
Azkia menangis pilu di depan jasad Nenek Mutia. Dia bukan saja merasa kehilangan sosok Nenek Mutia yang selama ini selalu mendukungnya, namun dia juga takut suaminya itu akan menyalahkannya akan kejadian yang menimpa Nenek Mutia.
Sementara Bi Neng langsung merogoh ponselnya untuk menghubungi seseorang, tapi bukan Raffasya yang dia hubungi karena Bi Neng sendiri takut untuk menyampaikan berita duka itu kepada Raffasya. Bi Neng menduga jika Raffasya pasti sangat terpukul jika mendengar kabar meninggalnya Nenek Mutia.
" Assalamualaikum, Bu." sapa Bi Neng kepada seseorang yang di seberang teleponnya saat panggilan teleponnya tersambung.
" Waalaikumsalam, ada apa Bi Neng?" sahut Lusiana, orang yang dihubungi Bi Neng.
" Bu, ada kabar duka. Bu Mutia ..." Bi Neng tak sanggup melanjutkan kalimatnya karena dia pun tak tahan untuk tidak menangis.
" Mama kenapa, Bi?" Nada bicara Lusiana terdengar khawatir mendengar kata berita duka.
" Ibu Mutia meninggal, Bu." Dengan suara bergetar Bi Neng menyampaikan berita duka itu kepada mantan menantu Nenek Mutia itu.
" Innalillahi Wa Innaillaihi rojiun ... Kapan Mama nggak adanya, Bi? Meninggal karena apa?" Lusiana merasa terkejut dengan berita yang disampaikan Bi Neng, karena setahunya mantan ibu mertuanya itu terlihat sehat-sehat saja.
" Kami baru mengetahuinya sekarang, Bu. Tadi pagi waktu dicek sama Mas Raffa badan Bu Mutia panas, dan sempat diberi obat oleh Mas Raffa lalu istirahat. Sekarang ketika saya masuk kamar Bu Mutia ingin memberi makan siang, ternyata Ibu Mutia sudah meninggal, Bu." Bi Neng kembali terisak.
" Iya Allah ... Ada siapa saja di sana, Bi? Raffa ada?" tanya Lusiana.
" Mas Raffa nggak ada, Bu. Di sini hanya ada Mbak Kia, saya sama Uni." Bi Neng menyebutkan orang yang saat ini berada di rumah hanya Azkia dan juga ART lainnya. " Saya nggak berani menghubungi Mas Raffa untuk menyampaikan berita ini, Bu." Bi Neng menyampaikan kekhawatirannya akan sikap Raffasya saat mengetahui Nenek tercintanya meninggal.
" Ya sudah, nanti Om nya saja yang menyampaikan kepada Raffa." Lusiana yang mengerti jika Raffasya akan sangat terpukul dengan kepergian Neneknya memutuskan akan menyuruh adiknya untuk menghubungi Raffasya. " Sekarang Bi Neng cepat hubungi pihak RT di sana dan beritahu tetangga tentang meninggalnya Mama, saya ke sana sekarang. Assalamualaikum ..." Lusiana mengakhiri sambungan teleponnya.
" Waalaikumsalam ..." Setelah Lusiana mematikan sambungan telepon, Bi. Neng langsung beranjak ke luar kamar Nenek Mutia untuk memberitahukan tetangga sekitar tentang kabar duka tersebut. .Sementara Uni mencoba menenangkan Azkia yang terus saja menangis memeluk tubuh Nenek Mutia.
***
" Apa rencana lu selanjutnya, Raf?" tanya Harlan yang langsung datang menemui Raffasya dari Bandung saat mendengar berita soal kebakaran La Grande Caffee.
Raffasya mendengus kasar, tidak bisa dipungkiri dia cukup stress menghadapi masalah yang terjadi dengan La Grande.
" Gue harus mencari dana untuk renovasi cafe ini, Lan. Karena ternyata cafe ini sudah nggak tercover sama pihak asuransi," sahut Raffasya dengan nada penuh penyesalan.
" Apa lu nggak kepikiran untuk pindah tempat saja, Raf? Butuh waktu untuk merenovasi bangunan ini karena baru saja terbakar," Harlan memberikan pendapatnya.
" Pindah tempat baru juga akan memakan waktu karena harus memulai dari awal dan butuh dana yang lebih besar, Lan. Gue nggak punya dana untuk membuat yang baru lagi, Uang gue saja belum tentu cukup untuk merenovasi ini," ujar Raffasya dengan nada berat karena memendam kekecewaan yang sangat dalam.
" Gue turut prihatin, Raf. Lu mesti semangat." Harlan menepuk pundak Raffasya mencoba menyemangati sahabatnya itu.
Ddrrtt ddrrtt
Raffasya mengambil ponselnya saat mendengar benda pipih itu berbunyi. Dia mendapati nama Raditya tang menghubungi saat ini.
" Gue terima telepon dulu, Lan." Raffasya meminta ijin menerima panggilan telepon dari Om nya itu.
" Oke ...."
" Assalamualaikum, ada apa, Om?" tanya Raffasya saat menerima panggilan telepon masuk dari Raditya.
" Waalaikumsalam, kamu ada di mana sekarang, Raffa?" Terdengar suara Raditya menanyakan keberadaannya.
" Raffa sedang bertemu teman, Om. Ada apa?"
" Kamu harus pulang sekarang juga, Raffa." Suara Raditya terdengar sangat serius.
" Memangnya ada apa, Om?" Raffasya semakin penasaran karena Raditya memerintahkan dirinya untuk segera pulang.
" Nanti Om kasih tahu, kita ketemu di rumahmu. Assalamualaikum ..." Raditya mengakhiri panggilan teleponnya.
" Waalaikumsalam ..." jawab Raffasya pun menutup penggilan telepon Raditya.
" Ada apa, Bro?" tanya Harlan yang mencuri dengar perkataan Raffasya di telepon.
" Sorry, Lan. Gue mesti balik ke rumah. Om Radit suruh gue segera pulang ke rumah. Gue merasa sesuatu terjadi di sana." Raffasya memang sudah terlihat cemas sejak menerima telepon dari Raditya. Hal-hal buruk sudah berkecamuk di benaknya.
" Ya sudah lu buruan pulang, hati-hati di jalan. Semoga saja nggak terjadi sesuatu yang serius di rumah lu." Harlan kembali menepuk bahu Raffasya agar Raffasya tetap tenang karena akan membawa kendaraan.
***
Raffasya memperlambat laju kendaraannya saat mendekati rumahnya. Dia melihat kerumunan orang dan beberapa mobil terparkir di depan rumahnya. Dan yang membuat dadanya seketika terasa sesak adalah saat dia melihat bendera kuning terpasang di pagar rumahnya. Seketika itu juga hati Raffasya serasa mencelos dan jantungnya seakan berhenti berdetak.
Raffasya segera memarkirkan mobilnya di jalan depan rumahnya dan bergegas turun dari mobil lalu berlari ke dalam rumahnya. Kakinya terasa melemas saat dia melihat sesosok tubuh yang berselimutkan kain hingga menutupi wajah tubuh itu, yang diletakan di tengah ruangan tamu, dan dikelilingi beberapa orang yang sedang membacakan doa-doa untuk Nenek Mutia.
Bola matanya langsung mengembun, kenyataan ini seakan sulit untuk diterimanya. Dia berharap apa yang dilihatnya saat ini tidaklah nyata. Dia bisa terima usahanya tiba-tiba tertimpa musibah, namun dia tidak siap jika harus menghadapi kenyataan Nenek yang paling dicintainya itu berpulang kepada Sang Penciptanya.
Raffasya berjalan perlahan lalu terduduk berlutut di hadapan jenazah Nenek Mutia. Dengan sedikit bergetar tangannya menarik kain yang menutupi wajah Nenek Mutia.
" Nek, Nenek jangan pergi, Nek. Nenek kenapa tinggalkan Raffa? Raffa nggak siap harus kehilangan Nenek." Raffasya seketika menangis pilu di hadapan tubuh Nenek Mutia yang sudah terbujur kaku. Saat itu Raffasya merasa sangat lemah. Dia tidak perduli dengan orang-orang yang ada di sekitarnya saat ini. Dia terus menangis, memeluk dan menciumi wajah Nenek Mutia.
" Raffa, kamu harus sabar. Jangan membuat Nenek tidak tenang dengan tangisanmu." Raditya mencoba menenangkan Raffasya yang terus menangis.
Setelah menunggu kedatangan dari Fariz, Papa dari Raffasya yang merupakan anak dari Nenek Mutia, akhirnya jenazah Nenek Mutia dimakamkan sekitar jam empat sore. Azkia sendiri tidak diijinkan untuk ikut mengantar Nenek Mutia ke tempat peristirahatannya yang terakhir oleh Lusiana dan juga Natasha karena kondisi kehamilannya. Saat ini bersama Bi Neng, Azkia ditemani oleh Natasha juga Aulia dan Aliza.
Azkia terus menangis di dalam kamarnya. Dia benar-benar merasa sangat bersalah karena merasa sebagai penyebab meninggalnya Nenek Mutia. Azkia bukan hanya merasa sedih karena dia juga merasa kehilangan Nenek yang sudah dia anggap seperti neneknya sendiri. Nenek Mutia yang selalu membela dan mendukungnya setiap dia berselisih paham dengan suaminya. Tapi Azkia juga merasa takut Raffasya akan membencinya karena hal ini. Dan itu dia rasakan karena Raffasya sama sekali tidak mendekatinya selama pria itu datang dan akhirnya berangkat mengantar ke pemakaman Nenek Mutia.
" Kia, kamu jangan menangis terus, Nak. Kasihan bayi dikandungmu kalau kamu bersedih seperti ini." Natasha mencoba menenangkan Azkia yang terus saja menangis.
" Ma, Kia takut, Ma." Dengan bola mata yang tertutup cairan bening Azkia berkata kepada Natasha.
" Kenapa takut, Kia? Orang yang sudah meninggal itu alamnya sudah berbeda dengan kita. Jadi kamu nggak usah takut, Nak." Natasha yang tidak mengetahui masalah yang sesungguhnya terjadi malah menganggap Azkia takut karena hal berbau mistis dengan meninggalnya Nenek Mutia.
" Bukan itu yang Kia takutkan, Ma." Azkia menyeka air matanya yang berlinang. Dia menampik anggapan Natasha siap ketakutannya itu.
" Lalu apa yang kamu takutkan?" tanya Natasha.
" Kia takut Kak Raffa akan membenci Kia, Ma." Tangis Azkia kembali pecah membuat Natasha mengerutkan keningnya karena tidak paham dengan perkataan putrinya tadi.
" Maksud Kia apa? Kenapa Raffa membenci kamu, Nak?" Sebenarnya Natasha sendiri merasakan kejanggalan karena Raffasya sama sekali tidak mendekati Azkia, tidak seperti kebanyakan pasangan suami istri yang saling menguatkan satu sama lain ketika tertimpa suatu musibah. Namun jika diingat menantunya itu baru saja mendapatkan musibah kebakaran tempat usahanya dan kini kehilangan orang yang sangat dikasihinya, Natasha pun tidak sampai curiga jika ada konflik yang terjadi antara Raffasya dan Azkia saat ini.
" Sebenarnya ... masalah kebakaran di cafe milik Kak Raffa. Sebenarnya Kak Raffa meminta Kia untuk tidak memberitahukan Nenek tentang masalah ini, Ma. Tapi justru Kia menceritakan hal itu ke Nenek dan itulah yang membuat Nenek kepikiran dan langsung drop, Ma." Azkia akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
" Ya Allah ..." Natasha membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangannya.
" Kak Raffa pasti akan menyalahkan Kia karena hal ini, Ma." Dengan menangis tersedu-sedu Azkia melampiaskan kesedihannya.
" Kia, umur seseorang itu tidak ada yang tahu. Hidup, mati, jodoh dan rezeki itu hanya menjadi rahasia Allah SWT. Jadi kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri, Nak." Natasha mencoba menjelaskan kepada putrinya agar putrinya itu tidak terus menerus dihantui rasa bersalah.
" Tapi Mama lihat sendiri, kan? Kak Raffa sejak tadi mengacuhkan Kia, Ma. Ma, Kia takut Kak Raffa akan marah sama Kia, karena Kia lah yang menyebabkan Nenek meninggal." Azkia terus menyalahkan dirinya sendiri dan menangis di pelukan Natasha. Rasa sayang yang terus tumbuh di hati Azkia kepada suaminya itu membuatnya merasa sedih jika tahu Raffasya akan marah, membenci bahkan memusuhinya sekarang ini. Walaupun dulu dia sangat terbiasa mendapatkan perlakuan itu dari Raffasya, namun tidak untuk saat ini.
Natasha menghela nafas panjang. Dia tahu bagaimana dulu sikap Raffasya kepada Azkia, dia hanya berharap itu tidak akan terjadi lagi sekarang karena meninggalnya Nenek Mutia.
" Ma, tolong jangan cerita tentang sikap Kak Raffa kepada siapapun termasuk Papa ya, Ma!" Azkia lalu meminta kepada Natash agar tidak menceritakan perubahan sikap Raffasya kepada keluarganya. Dia tidak ingin suaminya itu nanti akan disalahkan oleh keluarganya karena menganggap Azkia lah orang yang bertanggung jawab atas meninggalnya Nenek Mutia.
" Tapi kalau Raffa menganggap kamu bersalah, dia harus diberi nasehat agar pikirannya terbuka, Nak." Natasha merasa Raffasya perlu dinasehati jika sampai menantunya itu menyalahkan Azkia.
" Jangan, Ma. Kia mohon jangan memperuncing masalah ini. Kia nggak ingin Kak Raffa nantinya akan semakin membenci Kia, Ma." Azkia memohon kepada Mamanya.
Natasha terdiam, dia sendiri bingung apakah akan menyetujui permintaan Azkia atau harus berterus terang kepada suaminya. Namun yang pasti saat ini dia hanya sanggup memberikan pelukan untuk putrinya itu.
***
Setelah kepergian Nenek Mutia, Raffasya memang nampak menjauh dari Azkia. Setiap pagi setelah berziarah ke makam Nenek Mutia, dia akan kembali ke rumah mengelang Maghrib karena akan mengikuti acara tahlilan. Malam harinya pun Raffasya memilih menyendiri di kamar Nenek Mutia. Dan itu terus berlangsung hingga tujuh hari kepergian Nenek Mutia.
Hari ini suasana rumah Raffasya kembali sepi. Sanak saudara yang selama tujuh hari kemarin berkumpul di rumah Raffasya sudah kembali ke rumah masing-masing.
" Bi, Kak Raffa sudah bangun?" tanya Azkia saat menemui Bi Neng di dapur. Karena suaminya itu masih tidur di kamar Nenek Mutia.
" Sepertinya sudah, Mbak. Tadi Bibi dengar sudah memanaskan mobil." ujar Bi Neng memberitahukan.
" Apa masih di garasi sekarang, Bi?" tanya Azkia kembali.
" Bi Neng kurang tahu,. Mbak. Sebentar Bi Neng lihat dulu ke depan ya, Mbak." Bi Neng ingin beranjak ke luar dari dapur namun Azkia melarangnya.
" Biar Kia saja yang lihat, Bi." Azkia kemudian yang meninggalkan dapur menuju garasi rumah suaminya itu.
Azkia tidak mendapati mobil suaminya terparkir di garasi dan halaman rumahnya, hanya ada motor sport dan motor matic di sana.
" Kok mobilnya nggak ada? Apa Kak Raffa sudah pergi?" Ada rasa kecewa di hati Azkia melihat perubahan sikap suaminya saat ini.
Azkia menghela nafas panjang. Rasanya baru kemarin dia merasakan kebahagian babymoon dan merasa dimanja oleh suaminya, kini justru sikap acuh yang didapatkan dari suaminya itu.
Azkia mengusap perutnya yang tiba-tiba saja terasa nyeri.
" Sayang, kamu jangan sedih. Papa nggak marah sama Mama, kok. Papa hanya sedang sedih saja karena baru kehilangan Uyut. Dedek jangan rewel ya, Sayang." Azkia seolah menenangkan bayi di dalam kandungannya yang dia anggap merajuk karena merasa dijauhi dan diacuhkan oleh Papanya.
Azkia kemudian kembali ke dalam kamarnya dengan meneteskan air matanya. Dia menatap dua foto besar yang terpajang di dinding kamar milik suaminya yang mereka tempati selama berumah tangga. Foto akad nikah dan foto resepsi pernikahan mereka. Azkia menatap satu persatu foto itu.
" Ya Allah, akan seperti apa nasib pernikahanku dengan Kak Raffa jika Kak Raffa bersikap seperti ini terus?" ucap Azkia pilu.
" Aku memang tidak pernah berharap akan menikah dengan Kak Raffa, tapi sekarang aku tidak ingin jika harus berpisah dengan Kak Raffa." Azkia mengusap air matanya yang tak terasa terus berderai membasahi pipinya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️