
"Tidak perlu berterima kasih pada saudara mu ini, Zea," kata Gita sambil tersenyum.
Lalu Dimas berjalan menuju ranjang itu dan akan memeriksa kondisi Zea saat ini.
"Aku akan memeriksa mu dulu," ucap Dimas lalu melakukan serangkaian pemeriksaan pada Zea.
"Apa yang kau rasakan saat ini, Zea? apakah ada yang kau keluhkan?" tanya Dimas setelah memeriksa keadaan Zea.
"Tidak ada, Dokter. Hanya saja aku masih merasa pusing dan kakiku berat," ucap Zea.
"Itu sudah biasa terjadi pada seseorang yang baru tersadar dari koma, kau harus rutin meminum obat mu. Dan jika ada keluhan langsung hubungi, Dokter," ucap Dimas.
"Sekarang bagaimana keadaannya?" tanya Dev menghampiri Dimas.
"Keadaannya cukup baik, Dev. Dan kalau bisa, ajak dia berjemur di bawah sinar matahari di waktu pagi karena sinar matahari pagi itu sangat bagus untuk seseorang yang belum pulih seperti Zea," ucap Dimas.
"Apa kalian akan pergi?" tanya Zea melihat penampilan Gita dan Dimas yang tampak rapi.
"Ya, Zea. Aku pamit dulu karena aku harus kembali ke kota ku untuk menyelesaikan kelulusan kuliahku," kata Gita.
"Jadi kau akan pergi?" tanya Zea sendu.
"Aku tidak akan lama, mungkin hanya satu minggu," jawab Gita memegang tangan Zea.
"Baiklah, hati-hati dijalan. Oke," sahut Zea tersenyum.
"Okey," sahut Gita tersenyum.
"Dia tidak akan lama, Beby. Karena dia harus mengadakan pesta pertunangan nya disini," kata Dev mengusap rambut Zea.
"Kalian akan bertunangan?" tanya Zea melihat kearah Gita dan Dimas bergantian.
"Iya, Zea. Dan aku akan segera membawanya kembali kesini lagi," ucap Dimas.
" Kapan kalian akan melangsungkan acara pertunangannya?" tanya Zea.
"Yang pasti aku menunggu mu 100% pulih," sahut Gita.
"Bagaimana kalau pesta pertunangan kalian kita adakan bersamaan dengan pesta pernikahan ku dan Zea?" kata Dev.
"Good Idea," sahut Dimas sambil menjentikkan jarinya.
"Nanti biar aku yang mengurus semuanya, dan aku akan membicarakan ini dengan Papah Adi," kata Dev.
"Baiklah. Aku pamit dulu, Zea. Jaga dirimu baik-baik," pamit Gita mencium pipi Zea.
"Ya, hati-hati dijalan Gita. Dan jaga dirimu disana," sahut Zea.
"Oke. Kau harus pulih total saat aku kembali nanti, karena aku akan mengajakmu berkeliling mencari gaun yang indah untuk pesta kita nanti," ucap Gita lalu pergi dari kamar itu.
Ketika di ruang tengah, Dimas dan Gita berpamitan pada Abel dan langsung berangkat menuju kota dimana Gita menempuh pendidikannya.
.
.
.
Kini Dimas dan Gita sudah dalam perjalanan menuju kota B, tidak ada obrolan sama sekali selama perjalanan. Hingga akhirnya Gita melihat kedai minuman dan menyuruh Dimas berhenti.
"Berhentilah di depan, Dimas. Aku ingin membeli minuman itu dulu," tunjuk Gita ke kedai itu.
Lalu Dimas menghentikan mobilnya dan Gita pun keluar dari mobil itu.
setelah mendapatkan minuman itu, Gita langsung masuk kedalam mobil dan Dimas langsung melajukan mobilnya lagi.
"Kau mau?" tanya Gita mengarahkan minuman itu ke mulut Dimas.
"Tidak, kau minumlah" ucap Dimas menjauhi minuman itu dari mulutnya.
"Sepertinya kau tak suka minuman seperti ini," kata Gita cuek sambil meminum minuman nya.
"Ya, aku tak terlalu suka," sahut Dimas fokus mengendarai mobilnya.
Setelah 3 jam perjalanan, akhirnya Gita dan Dimas tiba di apartemen Gita yang tidak jauh dari kampusnya.
"Terimakasih, Pak Dokter. Sekarang kau boleh pergi," ucap Gita ketika sampai di depan apartemen nya.
"Kau tidak menawariku untuk mampir di apartemen mu?" tanya Dimas.
"Tidak perlu. Mungkin kau sibuk, jadi pergilah," kata Gita keluar dari mobil itu dan mengambil kopernya yang ada di bagasi mobil. Lalu masuk kedalam lobi dan menuju lift.
Dimas memarkirkan mobilnya dan langsung mengikuti Gita di belakangnya.
Saat Gita masuk kedalam lift dan memencet tombol pintu lift, Dimas menahan pintu lift dan langsung masuk kedalam lift.
Lalu memencet tombol agar pintu lift tertutup.
"Bukankah aku sudah menyuruhmu pergi? aku tahu kau seorang dokter dan juga pengusaha yang super sibuk, jadi pergilah. Tak usah __"
Cup ...
Tiba-tiba Dimas memotong perkataan Gita dengan mengecup bibirnya.
Gita merasa jantungnya mau copot saat Dimas mengecup bibirnya sesaat, dan masih terpaku memandang wajah Dimas.
"Maaf, aku tak bisa menemani mu selama disini. Karena aku harus mengurus perusahaan ku yang sedang bermasalah di luar negeri," kata Dimas sambil memeluk erat tubuh Gita.
Gita masih terpaku di dalam dekapan hangat Dimas dan membalas pelukan itu sambil menghirup dalam-dalam aroma parfum pria itu.
TING
Pintu lift pun terbuka dan mereka langsung melepaskan pelukannya, dan berjalan keluar dari lift itu menuju apartemen Gita.
"Biar aku yang membawanya," kata Dimas mengambil koper yang di pegang Gita.
"Terimakasih," sahut Gita canggung.
Wanita itu masih merasa canggung saat mengingat Dimas mengecup bibirnya, karena memang itu adalah ciuman pertama nya.
Gita memang sering bergonta-ganti pacar, tapi dia tidak pernah berciuman. Maka dari itu, dia selalu putus saat pacarnya mencoba mencium bibirnya.
Kini Gita telah berada di depan pintu apartemen nya, dia langsung membuka pintu itu dan masuk kedalam.
"Masuklah, istirahat lah sebentar. Kau pasti capek karena sudah mengendarai mobil cukup jauh," ucap Gita sambil membuka coatnya dan menaruhnya di kamar.
Lalu Dimas duduk di sofa itu sambil mengedarkan pandangannya.
"Apartemen mu lumayan mewah dan nyaman," kata Dimas.
"Terimakasih, kau mau minum apa?" tanya Gita berjalan menuju dapur minimalis yang terdapat di apartemen itu.
"Air putih saja," jawab Dimas membuka coatnya dan menaruhnya di senderan sofa.
Lalu bangkit dari sofa berjalan menuju dapur dan memeluk tubuh Gita dari belakang.
"Dimas, kau mengagetkan ku," ucap gita menoleh pada Dimas.
"Tetaplah seperti ini, Honey," ucap Dimas lalu menghirup dalam-dalam Aroma tubuh Gita.
"Aku suka harummu," ucap dimas memejamkan matanya.
Gita merasa dadanya bergemuruh dan jantungnya kembali berdetak kencang.
Lalu dia membalikkan tubuhnya dan mengalungkan lengannya ke leher kokoh pria tampan di hadapan nya.
"jadi kau akan pergi? lalu bagaimana bisa kau memaksaku untuk bertunangan dengan mu minggu depan," kata Gita memberanikan diri menatap mata Dimas.
"Aku pergi hanya sebentar, Honey. Mungkin hanya sekitar 5 hari," jawab Dimas sambil melingkarkan tangannya di pinggang ramping Gita.
"Kalau kau tidak datang saat aku sudah kembali nanti, maka aku akan membatalkan pertunangan kita," ucap Gita tersenyum mengejek.
"I promise, aku akan kembali sebelum kau kembali ke sana," ucap Dimas mendekatkan wajahnya pada wajah Gita sampai hidungnya saling bersentuhan dan deru nafas mereka sama-sama menerpa wajahnya.
Lalu Dimas menarik pinggang Gita agar menempel dengan tubuhnya dan mendekatkan bibirnya pada bibir sexy Gita.