gita berdiri dan saling berpelukan sejenak lalu cipika cipiki.


Disaat Gita berpelukan dengan Arga, ada seseorang yang diam-diam memotret nya dan langsung mengirimkan foto itu pada seseorang.


Anggita Pradipta



Dimas Ganendra