My Lovely Girl

My Lovely Girl
Bab 19



Kini Dev telah tiba di rumah sakit dimana zea dirawat tepat pada pukul 10 malam.


"Uncle ...," panggil Dev ketika melihat Adi di kursi tunggu.


"Dev, kau sudah datang?" sahut Adi menoleh pada pria yang tadi memanggilnya.


Dev hanya mengangguk kan kepalanya pada Adi.


"Apa ada perkembangan dari keadaan zea?" tanya Dev lalu duduk disebelah pria paruh baya itu.


"Belum Dev, keadaannya masih kritis," jawab Adi Lessu.


"Lebih baik uncle pulang dulu, aku yang akan menjaganya disini," kata Dev pada calon mertuanya yang terlihat sangat lelah.


"Tidak Dev, Uncle akan tetap menunggu nya disini," jawab Adi tertunduk lessu.


"Tapi Uncle, kau harus tetap menjaga kesehatan mu. Jangan sampai uncle ikutan sakit, nanti bagaimana kalau zea sadar dan melihat papahnya sakit," ucap Dev mencoba membujuk Adi.


"Iya Dev, kau benar," jawab Adi menoleh pada Dev.


"Lalu bagaimana dengan pelakunya, Dev? apa kau sudah menemukan nya?" tanya Adi.


"Ya, Uncle. Aku sudah menemukannya, dan menyerahkan nya pada pihak yang berwajib," jawab Dev.


"Syukurlah, dia harus mendapatkan hukuman atas apa yang sudah dia perbuat," sahut Adi lalu beranjak dari kursi tunggu.


"Kabari aku apapun perkembangan dari zea," kata Adi sebelum pergi meninggalkan rumah sakit.


"Baik Uncle, hati-hati dijalan," jawab Dev.


Lalu Adi pergi dari rumah sakit itu dengan berat hati.


Dev berdiri mendekati jendela ruangan ICU dan menatap sang calon istri yang terbaring tak sadarkan diri di ranjang itu.


"Cepatlah bangun, Beby. Aku tidak sabar ingin membawamu keluar dari ruangan itu," lirihnya sambil meraba kaca jendela itu.


.


.


Kini Adi sudah sampai di mansionnya, pria paruh baya itu langsung masuk kedalam dan langsung membersihkan tubuhnya di kamar mandi.


"Mas, kau sudah pulang?" tanya Lisa ketika melihat Adi keluar dari kamar mandi.


"Iya, kau belum tidur?" tanya Adi menoleh kearah Lisa yang ada di ranjang nya.


"Belum, aku menunggu mu, Mas," sahut Lisa lalu beranjak dari ranjang nya dan menghampiri suaminya.


"Kau sudah makan?" tanya Lisa bergelayut manja di lengan Adi.


"Belum," jawab Adi singkat lalu melepaskan tautan tangan Lisa yang melingkar di lengannya.


"Aku akan menyiapkan makanan, setelah itu aku akan menemanimu makan," kata Lisa lalu keluar dari kamarnya.


Setelah Adi mengenakan pakaiannya, dia menyusul Lisa keruang makan.


"Duduklah Mas, aku akan mengambilkan makanan mu," kata Lisa.


Adie memandang heran pada istrinya itu, karena memang sangat jarang Lisa bersikap sehangat ini padanya.


"Terimakasih," kata Adi ketika Lisa memberikan makanannya.


Lalu Adi langsung menyantap makan malamnya.


Lisa duduk disamping Adi dan melihat raut wajah sang suami yang tampak begitu Lessu dan lelah.


"Kau sudah makan?" tanya Adi di sela makan malamnya.


"Sudah mas," jawab Lisa singkat sambil melihat raut wajah suaminya yang tidak seperti biasanya.


"Bagaimana keadaan zea, Mas?" tanya Lisa penasaran.


Adi menghentikan kegiatan makannya setelah mendengar pertanyaan dari Lisa.


"Dia koma," jawab Adi singkat sambil menatap wajah sang istri dengan raut wajah yang datar.


"Oh God, separah itu?" tanya Lisa sambil menutup mulutnya.


Adi hanya mengangguk kan kepalanya dan kembali melanjutkan makan malamnya.


'Aku tidak tega melihat mu yang seperti ini mas,' batin Lisa memandangi wajah sang suami yang tampak Lessu dan tak bersemangat.


"Aku memang tidak suka pada anak itu, tapi aku tidak tega melihat mu seperti ini," kata Lisa pelan.


Adi tidak menanggapi perkataan istri nya dan terus melanjutkan kegiatannya.


.


.


Pagi menjelang, beberapa perawat dirumah sakit kembali melakukan aktivitasnya.


Mereka berjalan dilorong rumah sakit, melewati seorang pria tampan yang sedang tertidur pulas dengan posisi duduk dan kepala disandarkan ke dinding rumah sakit, serta tangan yang dilipat didada bidangnya.


Pria itu terbangun karena mendengar langkah kaki orang-orang serta perawat yang berlalu lalang didepannya.


"Masih jam 6 pagi," lirihnya sambil menguap karena masih terasa ngantuk.


Tampak ada seorang perawat wanita menghampirinya.


"Apa anda perwakilan dari keluarga nona Azelia?" tanya perawat itu sopan.


"Ya, apa ada perkembangan dari tunangan saya?" tanya Dev langsung bersemangat.


"Ya, Tuan. Anda di tunggu oleh dokter Dimas diruangan nya. Mari saya antar," kata perawat itu sopan.


Lalu Dev mengikuti perawat itu menuju ruangan dokter yang menangani zea.


"Permisi dok, ini perwakilan dari keluarga pasien yang bernama Azelia," ucap perawat itu lalu mempersilahkan Dev untuk masuk.


"Apa ada perkembangan dari Azelia, Dokter?" tanya Dev langsung ketika masuk ke ruangan itu.


"Duduklah Tuan __" Perkataan dokter itu terpotong ketika melihat wajah pria yang ada di depannya.


"DEVANDRA," lanjut dokter itu sambil berdiri.


"Dimas?" tanya Dev perlahan menghampiri dokter muda itu.


"Wohoow ... kebetulan apa ini. Kita bertemu di sini," kata Dimas excited sambil mengulurkan tangannya pada Dev.


Dev menyambut uluran tangan dari Dimas dengan tatapan dingin.


Ya Dimas dulu adalah rival Dev ketika di kampus.


Mereka bersaing bukan hanya masalah nilai dan kepopuleran tapi juga dengan masalah wanita.


"Silahkan duduk, Tuan Devandra Bramasta," kata Dimas mempersilahkan dev.


Pria itu kembali melihat dokumen di mejanya. Dev pun duduk dan berhadapan dengan dokter muda yang tidak lain adalah rivalnya.


"Nona Azelia Pradipta Dinata," sebut dokter itu sambil menatap mata Dev.


"Aku dengar dia tunangan mu, Tuan __"


"Panggil saja Dev." perkataan dokter itu kembali terpotong dan sekarang Dev yang memotong perkataan itu dengan tegas.


"Okey," sahut dokter Dimas menganggukkan kepalanya.


"Apa ada perkembangan dari keadaan calon istri saya? Cepat katakan dan jangan bertele-tele!" kata Dev tegas.


Dimas menghembuskan nafasnya dengan kasar mendengar perkataan dari Dev.


"Nona Azelia sudah melewati masa kritisnya," ucap Dimas sambil menatap mata dev.


Dev yang mendengar kabar itu langsung bernafas lega, dari tatapan tajamnya sambil menyatukan alisnya kini berubah jadi tatapan yang berbinar dengan sedikit senyuman yang terukir di bibirnya.


Dimas hanya menatap heran pada seorang Devandra yang tampak berubah dari seseorang yang dingin ternyata sudah bisa tersenyum.


"Keadaannya sudah sangat stabil sekarang, dan akan dipindahkan ke ruang perawatan biasa, kita hanya tinggal menunggu nona Azelia tersadar dari komanya," kata Dimas menjelaskan.


"Syukurlah, tapi kemarin yang menanganinya kurasa bukan kau, Dimas," kata Dev dingin sambil mengerutkan keningnya.


"Yaa, karena aku hanya menggantikan dokter Juna sementara, karena hari ini dia tidak hadir," jawab Dimas.


Dev yang mendengar itu merasa lega karena bukan Dimas yang akan menangani tunangannya.


"Kenapa Dev? Kau takut tunangan mu terpesona melihat ku?" Ucap Dimas tersenyum smirk.


"Ck." Dev berdecak lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


Dimas hanya tersenyum melihat respon dari Dev sambil menatap punggung pria itu yang perlahan menghilang dari balik pintu.


Dev langsung menghubungi Adi untuk mengabarkan perkembangan dari keadaan zea.


"Hallo, Uncle." Ketika sambungan teleponnya terjawab oleh sang empunya telepon.


"Ya, Dev. Apa ada perkembangan dari keadaan zea?" tanya Adi dari seberang telepon.


"Ya, uncle. zea sudah melewati masa kritisnya," sahut Dev.


"Syukurlah Dev, aku lega mendengarnya," jawab Adi.


"Dia sudah dipindahkan dari ruangan ICU ke ruang perawatan, Uncle," kata Dev lagi memberikan informasi pada calon mertuanya.


"Aku akan segera kesana," jawab Adi lalu menutup sambungan teleponnya.


"Ada apa, mas? apa ada perkembangan dari keadaan zea?" tanya Lisa excited.


"Ya, zea sudah melewati masa kritisnya," jawab Adi sambil memeluk istrinya.


"oh yaa ... syukurlah mas, aku ikut senang mendengarnya," jawab Lisa membalas pelukan suaminya.


'oh God, ada apa dengan ku. Kenapa perasaan ku begitu lega saat mendengar kabar tentang anak itu? dan mengapa aku begitu nyaman berada di dalam dekapan mas Adi,' batin Lisa mendongakkan kepalanya menatap lekat wajah sang suami yang kini tampak tersenyum padanya.


"Ayo kita sarapan," ajak Adi yang ingin melepaskan pelukannya tapi di tahan oleh Lisa.


"Tunggu Mas, tetaplah memeluk ku seperti ini," kata Lisa masih enggan melepaskan pelukannya, bahkan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu mempererat pelukannya.


'Tumben sekali Lisa mau memelukku seperti ini,' batin Adi dengan menatap heran pada istrinya itu.