
Azkia memperhatikan mobil Papanya yang terparkir di halaman rumah Mama Nabilla saat dia baru saja tiba dari membeli mie ayam bersama Lulu.
" Ck, ngapain juga Papa kemari?" Azkia berdecak karena niatnya menenangkan diri terganggu dengan kedatangan anggota keluarganya beberapa hari ini.
" Itu artinya Papa Teh Kia itu sayang sama Teteh," sahut Lulu menyahuti pertanyaan Azkia yang sebenarnya tidak ditujukan kepada siapa-siapa.
" Anak kecil sotoy!" cibir Azkia.
" Iihh, Lulu 'kan sudah tujuh belas tahun, Teh! Sudah bukan anak kecil lagi kali ... sudah tahu cowok ganteng malah. Kayak teman Teteh yang kemarin datang ke rumah. Siapa namanya, Teh? Boleh dong Lulu dikenalin sama dia, Teh." Lulu terkikik seraya menutup mulutnya hingga membuat Azkia melirik ke arah adik sepupunya itu.
" Idiihh ... cowok begitu kok disenengin, kayak nggak ada cowok lain saja di dunia ini." Azkia memutar bola matanya. " Kamu dengar, ya! Kalaupun di dunia itu cowok tinggal tersisa dia doang, Teteh juga nggak akan mau sama dia!"
" Cowok itu juga belum tentu mau kali sama Teteh, kan Teh Kia sudah hamil duluan!"
Azkia sontak melotot ke arah Lulu karena sindiran Lulu yang langsung mengena di hatinya.
" Eh, jangan kurang ajar ya kalau bicara!" ketus Azkia menegur Lulu.
" Lagian Teh Kia songong banget sih, ngomongnya!" cibir Lulu seraya menjulurkan lidahnya meledek Azkia kemudian berlari lebih dahulu ke dalam rumah Mama Nabilla, membuat Azkia ikut berlari menyusul Lulu.
" Assalamualaikum ... tolongin Lulu, Nek." Lulu tertawa dan langsung bersembunyi di belakang kursi tempat Mama Nabilla duduk.
" Waalaikumsalam, ada apa ini?" sahut Mama Nabilla kaget.
" Astaghfirullahal adzim, Kia! Kamu jangan lari-lari seperti itu!" Natasha nampak panik saat melihat putrinya itu berlari mengejar Lulu. Dia lalu memegang lengan Azkia agar tidak terus mengenjar Lulu.
" Mama kenapa sih, menghalangi Kia yang mau jitak kepala Lulu? Dia itu keterlaluan bicaranya, Ma!" Azkia mengadukan kelakuan Lulu yang dianggapnya bersikap tidak sopan kepadanya.
" Kamu harus ingat, di perut kamu itu ada janin, dan tindakan kamu tadi bisa membahayakan janin kamu, Kia!" Natasha menegur tindakan ceroboh putrinya yang sangat berbahaya.
" Memang kenapa, Ma? Bisa keguguran, ya? Bagus dong kalau bayi ini keguguran!"
" Astaghfirullahal adzim, K.ia!" Yoga, Natasha dan juga Mama Nabilla serentak beristigfar.
" Kamu hati-hati kalau berbicara, Kia!" tegur Yoga kemudian.
" Kia, tidak boleh berucap yang jelek-jelek. Ucapan itu ibarat doa, karena itu berucaplah yang baik-baik." Mama Nabilla ikut menasehati cucunya.
" Kan kalau Kia keguguran, Papa dan Mama nggak jadi malu karena nggak ketahuan orang kalau Kia hamil, Nek. Papa, Mama, Tante Mara dan Om Radit juga nggak perlu bolak-balik ke sini hanya untuk menanyakan siapa yang bertanggung jawab atas kehamilan Kia." Dengan santainya Azkia menyahuti perkataan Neneknya.
" Kami sudah tidak perlu repot-repot mencari tahu siapa yang menghamili kamu karena Papa dan Mama sudah tahu siapa pelakunya!" ucap Natasha.
Deg.
Azkia langsung terperanjat saat mendengar perkataan Mamanya. Bahkan bola matanya kini membulat karena keterkejutnya.
" Si al! Cari mati itu orang!" umpat Azkia dalam hari saat menyadari kini orang tuanya sudah tahu pelaku yang telah membuatnya saat ini berbadan dua. Dia sudah menduga jika Raffasya sudah menemui Papa dan Mamanya hingga kini kedua orang tuanya itu datang menemuinya.
" M-maksud Mama apa?" Azkia masih mencoba berpura-pura tidak mengerti maksud dari perkataan Natasha.
" Kia, Papa dan Mama kemari itu untuk menjemput kamu, karena kami ingin segera melaksanakan pernikahan kamu dengan Raffa Minggu ini juga."
Deg
Kali ini jantung Azkia seolah ingin terlepas dari posisinya saat Yoga mengatakan akan menikahkan dirinya dengan Raffasya.
" Apa, Pa?" Azkia serasa tidak mempercayai pendengarannya. Ini bahkan seperti mimpi buruk yang tiba-tiba saja yang menjadi kenyataan jika dia harus menikah dengan Raffasya.
" Kamu akan menikah dengan Raffa Minggu ini." Natasha yang mengulangi perkataan suaminya.
" Nggak, Kia nggak mau! Kia nggak mau menikah dengan Kak Raffa!" Azkia menolak dengan tegas keputusan yang sudah diambil oleh orang tuanya itu.
" Kamu nggak bisa menolak keputusan Papa kamu, Kia!" tegas Natasha membalas penolakan Azkia.
" Tapi Kia nggak mau, Ma!" Azkia kemudian mendekat ke arah Yoga. " Pa, Kia nggak mau menikah sama Kak Raffa." Azkia memohon kepada Papanya untuk membatalkan rencana Papanya itu.
" Keputusan Papa ini sudah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat!" tegas Yoga.
" Pokoknya Kia nggak mau! Kia nggak mau menikah sama Kak Raffa! Papa sama Mama nggak sayang sama Kia! Kenapa Papa sama Mama malah menjerumuskan Kia ke dalam penderitaan?" Azkia seketika menangis mendengar keputusan Papanya.
" Papa justru menyelamatkan kamu, Kia. Kamu harus segera menikah dengan Raffa demi menyelamatkan anak yang kamu kandung." Yoga mencoba menjelaskan agar Azkia mengerti.
" Bilang saja Papa sama Mama malu punya anak yang hamil di luar nikah! Makanya menyuruh Kia menikah sama Kak Raffa padahal Papa dan Mama itu tahu kalau Kak Raffa itu pria yang nggak baik!" Azkia terus menangis dengan mengatakan kalimatnya dengan nada kencang.
" Kia, yang sopan sama orang tua! Mama saja nggak pernah berani berkata kasar sama Kakek dan Nenek kamu!" tegur Natasha menghadapi kekerasan hati Azkia yang mengatakan jika apa yang diputuskan oleh suaminya adalah bentuk keegoisan sebagai orang tua tanpa memperdulikan kebahagiaan anaknya.
" Kia, Kia nggak boleh bicara seperti itu sama Papa dan Mama kamu. Tidak ada orang tua yang tidak sayang kepada anaknya. Papamu memutuskan menikahkan kamu demi nama baik keluarga termasuk nama baik kamu juga, Kia." Mama Nabilla mencoba menasehati cucunya agar tidak menentang kedua orang tuanya.
" Tapi laki-laki itu bukan laki-laki yang baik, Nek! Nenek mau melihat Kia nggak bahagia?" Kali ini Azkia meminta dukungan kepada Neneknya.
" Nenek lihat kemarin waktu pria itu datang kemari, dia kelihatan baik-baik dan sopan, kok." Mama Nabilla yang sudah diberitahu siapa pria yang menghamili Azkia langsung menyatakan pendapatnya. " Dia datang kemari lalu mendatangi kedua orang tuamu dan mengakui perbuatannya, Nenek rasa dia pria yang baik dan tidak lari dari tanggung jawabnya," sambung Ma Nabilla.
" Kia tetap nggak mau! Papa sama Mama nggak bisa memaksa Kia! Kalau Papa Mama tetap memaksa, Kia akan bunuh diri saja!"
" Astaghfirullahal adzim !" Mama Nabilla dan Natasha kembali beristigahfar mendengar ancaman Azkia.
" Almayra!!" Sementara Yoga langsung membentak Azkia dengan suara menggelegar hingga membuat semua yang ada di ruangan itu tersentak kaget, karena Yoga yang selama ini bersikap tenang kini berkata dengan nada tinggi dan menyentak. " Kalau kamu tidak menuruti apa yang Papa putuskan, kamu nggak usah menganggap Papa dan Mama sebagai orang tua kamu lagi!" Bahkan Yoga sampai mengucapkan kalimat yang tidak seharusnya dia ucapkan karena terlalu emosi.
" Mas ...."
" Yoga ...."
Natasha dan Mama Nabilla sampai terkejut dengan ucapan Yoga.
" Kia nggak mau!" Azkia kemudian berlari meninggalkan Yoga, Natasha dan juga Mama Nabilla.
" Kia ...!" Natasha mengejar Azkia sampai ke kamar putrinya itu, namun Azkia sudah mengunci pintu kamarnya hingga Natasha tidak bisa masuk ke dalam kamar putrinya itu.
" Kia, buka pintunya! Kia, kamu jangan bikin Papa kamu semakin marah lagi, Nak! Ayo buka pintunya!" Natasha terus berusaha membujuk putrinya agar tidak keras kepala.
" Kia, dengarkan Mama, Nak! Kami semua itu sayang sama kamu, nggak mungkin Papa sama Mama menjerumuskan kamu, Kia." Natasha terus berbicara dan mengetuk pintu berharap Azkia membukakan pintunya.
" Mama pulang saja! Nggak usah memikirkan Kia!" Dari luar kamarnya terdengar suara Azkia membalas perkataan Natasha hingga membuat Natasha menghela nafas panjang menghadapi sikap keras putrinya itu.
***
Yoga dan Natasha gagal membawa Azkia pulang, karena Azkia masih mengunci diri di kamarnya sementara besok Yoga harus beraktivitas dengan pekerjaannya, membuat dia kembali ke Jakarta lebih dahulu, sementara Natasha masih tetap tinggal di rumah Mamanya.
Sementara di rumah Yoga, Gibran baru saja datang ke rumah milik dosennya itu.
" Assalamualaikum ..." sapa Gibran dan menekan tombol bel di dekat pintu.
" Waalaikumsalam, eh ... Mas Gibran. Silahkan masuk, Mas." Bi Jun yang membukakan pintu untuk Gibran lalu mempersilahkan pria itu masuk ke dalam rumah Yoga.
" Om sama Tante ada, Bi?" tanya Gibran.
" Bapak sama Ibu sedang ke Bandung menyusul Non Kia, Mas." sahut Bi Jun.
" Kia mau pulang?" tanya Gibran, dia memang sudah mendegar jika Azkia pergi ke rumah Mama Nabilla namun karena kesibukan pekerjaannya hingga dia belum sempat menemui Azkia di Bandung.
" Kemungkinan sih seperti itu, Mas."
" Di rumah ada siapa?" tanya Gibran kemudian.
" Ada Mas Abhi, Non Aulia sama Non Aliza, Mas." sahut Bi Jun.
" Ya sudah saya langsung pamit saja kalau begitu, Bi. Besok saya ke sini lagi saja menemui Om sama Tante jika sudah kembali dari Bandung." Gibran berpamitan karena orang yang dia tuju sedang tidak ada di tempat.
" Assalamualaikum ..."
Saat Gibran hendak pulang tiba-tiba ada seorang pria paruh baya datang bertamu ke rumah Yoga.
" Waalaikumsalam. Eh, Pak RT ... ada apa, Pak RT?" tanya Bi Jun kepada Pak RT yang datang ke rumah Yoga.
" Pak Dosen ada, Bi?" tanya Pak RT menyahuti Bi Jun.
" Bapak sedang keluar kota, Pak RT. Ada apa ya, Pak? Nanti saya sampaikan kalau Bapak sudah datang dari luar kota," ujar Bi Jun.
" Ini saya mau memberitahukan soal pernikahan yang diminta Pak Dosen untuk saya urus. Semua dokumen sudah masuk ke KUA dan akhir Minggu ini pernikahannya bisa dilaksanakan." Pak RT menjelaskan tujuannya datang ke rumah Yoga.
Gibran yang mendengar perkataan Pak RT langsung mengeryitkan keningnya saat Pak RT menjelaskan soal pernikahan.
" Oh ya sudah nanti saya sampaikan ke bapak, Pak. Atau nanti malam Pak RT datang lagi saja barangkali bapak sudah pulang, Pak."
" Ya sudah, kalau begitu saya permisi, Bi. Assalamualaikum ..." Pak RT langsung permisi.
" Waalaikumsalam ..." sahut Bi Jun sebelum Pak RT meninggalkan rumah Yoga.
" Bi, apa maksud Pak RT tadi? Pernikahan siapa? Apa Kia yang akan menikah? Dengan siapa, Bi?" Gibran merasa penasaran dengan pernikahan yang disebut oleh Pak RT sebelumnya. Karena Yoga sendiri belum mengabarinya soal pernikahan Azkia. Jika Yoga menyetujui dia menikahi Azkia kenapa Yoga tidak memintanya mengurus surat pengantar nikah juga? Itu yang ada di benak Gibran saat ini.
" Hmmm, S-saya kurang paham, Mas." Bi Jun langsung bingung harus menjelaskan apa soal pernikahan yang disiapkan oleh Pak RT kepada Gibran. Bi Jun tidak berani bertanya macam-macam kepada majikannya walaupun dia sempat mendengar keributan saat Raffasya datang ke rumah Yoga dua hari lalu.
" Bi, saya serius tanya. Apa Kia yang akan menikah? Dengan siapa Kia akan menikah, Bi?" tanya Gibran mendesak Bi Jun untuk menjawab pertanyaannya.
" Hmmm, S-saya ..." Bi Jun menjeda kalimatnya. " Aduh, gimana ini ..." Bi Jun membatin karena dia benar-benar binggung harus menjelaskan apa kepada Gibran.
*
*
*
Bersambung ...
Teruntuk readers yang sering dibikin kesal sama kelakuan si Abang beserta kawan-kawannya, dibuat emosi, dibuat ngomel-ngomel sama tingkah mereka yang menjengkelkan. Mewakili keluarga besar para sultan, Aku mengucapkan Marhaban Ya Ramadhan, mohon maaf lahir batin, Semoga kita bisa menjalankan ibadah bulan puasa tahun ini dengan penuh kekhusyukan 🤲 Aamiin
Oh ya, novel terbaru udah release, ya! Silahkan masukan ke daftar favorit kalian. Makasih.
Gianetta Allegra, seorang gadis desa yang berprofesi sebagai pengajar scuola elementare ( sekolah dasar ) di sebuah desa penghasil anggur, Neive. Yang terletak di distrik Provinsi Cuneo, Italia. Hidupnya berubah setelah dia bertemu dengan sahabat lamanya bernama Julia Riccarda yang membawanya pergi ke kota besar, sampai akhirnya dia bertemu seorang pria pemilik club malam di beberapa kota besar di Italia bernama Alessio Giovani.
Pertemuannya dengan Alessio telah membuatnya jatuh cinta pada pria metroseksual itu. Bak gayung bersambut perasaan Gianetta dibalas oleh Alessio. Namun Gianetta yang lugu tidak menyadari jika sosok Alessio ternyata penuh misteri. Termasuk pekerjaannya dan juga ambisinya terhadap wanita lain yang dicintai yang tidak lain adalah sahabat Gianetta sendiri.
Lalu apa yang dilakukan Gianetta setelah mengetahui semua tentang semua fakta itu?
Happy Reading ❤️