MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Akan Menutup Pandangan Kepada Yang Lain



" Kak, su su aku habis," ujar Azkia saat dia masuk ke dalam suaminya.


" Yang mana yang habis? Yang kanan atau yang kiri?" tanya Raffasya yang sedang mengancingkan kemejanya seraya menoleh dengan senyum nakal menatap bagian dada istrinya.


" Yang kanan apa yang kiri?" Azkia mengikuti ucapan suaminya seraya mengikuti arah pandangan suaminya. Dia langsung menggelengkan kepala menanggapi sikap suaminya yang sudah mulai mengarah ke hal-hal me sum.


" Dasar me sum!" Azkia mengumpat sikap Raffasya tadi.


Raffasya menyeringai kemudian mendekat ke arah Azkia, " Perasaan tiap kali aku sentuh nggak pernah keluar isinya kenapa bisa habis, ya?" Kalimat absurd keluar dari mulut Raffasya menggoda Azkia. Pria itu kemudian menarik pinggang Azkia hingga kini mendekat dengan tubuhnya.


" Dasar otak Kak Raffa me sum!" sindir Azkia kembali, sementara tangannya mengancingkan kemeja Raffasya yang tadi belum sepenuhnya tertutup.


" Ya sudah, nanti kalau jemput kamu sekalian mampir ke supermarket untuk beli su su untuk bumil." Raffasya lalu mencubit pipi Azkia.


" Kak, iiihh ..." Azkia langsung memegang pipi yang tadi dicubit oleh Raffasya.


" Aku gemas sama kamu." Raffasya kemudian mengusap pipi Azkia yang tadi dicubit olehnya dan mengecupnya. " Kamu cantik, May." ucapnya kemudian.


" Baru sadar aku ini cantik?" Azkia mulai menunjukkan sikap narsisnya. " Dari dulu juga aku ini sudah cantik, kok. Kak Raffa saja yang selalu bilang aku jelek."


" Iya karena semua itu tertutup sikap kamu yang galak dan seperti preman," sindir Raffasya kembali membuat Azkia mengerucutkan bibirnya.


Melihat Azkia yang mencebik, Raffasya langsung mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya dan memberikan ciuman manis kepada wanita yang sejak kecil selalu dimusuhinya itu.


" Kak Raffa kenapa dulu selalu benci dan mengganggu aku?" tanya Azkia saat Raffasya melepaskan tautan bibir mereka.


" Karena apa, ya? Karena dulu kamu berani melawan aku mungkin, lalu kamu juga berani menyakiti alat tempurku, untung saja masih bisa berfungsi sampai sekarang." Raffasya terkekeh.


Flashback on


" Kalian jangan menyakiti murid perempuan." Gibran kecil yang awalnya hanya diam merasa tak terima ada murid perempuan yang dikasari Raffasya kecil.


" Kalian pacaran, ya? Yang perempuan belain yang laki-laki, yang laki-laki belain yang perempuan " Raffasya kecil tergelak yang diikuti tawa teman-temannya.


" Masih kecil itu nggak boleh pacaran-pacaran, Kak Raffa. Kak Gibran itu benar, Kak Raffa jangan dorong-dorong anak perempuan." Azkia mendukung apa yang dikatakan Gibran.


" Aahh ... cerewet, kamu!" bentak Raffasya.


" Raf, jangan dibentak gitu, nanti dia nangis bisa-bisa dia mengadu ke kakaknya." Donny rekan Raffasya berbisik.


" Memangnya siapa kakaknya? Kenapa aku mesti takut?!" tanya Raffasya tak terpengaruh.


" Dia itu adiknya Alden, yang jago karate." Donny memberitahukan.


" Ck, memangnya aku takut kalau dia jago karate?! Kalau bela diri juga aku bisa, kok. Om aku kan pelatih karate. keciiiilll ..." Raffasya meremehkan.


" Kak Raffa nggak boleh sombong. Allah itu benci sama orang sombong." Azkia berusaha menasehati kakak kelasnya itu.


" Cerewet ...!!" Tangan Raffasya mencubit pipi Azkia membuat Gibran bereaksi.


" Raffa jangan sakiti dia!" geram Gibran mendekat ke arah Raffasya.


Namun sebelum Gibran mendekat, Azkia sudah terlebih dulu menendang ke bagian junior Raffasya sebagai tindakan refleks dia karena Raffasya mencubit pipinya hingga membuat anak laki-laki itu mengerang kesakitan.


" Aaarrgghh sakiitt ... huhuhuuuuu ..." Sontak Raffasya menunduk dan menangis sambil meringis menahan sakit di bagian juniornya.


" Kak Raffa sakit, ya? Padahal Kia tendangnya nggak keras kok, Kak. Maafin Kia ya, Kak." Azkia menyampaikan penyesalannya.


" Huhuhu ... awas kamu, ya!" ancam Raffasya kemudian berlalu meninggalkan Azkia dan Gibran disusul oleh teman-temannya.


Flashback off


Tiba-tiba Azkia teringat akan kenangan masa kecilnya saat pertama kali mengenal Raffasya dan juga Gibran.


" Habisnya Kak Raffa bandel banget sih waktu itu." Azkia beralasan.


" Tapi sekarang aku nggak bandel, kan?" Raffasya semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Azkia.


" Bandel sih, nggak. Tapi senangnya memaksa," keluh Azkia.


" Karena kamu senangnya dipaksa, May. Kamu ini susah sekali untuk menuruti omonganku, jadi harus aku paksa dan sedikit diancam." Raffasya mengusap bibir manis Azkia. " Tapi kamu juga senang 'kan kalau aku paksa?" Raffasya kembali menautkan bibirnya dengan sang istri hingga memperdalam penyatuan bibir mereka yang direspon baik oleh Azkia, dengan membalas setiap sentuhan yang diberikan oleh suaminya.


Bahkan kini tangan Azkia melingkar di leher suaminya hingga mereka begitu menikmati penyatuan bibir mereka, membuat suara decapan yang sangat dominan terdengar menghiasi kamar mereka pagi hari ini.


" Sudah, Kak. Kalau diterusin bisa telat aku ke kampus." Azkia memilih mengakhiri kemesraan mereka, karena dia tahu jika dilanjutkan akan berakhir seperti apa, karena kini tangan Raffasya mulai nakal meremas daerah-daerah sensitif miliknya.


" Nggak apa-apa kamu telat juga, atau kalau perlu ijin saja nggak usah masuk kuliah hari ini." Raffasya seolah enggan melepaskan istrinya.


" Kak, Nenek sudah menunggu kita sarapan di bawah." Azkia kembali meminta suaminya untuk mengakhiri aktivitas in tim mereka.


" Nenek pasti mengerti kalau kita telat bergabung di meja makan." Raffasya mendekatkan kembali bibir mereka.


" Ya ampun, Kak Raffa! Pagi-pagi jangan me sum begini, dong!" tegur Azkia melerai belitan tangan sang suami di pinggangnya kemudian menarik tangan sang suaminya itu untuk mengikutinya keluar dari kamar menuju ruang makan di mana Bi Neng sudah menyiapkan menu sarapan untuk mereka dan Nenek Mutia.


***


" Kak, besok kita menginap di rumah Papa." ujar Azkia kepada suaminya yang sedang mengendarai mobil menuju kampus Azkia.


" Lusa 'kan hari pernikahan Rayya dan Kak Rama, jadi besok kita menginap biar kita bisa siap-siap dari pagi," labjut Azkia menjelaskan.


" Tapi aku nggak akan dikurung di kamar seperti waktu itu, kan?" sindir Raffasya mengingat dia tidak diijinkan oleh Azkia ikut menghadiri acara pertunangan Rayya dengan Ramadhan beberapa bulan lalu.


" Kak Raffa ingin aku kurung lagi?" ledek Azkia menggoda suaminya seraya menolehkan wajah ke arah Raffasya.


" Kalau dikurung dalam kamar sama kamu sih, kenapa harus menolak?" Raffasya mengedipkan matanya giliran dia yang menggoda sang istri.


" Memang mau ngapain dikurung dalam kamar berdua?" tanya Azkia.


" Apa saja yang enak pasti bisa dilakukan di kamar kalau berdua sama kamu." Raffasya menyeringai.


" Ya ampun, Dek. Papamu ini cepat sekali kalau bicara hal yang me sum-me sum." Azkia mengusap perutnya menanggapi jawaban dari suaminya, membuat Raffasya tertawa.


" Tapi kamu juga semakin lama semakin menikmati, kan?" sindir Raffasya.


" Ya mau gimana lagi? Habis sudah keseringan jadi sudah terbiasa." Azkia terkikik berkata sejujurnya.


" Terbiasa karena merasakan yang enak-enak, kan?"


" Sudah deh, Kak. Jangan bahas itu terus!" Azkia enggan membahas seputar hal yang berbau urusan kebutuhan biologis.


" Kamu dulu yang mulai ..." sahut Raffasya tak mau disalahkan oleh istrinya.


" Tapi Kak Raffa nggak masalah 'kan hadir di acara pernikahan Rayya sama Kak Rama? Nggak sakit hati gitu? Melihat wanita idaman sejak kecil Kak Raffa menikah dengan pria lain?" Kali ini Azkia sengaja ingin mengolok suaminya karena pernikahan Rayya dengan Ramadhan.


" Hmmm, jangan mulai bahas masalah itu, deh! Nanti ujung-ujungnya justru kamu sendiri yang ngambek," sindir Raffasya yang mulai mengenal karakter istrinya.


" Kenapa mesti mengambek? Rayya itu cinta mati sama Kak Rama, jadi nggak mungkin akan melirik Kak Raffa." Azkia berkelit. " Rayya itu suka Kak Rama sejak kecil, seperti Kak Raffa suka sama Rayya. Bedanya ... Rayya berhasil menikah dengan pria idamannya, tapi Kak Raffa, nggak! Kasihan deh Kak Raffa." Azkia sengaja meledek suaminya itu.


" Kamu pikir yang gagal mendapatkan wanita yang disukai sejak kecil cuma aku doang? Apa kabar sama mantan kamu itu?" Raffasya melirik istrinya sambil menyindir balik Azkia.


Mendengar Raffasya menyinggung soal Gibran, Azkia yang awalnya terlihat ceria kini menampakkan wajah seriusnya.


" Kemarin aku bertemu Kak Gibran," lirih Azkia.


Raffasya langsung menoleh ke arah istrinya mendengar Azkia bertemu mantan kekasih istrinya itu.


" Oh ya? Kapan? Di mana?" Raffasya nampak tertarik dengan ucapan istrinya.


" Waktu keluar makan sama Atika," sahut Azkia.


" Apa kalian memang sudah berjanji ingin bertemu?" selidik Raffasya curiga.


" Kamu menghindar dari Gibran? Kenapa? Takut atau malu?" tanya Raffasya kembali.


" Aku hanya merasa bersalah sama Kak Gibran," lirih Azkia dengan nada sendu.


" Jadi kamu menyesal menikah sama aku?" tanya Raffasya ingin mengetahui bagaimana perasaan Azkia yang sebenarnya tentang pernikahan mereka yang sudah berjalan tiga bulan.


" Aku hanya menyesal harus hamil di luar nikah," sahut Azkia. " Orang selalu menganggap itu hal buruk meskipun mereka nggak tahu kisah yang sebenarnya itu seperti apa," lanjutnya.


" Maaf ..." ucap Raffasya dengan nada berat, bagaimanapun juga dia merasa sangat bersalah atas kejadian yang menimpa Azkia. Dia lalu menggenggam tangan Azkia. " Kita jangan terus larut dengan hal itu. Masa depan kita ke depan lebih indah dan sudah siap kita jelang. Jangan tengok lagi ke belakang. Oke?" Raffasya meminta agar Azkia tidak mengingat kembali tentang kejadian yang membuat mereka akhirnya terikat dalam suatu ikatan pernikahan.


Azkia menolehkan pandangan ke arah Raffasya sembari menganggukkan kepalanya. Harus dia akui, dia merasa beruntung saat itu dipertemukan dengan Raffasya yang akhirnya mau bertanggung jawab atas kejadian di Bandung beberapa waktu silam. Justru Raffasya yang bisa dikatakan menjadi pahlawannya, sama seperti ketika hal buruk menimpa Mamanya, Yoga lah yang datang di saat yang tepat untuk menjadi pelindung Natasha.


***


Azkia berkali-kali melihat penampilan di depan cermin untuk memastikan penampilannya pagi ini terlihat cantik dengan kebaya yang di bagian perutnya sudah mulai memperlihatkan perut buncitnya karena sudah memasuki empat bulan usia kehamilan.


" Sudah dong, May. Dari tadi nggak selesai-selesai berhiasnya. Nanti kita telat ikut acara ijab qobul Rayya sama Rama," tegur Raffasya yang melihat istrinya sejak tadi tak juga selesai bercermin.


" Aku sudah cantik 'kan, Kak?" tanya Azkia sambil memainkan kedua alisnya hingga turun naik.


" Memangnya kamu mau dilihat sama siapa, sih? Harus dandan cantik-cantik segala." protes Raffasya.


" Ya mau dilihat sama tamu-tamu yang datang dong, Kak. Tamu-tamu yang diundang itu bukan orang-orang sembarangan. Relasi bisnisnya Uncle Gavin sama Om Ricky, orang-orang penting semua yang datang pastinya. Jadi aku nggak boleh asal-asalan saja penampilannya," sahut Azkia menjelaskan.


" Bukan karena ingin dilirik pria lain?" sindir Raffasya.


" Siapa juga yang mau lirik wanita berbadan dua kayak aku ini?" Azkia memutar bola matanya. Sementara Raffasya langsung terkekeh.


" Ya sudah ayo buruan! Sebentar lagi mempelai pria akan datang." Raffasya mengulurkan lengannya yang langsung disambut oleh Azkia yang langsung melingkarkan tangannya di lengan sang suami.


***


" Saudara Ramadhan Syahrezky Pratama saya nikahkan dan saya kawinkan dengan putri saya Rayya Faranisa Richard binti Gavin Richard dengan mas kawin logam mulia seberat tujuh ratus lima gram dibayar tunai."


" Saya terima nikah dan kawinnya Rayya Faranisa binti Gavin Richard dengan mas kawin tersebut tunai." Kalimat ijab qobul yang diucapkan oleh Gavin dan Ramadhan membuat semua orang yang hadir di rumah Gavin memusatkan perhatian kepada pasangan mertua dan menantu itu.


Setelah pembacaan kalimat ijab qobul antara Gavin dan Ramadhan selesai, kini mempelai wanita keluar dari tempatnya. Aura wajah Rayya nampak bahagia menyambut hari bahagianya terpancar membuat wajah cantik wanita berhijab itu semakin bersinar.


Azkia melirik ke arah suaminya yang sedang menatap kehadiran Rayya dari dalam ruangan. Azkia mengerucutkan bibirnya melihat suaminya tak berkedip melihat kehadiran Rayya di ruangan itu. Azkia langsung mencubit lengan sang suami.


" Aaawww ..." Raffasya seketika meringis karena lengannya dicubit oleh Azkia.


" Terus saja liatinnya, nggak usah pakai kedip!" sindir Azkia ketus. Dia lalu bangkit ingin berpindah tempat menjauh dari suaminya.


" Kamu mau ke mana, May?" Raffasya pun akhirnya mengikuti Azkia.


" Mau cari udara segar, di dalam panas." Azkia mengibaskan tangannya menirukan gerakan mengipas-ngipas.


" Mungkin karena di dalam terlalu banyak orang jadi AC nya nggak kerasa dinginnya," sahut Raffasya membuat Azkia mendelik ke arah suaminya itu.


" Iiihhh ...!!" Azkia memukul lengan Raffasya, kemudian pergi meninggalkan suaminya itu dengan kesal.


" May ...."


" Ada apa, Raffa?" Tiba-tiba suara Raditya terdengar menghalangi langkah Raffasya yang ingin mengejar Azkia.


" Raffa ingin menyusul Kia, Om." jawab Raffasya.


" Memang kenapa? Sudah kamu di sini dulu. Jaga sikap! Acaranya belum selesai, nggak enak kalau kamu pergi dari sini. Duduk di sini sama Om." Raditya meminta keponakannya untuk duduk di sebelahnya.


" Iya, Om." Raffasya terpaksa mengikuti apa yang diminta Om nya itu.


Sementara Azkia menoleh ke arah belakang, namun dia tidak melihat suaminya itu ikut mengejarnya.


" Dasar menyebalkan!" umpat Azkia mendengus kesal.


" Bilangnya sudah melupakan, tapi kalau lihat orangnya masih saja terpesona!" gerutu Azkia kembali, kemudian berjalan masuk ke dalam rumahnya.


***


Selepas memberikan ucapan selamat kepada Rayya dan Ramadhan, Azkia memilih kembali ke dalam kamarnya karena dia juga ingin bersiap untuk ke hotel untuk mengikuti acara resepsi di hotel milik Gavin malam harinya.


" Kamu kenapa, sih? Dari tadi cemberut saja?" tanya Raffasya kepada Azkia yang sejak tadi menekuk wajahnya.


" Pikir saja sendiri!" ketus Azkia.


" Aku dari tadi mikir, tapi nggak ketemu alasan kamu itu kenapa?" Raffasya menyeringai membuat Azkia mendelik galak.


" Memangnya apa yang membuat kamu merajuk kayak gini, sih?" Raffasya melingkarkan tangannya di pinggang Azkia.


" Nggak usah pegang-pegang!" Azkia mencoba memberontak dari pelukan sang suami.


" Memang ada larangan suami peluk istri sendiri?" Raffasya nampak senang karena berhasil membuat istrinya itu marah.


" Lepaskan!!" Azkia terus berontak.


" Kamu cemburu sama Rayya?"


Azkia menghentikan gerakannya saat Raffasya menyebutnya cemburu pada sepupunya itu.


" Cih, siapa juga yang cemburu? Jangan geer, deh!" Azkia menampik.


" Nggak cemburu? Tapi kamu marah gini karena aku tadi memperhatikan Rayya, kan?"


" Nggak! Aku nggak cemburu!" tepis Azkia.


" Bukan aku saja yang tadi memperhatikan Rayya, tapi semua orang yang ada di sana juga pasti memusatkan perhatian ke Rayya." Raffasya menjelaskan kepada istrinya jika dia memperhatikan Rayya tanpa maksud apa-apa.


Azkia mendengus mendengar penjelasan Raffasya.


" Bumil jangan marah-marah terus, kasihan dedek bayinya ini." Raffasya mengusap perut Azkia, kemudian menurunkan tubuhnya hingga kini dia duduk berlutut di hadapan Azkia dengan kepala tepat di depan perut buncit istrinya itu. Raffasya lalu menciumi perut sang istri berkali-kali.


" Dedek bayi, Sayang. Dedek bayi bilang sama Mama, dong. Mama jangan marah-marah terus sama Papa. Kalau Mama marah-marah terus, nanti Papanya kabur, lho!" Raffasya masih sempat-sempatnya menggoda istrinya yang masih belum mereda emosinya.


" Ya sudah sana kalau mau kabur!" Azkia dengan cepat mereaksi ucapan suaminya dan menganggap serius candaan yang dilontarkan oleh Raffasya.


Raffasya langsung bangkit lalu memeluk tubuh Azkia.


" Jangan marah-marah dong, Mama sayang." Dia pun kemudian menciumi wajah Azkia tanpa ada bagian yang terlewat sedikit pun.


" Aku 'kan sudah bilang, Aku sudah punya masa depan, yaitu kamu dan anak kita. Jadi kamu jangan cemburu lagi pada siapapun dan apapun juga. Aku nggak akan meninggalkan kamu dan anak kita, May. Karena kalian berdua adalah sumber kebahagian aku sekarang ini dan selamanya." Raffasya menangkup wajah cantik Azkia.


" Tapi Kak Raffa memandang Rayya dalam banget," keluh Azkia.


" Itu hanya perasaan kamu saja, padahal aku memandang Rayya biasa saja, kok." Kini tangan Raffasya mengusap wajah berkulit lembut sang istri. " Dan itu karena kamu terlalu takut kehilangan aku, kan?" ledek Raffasya kembali membuat Azkia kembali mencebikkan bibirnya.


" Oke, oke ... mulai saat ini aku akan menutup pandangan dari wanita lain. Mulai saat ini mataku ini hanya akan memandang wanita cerewet yang suka mengambek ini." Raffasya mencubit gemas pipi istrinya itu, kemudian memeluk tubuh istrinya kembali, dan Azkia pun melingkarkan tangannya di tubuh Raffasya sambil merasakan aroma tubuh sang suami yang kini sudah mulai menjadi candu untuknya.


"


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️