
Dengan telapak tangan saling bertautan, Raffasya membawa Azkia menikmati makan malam di meja yang sudah dia pesan sebelumnya pada pihak restoran di hotel tempat mereka menginap. Masih dengan view menghadap ke arah laut, mereka seakan benar-benar ingin menikmati nuansa romantis layaknya pasangan pengantin yang sedang dimabuk asmara.
" Silahkan permaisuriku ..." Raffasya menarik kursi untuk ditempati istrinya itu duduk.
Azkia tertawa kecil mendengar suaminya itu menyebutnya 'permaisuriku'.
" Candle light dinner? Masya Allah, Kak Raffa so sweet banget, deh. Romantis banget ..." Azkia tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak melengkungkan sebuah senyuman. " Kita berasa beneran kayak lagi honeymoon lho, Kak." Azkia menutup mulutnya seraya terkikik.
" Ini honeymoon plus babymoon, May. Jadi ngirit ongkos ..." Raffasya terkekeh menimpali ucapan istrinya.
" Apapun itu, aku suka banget, Kak. Makasih, ya." Azkia menggenggam tangan suaminya itu.
" Permisi ..." Pelayan hotel tiba-tiba menghampiri dan menyajikan makanan yang telah dipesan oleh Raffasya.
" Terima kasih, Pak." ucap Azkia kepada pelayan sebelum meninggalkan mereka berdua.
" Kita makan sekarang?"
Azkia menganggukkan kepala menjawab pertanyaan suaminya. Dan setelah membaca doa, Raffasya memotong steak yang akan dia makan.
" Kok nggak mulai makan, May?" tanya Raffasya karena tangan istrinya masih belum menyentuh peralatan makannya.
" Aku mau disuapin Kak Raffa ..." ucap Azkia dengan nada manja.
Raffasya menarik satu sudut bibirnya ke atas menanggapi sikap manja istrinya.
" Dedek bayinya lagi ingin dimanja sama Papanya, ya?"
" Bukan bayinya, tapi Mamanya ..." sahut Azkia kembali dengan nada bicara manja.
" Hmmm, apa ini efek dari yang Papanya bayi lakukan tadi sore?" Raffasya lalu menyodorkan potongan steak ke mulut Azkia.
" Mungkin ..." sahut Azkia sebelum menerima suapan steak dari Raffasya.
" Apa artinya nanti malam bisa diulang lagi yang tadi itu?" Raffasya menyeringai.
Azkia langsung terbelalak mendengar ucapan Raffasya.
" Istighfar, Kak. Istighfar ..." Azkia segera menimpali hingga membuat Raffasya tergelak.
" Apa Kak Raffa nggak minat buka usaha di sini? Tempat ini sudah menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia selain Bali dan Raja Ampat, pasti prospek ke depannya bagus kalau ingin membuat cafe atau resort-resort di sini." tanya Azkia kepada suaminya.
" Aku bukan pengusaha kaya raya seperti Uncle kamu, yang banyak menyimpan uang nganggur, May. Untuk membuka usaha di tempat seperti ini memerlukan biaya yang nggak sedikit. Dan aku belum mampu mencapai level itu." Raffasya mengukur kemampuan finacialnya sendiri.
Azkia menganggukkan kepalanya tanda memahami maksud perkataan Raffasya.
" Sementara untuk saat ini, aku masih mengandalkan La Grande dan radio saja. Aku rasa dari sana aku masih bisa untuk membiayai kamu dan anak kita."
" Aku juga punya butik, Kak. Ya walaupun punya Mama, tapi ada yang sudah Mama beri ke aku. Profitnya juga masuk ke rekening aku sebesar tujuh puluh lima persen, sisanya baru ke rekening Mama. Kalau Kak Raffa perlu, Kak Raffa pakai saja." Azkia menjelaskan rekening tabungannya.
" Kamu simpan saja uangmu, May. Untuk urusan rumah tangga, biar itu jadi tanggung jawabku. Aku nggak mau memakai uang simpananmu." Raffasya tentu saja menolak tawaran Azkia karena dia merasa mampu mencukupi keluarganya, apalagi dia melihat Azkia bukan tipe wanita matrealistis yang suka menghaburkan uang.
" Kamu ingin kembali ke kamar atau tetap di sini?" tanya Raffasya saat mereka menyelesaikan makan malam.
" Aku ingin ke pantai, Kak."
" Besok pagi saja kita ke Pink Beach, setelah itu kita akan berlayar keliling beberapa pulau di sekitar sini."
Azkia membuka mulutnya terperangah saat suaminya mengatakan akan mengajaknya berlayar menikmati indahnya lukisan alam nyata ciptaan Sang Maha Kuasa.
" Aku boleh diving nggak, Kak?" Azkia terkekeh mengajukan permintaan.
" Jangan macam-macam kamu, May!" Raffasya langsung melotot menanggapi permintaan istrinya.
" Kalau snorkeling boleh, ya?"
" Nggak, nggak, nggak ...!! Ingat perut kamu, May. Jangan melakukan aktivitas yang membahayakan bayi kita!" tegas Raffasya tetap menolak keinginan Azkia.
" Jangan melakukan aktivitas yang membahayakan bayi kita! " Azkia mengikuti ucapan Raffasya dengan memiringkan bibirnya. " Kalau urusan tengok menengok bayi, dari usia kandungan masih riskan, bilangnya aman-aman saja ..." gerutu Azkia meninggalkan meja tempat mereka makan malam tanpa mengajak suaminya kembali ke kamar.
***
Sepanjang perjalanan menuju ke arah kamar, Azkia nampak memberengut karena suaminya tidak memberi ijin untuk melakukan aktivitas menyelam untuk melihat keindahan taman bawah laut.
Raffasya sendiri berjalan mengekor istrinya tanpa berniat membujuk istrinya itu untuk berhenti merajuk. dia bahkan hanya tersenyum tipis melihat mood Azkia yang cepat sekali berubah.
Raffasya tentu saja tidak mungkin mengijinkan Azkia melakukan aktivitas diving atau snorkeling karena kehamilannya, Dia tidak ingin mengambil resiko kehamilan istrinya itu menjadi bermasalah hanya karena mengikuti kemauan istrinya untuk bersenang-senang.
Sesampainya di kamar, Azkia langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi tidur miring. Sementara Raffasya memilih berjalan dan membuka pintu balkon. Dia ingin menikmati keindahan malam hari dari atas balkon kamar mereka menginap.
Azkia menoleh ke arah balkon karena dia mendengar suara pintu balkon dibuka apalagi dia tidak merasakan adanya gerakan di sisi tempat tidurnya. Azkia semakin mengerucutkan bibirnya karena menganggap aksi merajuknya kali ini tidak mendapat perhatian dari suaminya itu.
Azkia kemudian turun dari tempat tidur dan berniat meninggalkan kamar.
" Mau ke mana, May?" Raffasya yang memang berniat kembali ke kamar dan melihat Azkia berjalan ke arah pintu kamar langsung menegur Azkia.
" Mau cari perhatian orang lain soalnya suami sendiri nggak perhatian!" gerutu Azkia dengan ketus membuat Raffasya tersenyum mendengar sindiran istrinya.
" Ya sudah tapi jangan malam-malam kembali ke kamar. Lewat jam sembilan malam nggak kembali, nggak aku kasih pintu kamu buat masuk." Bukannya melarang, Raffasya justru seolah menantang Azkia, membuat istrinya itu seketika meradang.
Dengan hati yang sangat kesal Azkia melangkah keluar kamar mendengar kalimat yang diucapkan Raffasya.
Raffasya sendiri hanya melengkungkan senyuman di bibirnya seraya merebahkan tubuhnya di tempat tidur dengan tangan melipat di bawah kepala.
" Kamu nggak akan bisa jauh-jauh dari aku, May." ucap Raffasya penuh keyakinan jika istrinya itu akan kembali masuk ke dalam kamar kurang dari satu menit.
Sementara di luar pintu Azkia terdiam, dia menghitung hingga sepuluh detik ternyata suaminya tidak menyusulnya ke luar kamar.
" Dasar nggak peka!" Azkia mengumpat seraya berjalan meninggalkan kamar menuju lift. Dia berniat ke luar mencari udara di bawah.
***
Azkia melirik ke arah dua orang pria asing yang berada dalam satu lift dengannya. Dua pria asing bertubuh tinggi kekar sedang menatapnya penuh has rat seraya mengusap rahangnya.
" Do you want to make love with me?" ( Apa kau ingin bercinta denganku ) Teman pria itu mengembangkan seringai tipis di sudut bibirnya dan mengedipkan matanya.
Azkia langsung terbelalak mendengarkan kalimat-kalimat dari dua pria di hadapannya saat ini. Azkia yang merasa tak aman berada di lift itu memutuskan untuk segera keluar dari lift dengan menekan tombol satu lantai di atas lantai lift dia berada sekarang
" Hey, where are you going? How about we have a little fun in my room first?" ( Hey, Kau ingin ke mana? Bagaimana kalau kita bersenang-senang dulu sebentar di kamarku) Pria kedua itu berusaha menyentuh tangan Azkia yang menekan tombol di dalam lift.
" Please take your hands off, sir!" ( Tolong singkirkan tangan Anda, Tuan ) geram Azkia. " I am a married woman. you both should be more polite in your speech!" ( Saya ini wanita bersuami, sebaiknya kalian lebih sopan dalam berbicara ) ketus Azkia menyingkirkan tangan pria itu.
" Turns out you're a fierce woman." ( Ternyata kau ini wanita yang galak ) Pria tadi justru terkekeh mendengar kata-kata bernada ketus dari Azkia.
" Of course, I can even break your genitals if you dare to mess with me!" ( Tentu saja, saya bahkan bisa mematahkan alat kela min mu jika kau berani macam-macam kepadaku) Azkia sempat mengancam kedua pria itu sebelum keluar dari lift yang akhirnya terbuka.
Azkia bernafas lega akhirnya bisa keluar dari lift tadi. Walaupun dia bisa menguasai ilmu beladiri, tidak mungkin dalam keadaan hamil dia tidak mungkin melakukan perlawanan terhadap kedua orang tersebut.
" Dasar pria gi la! Wanita hamil dengan perut buncit begini masih saja digoda!" umpat Azkia mengedikkan bahunya. Azkia memilih untuk kembali ke kamarnya, dia takut akan bertemu pria-pria tidak sopan seperti tadi.
Sementara di kamarnya, Raffasya yang menunggu beberapa saat namun istrinya tak juga kembali nampak khawatir. Dia pun segera keluar dari kamar berniat menyusul istrinya.
Raffasya berlari ke arah lift karena dia menduga jika istrinya itu menuju ke bawah. Dia menekan tombol lift yang berjalan naik sementara lift sebelahnya berjalan turun.
Ting
Saat suara pintu terbuka, langkah Raffasya yang ingin bergegas masuk ke arah lift tertahan saat melihat Azkia yang keluar dari dalam lift dengan bersungut-sungut.
" May ...."
" Ini semua gara-gara Kak Raffa! Aku hampir mau diculik dan dile cehkan sama dua pria bule gara-gara Kak Raffa!" Azkia langsung melampiaskan kekesalan kepada suaminya saat menjumpai Raffasya di hadapannya.
" Siapa yang berani melakukan itu ke kamu, May? Di mana orangnya?" Raffasya terkesiap mendengar pengaduan dari Azkia tentang dua orang yang dijumpai istrinya tadi. Matanya langsung tersirat emosi saat mendengar istrinya diganggu pria breng sek.
" Siapa mereka yang mengganggumu, May? Di mana kejadiannya? Kita harus lapor ke pihak hotel agar menunjukkan CCTV agar aku bisa tahu siapa pelaku-pelakunya." Raffasya benar-benar terbakar emosinya.
" Nggak usah, Kak. Nggak usah! Jangan berbuat macam-macam! Aku nggak mau kita dapat masalah di tempat orang." Azkia langsung menghalangi Raffasya yang ingin menyelidiki siapa-siapa pria pengganggunya tadi.
" Tapi kamu tadi hampir celaka, May." Raffasya menangkup wajah Azkia. " Kamu nggak kenapa-kenapa 'kan, May? Apa orang itu menyakiti kamu? Apa orang itu berani menyentuh kamu?" Raffasya seketika khawatir kejadian seperti di Bandung saat istrinya itu dijebak orang akan terulang kembali.
Azkia menggelengkan kepalanya, " Tapi aku takut, Kak. Mereka badannya tinggi besar, dan aku nggak mungkin melawan mereka dengan kondisi hamil begini," keluh Azkia.
" Maafkan aku, May. Seharusnya aku nggak membiarkan kamu keluar kamar tadi." Raffasya menyesal dan merasa bersalah karena tadi melepas Azkia keluar kamar tanpa ditemaninya. Raffasya lalu memeluk tubuh istrinya itu.
" Aku juga minta maaf, Kak. Seharusnya aku nggak kesal dan nggak pergi dari kamar. Mereka mengajak aku ke kamarnya untuk bercinta dan bersenang-senang. Itu sangat menyeramkan, Kak." ungkap Azkia.
" Apa?? Breng sek ...!! Apa kamu tahu ciri-ciri mereka, May?" Raffasya langsung merenggangkan pelukannya mendapatkan pengakuan dari Azkia.
" Sudahlah, Kak. Aku nggak mau melihat mereka lagi, kita jangan cari masalah ..." Azkia khawatir jika apa yang dia hadapi tadi akan berbuntut panjang.
" Ya sudah, sebaiknya kita kembali ke kamar saja kalau begitu." Raffasya pun akhirnya membawa istrinya untuk kembali ke kamar mereka
***
Pagi harinya Azkia dan Raffasya menikmati indahnya pesona pantai Tangsi yang terkenal dengan pantai berwarna pink.
" Kenapa kalau dari kejauhan warna pink pantai ini begitu terlihat indah ya, Kak? Padahal pasir pantai ini aslinya berwarna putih, kan?" tanya Azkia, menunjukkan pasir yang berada dalam genggamannya.
" Iya, Pink Beach ini berasal dari perpaduan pasir pantai yang putih bercampur dengan serpihan karang berwarna merah muda. Pantulan sinar matahari dan sapuan air laut semakin mempertegas keindahan pantai ini hingga berwarna pink apalagi kalau dilihat dari kejauhan." Raffasya menjelaskan bagaimana pantai berwarna pink itu bisa terjadi.
" Dan proses itu menimbulkan rasa takjub akan keindahan ciptaan Allah SWT. Benar, kan?" Azkia menimpali.
" Benar sekali, May. Makanya aku bilang, tidak perlu pergi jauh ke luar Indonesia, karena banyak wisata dalam negeri yang seperti surga bagi penikmat wisata, terutama wisata alam," ujar Raffasya kembali.
" Aku setuju, Kak. Makanya Kak Raffa harus sering-sering saja bawa aku healing begini." Azkia terkekeh memeluk pinggang suaminya dan menyandarkan tubuhnya ke dalam pelukan Raffasya.
" Iya, setelah ini aku harus bekerja keras agar bisa membawamu berlibur seperti ini, May." Raffasya pun terkekeh.
Selepas menikmati indahnya pantai berwarna pink, Raffasya mengajak Azkia melakukan pelayaran menggunakan kapal pesiar
Karena banyaknya pulau yang harus dikunjungi, rasanya kurang afdol jika para wisatawan tidak melakukan pelayaran dengan kapal pesiar termasuk Azkia dan juga Raffasya. Mereka akan menginap selama tiga hari dua malam di kapal pesiar itu
" Kak, nanti malam kita ke sana, yuk! Meniru adegannya Jack & Rose, biar kelihatan romantis." Azkia terkekeh menunjuk ke arah ujung dek kapal, berniat ingin meniru adegan romantis yang ada dalam film Titanic.
" Aku nggak mau bernasib seperti mereka, May. Jadi sebaiknya kita nggak usah melakukan hal itu." Raffasya menolak permintaan istrinya itu.
" Hanya meniru adegan romantis doang kok, Kak."
" Berciuman? Nggak malu dilihat orang?"
" Biarin saja, kita sudah menikah, mereka juga pasti mengerti apalagi melihat perutku ini." Azkia menunjuk perutnya sendiri.
" Tapi bahaya, May. Aku takut kamu terjatuh," Raffasya terkekeh menyindir istrinya.
Azkia memutar bola matanya menanggapi sindiran suaminya.
" Tapi boleh juga, sih. Nanti malam kalau suasana sudah sepi dan tidak ada orang yang melihat, kita bisa coba adegan itu." Raffasya nampaknya terpengaruh dengan permintaan istrinya itu.
" Oke, siapa takut?! Deal?" Azkia menyodorkan jari kelingkingnya ke arah Raffasya.
" Deal, dong!" Namun bukannya menautkan jari kelingkingnya dengan jari Azkia, tangan kanan Raffasya justru menarik dagu Azkia dan memberikan kecupan singkat kepada Azkia. Dan mereka pun duduk saling berangkulan menikmati perjalanan kapal pesiar yang akan membawa mereka berkeliling menuju beberapa pulau yang ada di sekitar labuan bajo yang menyuguhkan pemandangan alam yang sangat memanjakan mata dan sayang untuk dilewatkan.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️