My Lovely Girl

My Lovely Girl
Bab 12



"Dev.." sahut Zea tersenyum manis.


Pria itu merentangkan tangannya agar wanitanya bisa memeluknya.


Lalu zea pun menghampiri pria itu dan memeluknya.


'apa ini ... kenapa aku malah menyambut pelukannya,' batin Zea dalam dekapan Dev.


'aku tahu apa yang kamu rasakan, beby,' batin Dev tersenyum memeluk Zea.


"Heeeii ... kalian hanya beberapa jam terpisah dan sekarang langsung berpelukan dan tak tahu tempat," kata Daniel memisahkan pelukan dari 2 sejoli itu.


"Ckk, kau ini mengganggu sekali, Adik Ipar," jawab Dev sambil menjitak pelan kepala Daniel.


"Sorry kak, nikmati kebersamaan kalian sebelum kak Zea dikirim keluar negeri oleh papah," sahut Daniel lalu meninggalkan mereka berdua.


"Apa maksud perkataannya, Beby??" tanya Dev yang tampak kaget mendengar perkataan dari Daniel.


"Bukan apa-apa Dev ... dia hanya menggoda mu," jawab Zea sambil menggandeng tangan Dev menuju kursi yang disediakan.


Dev memandang penampilan Zea yang tampak sangat cantik dengan dres itu.


Pria itu mengangkat tangannya dan membelai rambut Zea dari atas kepalanya hingga turun dan membenarkan rambut Zea yang menutupi dadanya.


"Kau sangat cantik bila mengenakan baju seperti ini, Beby. Tapi aku tak suka bila kau menggunakannya di kerumunan banyak orang seperti ini," kata Dev membenarkan blazer wanita itu.


"Ya, aku tahu apa maksud mu," jawab Zea sambil memandang wajah tampan Dev.


"Aku tak ingin tubuh indah ini ter ekspos di depan banyak orang," sahut Dev yang kini tangannya berada di atas bibir wanita cantik itu dan membelainya perlahan.


Mereka berpandangan cukup lama dengan debaran jantung yang mereka rasakan.


Lalu tiba-tiba ada seseorang yang dengan sengaja menyenggol lengan Zea dari belakang dan menumpahkan minumannya di lengan serta dada Zea


.


"Uuuppss ... sorry," ucap Gita mengejek.


Zea tak menjawab dan tak menghiraukan apa yang dilakukan oleh Gita karena dia tahu persis bahwa saudara tirinya itu hanya ingin memancing emosinya agar mengacaukan pestanya ini.


Dan tiba-tiba Daniel datang dengan membawa minuman coklat hangat dan pura-pura tersandung di depan Gita lalu dengan sengaja menyiramkan minuman itu ke wajahnya.


"Oouuwh ... aku benar-benar tidak sengaja KAKAK," ucap daniel yang langsung membalas apa yang dilakukan Gita pada Zea.


"DAAANIIEELL ... kau sengaja melakukan ini kan!!!" Bentak Gita yang sudah tersulut emosinya.


"Mungkin iya," sahut Daniel dan memajukan langkahnya dan berbisik.


"Jika kau mencari masalah dengan kak Zea itu artinya kau mencari masalah dengan ku," bisik Daniel yang membuat Gita mengepalkan tangannya.


Lalu wanita itu meninggalkan pesta yang sedang berlangsung dengan diikuti oleh ibunya.


"God boy.." ucap Dev sambil menepuk pundak Daniel.


"Ckk, bajuku jadi basah karena perbuatannya," ucap Zea sambil mengambil tisu untuk membersihkannya tapi itu tidak ada gunanya.


"Ikut aku," kata Dev menarik tangan Zea.


"Dev.. mau kemana??" Sahut Zea yang mengikuti langkah pria itu karena menarik tangannya.


Dev membawa Zea kehadapan Adi yang sedang mengobrol santai dengan para koleganya.


"Uncle ...." Sapa Dev pada calon mertuanya dan membungkuk untuk mencium tangannya.


"Dev ... ku kira kau tak jadi datang, sejak tadi Zea menunggumu," ucap Adi yang membuat Zea menatap kearahnya.


"Iya, aku sedikit terlambat tadi uncle, karena ada urusan penting yang harus aku tangani dulu," sahut Dev.


"Ada apa Dev?" tanya Adi sambil melihat kearah tangan Dev yang menggenggam erat tangan Zea.


"Uncle, aku mau minta izin, aku ingin membawa Zea untuk menginap di mansion ku malam ini, karena momy yang menginginkannya. Momy sedang tidak enak badan dan memintaku untuk membawa calon menantunya ke mansion," tanya Dev panjang lebar.


Adi menyipitkan matanya dan tidak langsung menjawab permintaan calon menantunya.


"Jika uncle tidak mengizinkan Zea menginap, maka izinkanlah untuk membawa Zea sebentar untuk menemui Momy," sahut Dev lagi.


Adi tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Aku tidak punya alasan untuk tidak mengizinkan Zea menemui calon mertuanya," ucap Adi lalu menepuk pundak calon menantunya itu.


"Ber hati-hatilah, dan jangan sampai kau menyentuhnya sebelum kalian menikah," ucap Adi memberi ultimatum nya.


Lalu Zea menghampiri Adi dan menatap matanya, gadis itu belum mengerti kenapa papahnya bisa sangat percaya pada pria yang baru saja di kenalnya.


"Pah _" ucapan Zea terpotong dengan ucapan Adi.


"Pergilah sayang ... ini kesempatan mu untuk bisa menjawab pertanyaan yang muncul dari pikiran mu," ucap Adi mencium puncak kepala Zea.


Lalu merekapun pergi meninggalkan gedung itu.


"Anda sangat beruntung tuan, karena akan mendapatkan menantu sesempurna Devandra," kata salah satu koleganya.


"Iyaa, aku sangat bersyukur untuk itu," jawab Adi sambil meminum minuman yang dipegangnya.


.


.


"Aaaarrgghhhh ... selalu dan selalu saja Zea mendapatkan apa yang aku inginkan!!" teriak Gita ketika sudah masuk kedalam mansion.


"Kenapa semua orang seolah bertekuk lutut dihadapannya, apa sih istimewanya dia!!" Bentak Gita frustasi dan kembali berteriak.


"Cukup Gita ... minum ini dulu, tenangkan pikiran mu, sayang," ucap Lisa menasehati.


"Mom, aku harus membuat papah dan Daniel tidak mempercayainya. Agar wanita itu tidak memiliki siapa pun lagi yang akan membelanya," sahut Gita geram.


"Tapi apa rencana mu, sayang. Gadis itu benar-benar licik dan pintar," kata Lisa menimpali.


"Aku akan memikirkannya, Mom." Gita melipat tangan di dadanya.


.


.


Dev mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan gedung Pradipta corp dan langsung menuju ke mansion keluarga Bramasta.


Kini mereka sampai di depan mansion yang sangat mewah.


Dev menggandeng tangan Zea untuk masuk kedalam mansion dan langsung menuju kamar Momy Dev.


"Mom ...." Panggil Dev lalu membuka pintu kamar Momynya.


Wanita paruh baya itu menoleh kearah pintu yang terbuka.


"Dev ... kau sudah datang?? Kau membawa calon menantuku??" tanya abel tersenyum.


Lalu melihat kearah seorang wanita yang muncul dari belakang Dev.


"Aunty ...." Panggil Zea dan mendekati Abel yang sedang terbaring di atas ranjang.


Zea langsung memeluk Momy abel yang terbaring lemah di atas kasur lalu mencium tangannya.


"Terimakasih sudah mau menemui Momy, sayang," ucap Abel membelai rambut Zea.


Zea mengerutkan keningnya mendengar ucapan dari wanita paruh baya itu.


"Kau akan menjadi putriku kan?? Maka panggil aku Momy, sayang," sahut abel sambil menggenggam tangan gadis cantik yang akan menjadi menantunya.


"Baiklah Mom," ucap Zea akhirnya sambil tersenyum.


Abel terlihat sangat senang dengan kedatangan Zea dan merasa semangat nya kembali lagi dengan kehadiran Zea.


"Momy belum makan malam?" tanya Zea melihat makanan yang masih utuh tak tersentuh yang ada di meja nakas.


"Momy sangat malas untuk makan, sayang. Lidah Momy terasa sangat hambar," sahut Abel melihat langit-langit kamar itu.


Lalu Dev menghampiri Abel dan mencium keningnya


"Momy harus makan agar Momy segera sembuh," ucap Dev sambil mengusap kening Abel.


"Aku akan menyuapinya, Dev." kata Zea mengambil makanan yang ada di meja nakas.


Lalu Zea mulai menyuapi calon mertuanya itu dengan perlahan dan dengan penuh perhatian, sampai Abel pun menghabiskan makanannya.


Setelah itu Zea memberikan obat yang harus diminum oleh wanita paruh baya itu.


"Terimakasih, kau sudah mau direpotkan oleh ku, sayang," kata Abel sembari memegang tangan Zea.


Zea hanya mengangguk dan tersenyum pada Abel.


"Momy istirahatlah, karena besok momy harus kembali sehat, okey," kata Dev sambil membenarkan selimut Momynya dan mencium keningnya.


"Good night, Mom." Zea tersenyum dan mencium pipi Abel.


"Good night, Sayang," sahut Abel lalu mulai memejamkan matanya yang sudah mengantuk, efek dari obat yang diminum nya.


Zea dan Dev keluar dari kamar Abel.


Lalu Dev menarik tangan Zea ke kamarnya.


"Kamar siapa ini??" tanya Zea yang sudah masuk ke kamar itu.


"Kamar kita," sahut Dev yang langsung membuka kemejanya.


"Dev apa yang kau lakukan," kata Zea sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.