My Lovely Girl

My Lovely Girl
S2 Valerie - Irza 7



" Bisa kau jelaskan pada kami, Ir? siapa wanita yang bersama mu tadi hingga kau rela meninggalkan Momy berjaga sendiri disini?" tanya Gita dengan tatapan tajam nya.


Irza menggaruk leher nya yang tidak gatal. Dia bingung bagaimana caranya untuk menjelaskan tentang wanita itu.


" Kau ingin menjelaskan atau aku akan mencari tahu sendiri, siapa wanita itu? hmm?" kata Dimas.


Irza tampak menghela nafasnya kasar. Dia menegakkan tubuhnya dan meletakkan botol minumannya di meja.


" Ya. Aku akan menjelaskan pada kalian siapa wanita itu," sahut Irza.


Semua tampak menatap serius kearah Irza karena penasaran dengan cerita dari pria itu.


" Namanya Valerie Archer. Aku tak sengaja bertemu dengan nya di jalan karena dia sedang membutuhkan bantuan. Adiknya sakit dan aku membantunya dan membawa adiknya ke rumah sakit ini."


Semua mendengar kan cerita Irza dengan seksama. Ardo mengerutkan keningnya mengingat nama Archer yang ada dalam ingatan nya.


" Aku ingin menikahi nya." lanjut Irza yang berhasil membuat semua keluarga nya terkejut dengan keputusan pria itu.


" Apa alasan mu ingin menikahinya? pernikahan bukan sebuah permainan, Ir. Aku bisa menebak apa yang ada di pikiran mu saat ini," sahut Gita.


" Tidak, Kak. Aku benar-benar ingin menikahinya, entahlah. Aku hanya ingin melindungi nya karena semalam dia hampir saja di bawa oleh mucikari. Dia putus asa karena tak memiliki uang untuk biaya operasi adiknya dan berniat untuk menjual diri," kata Irza.


Mereka terkejut dengan penuturan Irza. Bahkan Wilda dan Gita mulai penasaran dengan wanita itu.


" Nikahi dia, Ir. Daddy merestui mu," sahut Ardo dengan nada pelan.


Sehingga membuat semua menoleh kearah pria paruh baya yang masih terbaring di ranjang.


" Dad ..." lirih Gita menatap kearah Ardo.


Pria itu tersenyum dan mengusap lengan Gita.


" Bawa wanita itu kemari, Ir. Aku ingin memastikan sesuatu sebelum kau menikahinya," lanjut Ardo.


Irza menatap lekat wajah pucat Ardo.


' Apa yang ingin daddy pastikan?' batin Ardo.


Pria itu mengingat saat wanita itu memperkenalkan diri dengan nama panjangnya.


" Archer ... nama itu terdengar tidak asing di telinga ku," gumam Irza yang masih bisa di dengar oleh orang yang ada di ruangan itu.


" Itulah yang ingin daddy pastikan, Ir. Cepat bawa dia kemari," kata Ardo.


Irza kembali menatap kearah Ardo. Lalu dia menatap kearah Wilda yang juga menatapnya.


Wanita paruh baya yang duduk di sampingnya itu mengusap lengannya dan menganggukkan kepalanya.


" Baiklah."


Irza bangkit dari sofa dan mulai melangkah kan kakinya meninggalkan ruangan itu.


Kini Irza suda ada di depan ruangan ICU. Tapi dia sudah tak lagi melihat Valerie disana.


Lalu dia bertanya pada seorang perawat yang kebetulan lewat.


" Permisi, pasien yang tadi ada di ruangan ini, apa sekarang sudah di pindah?"


" Anda bisa bertanya itu ke meja resepsionis, Tuan. Permisi," sahut perawat itu berlalu.


Irza melangkah kan kakinya kearah meja resepsionis dengan cepat. Karena dia ingin cepat menemukan wanita itu.


Setibanya dia di meja resepsionis.


" Permisi. Saya ingin menanyakan pasien yang bernama Lenski, apa dia sudah di pindahkan ke ruang perawatan?" tanya Irza.


" Sebentar saya cek dulu."


Irza tetap menunggu disana. Pria itu mengedarkan pandangannya ke segala arah, siapa tahu dia melihat Valerie.


" Pasien yang bernama Lenski Archer sudah di pindahkan ke ruang perawatan nya, Tuan. Di kamar no 3 VVIP."


" Baik, Terimakasih." Irza langsung meninggalkan meja resepsionis dan mencari dimana ruangan itu.


Dia berjalan di lorong rumah sakit sambil mengedarkan pandangannya di setiap pintu perawatan disana.


Mencari kamar yang tadi di sebut kan oleh resepsionis. Setelah menemukan kamar yang dia kira benar.


Dia langsung membuka pintunya dengan kuat hingga membuat Orang-orang yang ada di dalam sana tersentak kaget.


Dia mengedarkan pandangannya dengan kening yang berkerut. Karena dia ternyata salah kamar.


"Maaf, sepertinya saya salah masuk kamar. Permisi," kata Irza merasa bersalah karena sudah mengganggu orang-orang yang ada di kamar itu.


Dia bergegas menutup kembali pintu itu. Dan melihat kearah tulisan yang ada di atas pintu.


Benar saja. Ternyata yang dia masuki kamar perawatan no 3 Vipa. Dia menggeleng kan kepalanya karena kebodohannya itu.


Karena tak kunjung menemukan kamar perawatan Lenski. Akhirnya dia menyerah dan bertanya pada seorang perawat yang kebetulan lewat.


" Bisa kau beri tahu aku, dimana kamar VVIP no 3?" tanya Irza.


" Kamar VVIP ada di lantai 3, Tuan. Anda bisa menaiki lift terlebih dahulu karena ini masih di lantai satu," kata perawat itu.


Irza menepuk keningnya karena kebodohan nya itu.


" Baik, terimakasih."


Dengan langkah cepat nya, dia berjalan menuju lift.


" Kenapa aku sebodoh ini? Bukannya kamar daddy VVIP no 1?" gerutu Irza.