
Irza menghampiri manager butik setelah Valerie dan Rani keluar dari butik itu.
" Aku ingin gaun untuk baby moon yang terpajang didalam etalase kaca itu," kata Irza pada manager itu.
" Tapi gaun itu hanya tinggal satu dan hanya tersisa yang di display saja, Tuan," sahut Manager itu.
" Tidak masalah. Keluar kan gaun itu dan periksa dengan baik, aku akan membayar berapapun untuk sepasang gaun itu," ucap Irza dengan yakin.
" Baik, Tuan."
Manager itu pun menyuruh dua pegawai nya untuk mengambil gaun yang terpajang di manekin itu dan membawanya ke hadapan Irza untuk diperiksa.
" Kondisinya masih bagus, aku ingin kalian membersihkan gaun ini. Dan di bungkus kedalam box dengan cantik," kata Irza.
Lalu dia membayar gaun itu ke kasir dan dia harus mengeluarkan biaya lebih untuk bisa mendapatkan gaun itu karena sebenarnya pihak butik tak ingin menjual gaun itu.
Setelah membayar gaun itu, Irza menghubungi anak buahnya agar datang ke butik untuk menunggu gaun yang akan di Loudry terlebih dahulu.
Lalu dia langsung keluar dari butik untuk melanjutkan perjalannya mengikuti sang istri yang sudah ada di sebuah mall terbesar di kota itu.
.
.
Kini Rani dan Valerie sudah keluar dari mall karena mereka sudah mendapatkan apa yang mereka cari.
Mereka berjalan kearah parkiran dan langsung masuk kedalam mobil untuk melanjutkan perjalannya lagi menuju tempat WO karena akan melakukan tester untuk makanan yang akan di hidangkan di pesta pernikahan Rani.
" Kau tidak lelah kan, Val? aku takut kau kelelahan," kata Rani sambil melakukan mobil nya keluar dari area parkiran mall itu.
" Tidak. Entah kenapa aku sangat senang dan sangat bersemangat," sahut Valerie tersenyum.
" Syukurlah. Kau harus bilang padaku jika kau merasa lelah, kita akan langsung pulang agar kau bisa beristirahat," sahut Rani.
" Oke, baiklah."
Rani melihat kearah kaca spion dan melihat mobil milik Irza di belakangnya.
' Dia mengikuti kami? itu pasti karena dia khawatir pada Valerie,' batin Rani.
.
.
Saat mobil milik Rani melewati sebuah jalan yang sepi, tiba-tiba ada pemotor yang mencegatnya. Mereka menodongkan senjata pada Mobil Rani dan seperti nya mereka adalah seorang perampok.
BRAKK
Seorang pria memukul kap mobil Rani.
Rani dan Valerie tampak sangat ketakutan dan mereka tidak tahu apa yang akan mereka lakukan.
BRAAKKK
" CEPAT KELUAR!!" bentak perampok itu lagi sambil memukul kan tongkat kayu pada kaca jendela yang ada di samping Rani.
Rani dan Valerie berteriak dan berpelukan didalam mobil. Dan mereka melihat kearah dua perampok yang saat ini akan memukul kan tongkat kayu lagi pada mobil Rani.
Tiba-tiba ada seseorang yang menahan tongkat itu saat perampok itu mengangkat tingga tongkatnya.
" Irza ..." lirih Valerie.
Irza langsung menarik tongkat itu dan merebutnya dari tangan perampok lalu dia menendang keras perut perampok itu hingga terjerembab kebelakang.
Satu perampok menghampiri Irza dan akan memukul Irza tapi Irza dengan cepat menangkap tangan nya dan memelintirnya kebelakang hingga berbunyi seperti ada tulang yang patah.
Pria itu berteriak kesakitan karena Irza dengan mudahnya mematahkan tulang nya lengannya.
Irza mendorong perampok itu dan melempar nya ke aspal. Tanpa dia sadari seorang perampok berdiri di belakangnya dengan memegang sebuah pisau lipat di tangan nya.
" IRZA ... AWAASSS!!" teriak Valerie dari dalam mobil saat melihat salah satu perampok akan menyerang nya dengan senjata tajam.
Irza menoleh dan perampok itu langsung menyabet kan pisau lipat ke lengan Irza hingga membuat lengan Irza terluka oleh senjata itu.
Darah segar pun langsung mengalir deras dari lengan Irza. Namun pria itu langsung menendang tangan perampok itu hingga membuat pisau nya terlempar.
Irza langsung menarik jaket perampok dan melempar nya ke aspal. Lalu dia menindih nya dan memukul nya secara brutal hingga membuat perampok itu tak sadar kan diri.
Irza bangkit dari tubuh pria yang sudah terkapar dan melihat kearah mobil Rani yang ternyata sudah ada Valerie berdiri di samping jendela mobil.
Mereka saling menatap dan Valerie pun menetes kan air matanya saat melihat luka yang ada di lengan Irza.
Wanita itu berjalan cepat kearah Irza dan langsung memeluk nya.
Irza tersenyum dan mengusap lembut punggung Valerie dengan tangan kirinya karena tangan kanan nya terluka cukup parah.
Dia mencium puncak kepala Valerie yang menangis di pelukannya.
" I love you, kau tidak apa-apa?" tanya Irza.
Valerie melepaskan pelukannya dan langsung menarik tangan kiri Irza dan membawanya masuk kedalam mobil milik Rani.
" Heii ... aku masih bisa menyetir, Honey!" kata Irza saat Valerie mendorong nya masuk kedalam mobil Rani.
" Jangan cerewet!! lukamu sangat dalam, Ir!!" bentak Valerie yang menunjukkan raut wajah khawatir nya.
Irza tersenyum melihat ke khawatir Valerie, dan dia merasa lega karena setidaknya Valerie masih peduli pada nya.