
Adi dan Yosi saling menatap.
' Oh God, apa ini hanya kebetulan atau memang takdir dari mu,' batin Adi.
" Kapan kau dan Dimas akan berangkat ke Paris?" tanya Yosi.
" Dalam minggu ini, Dad. Dimas sedang mempersiapkan semuanya serta menyelesaikan pekerjaan nya disini agar bisa berangkat dengan cepat," sahut Gita.
" Baiklah. Kalian bisa tinggal di mansion ku yang ada di Paris, atau salah satu resort milik Dimas yang ada disana," kata Yosi sambil mengambil gelas yang sudah di isi air putih oleh Gita.
" Daddy punya mansion juga disana?" tanya Gita semangat.
" Tentu karena aku juga punya beberapa perusahaan cabang disana, jadi aku cukup sering bolak balik ke Paris."
" Waah ... aku jadi gak sabar pergi ke kota indah itu," kata Gita membayangkan indah nya kita Paris.
Adi tersenyum melihat Gita begitu bahagia. Tapi juga terselip ke khawatiran di dalam hatinya. Takut Gita akan marah padanya saat wanita itu tahu bahwa dia ingin mempertemukan Gita dengan ayah kandungnya.
.
.
" Bye, Mom." Zea melambaikan tangannya pada Lisa yang berdiri di depan pintu utama mansion.
" Hati-hati sayang. Jangan kebut-kebutan di jalan," kata Lisa memperingatkan Zea.
" Oke, Mom," sahut Zea sambil memakai helm nya.
Lalu dia mulai mengendarai motor nya pergi dari halaman mansion.
Lisa menatap kepergian Zea sembari bergumam.
" Semoga kau tetap bersikap seperti ini padaku saat ingatan mu sudah kembali, sayang."
Lalu dia pun masuk kembali kedalam mansion saat Zea sudah menghilang di balik pagar tinggi di mansion itu.
.
Zea mengendarai motornya dengan kecepatan sedang di jalan yang tak terlalu ramai. Wanita itu seakan menikmati cuaca di hari itu yang sangat bersahabat.
" Akhirnya aku bisa mengendarai motor ku lagi, yuhuu ...," gumam Zea sambil merentangkan satu tangan nya.
Dia terus mengendarai motornya menuju perusahaan sang suami.
Kini Zea sudah tiba di depan gedung perusahaan Dev. Dia langsung memarkir kan motornya di halaman depan gedung itu.
Lalu Zea membuka helm nya dan mengibaskan rambut panjangnya yang menjuntai indah.
Hal itu membuat dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu lalang disana.
Zea langsung masuk kedalam lobby dengan ekspresi datar dan tatapan matanya yang tajam. Wanita itu menghampiri meja resepsionis.
" Bisa kau tunjukkan padaku dimana ruangan Devandra?" tanya Zea sopan.
Pegawai wanita yang menjaga meja resepsionis itu melihat sinis penampilan Zea.
" Maaf, apakah sudah ada janji?"
" Belum," sahut Zea singkat.
" Aku rasa seperti nya beliau tidak akan menemui siapapun hari ini. Apalagi menemui wanita yang berpenampilan seperti Anda!" kata wanita itu blak-blakan merendahkan penampilan Zea.
Zea hanya tersenyum miring mendengar perkataaa dari wanita itu.
Lalu Zea berbalik akan pergi menuju pintu keluar. Saat berada di pintu keluar dia berpapasan dengan asisten kepercayaan Dev.
" Nyonya? Anda disini? Apakah anda ingin bertemu dengan Tuan Dev?" sapa Jack sambil menundukkan kepalanya pada istri sang big bos.
Zea menoleh pada wanita yang baru saja di temuinya dengan tatapan tajam. Dan wanita itu juga menatapnya dengan tatapan sinis.
" Belum, aku sepertinya tak di terima di perusahaan ini karena penampilan ku yang seperti ini," sahut Zea.
Jack mengerutkan keningnya mendengar perkataan dari Zea.
" Siapa yang bicara seperti itu, Nyonya?" tanya Jack.
" Dia." Zea langsung menunjuk kearah wanita yang tadi di temuinya di meja resepsionis.
Jack melihat kearah tangan Zea menunjuk. Lalu Jack menatap tajam pada pegawai itu.
Sementara wanita itu tampak menundukkan wajahnya.
' Sial, siapa sebenarnya wanita itu. Kenapa tuan Jack terlihat begitu menghormati nya. Apa dia salah satu kerabat dari tuan Dev? jika itu benar, matilah aku.' gumamnya.
" Mari saya antarkan Anda keruangan Tuan Devandra, Nyonya. Silahkan," kata Jack sopan sambil mempersilahkan Nyonya nya berjalan di depan.
Saat melewati meja resepsionis, Zea hanya tersenyum miring sembari melirik kearah wanita tadi.
Sementara Jack terlihat menatap nya dengan tatapan tajam, hingga wanita itu tak mampu mengangkat kepalanya.
CEKLEK
Jack membuka pintu ruangan Dev dan mempersilahkan Zea masuk.
" Aku akan memanggil kan Tuan Dev, Nyonya," kata Jack sopan. Lalu pergi dar ruangan itu.
Zea duduk di sofa sambil mengedarkan pandangannya ke segala sudut di ruangan itu.
Dia beranjak dari sofa dan berjalan kearah meja kerja Dev. Lalu Zea duduk di kursi kebesaran sang suami.
Senyumnya tersungging saat melihat sebuah foto yang terpajang di meja kerja Dev. Zea mengambilnya bingkai foto itu dan mengusapnya perlahan.
. CEKLEK
Terdengar pintu dibuka, Zea langsung meletakkan kembali bingkai foto itu ke tempat nya.
" Hello, Beby. Sudah lama menunggu ku?" kata Dev masuk dan berjalan kearah sang istri.
" Tidak, aku baru saja tiba. Kau tak sibuk hari ini?" tanya Zea bangkit dari kursi kebesaran Dev.
" Sesibuk apapun, aku akan selalu ada waktu untuk mu, Beby," kata Dev mengangkat tubuh Zea dan mendudukkan nya di mejanya.
" Apa yang membuat mu sampai menyusul ku kemari? apa kau merindukan sentuhan ku?" tanya Dev memeluk pinggang Zea yang sedang duduk di mejanya.
Zea menatap lekat mata tajam Dev sambil meraba dada bidang pria itu.
" Ya, aku merindukan ciuman mu," kata Zea mengecup dagu sang suami.
" Oouuwh ... Kau menggemaskan sekali, Beby. Aku jadi ingin memakan mu," kata Dev lalu menggigit gemas bahu Zea.
" Makan aku sepuas mu, dan setelah itu kau harus ikut dengan ku," kata Zea membelai tengkuk leher Dev.
Hal itu membuat tubuh Dev meremang.