My Lovely Girl

My Lovely Girl
Bab 67



Ke esokan harinya, Zea terbangun di pagi hari dan tak melihat Dev dikamar nya.


Lalu Zea bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Dia berendam sebentar di bathtub dengan busa sabun yang melimpah.


Setelah hampir 10 menit dia di kamar mandi, wanita itu keluar dengan mengenakan bath rob nya.


Zea berjalan kearah jendela balkon dan membuka gordennya, lalu membuka pintu kaca pembatas kamar dengan balkon.


Wanita itu berdiri di pagar pembatas balkon sambil menghirup udara pagi yang sangat menenangkan.


Lalu matanya menangkap sosok pria tampan yang sedang berolahraga pagi di taman sekitar mansion.


Zea menatap sang suami dengan melipat kedua tangan di dadanya. " He's so sexy," gumamnya.


Dev sedang berolahraga pagi di taman hanya dengan menggunakan celana training pendek dan tanpa mengenakan baju.


Dia terlihat begitu seksi dengan keringat yang menempel di tubuh kekarnya. Dan itu sebuah pemandangan yang indah bagi Zea.


Dev menyadari bahwa ada yang sedang menatapnya, dan dia melihat kearah balkon di kamar nya. Senyumnya tersungging saat melihat sang istri yang tengah menatapnya.


" Good morning, Beby!!" teriak Dev sambil terus memainkan olahraga lompat tali.


" Good morning my sexy husband," sahut Zea.


" Mau bergabung dengan ku?" tanya Dev.


" No, aku sudah mandi dan sudah wangi. Kau tak ingin mencium wangi tubuh ku?" sahut Zea dengan mengerlingkan matanya.


Dev tertawa, lalu menghentikan kegiatannya.


" Wait ... tunggu aku disitu," kata Dev, lalu berlari masuk kedalam mansion.


Zea tertawa melihat Dev yang tiba-tiba menghentikan olahraga nya saat mendengar perkataan nya.


Tak butuh waktu lama, Dev sudah tiba di kamar nya. Pria itu menghampiri sang istri yang sedang berdiri di pagar balkon sambil menghadap kearah nya.


Zea menatap sang suami yang sedang berjalan kearah nya, dengan keringat yang masih menempel ditubuh kekar nya. Dan itu membuat nya terlihat lebih seksi.


Dev langsung merengkuh pinggang ramping sang istri dan menciumi lehernya yang wangi.


" Hmmm ... I like your scent."


Pria itu terus menghirup dalam aroma wangi tubuh Zea di sekitar leher nya. Dan hal itu membuat darah Zea berdesir.


" Membuat ku ingin melakukan olahraga pagi yang panas dengan mu," kata Dev, lalu menyesap leher jenjang sang istri.


" No, aku sudah mandi. Dan aku malas jika harus mandi lagi," kata Zea menahan kepala Dev yang sedang asik menyusuri leher nya.


Dev melepaskan tangan Zea yang menahan kepalanya, dan langsung melanjutkan kegiatannya menciumi leher sang istri.


" Dev ... Stop it." Zea menahan kepala Dev agar berhenti melakukan hal yang akan membangkitkan gairah nya.


Dev tersenyum miring melihat sang istri yang terlihat menahan gairah nya.


" Kau yakin tak mau meneruskan hal ini?" tanya Dev menatap sang istri.


Zea tampak berpikir sambil tersenyum penuh arti. Dev menyipitkan matanya melihat ekspresi wajah sang istri yang terlihat mencurigakan.


" Jika kau hanya ingin mempermainkan ku, maka tak perlu sampai berpikir sekeras itu." Dev langsung melepaskan rengkuhannya dan membalikkan tubuhnya.


Zea menahan tangan Dev yang akan pergi dari hadapannya. Perlahan Zea mendekati sang suami dan menangkup wajah nya.


" Katakan kalau kau memang menginginkan ku," kata Zea membelai lembut pipi sang suami.


Dev merengkuh pinggang Zea agar menempel pada tubuhnya yang masih penuh dengan keringat.


Dia menatap lekat mata Zea dan berkata.


" I want you now," kata Dev sambil mendekatkan bibirnya di kuping sang istri.


" I want to touch your body and make sweat together," kata Dev lagi sambil menyesap kuping sang istri.


Dev mengangkat tubuh sang istri dan membawanya ke ranjang. Dia menurunkan tubuh sang istri dan langsung membuka bath rub yang di pakai untuk menutupi tubuh polos wanita itu.


Lalu mereka melakukan kegiatan panas nya di pagi hari yang sejuk itu.


.


.


" Honey, bisakah kau membantu?" teriak Dimas.


" Wait ... aku akan membantumu," kata Gita menghampiri sang suami yang terlihat sedang kesusahan memasang dasinya.


Lalu Gita membantu sang suami memasangkan dasinya. Dimas merengkuh pinggang ramping sang istri agar lebih mendekat pada tubuhnya.


Dimas menatap lekat wajah cantik sang istri yang terlihat lebih cantik saat sedang serius.


" Done," kata Gita.


" Thank you my wife," kata Dimas mencium kening sang istri.


" Emm ... kau sudah berjanji akan menyelesaikan pekerjaan mu dengan cepat," kata Gita sambil merapikan kerah kemeja sang suami.


" Itu pasti, Honey. Karena aku tak tahan bila harus menahan hasrat ku pada istri cantik ku ini terlalu lama," kata Dimas menempelkan keningnya dengan kening sang istri.


Gita tertawa mendengar perkataan Dimas.


" Aku ingin, sebelum weekend ini kita sudah ada di Paris," kata Gita mengutarakan keinginannya.


" Baiklah, akan aku usahakan. Mungkin aku akan sangat sibuk hari ini, kau tak masalah dengan hal itu, kan?" kata Dimas menangkup wajah sang istri.


Gita menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


" Aku akan ke mansion papah setelah ini, aku ingin ikut papah ke perusahaan untuk. Boleh kan?" tanya Gita.


" Hmmm, aku akan mengantarkan mu dulu."


" Tidak perlu, aku akan berangkat sendiri. Kau jangan khawatir kan aku," kata Gita.


Lalu Dimas mencium bibir sang istri. Gita mendorong dada sang suami agar melepaskan ciumannya.


" Bisa-bisa kau tak jadi berangkat dan meminta hal yang lebih," kata Gita.


Dimas tertawa dan mencium kening sang istri.


" I love you," kata Dimas.


" I love you to," sahut Gita, mengantarkan sang suami ke depan pintu.


Gita langsung masuk lagi kedalam apartemen untuk bersiap pergi ke mansion Pradipta.


.


.


Di mansion Pradipta. Lisa dan Adi sedang makan pagi bersama.


Keadaan mental Lisa sudah membaik, ketika tak ada lagi yang membahas tentang masa lalunya.


" Lisa akan kesini sebentar lagi, Mas," kata Lisa setelah menyelesaikan makan pagi nya.


" Benarkah? apa dia tak ingin berbulan madu?" tanya Adi.


" Aku belum tahu. Katanya dia ingin ikut ke perusahaan mu, Mas," sahut Lisa sambil mengantarkan sang suami ke pintu utama mansion.


" Aku berangkat ke perusahaan dulu, ada meeting setelah ini. Suruh Gita langsung ke perusahaan saja nanti," kata Adi.


" Baiklah," kata Lisa.


Lalu Adi berangkat menuju perusahaan bersama supir.