
Yoga memperhatikan istrinya yang baru saja kembali dari kamar Azkia terlihat seperti orang yang gelisah saat kembali ke dalam kamar mereka.
" Kenapa, Yank?" tanya Yoga kepada Natasha.
Natasha menoleh saat suaminya itu bertanya kepadanya, namun dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan suaminya itu.
" Yank, pagi-pagi jangan bengong gitu, dong! Bahaya kalau nanti kemasukan setan, kalau kemasukan aku sih nggak apa-apa." Yoga terkekeh seraya memeluk istrinya itu dari belakang dan mencium ceruk leher Natasha.
" Mas, aku kok perasaannya jadi khawatir, ya," ucap Natasha kemudian.
" Memangnya kenapa? Kamu sedang memikirkan apa?" Yoga mengurai pelukannya dan memutar tubuh Natasha hingga kini berhadapan dengannya.
" Kia mengeluh perutnya sakit, mual, terus muntah-muntah."
" Kia kena maag?" Yoga langsung bereaksi saat istrinya itu menceritakan bagaimana kondisi sang putri.
" Aku nggak tahu, Mas. Tapi wajahnya pucat, Amara juga bilang kemarin waktu ke rumahnya, Kia itu kelihatan lesu, kayak yang nggak semangat. Nggak selera makan dan pusing sampai hampir terjatuh." Natasha menceritakan apa yang dialami putri mereka.
" Apa tekanan darah Kia rendah?" tanya Yoga kemudian.
" Aku harap sih, begitu."
" Lho, kamu kok malah mendoakan tekanan darah Kia rendah sih, Yank?" Yoga heran karena menganggap Natasha malah mendoakan Azkia terkena penyakit.
" Daripada harus mengalami apa yang aku khawatirkan, Mas."
" Memang apa yang kamu khawatirkan sih, Yank?" tanya Yoga lagi, karena dia melihat istrinya itu nampak gelisah.
" Ciri-ciri Kia ini mirip waktu aku saat hamil anak-anak dulu." Sebenarnya Natasha mengucapkan kalimat itu dengan bulu kuduk merinding. Tentu saja hal seperti itu tidak dia harapan terjadi pada Azkia saat ini.
" Kamu jangan mengada-ada deh, Yank! Kia begitu itu bukan karena hamil. Atau mungkin kamu sendiri yang kepingin hamil lagi?" Yoga malah meledek Natasha.
Natasha langsung mendelik mendengar kelakar dari Yoga seraya berdecak.
" Jangan ngaco deh, Mas! Kita ini sudah pada tua!" sahut Azkia dengan memberengut.
" Sudah tua tapi aktivitas di ranjang 'kan tetap seperti anak muda, Yank." Yoga tertawa mengatakan hal itu.
" Iiihh, Mas Yoga ini diajak bicara serius juga ..." Natasha mendengus kesal karena suaminya itu masih saja menanggapinya dengan bercanda, padahal dia sendiri sedang merasakan khawatir yang semakin kuat.
" Yank, kenapa kamu mikirnya sejauh itu, sih? Kamu nggak percaya sama anak kamu sendiri? Kamu meragukan Gibran?" Yoga menyentuh kedua pundak Natasha meminta agar istrinya tidak berburuk sangka kepada putri mereka dan kekasihnya.
" Ya, semoga itu hanya ketakutan aku saja, Mas." Natasha langsung memeluk suaminya dan menenggelamkan tubuhnya dalam kehangatan pelukan suaminya itu.
***
Raffasya memandangi tubuh liatnya di depan cermin di dalam kamar mandinya. Tubuh yang beberapa Minggu lalu berhasil menguasai tubuh indah dan putih mulus milik Azkia. Dia masih bisa merasakan saat tubuh berototnya itu bersentuhan dengan kulit halus Azkia.
Raffasya mengusap kasar wajahnya saat kejadian di Bandung beberapa waktu lalu selalu saja mengganggu pikirannya.
" Si*al! Kenapa gue terjebak masalah ini? Om Radit dan Om Yoga pasti akan marah besar kalau tahu apa yang terjadi antara gue dan Almayra. Apalagi kalau sampai Almayra hamil ..." Raffasya mendengus kasar karena sampai saat ini dia belum berhasil menemukan keberadaan orang-orang yang sudah menjebak Azkia.
Ddrrtt ddrrtt
Raffasya keluar dari kamar mandi saat dia mendengar ponselnya berbunyi. Dia dengan cepat menyambar benda pipih itu dan mengangkat panggilan masuk karena Harlan lah yang saat ini menghubungi nya.
" Halo, gimana, Lan?" tanya Raffasya saat dia mengangkat panggilan telepon Harlan itu.
" Gue sudah dapat info tentang orang yang menjebak teman lu itu, namanya Melati, dan dia berkerja di karaoke." Harlan lalu memberikan informasi yang didapatnya
" Lu sudah bertemu orangnya?" tanya Raffasya.
" Sudah pasti, Bro! Gue sudah datang ke tempat kerjanya dan dia sempat menemani gue karaoke." Harlan terkekeh.
" Awas lu hati-hati! Nanti lu juga jadi korban jebakannya."
" Hahaha ..." Harlan terbahak mendengar sindiran Raffasya.
" Oke, kayaknya lusa gue baru bisa ke Bandung, Lan. Soalnya gue lagi urus job baru, nih!" sahut Raffasya.
" Ya sudah, yang penting kita sudah tahu keberadaannya sekarang ini," jawab Harlan.
" Oke."
" By the way gimana saudara ketemu gede lu itu? Kalian sudah mengulang lagi seperti yang kalian lakukan di Bandung?" sindir Harlan tertawa mengejek.
" Si"alan, lu!" Sudah deh, kalau nggak ada lagi yang ingin lu informasikan ke gue, gue tutup teleponnya." Raffasya langsung mematikan panggilan telepon sepihak, tak memperdulikan jika Harlan di sana akan mengumpat karena dia langsung mematikan obrolan telepon mereka.
***
Azkia menghentikan mobilnya di sebuah Apotik. Jujur saja, perkataan Raffaysa soal kehamilan sedikit agak mengganggunya, apalagi dia sudah mulai merasakan mual dan muntah. Hingga akhirnya membuat dirinya memberanikan diri untuk mencoba mengunakan alat test kehamilan yang banyak dijual di apotik.
" Mbak, ada test pack?" tanya Azkia kepada pelayan di apotik dengan sedikit gugup. Dia bahkan menoleh ke kanan dan ke kiri seolah takut ketahuan, padahal tidak ada satupun orang yang dia kenal di dalam apotik itu.
" Ada, Mbak. Mau yang dari merk apa? Yang harga berapa?" tanya pelayan apotik.
" Yang bagus saja deh, Mbak." sahut Azkia.
" Sebentar, Mbak." pelayan itu kemudian mengambil beberapa alat test kehamilan kemudian menyodorkannya kepada Azkia.
" Yang mana, Mbak?" tanya pelayan itu.
" Yang bagus saja, tolong pilihkan!" Azkia meminta bantuan pelayan apotik memilihkan test pack untuknya.
" Yang ini harga empat puluh tujuh ribu, Mbak"
" Ya sudah saya ambil itu saja." Azkia lalu mengeluarkan uang seratus ribuan lalu mengambil alat test pack itu kemudian bergegas meninggalkan apotik tanpa menunggu kembalian dari uang yang dia berikan.
" Eh, Mbak ... ini kembaliannya!"
Bahkan suara pelayan apotik pun sudah tidak diacuhkan lagi oleh Azkia, karena dia ingin secepatnya pergi dari apotik itu.
Azkia menarik nafas yang terasa tercekat di tenggorokannya seraya memegang alat tes kehamilan di tangannya itu.
" Ya Allah, semoga alat ini nggak mengeluarkan hasil yang mengerikan," harap Azkia mengusap wajahnya kemudian menjalankan mobilnya menuju rumah pelanggan butik yang ingin ditemuinya karena dia ingin mengantar pesanan salah satu pelanggannya.
***
Raffasya duduk di gazebo yang terletak di pekarangan belakang rumah Dimas sambil memperhatikan anak-anak Dimas yang sedang berenang di kolam yang terletak di depan gazebo.
" Rumahnya enak banget, Bang. Terasa nyaman." Raffasya mengomentari rumah milik teman arsiteknya yang selama ini membantu mengerjakan beberapa tempat usahanya.
" Yang bikin nyaman itu bukan hanya rumahnya saja, tapi juga orang-orang yang ada di dalam rumah itu, termasuk istri dan anak. Makanya lu nikah dulu deh, Raf. Biar merasakan nikmatnya punya istri dan anak."
Seketika Raffasya teringat akan Azkia. Dia masih mencemaskan jika sampai Azkia hamil.
" Lho, memang Raffa ini belum menikah, ya?" suara Astrid, istri dari Dimas membuat Raffasya yang sedang melamun langsung terkesiap.
" Kita memang belum pernah menerima undangan pernikahannya 'kan, Ma? Kalau dia sudah menikah dan kita sampai tidak diundang, gue cekek leher lu, Raf!" gertak Dimas dibarengi tawa
" Memang nunggu apa lagi nggak cepat-cepat nikah, Raf?" tanya Astrid yang memang mengenal Raffasya karena suaminya sudah bekerja sama dengan Raffasya cukup lama.
" Nunggu bidadari turun dari khayangan, Ma." Dimas terkekeh meledek Raffasya.
" Mau Mbak kenalkan nggak sama kenalan Mbak?" tanya Astrid tiba-tiba menawarkan ingin mengenalkan Raffasya dengan kenalannya.
" Cantik kenalan Mbak ini. Orangnya kebetulan mau ke sini. Nanti Mbak kenalkan ke kamu deh, Raf. Siapa tahu cocok dan jodoh," lanjut Astrid.
Raffasya hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Astrid.
Sementara itu, Azkia baru saja memasuki pekarangan rumah salah satu pelanggan butiknya. Azkia memang ingin mengantar pesanan gaun yang dipesan Astrid di Alexa Boutique.
Azkia melirik ke arah motor sport yang dia sangat hapal itu milik siapa.
" Astaga, kenapa di mana-mana selalu ada dia?" Azkia menepuk keningnya seraya berjalan ke teras menuju pintu rumah Astrid.
" Assalamualaikum ..." Azkia mengucapkan salam seraya menekan bel di pintu rumah Astrid. Dan tak sampai menunggu lama pintu rumah itu terbuka.
" Waalaikumsalam ..." Seorang ART membukakan pintu untuk Azkia.
" Permisi, Mbak. Mbak Astrid nya ada?" tanya Azkia.
" Dari butik ya, Mbak? Mari masuk saja, Ibu sedang ada di halaman belakang." ART itu mempersilahkan Azkia untuk masuk ke dalam rumah.
" Oh, makasih, Mbak."
" Mari saya antar ke belakang, Mbak." ART di rumah Astrid itu kemudian membawa Azkia ke halaman belakang yang disebut ART tadi.
Azkia melihat dua orang anak sedang berenang dengan gembiranya di kolam, membuat dia tersenyum. Mungkin seperti itulah dia dulu bersama saudara-saudaranya saat kecil berenang bersama.
" Permisi, Bu. Ini ada tamu dari butik," ucap ART memberitahu Astrid yang sedang mengobrol bersama Raffasya dan juga suaminya.
" Wah, panjang umur, nih! Lagi dibicarakan orangnya muncul," ucap Astrid saat melihat kedatangan Azkia. Sementara Raffasya langsung terkejut saat melihat kehadiran Azkia di rumah Dimas. Namun Azkia lebih memilih pura-pura tidak mengetahui keberadaan Raffasya.
" Aku mau antar pesanan Mbak Astrid." Azkia lalu menyodorkan gaun pesanan Astrid.
" Oh iya, makasih." Astrid menerima paper bag yang disodorkan oleh Azkia lalu menyerahkan kepada ART nya. " Bi, tolong taruh di kamar saya!" Astrid kemudian menyuruh ART nya.
" Baik, Bu." Setelah menerima paper bag dari Astrid, ART itu beranjak masuk kembali ke dalam rumah.
" Kalau begitu aku permisi pulang ya, Mbak." Azkia berniat langsung berpamitan ingin segera meninggalkan rumah Astrid.
" Eh, nanti dulu, Azkia!" Astrid dengan cepat melarang Azkia yang ingin buru-buru pulang.
Baik Azkia dan Raffasya langsung terbelalak mendengar ucapan Astrid.
" Raf, ini lho, kenalan yang Mbak maksud. Cantik, kan? Namanya Azkia, dia kuliah sama urus butik punya Mamanya." Astrid lalu mengenalkan Azkia kepada Raffasya.
" Kia, ini temannya suami. Mbak. Namanya Raffasya, dia urus bisnis sendiri juga, lho. Dari muda punya usaha cafe dan radio. Cocok deh kalau kalian jadian." Astrid terlihat bersemangat menjodohkan Azkia dan Raffasya.
" Maaf, Mbak. Saya mesti kembali ke butik." Azkia yang menyadari niat Astrid ingin menjodohkannya dengan Raffasya langsung memilih cepat pergi dari tempat itu, namun langkahnya tertunda saat suami Astrid berkata kepadanya.
" Lho, kok buru-buru sekali? Baru juga dikenalkan, belum berjabat tangan." Kali ini Dimas yang berbicara. " Teman saya ini memang kelihatan tampangnya galak, tapi aslinya baik kok, orangnya." Dimas menjelaskan seperti apa Raffasya yang sebenarnya.
" Iya, Azkia. Raffa itu baik, kok." Astrid menimpali.
" Kami sudah saling kenal kok, Mbak Astrid." Raffasya yang sedari tadi diam kini mulai bersuara.
" Lho, kalian sudah saling kenal?" Astrid nampak kaget mengetahui ternyata Raffasya dan Azkia saling mengenal satu sama lain.
" Iya, Om gue menikah dengan Tantenya dia," jawab Raffasya.
" Oalah, Mbak jadi malu, niat mengenalkan dan jadi Mak comblang, malah kalian sudah saling mengenal." Astrid terkekeh seraya menutupi mulutnya dengan telapak tangan.
" Ya sudah ya, Tan. Aku permisi pulang, Assalamualaikum ..." Azkia benar-benar tak terbendung ingin segera pergi dari hadapan Raffasya.
" Waalaikumsalam, ya sudah hati-hati. Makasih ya, Azkia ..." Akhirnya Astrid tidak bisa terus menahan kepergian Azkia dan membiarkan Azkia meninggalkannya.
" Bang, Mbak, gue permisi sebentar." Raffasya meminta ijin Dimas dan Astrid karena dia ingin mengejar Azkia.
Azkia berjalan dengan cepat ke arah mobilnya. Namun tiba-tiba dia melambatkan langkahnya sambil memegangi perutnya ketika dia hampir sampai ke mobilnya.
" Sshhh ... kenapa perutku perih sekali?" keluh Azkia berjalan pelan menuju mobil.
" May, lu kenapa?"
Azkia yang mendengar suara Raffasya di belakangnya langsung memaksa mempercepat langkahnya agar Raffasya tidak berhasil menyusulnya. Namun langkah Raffasya yang lebar dan berlari membuat pria itu dengan mudah menyusul langkah Azkia.
" May, perut lu sakit, ya? Lu mesti ke dokter, May. Kita harus memastikan lu itu hamil atau nggak?!" Raffasya masih saja mencoba membujuk Azkia untuk periksa ke dokter.
" Aku itu nggak hamil! Kak Raffa jangan terus menakutiku! Aku nggak hamil! Aku nggak mau hamil! Aku nggak mau hamil anak Kak Raffa!" Seketika tangis Azkia pecah hingga dia menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.
Raffasya kembali terkejut melihat Azkia yang tiba-tiba terisak. Jujur Raffasya lebih senang menghadapi amarah Azkia yang meledak-ledak daripada harus menghadapi Azkia yang menangis.
" May ..." Tangan Raffasya menyentuh pundak Azkia karena saat itu dia seakan bingung harus melakukan apa untuk menenangkan Azkia yang semakin terisak.
" Nggak usah pegang-pegang!" Azkia langsung menepis tangan Raffasya dan menyeka air matanya. Dia langsung segera masuk ke dalam mobil lalu menyalakan mesin mobilnya.
" May, Almayra ...!" Raffasya mencoba mengetuk kaca pintu mobil Azkia namun Azkia tidak memperdulikan dan justru meninggalkan pekarangan rumah Dimas.
" Aaarrggghhh ...!" Raffasya mengerang seraya mengacak rambutnya karena dia merasa kesal pada dirinya sendiri.
" Raf, lu nggak apa-apa?"
Dimas dan Astrid yang merasa penasaran dengan Raffasya yang tiba-tiba mengejar Azkia membuat mereka berdua mengekori langkah Raffasya, hingga akhirnya mereka mendengar sepintas percakapan antara Raffasya dan Azkia.
" Bang?" Raffasya yang tidak menyadari keberadaan Dimas dan Astrid langsung terkejut.
" Sebenarnya ada apa? Kenapa tadi Azkia menangis? Dan kenapa Azkia tadi bilang kalau dia nggak mau hamil anak lu? Sebenarnya apa yang terjadi?" Dimas semakin penasaran.
Raffasya menarik nafas yang terasa berat. Karena sikapnya tadi akhirnya menimbulkan kecurigaan dari Dimas dan juga Astrid.
" Ceritanya panjang, Bang." Raffasya langsung tertunduk lemas.
" Kalau lu nggak keberatan dan percaya sama gue, karena gue sudah menganggap lu seperti adik gue sendiri, lu bisa cerita sama gue tentang masalah yang terjadi di antara kalian. Karena gue merasa masalah yang terjadi antara kalian itu sangat serius." ucap Dimas kemudian.
Akhirnya setelah mereka kembali masuk ke dalam rumah Dimas, Raffasya pun menceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan Azkia. Dari pertama kali dia mengenal Azkia saat masih SD dan pertengkaran-pertengkaran yang sering mereka alami hingga akhirnya peristiwa di Bandung terjadi.
" Bang Dimas ingat waktu gue nggak menemui Bang Dimas dan Harlan siang itu? Itu karena gue sedang sama dia, Bang." Raffasya menutup ceritanya.
Dimas dan Astrid sama-sama menghela nafas panjang mendengar seputar masalah yang sedang Raffasya hadapi saat ini.
" Lalu rencana lu sendiri apa?" tanya Dimas. " Kalau Azkia benar-benar hamil, apa lu siap untuk tanggung jawab?" tanya Dimas.
" Tentu saja gue mesti siap, Bang! Biarpun resiko muka gue bonyok bakal dihajar sama bokapnya, Om nya, Om gue. Tapi gue harus bertanggung jawab atas apa yang sudah gue perbuat. Makanya gue menyuruh dia untuk cepat periksa ke dokter karena beberapa kali gue ketemu dia, dia seperti sedang mengalami gejala yang biasa orang hamil rasakan, Bang." jawab Raffasya.
" Memang lu tahu tanda-tanda orang hamil?" Dimas terkekeh.
" Pa ..." Astrid langsung mencubit Dimas yang menanggapinya dengan bercanda.
" Sejak gue melakukan hal itu, yang paling gue khawatirkan adalah soal kemungkinan dia hamil, Bang. Makanya gue cari info soal tanda-tanda orang hamil," sahut Raffasya.
" Iya kalau dia hamil, terus kalau dia nggak hamil, lu masih mau tanggung jawab juga, Raf?" tanya Dimas.
" Dia sudah punya pacar, Bang."
" Oalah, sudah punya pacar. Terus reaksi pacarnya itu gimana kalau tahu ternyata Azkia itu sudah ternoda, ya?" Kini Astrid ikut berkomentar.
" Kalau cowoknya bisa menerima sih, nggak jadi masalah. Tapi kalau cowoknya menolak karena merasa dikhianati terus memutuskan hubungan dengan Azkia. Apa lu juga mau tanggung jawab karena sudah merebut kesucian dia, Raf?" Dimas sangat mendetail bertanya tentang berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi.
" Gue akan tetap bertanggungjawab, Bang!" ucap Raffasya mantap.
" Lu yakin? Dia bukan cewek yang lu cintai. Lu sendiri bilang kalau kalian itu selalu saja bertengkar di setiap pertemuan. Gimana jadinya kalau kalian bersatu? Apa nggak habis itu perabotan rumah?" Dimas kembali tertawa meledek.
" Pa, serius deh ngomongnya!" Dan Astrid pun kembali menegur suaminya.
" Apa boleh buat, Bang. Semua sudah terjadi dan gue nggak bisa mundur dan pergi gitu saja."
" Seperti itulah pria sejati. Berani bertanggung jawab atas perbuatannya." Dimas mengacungkan jempolnya menyatakan jika dia menyetujui keputusan Raffasya.
" Oh ya, Raf. Apa kamu nggak coba bertemu dengan keluarganya dan membicarakan tentang hal ini?" tanya Astrid kemudian.
" Gue masih menunggu kepastian dari dia, Mbak. Dia nggak ingin keluarganya tahu masalah ini. Dia nggak mau mengecewakan keluarganya apalagi bokap dia dosen di kampus dia kuliah. Tapi kalau gue sudah dapat kepastian dia hamil, meskipun dia menolak, gue pasti akan bilang ke orang tuanya, Bang." tegas Raffasya. Dia memang sudah berniat, apapun yang terjadi pada Azkia, dia harus siap menerimanya meskipun dia harus mendapatkan tentangan dari keluarga Azkia nantinya.
***
" Azkia ada, Wan?" tanya Natasha saat dia sudah berdiri di hadapan Wanda, pegawai yang membantu pekerjaan Azkia mengurus butik miliknya.
" Eh, Bu Natasha. Selamat sore, Bu ..." Wanda yang mendapati keberadaan Natasha di depan mejanya langsung berdiri.
" Kia ada, kan?" tanya Natasha kemudian berjalan ke arah pintu ruangan Azkia.
" Mbak Kia ada di dalam kok, Bu. Tadi sih baru antar barang pesanan pelanggan." Wanda menyahuti.
" Oh, ya sudah ...' Natasha kemudian membuka handle pintu ruangan yang pernah menjadi ruangan kerjanya dulu.
" Assalamualaikum ..." Natasha masuk ke dalam ruangan kerja Azkia namun dia tidak melihat putrinya itu di meja kerjanya. Namun dia melihat Azkia sedang tertidur di sofa yang ada di dalam ruang kerja.
" Lho, malah tidur orangnya." Natasha kemudian menutup kembali pintu ruangan Azkia. Dia lalu berjalan menghampiri Azkia. Dia juga memperhatikan putrinya yang terlihat nyenyak terlelap di sofa. Natasha lalu melihat beberapa barang yang tercecer dari tas Azkia yang tergeletak di lantai dekat sofa Azkia tidur, lalu dia mengambil dan membereskan barang-barang itu kemudian meletakan tas itu ke atas meja kerja Azkia.
Natasha kembali duduk di tepi sofa di mana Azkia tertidur, lalu mengusap pelan wajah Azkia.
" Kamu capek ya, Nak?" Natasha tersenyum menatap wajah cantik putrinya itu. Dia seperti menemukan dirinya di dalam diri putrinya itu.
" Mama harap kamu bisa jadi seperti Mama dulu. Kuat dalam menghadapi masalah apapun yang kamu hadapi. Mama percaya kamu anak yang baik, kamu pasti tidak akan mengecewakan Papa juga Mama." Natasha terus mengucapkan harapnya kepada putrinya itu.
" M-mama?" Azkia yang tertidur langsung terperanjat saat dia merasakan sentuhan tangan di wajahnya, dan dia langsung mengerjapkan matanya karena kaget saat mendapati Mamanya itu sudah berada di sampingnya.
" Mama sudah lama ada di sini?" Azkia langsung bangkit dari tidurnya.
" Mama baru saja sampai, kok. Kamu sakit ya, Nak? Sampai tertidur seperti ini?" Natasha memperhatikan wajah Azkia.
" Ah, nggak kok, Ma. Kia cuma lelah saja, tadi habis antar pesanan ke pelanggan," sahut Azkia.
" Kenapa kamu nggak suruh orang saja untuk antar pesanannya? Kenapa harus jalan sendiri?" tanya Natasha.
" Nggak apa-apa sih, Ma. Kebetulan sekalian keluar juga tadi. Oh ya, Mama memang dari mana kok bisa kemari?" tanya Azkia.
" Mama habis jemput Aliza, dia baru pulang dari sekolah," sahut Natasha.
" Tumben Mama yang jemput, Pak supir ke mana?" tanya Azkia.
" Nggak apa-apa, sekalian Mama juga habis mampir ke rumah Tante Anin tadi."
" Oh ..." Tiba-tiba saja Azkia teringat akan alat test kehamilan yang tadi sempat dia beli di apotik. Dia lalu mencari keberadaan tasnya karena dia takut Mamanya itu akan mengetahui benda yang dia beli di apotik.
" Kamu cari apa, Kia?" tanya Natasha yang melihat putrinya itu seperti mencari sesuatu.
" Tas Kia, Ma."
" Oh, tadi Mama taruh di meja kamu, soalnya tadi terjatuh sampai beberapa barang kamu tercecer di lantai. Sebentar Mama ambilkan." Natasha segera bangkit berniat mengambilkan tas Azkia.
" Jangan, Ma! Biar Kia saja!" Azkia menahan Natasha yang ingin mengambilkan tas miliknya dan dia pun segera berlari mengambil tasnya hingga membuat Natasha mengeryitkan keningnya heran.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️