
"WHAT !!! mereka sudah menikah !!!" kata seseorang dengan suara yang begitu keras.
"I-iya bos dan sekarang nona Zea sudah tidak ada dari rumah sakit itu," jawab anak buahnya.
BRAKK
Pria itu menggebrak meja dengan begitu keras.
"SIAL !!! Rencana kita sepertinya sudah terbaca oleh Dev, makanya dia nekat menikahi Zea meskipun dalam keadaan koma," kata pria itu lagi.
"Cepat cari tahu, ke rumah sakit mana Zea di pindahkan dan jika sudah ketemu langsung bawa Zea padaku." Perintah pria itu pada anak buahnya.
"Baik boss," jawab anak buahnya.
"Zea ... kau milikku, hanya milikku dan tidak ada yang bisa memilikimu selain aku," gumamnya dengan mengepalkan 2 tangannya.
Ya, semua rencana yang pria itu susun bersama sepupunya Lena sebelum lena tertangkap, gagal karena Dev berhasil membawa Zea keluar dari rumah sakit itu.
Dev juga memalsukan data bahwa Zea dipindah ke rumah sakit lain, tapi faktanya Zea dirawat jalan dari rumah dengan perawatan ekstra, di mansion keluarga Bramasta.
"Cepat cari tahu siapa dalang dari rencana itu, kalau perlu bawa anak buahnya ke hadapan ku." Perintah Dev pada anak buahnya yang sedang berbicara lewat sambungan teleponnya.
"Baik boss, kami sudah memeriksa cctv rumah sakit di lorong dekat toilet dan kami sudah menyimpan fotonya," jawab seseorang di seberang telepon.
"Hmmm, kerja yang bagus. Secepatnya kau harus menangkap orang itu," kata Dev.
"Baik boss," jawabnya lagi. Lalu mematikan sambungan teleponnya.
"Dia tidak tahu sedang berurusan dengan siapa," gumam Dev menerawang ke luar jendela kamarnya.
.
.
Tiga hari kemudian, di sebuah gudang yang tak terurus seseorang sedang berbicara dengan anak buahnya yang lagi-lagi gagal dalam rencana keduanya.
BRAAKK
"SIAL !!! ternyata kita di bodohi mentah-mentah oleh mereka," kata pria itu yang diduga bos dari orang-orang yang berdiri di hadapannya.
"M-maaf kan kami bos," jawab anak buahnya.
"Aaaarrgghhhh ... cepat cari lagi keberadaan Zea dan langsung bawa kehadapan ku!!!" teriak pria itu yang terdengar begitu marah.
"T-tapi bos, nona Zea berada di mansion keluarga Bramasta dan disana sudah dijaga begitu ketat. Kami tidak mungkin bisa memasuki mansion itu bos," jawab seorang anak buahnya lagi.
"Aku tidak peduli !!!! aku sudah membayar kalian, bukan? Cepat laksanakan perintah ku!" sahut pria yang itu dengan suara yang begitu lantang.
.
.
"Oke, langsung kalian serang, aku akan segera sampai di lokasi," jawab Dev langsung mematikan sambungan teleponnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
BRAKK
Terdengar suara pintu yang di dobrak dengan begitu keras dari luar dan mengejutkan orang-orang yang ada di dalamnya.
DOR DOR DOR
Terdengar suara tembakan yang di tujukan pada beberapa orang yang sedang berada di dalam gudang itu dan mereka tidak bisa menghindar dengan serangan tiba-tiba yang mereka dapatkan.
"SIAL!!! aku harus lari dari sini," kata seorang pria yang tak lain adalah Nico.
DOR
Dev dengan cepat langsung menembakkan pelurunya tepat di kaki Nico yang akan melarikan diri, lalu pria itu langsung tergeletak di lantai yang kotor itu.
"SHIITT," umpat Nico ketika peluru itu tepat mengenai kakinya.
"Kau tidak mungkin bisa melarikan diri dari ku, Nico," kata Dev perlahan berjalan menghampiri Nico yang masih tidak bisa bangkit karena kakinya yang tertembak.
"Hmm, sudah kuduga kau hanya terobsesi pada Zea, sama seperti Lena yang begitu terobsesi padaku," ucap Dev lagi dengan suara berat nya.
"DIAM KAU DEV !!!" teriak Nico.
DOR ...
Bersamaan dengan suara tembakan yang di arahkan ke Dev tapi pria itu berhasil menghindar.
PROK ... PROK ... PROK.
Dev bertepuk tangan.
"Tembakan yang bagus, tapi sayangnya aku masih bisa membaca pergerakan mu, karena kau bukan tandingan ku, Nico," ucap Dev.
DOR
Dev langsung menembakkan pelurunya ke kaki Nico yang satunya.
"ITU HUKUMAN KARENA KAU SUDAH BERANI MERENCANAKAN SESUATU PADA ISTRIKU!!" teriak Dev sambil memegang kerah baju Nico lalu menghempaskannya dengan kasar.
"CUKUP!!! Bawa mereka semua ke kantor polisi!!" Perintah Dev pada anak buahnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.