My Lovely Girl

My Lovely Girl
Bab 66



Dev dan Zea kini sedang berada di restoran milik salah satu teman Dev. Mereka makan malam bersama sebelum kembali pulang ke mansionnya.


Saat sedang asik menyantap makanannya, tiba-tiba ada seorang wanita yang menghampiri meja mereka.


" Dev ... Kau disini juga?" kata wanita itu.


Zea tampak menyipitkan matanya melihat penampilan dari wanita itu yang terlihat sangat seksi. Bahkan separuh dadanya terlihat.


" Ya," sahut Dev singkat tanpa melihat kearah wanita itu.


" Siapa wanita ini?" tanya wanita itu melihat kearah Zea.


" Dia istri ku," sahut Dev.


Wanita itu menatap sinis pada Zea, dia melihat penampilan Zea yang menurutnya bukan tandingannya.


" Jangan bohong, Dev. Aku sangat tahu selera mu, dan dia? dia bukan tipe mu," kata wanita itu tak percaya.


" Lalu menurut mu seperti apa tipe nya?" kata Zea menatap tajam wanita itu.


" Seperti mu?" tanya Zea sambil meminum jus yang dia pesan.


" Kau terlihat seperti wanita panggilan," kata Zea tersenyum sinis.


"BERANINYA KAU !!" teriak wanita itu sambi mengangkat tangannya ingin menampar pipi Zea.


Namun dengan cepat Dev menahan tangan wanita itu sebelum menyentuh istri nya.


Dev menatap tajam wanita itu lalu menghempaskan tangan nya dengan kasar.


" Jangan pernah berani mengganggu apalagi menyentuhnya," kata Dev dengan penuh penekanan.


Lalu Dev menggandeng tangan Zea keluar dari restoran itu. Zea menoleh pada wanita itu sambil tersenyum miring dan mengacungi jari tengahnya.


" Sial ... apa sih istimewa nya wanita itu," kata Gris menatap sinis pada Zea yang berjalan keluar dari restoran itu.


Gris adalah salah satu mantan Dev yang hubungan nya paling lama dibandingkan dengan mantan Dev yang lain.


Dev memutuskan hubungan nya dengan Gris karena wanita itu bersikeras untuk menikah dengan Dev. Bahkan wanita itu mengancam akan bunuh diri bila Dev tak kunjung menikahi nya.


Tapi hal itu malah membuat Dev langsung memutuskan hubungannya dengan Gris. Karena memang Dev tak memiliki perasaan pada wanita itu.


Dalam perjalanan menuju mansion. Tak ada obrolan sama sekali antara Dev dan Zea.


Bahkan Zea tak menanyakan tentang wanita yang tadi menemui Dev di restoran.


Dev melihat Zea yang tampak memandang keluar jendela, lalu dia menggenggam tangan nya.


" Ada yang sedang kau pikirkan?" tanya Dev.


Lalu Zea menoleh pada Dev dengan wajah datarnya.


" Aku mengingat semuanya," kata Zea.


Dev meminggirkan mobilnya dan berhenti. Pria itu menangkup pipi sang istri dan menatap nya.


" Sejak kapan?" tanya Dev.


"Beberapa hari yang lalu, saat aku bersama Daniel di resort," sahut Zea.


" FLASH BACK ON "


" Kak, apa kau sama sekali tak mengingat ku?" tanya Daniel.


Zea menoleh dan tersenyum pada Daniel.


" Aku mengingat wajah mu," jawab Zea.


" Lalu tentang kakek? bagaimana kakak bisa ingat pada nya?" tanya Daniel lagi.


" Awalnya aku mengingat wajah-wajah kalian. Lalu aku bertanya pada Dev, dia yang menceritakan tentang kau serta kakek," sahut Zea.


" Lalu apa yang kau ingat tentang ku, Kak?" tanya Daniel lagi.


" Aku mengingat kebersamaan kita, saat kita berada di sebuah kebun. Entah itu dimana, aku tak tahu." Zea seakan menerawang mengingat masa-masa itu.


Namun tiba-tiba kepalanya sakit. Zea memegang kepalanya tanpa merintih kesakitan.


" Kak, are you oke?" tanya Daniel melihat ekspresi wajah Zea yang terlihat sedang menahan rasa sakit.


Zea terus menunduk sambil memegang kepalanya.


" Kenapa ini sakit sekali," kata Zea sambil berjongkok dan mencengkeram kuat rambutnya.


Lalu Daniel mengangkat tubuh Zea, dia membawa Zea masuk kedalam kamar nya.


Kebetulan saat itu tidak ada orang di dalam resort, karena semua tampak sibuk mengatur persiapan acara pernikahan besok.


" Aku mengingat nya, Daniel. Aku mengingat semuanya," kata Zea sambil terus memegang kepalanya.


Lalu Daniel merebahkan tubuh Zea diatas ranjangnya. Daniel tak menggubris omongan Zea, dia lebih fokus mencari obat di laci meja Zea.


" Aku mengingat mu, Daniel. Aku menginat semuanya," kata Zea lagi.


" Tapi aku benar-benar mengingat semuanya, Daniel. Kau Danielo Agra Pradipta, adik yang paling aku sayang," kata Zea menangkup wajah Daniel.


Daniel terpaku mendengar Zea menyebutkan nama lengkapnya. Lalu mereka berpelukan.


Setelah itu Daniel memberikan obat pada Zea, dan Zea langsung meminum obatnya.


" Flash back off "


Dev mencium kening Zea, lalu mereka berpelukan.


" I love you, I love you so much," kata Dev mencium puncak kepala Zea.


Lalu mereka melanjutkan perjalanan nya pulang ke mansionnya.


.


.


Di apartemen Dimas, Anggita terlihat sedang memasak untuk makan malamnya.


Dimas keluar dari kamarnya karena mencium wangi masakan dari arah dapur.


Dia perlahan menghampiri sang istri dan langsung mengejutkan Anggita dengan memeluknya dari belakang.


" Astaga ... Honey, kau mengejutkan ku," kata Gita.


Cup


Dimas menciumi tengkuk leher sang istri yang wanginya sangat dia sukai.


" Honey, itu geli."


Dimas menghentikan ciumannya di leher Gita dan beralih ke pipinya.


" Sepertinya aku ingin memakan mu," kata Dimas dengan mempererat pelukannya sambil mengangkat tubuh Gita.


" Honey, lepaskan. Aku sedang memasak, don't distrub me, oke." Gita langsung melanjutkan kegiatannya.


Dimas melepaskan pelukannya dan berdiri di sebelah sang istri, dia melihat kelihaian sang istri ketiga memasak.


Semua terlihat tertata rapi dan sangat bersih.


" Sepertinya kau sudah terbiasa memasak," kata Dimas yang terus memperhatikan gerak gerik sang istri ketika memasak.


" Ya, hanya makanan yang simpel," sahut Gita.


" Hmmm, dari wanginya saja terlihat sangat lezat," kata Dimas menghirup aroma masakan Gita.


" Apakah masih lama? Aku sudah sangat lapar," kata Dimas sambil mendarat kan kepalanya di bahu sang istri.


" Sebentar lagi, duduklah dulu. Setelah ini aku akan menghidangkan nya," kata Gita mengusap wajah sang suami yang ada di bahunya.


" Baiklah," sahut Dimas menggigit kecil bahu sang istri, lalu berjalan menuju kursi yang ada di sebelah meja marmer.


Tak sampai 5 menit, Gita sudah menyelesaikan kegiatan memasak nya. Dia menghidangkan makanan nya di meja marmer, lalu duduk di sana.


Mereka pun makan malam bersama dengan menu sederhana yang di buat oleh Gita.


Dimas sangat menyukai masakan sang istri, meskipun itu hanya masakan yang simpel tapi itu terasa sangat lezat karena itu di masak langsung oleh sang istri.


Setelah menyerahkan acara makan malamnya, Dimas dan Gita bersantai di sofa depan televisi raksasa yang ada di apartemen mewah itu.


Gita menyandarkan kepalanya pada lengan kekar sang suami sambi berselonjor di sofa panjang itu.


" Aku ingin ke Paris," kata Gita sambil menatap televisi di hadapan nya.


" Kau sudah memutuskan hanya ingin pergi kesana?" tanya Dimas sambil mengusap lembut puncak kepala sang istri.


" Ya, aku ingin mengelilingi kota Paris. Dan kita akan bercinta sepuasnya dikota yang indah itu," kata Gita sambil mendongakkan kepalanya melihat sang suami.


Dimas tertawa mendengar ucapan sang istri, lalu mencium gemas pipi wanita itu.


" Jadi kalau disini kita tak bisa bercinta sepuasnya?" tanya Dimas.


" Bukan seperti itu, aku hanya ingin membuat kenangan indah kita disana." Gita kembali melihat kearah televisi.


" Apa perlu aku menyewa canpervan agar kita bisa bercinta di dalam nya sambil menikmati pemandangan indah di kota itu?" tanya Dimas.


" Itu ide yang bagus, Honey. Kapan kita berangkat?" kata Gita excited. Wanita itu sampai bangkit dan langsung duduk di pangkuan sang suami saking semangatnya.


Dimas tertawa melihat ekspresi Gita yang terlihat semakin menggemaskan.


" Akan ku pikirkan," sahut Dimas.


" Kalau begitu kita tak akan bercinta sebelum kita berangkat," sahut Gita ingin beranjak dari pangkuan sang suami tapi Dimas menahannya.


" Apa maksud mu, Honey. Jadi kita tak akan bercinta?" tanya Dimas sambil mengerutkan keningnya.


" Ya, kita akan bercinta setelah tiba di Paris."


" WHAT ..." pekik Dimas.