My Lovely Girl

My Lovely Girl
Bab 18



Dev dan Adi keluar dari ruangan dokter itu dan berjalan menuju ruangan ICU dimana Zea dirawat.


Seorang perawat wanita tampak keluar dari ruangan ICU otomatis Dev dan Adi menghampiri perawat itu.


"Apa kami bisa melihat keadaan nya?" tanya Dev pada perawat itu.


"Boleh Tuan, tapi harus bergantian dan mengenakan pakaian yang sudah disediakan," jawab perawat itu lalu mempersilahkan salah satu dari mereka masuk kedalam ruangan ICU.


"Uncle masuklah, aku akan menunggu disini," kata Dev mempersilahkan Adi untuk masuk terlebih dahulu.


"Terimakasih Dev," jawab Adi menepuk pundak pria yang sebentar lagi akan menjadi menantunya.


Setelah Adi mengenakan APD lengkap, pria paruh baya itu berjalan perlahan menuju ranjang dimana putri nya terbaring lemah disana.


Sementara Dev hanya memandang nya dari luar jendela ruangan itu.


"Sayang ... bangunlah, apa kau tidak merindukan papah? Bagaimana jika Daniel menanyakan tentang mu ... apa yang harus papah katakan pada anak tengil itu," kata Adi mengutarakan kecemasan nya sambil menggenggam tangan putri nya yang terbaring lemah di atas ranjang ICU.


Dev yang berdiri di luar jendela ruangan itu hanya terpaku sambil menatap calon istrinya, yang masih tak sadarkan diri dan mengingat setiap pertengkaran manis yang sering mereka lakukan.


Namun tiba-tiba ponselnya berbunyi dan membuyarkan lamunannya.


"Hallo Jack" kata Dev mengangkat panggilan itu.


"Bos, nona Lena sedang berada di rumahnya saat ini, apa perlu aku membawanya secara paksa?" kata jack dari seberang telepon nya.


"Terserah, yang terpenting kau bisa membawanya ke gudang markas kit,a" jawab Dev dengan nada dingin dan langsung menutup sambungan telepon nya.


Setelah menyelesaikan panggilannya Dev berbalik dan sudah melihat Adi keluar dari ruangan ICU.


"Kau ingin masuk Dev?" tanya Adi.


"Ya Uncle, aku akan melihatnya dulu," jawab Dev dan berlalu meninggalkan Adi.


Pria itu masuk kedalam ruangan itu dan mengenakan APD lengkapnya, dia berjalan menuju ranjang yang terdapat didalam ruangan itu.


Perlahan pria itu memegang tangan wanita yang sudah mewarnai hidupnya serta mencium punggung tangan yang terpasang selang infus disana.


"Hey, jangan terlalu lelap dalam tidur mu itu, aku rindu ingin menggoda mu." Dev memandang wajah wanita yang terkapar di ranjang itu.


"Aku berjanji bila kau sadar nanti, aku akan langsung menikahi mu. Agar aku bisa langsung menjagamu dan kau tidak dapat membantahku lagi," kata Dev sambil mengusap punggung tangan Zea.


'Aku tidak akan melepaskan seseorang yang sudah mencelakai mu,' batin Dev menerawang, lalu mencium kening calon istrinya yang terbaring dan pergi dari ruangan itu.


"Uncle, aku pamit pulang dulu karena harus menemui Momy serta berganti baju." Pamit Dev karena saat ini sudah menunjukkan pukul 7 malam.


"Ya Dev, aku akan disini menunggu Zea, kau pulanglah dulu mungkin Momy mu sedang menunggu mu," kata Adi menoleh kearah Dev.


"Ya Uncle, dan aku ada urusan sebentar mungkin setelah urusan ku selesai aku akan langsung kembali kesini," jawab Dev lalu mencium punggung tangan Adi dan pergi dari hadapannya.


.


.


Kini Dev sudah tiba di mansionya, dia langsung masuk kedalam dan menghampiri Momynya yang tengah berada di ruang tengah.


"Kau baru pulang Dev?" tanya Abel melihat kearah putranya.


"Hey ... ada apa Dev? kenapa wajahmu begitu murung? Dan ada bercak darah di kemeja mu? Apa ada sesuatu yang terjadi padamu, son?" tanya Abel sambil menarik tangan putranya untuk duduk disebelahnya.


"Jelaskan pada Momy, apa yang sebenarnya terjadi padamu Dev?" tanya Abel menatap lekat wajah putranya yang begitu Lessu.


"Tidak ada yang terjadi padaku Mom," jawab Dev sambil menundukkan kepalanya.


"Lalu bercak darah ini berasal dari mana, Dev?" tanya Abel lagi dengan mengerutkan keningnya.


"Darah ini milik Zea, Mom. Dia kecelakaan setelah pulang dari sini," jawab Dev dengan sangat hati-hati mengingat keadaan Mominya yang baru pulih.


"WHAT!!! Zea kecelakaan!!" kata Abel terkejut.


"Tapi kenapa kau baru mengatakan hal ini pada Momy sekarang, Dev?" kata Abel lagi dengan raut wajah yang cemas.


"Lalu bagaimana keadaan nya sekarang Dev, aku ingin menemui nya," kata Abel khawatir lalu beranjak dari sofa itu.


"Mom, tenanglah," kata Dev menarik tangan Abel agar duduk kembali di sampingnya.


"Bagaimana keadaannya sekarang, Dev?" tanya Abel yang seketika meneteskan air matanya.


"Dia koma, Mom," jawab Dev lemas.


"Oh my God, gadis yang malang. Bawa aku menemui nya Dev, aku ingin melihat keadaan nya," kata Abel sambil terisak.


Lalu Dev memeluk sang Momy dan menenangkan nya.


"Besok mom, besok aku akan membawa mu menemuinya," jawab Dev sambil mengelus punggung sang Momy yang masih terisak.


Setelah merasa tenang, Dev membawa Momynya masuk kedalam kamarnya.


"Kau sudah makan, Dev?" tanya abel.


"Aku akan makan setelah ini Mom," sahut Dev.


"Aku akan menemanimu son," jawab Abel.


"Tidak perlu Mom, istirahatlah." Lalu Dev mencium kening sang momy dan langsung keluar dari kamar itu.


Dev berjalan manuju kamarnya, pria itu masuk dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Pria itu langsung keluar dari kamarnya menuju ruang makan, dan langsung memakan makanan yang tersedia di meja makan itu dengan sangat lahap, karena dia memang melewatkan makan siangnya akibat adanya insiden yang menimpa calon istrinya Zea.


Dev menyelesaikan kegiatan makan malamnya dengan cepat, karena dia akan langsung menemui seseorang.


Lalu ponselnya berbunyi, pria itu langsung mengangkat nya karena panggilan itu dari asisten nya.


"Hallo, Bagaimana? kau sudah membawanya?" tanya Dev sambil berjalan menuju pintu keluar mansion itu.


"Iya bos, dia sudah saya sekap di gudang," kata jack melaporkan.


"Bagus, aku akan segera kesana," sahut Dev langsung mematikan panggilan itu.


Pria itu langsung melajukan mobil Lamborgini Nya dengan kecepatan tinggi menuju ke markasnya, dimana Lena sudah di sekap disana.


.


.


Didalam sebuah gudang yang pengap, seorang wanita tersadar dari pingsannya.


Dia mengerjapkan matanya dan memandang keseluruh penjuru di ruangan itu.


"Dimana ini? Kenapa tangan ku di ikat," kata Lena yang melihat tangannya di ikat.


Lalu dia mengingat apa yang sebenarnya terjadi, terakhir dia keluar dari mansion keluarga Nico untuk mengambil sebuah paket di luar gerbang.


Namun tiba-tiba ada seseorang yang membekap hidung dan mulutnya menggunakan sapu tangan dari arah belakang dan dia langsung tak sadarkan diri.


"Apa aku diculik," gumamnya.


BRAKK


Tiba-tiba terdengar suara pintu yang dibuka dengan sangat keras, dan membuat Lena tersentak kaget.


"Kau sudah sadar, *****?" kata Dev dengan nada yang dingin dan melangkah kan kakinya masuk kedalam ruangan itu.


Lena begitu kaget melihat pria tampan yang telah menculiknya.


"Jadi kau yang telah menculik ku, honey?" kata Lena tersenyum sumringah.


"Seharusnya kau tidak perlu melakukan hal ini jika hanya kau ingin berdua dengan ku, honey," kata Lena lagi dengan senyum manisnya.


"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu karena aku bukan kekasihmu lagi," sahut Dev dengan nada sedikit membentak.


Lena tertawa pelan mendengar jawaban dari pria itu.


"Tapi aku akan selalu menganggap mu kekasih ku karena kau hanya milikku," sahut Lena kekeh.


Dev begitu muak mendengar perkataan Lena dan mengepalkan tangannya lalu menghampiri wanita itu.


"Aku bukan milikmu lagi setelah kau berciuman dengan pria lain didepan mataku!" jawab Dev dengan penuh penekanan.


"Tapi itu hanya salah paham, honey. Dan aku hanya mencintai mu," kata Lena mencoba meyakinkan Dev


"Itu bukan cinta, Lena. Itu hanya obsesi mu semata," kata Dev yang mulai tersulut emosinya.


"Tidak Dev, aku sangat mencintaimu dan aku akan melakukan apapun untuk mu. Agar kau kembali padaku," ucap Lena seakan memohon.


BRAKK


Dev menggebrak meja yang ada di ruangan itu.


"Termasuk mencelakai ku dan calon istri ku!!" sentak Dev yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.


Lena langsung tersentak kaget mendengar perkataan dari pria yang dicintainya itu.


'Dari mana dia tahu tentang semua yang sudah ku lakukan,' batin Lena resah.


"Aku tahu semua yang telah kau lakukan Lena, termasuk apa yang telah kau lakukan pada Zea dengan menabrakkan mobil sewaan mu ke mobil taksi yang Zea tumpangi," ucap Dev sambil memegang kuat rahang wanita itu dengan nada dingin dan penuh penekanan.


"Apa yang kau katakan Dev, aku tidak mengerti." bantah Lena dengan raut wajah yang mulai panik.


Dev menghempaskan tangannya yang memegang rahang wanita itu hingga wanita itu hampir tersungkur ke lantai.


"Jack, bawa semua buktinya kemari." Perintah dev.


Dan Jack langsung memasuki ruangan itu dengan membawakan semua bukti yang diminta oleh sang big bos.


"Lihat ini baik baik Lena!!" Bentak Dev sambil menunjukkan beberapa bukti tentang semua yang sudah dilakukan oleh wanita itu.


Lena menatap semua bukti itu dengan raut wajah nyalang dan takut.


'Bagaimana bisa dia mempunyai bukti-bukti itu,' batin Lena yang terpaku dengan semua bukti yang tertuju padanya.


"Kenapa?? Kau tidak bisa menyangkal lagi Lena," kata Dev dengan nada yang mengintimidasi.


"Aku melakukan semua ini karena mu Dev, aku sangat mencintaimu dan kau hanya milikku, tidak ada yang bisa memilikimu selain aku termasuk wanita ****** itu!!" teriak Lena.


PLAKK..


Dev langsung menampar pipi Lena dengan sangat keras hingga darah keluar dari ujung bibirnya.


"Urus wanita ini Jack, dan pastikan dia menerima hukuman yang setimpal atas apa yang sudah dia perbuat." Perintah Dev pada asistennya lalu pergi meninggalkan tempat itu.


"KAU TEGA PADAKU DEV !!! Aku mencintaimu Dev dan sampai kapanpun kau hanya milikku, HANYA MILIKKU!!!" teriak Lena sambil terisak.