
Zea dan Alina menoleh ke asal suara yang sangat mereka kenal.
" Ck, Kakak ... kau ini mengganggu saja," kata Alina melepaskan pelukannya pada Zea.
" Sedang apa kau memeluk istri ku seperti itu?" tanya Dev menghampiri mereka.
" Memangnya kenapa? Kak Zea juga kakak ku, bahkan aku lebih sayang pada Kak Zea dari pada Kak Dev," sahut Alina sambil menjulurkan lidahnya kearah Dev.
Zea tertawa pelan melihat Dev dan Alina yang terkadang seperti tikus dan kucing.
" Minggir ... minggir, aku mau istirahat. Kau di cari mom di bawah. Sana pergi," kata Dev sengaja mengusir Alina agar tak mengganggu nya yang ingin berdua dengan Zea.
" Iiishh ... Kakak mengusir ku?" kata Alina kesal.
" Tidak, aku hanya bilang kau sedang di cari momy, adikku yang cantik ... jadi sana temui momy," kata Dev merayu sang adik.
" Kak Zea, ikut aku yuk menemui momy," ajak Alina karena gadis itu takut jika bertemu dengan Gita dan Dimas lagi.
" Ayo," kata Zea bangkit dari ranjangnya.
" Eeettt ... tunggu - tunggu," kata Dev menahan tangan Zea.
" Al, kau bisa pergi sendiri, kan? jadi untuk apa kau mengajak Zea," kata Dev.
" Tidak, aku tidak akan pergi sebelum Kak Zea ikut denganku," sahut Alina kekeh.
' Aku menyuruh nya pergi karena aku ingin berduaan dengan istri ku. Tapi kenapa dia malah mengajak Zea,' batin Dev sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Ayo, Kak Zea." Alina menarik tangan Zea.
" Tidak boleh," kata Dev menahan tangan Zea.
" Kakakkk !!!" teriak Alina.
" Al, apa kau lupa. Kau kan tadi sudah memberi ku sebuah PR yang sedikit sulit," kata Dev kemudian.
Alina melepaskan tangan Zea dan duduk kembali di ranjang itu.
' Kenapa dia malah duduk lagi,' batin Dev sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
" Benarkah? PR apa, Kak? aku tak ingat," tanya Alina penasaran.
' Kenapa Alina jadi pikun begini sih,' batin Dev sambil menepuk jidatnya sendiri.
Sementara Zea hanya mendengar kan pembicaraan dari kakak beradik itu.
" Bukankah kau tadi meminta 2 keponakan sekaligus, Al?" kata Dev mengingat kan.
" What ... 2 keponakan sekaligus?" kata Zea terkejut.
" Ah iya, kenapa aku bisa lupa sih," kata Alina menepuk jidatnya sendiri.
" Kau sudah ingat, kan?" tanya Dev.
" Iya, Lalu?" tanya Alina dengan polosnya.
Zea tertawa mendengar jawaban polos dari adik iparnya itu, sementara Dev sedang menahannya kekesalan terhadap sang adik yang terlihat begitu bodoh.
" Lalu ... kau pergilah dari kamar ini, setelah kau keluar dari sini lalu aku akan membuat kan mu 2 keponakan sekaligus, mengerti!!" kata Dev dengan tegas.
" Tidak, aku ingin disini melihat sendiri proses pembuatan 2 keponakan ku," jawab Alina dengan polosnya.
Sontak Zea langsung tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban dari adik iparnya itu.
Sementara Dev mengumpat kasar dalam hatinya sambil berjalan mondar mandir di kamar itu.
Alina menatap heran pada kedua kakaknya itu.
" Apa aku salah bicara?" gumamnya, lalu teringat sesuatu.
" Aaakkkhhh ... Maaf Kak, aku tidak bermaksud untuk melihat proses pembuahan itu," teriak Alina sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya karena merasa malu.
" Aku pergi, bye ...," kata Alina keluar dari kamar itu.
Sementara Dev memandang heran pada tingkah sang adik, dan Zea masih dengan tawanya.
Pintu kamarnya terbuka lagi, Dev dan Zea melihat kearah pintu.
" Buatkan aku 2 keponakan yang cantik dan tampan, Oke," kata Alina yang hanya muncul kepalanya saja dari balik pintu.
Lalu pergi dari pintu itu.
Dev dan Zea langsung tertawa melihat tingkah laku Alina.
Zea beranjak dari ranjangnya dan ingin berjalan keluar dari kamar itu. Tapi Dev menahan tangannya.
" Kau tidak bisa lari dariku, Beby," kata Dev mendekat pada Zea.
" Untuk apa aku lari dari mu? Karena aku hanya ingin membersihkan tubuhku sebelum bertanding dengan mu," sahut Zea tanpa menoleh kearah Dev.
Pria itu memeluk tubuh Zea dari belakang, lalu menghirup dalam tengkuk leher Zea.
Zea merasakan darahnya berdesir saat Dev menciumi tengkuk leher nya.
" Dev, Stop it." Zea melepas pelukan Dev, lalu membalikkan tubuhnya menghadap pria tampan itu.
" Kalau kau tidak mengikuti aturan nya, itu artinya kau kalah sebelum bertanding," kata Zea.
Dev tertawa pelan mendengar ancaman dari sang istri cantik.
" Baiklah, aku akan mengikuti permainan mu, Beby," sahut Dev tersenyum miring.
" Oke, Persiapkan dirimu. Karena aku akan sangat mudah mengalahkan mu," kata Zea membalikkan tubuhnya membelakangi Dev.
Lalu berjalan menuju kamar mandi.
" We'll see," sahut Dev.
.
.
Di lantai bawah, di tempat pesta yang masih berlangsung. Tampak para tamu sudah mulai berkurang.
Dan hanya tinggal anggota keluarga dan para sahabat. Karena hari mulai gelap.
Dari kejauhan, tampak orang-orang berpakaian serba hitam sedang mengawasi tempat berlangsung nya pesta itu.
" Bos, Pesta nya masih berlangsung, tapi sudah tak seramai tadi siang," kata seseorang melaporkan situasi di pesta itu pada seseorang yang tersambung dengan teleponnya.
" Lakukan sekarang, hancurkan pesta itu. Dan jangan sampai ada korba, karena itu akan berbuntut panjang," kata seseorang dari seberang teleponnya.
" Baik bos." Lalu langsung memutuskan panggilan itu.
Lalu pria itu memberi kode pada anak buahnya yang sudah siap untuk menyerang pesta itu untuk keluar dari persembunyian nya.
Jack yang sudah curiga sejak tadi pada seseorang yang terlihat menelpon seseorang secara diam-diam itu, juga sudah menyiapkan anak buahnya.
Lalu Jack menjentikkan jarinya, memberi kode pada seluruh anak buahnya yang sudah bersiap menunggu instruksi dari Jack.
Sebelum orang-orang itu masuk kearea pesta yang berlangsung, seluruh anak buah Jack sudah menghadang dan mengepung mereka diluar area pesta.
Dan terjadilah baku hantam disana. Anak buah Yosi dengan anak buah Dev.
Lalu Jack menghubungi Dev, memberi tahu tentang penyerangan ini.
" Shiitttt ...," umpat Dev.
" Siapa yang sudah berani mengacaukan acar ku!!" bentak Dev kesal sambil memukulkan tangannya ke meja.
" Ada apa, Dev?" tanya Zea keluar dari kamar mandi nya.
" Aku akan kebawah sebentar, kau tunggu disini dan jangan kemana-mana," kata Dev mengecup kening Zea, lalu keluar dari kamar itu.
Sementara Zea hanya menatap kepergian Dev sambil melipat tangan nya di dada.
" Pasti terjadi sesuatu dibawah," gumam Zea.
Lalu berjalan menuju jendela, dan melihat kearah pesta berlangsung.