
Sabtu jelang siang mobil yang dikendarai sendiri oleh Lusiana masuk ke pekarangan rumah Raffasya. Sebelumnya dia mampir terlebih dahulu ke baby shop untuk membelikan beberapa baju dan mainan untuk cucu pertamanya dan juga membelikan keperluan ibu menyu sui untuk Azkia.
" Assalamualaikum, Naufal ... ini Oma datang, Sayang." Suara Lusiana setengah berteriak memanggil nama cucunya saat memasuki rumah Raffasya.
" Waalaikumsalam, Bu." Uni yang kebetulan sedang melintas di ruang tamu langsung menjawab salam yang diucapkan oleh Lusiana.
" Cucu sama menantuku di mana, Uni?" tanya Lusiana mencari keberadaan Azkia dan Naufal.
" Mbak Kia ada di kamar, kalau Naufal ada diteras samping rumah, Bu." Uni menyampaikan informasi keberadaan Azkia dan bayinya.
" Uni, tolong kamu ambil barang belanjaan saya di mobil, ya!" Lusiana memberi perintah kepada Uni untuk mengambil kebutuhan Azkia dan Naufal yang tadi dia beli di baby shop.
" Baik, Bu." Uni bergegas keluar untuk mengambil barang yang dimaksud oleh Lusiana, sementara Lusiana sendiri langsung melangkah ke arah taman di samping rumah Raffasya.
" Naufal, Naufal sedang apa, Sayang? Ini Oma datang, nih!" Lusiana masih berteriak memanggil nama cucunya itu.
" Naufal ...!" Lusiana mendadak menghentikan langkahnya yang penuh semangat saat mendapati sosok pria yang sedang duduk memangku Naufal di atas kursi ayunan di teras samping rumah Raffasya yang menghadap ke arah taman.
" Mas Fariz?" Lusiana seakan terkesiap mendapati mantan suaminya itu ada di rumah Raffasya.
" Lusi?" Tak beda jauh dengan Lusiana, Fariz pun terlihat terkejut melihat kehadiran mantan istrinya di sana.
" Kok Mas Fariz ada di sini?" Sebuah pertanyaan bodoh keluar dari mulut Lusiana, tentu saja tidak ada yang salah dengan kehadiran Fariz di rumah itu. Rumah itu adalah rumah yang dibeli oleh Fariz dan pernah mereka tempati bersama saat menikah dulu. Saat mereka berpisah, dan Raffasya beranjak dewasa, Fariz merubah kepemilikan rumah itu atas nama Raffasya.
" Aku ada urusan di Jakarta, jadi aku mampir untuk menengok cucuku ini," jawab Fariz.
" Oh ... Naufal sini gendong Oma ..." Lusiana meminta Fariz menyerahkan Naufal kepadanya.
" Memangnya kamu masih ingat cara menggendong bayi, Lusi?" Sindiran Fariz membuat Lusiana mendelik ke arahnya.
" Memangnya yang duluan gendong Naufal itu siapa? Sebelum Mas Fariz datang ke sini, aku sudah sering gendong cucuku ini." Lusiana mengambil Naufal dari pangkuan Fariz.
" Aku kira kamu sudah lupa menggendong karena sudah keasyikan pegang laptop," sindir Fariz kembali dengan menyelipkan tawa kecilnya.
Lusiana memutar bola matanya menanggapi sindiran mantan suaminya itu.
" Naufal, jangan turuti sifat Opamu ya, Sayang. Opamu itu senangnya nyinyir sama orang." Lusiana balik menyindir Fariz seolah dia sedang bicara pada Naufal, dan hal itu membuat Fariz terkekeh.
" Mas Fariz kapan datang?" tanya Lusiana kemudian.
" Sejak Kamis malam aku sudah menginap di sini." Fariz menyahuti.
" Menginap di sini? Sampai kapan?" tanya Lusiana lagi.
" Minggu sore aku pulang," jawab Fariz.
Lusiana mengerutkan keningnya mendengar jawaban Fariz.
" Berarti nanti malam Mas Fariz menginap di sini juga?"
" Iya, mana mungkin aku menginap di hotel. Raffa dan Kia tidak mengijinkan aku menginap di hotel karena di sini ada kamar kosong," sahut Fariz kembali yang memang tidak mengetahui rencana Azkia yang menyuruh Lusiana pun menginap di rumah itu.
" Ini pasti rencana Kia." gumam Lusiana yang menyadari jika hal ini memang sengaja direncanakan oleh menantunya.
" Lho, Mama sudah datang, ya?" Azkia yang tiba-tiba muncul di teras samping rumah membuat kedua orang yang pernah terikat dalam hubungan suami istri itu menolehkan pandangan ke arah Azkia.
Azkia menatap bergantian ke arah Lusiana dan juga Fariz, dia pun berusaha menahan senyumnya agar tidak terus melebar supaya kedua mertuanya itu tidak menyadari rencananya.
" Hmmm, Mama sudah bertemu sama Papa, ya?" Namun Azkia tidak tahan untuk menahan senyumnya lama-lama hingga dia menyeringai seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Kia, sini Mama mau bicara!" Sementara tangan kiri Lusiana menggendong Naufal, tangan kanan Lusiana menarik tangan Azkia dan berjalan menjauh dari teras.
" Ada apa, Ma?" tanya Azkia heran.
" Kamu sengaja 'kan, menyuruh Mama menginap di sini untuk menjaga Naufal karena ada Papa mertuamu itu di sini?" Lusiana yang memang tahu keinginan Azkia yang ingin menjodohkan dirinya dengan Fariz langsung mengedus rencana menantunya itu.
" Sengaja? Nggak kok, Ma. Itu secara kebetulan saja, kok. Papa 'kan ke Jakarta beberapa hari, daripada menginap di hotel, mending di sini biar dekat dengan Naufal juga." Azkia berkelit. " Memangnya Mama keberatan Kia titipin Naufal di sini?" tanya Azkia kemudian.
" Mama nggak keberadaan dititipin Naufal, tapi ... sebaiknya Naufal dibawa ke rumah Mama saja, deh." Lusiana meminta agar diijinkan membawa Naufal ke rumahnya.
" Jangan dong, Ma. Masa harus dibawa ke sana, nanti Papa kesepian nggak ada yang menemani Papa selama kami tinggal." Azkia mencegah rencana Mama mertuanya yang ingin membawa Naufal ke rumah Oma dari anaknya itu.
" Terus kamu menyuruh Mama yang menemani Papa mertuamu itu, gitu?"
" Maksud Kia, kalau Naufal tetap di sini Papa 'kan bisa ditemani sama Naufal, Ma." Azkia kembali menyeringai. " Kalau Mama mau menemani Papa juga nggak apa-apa, kok. Nggak ada yang melarang ini." Azkia sengaja menggoda Mama mertuanya.
" Jangan macam-macam kamu, Kia! Jangan bikin malu Mama di depan Papa mertua kamu itu!" Lusiana memperingati Azkia.
" Ya ampun, Ma. Kia itu nggak berniat membuat malu Mama, Kia hanya ingin membuat Mama lebih dekat dengan Papa saja." Azkia beralasan dan menyangkal apa yang dikatakan Lusiana.
" Kia, sebaiknya kamu hentikan rencana kamu itu, Mama yakin hal itu tidak akan berhasil. Mama punya kehidupan Mama sendiri, begitu juga Papa mertua kamu itu. Kalaupun Mama nantinya memutuskan akan menikah lagi, yang pasti bukan dengan Mas Fariz, Papa mertuamu itu!" tegas Lusiana berharap Azkia tidak terus menerus menjodohkannya dengan Fariz.
" Ada apa kamu menyebut-nyebut namaku, Lusi?"
Lusiana terkesiap saat mendengar suara Fariz yang kini sudah berdiri di belakangnya. Lusiana seketika salah tingkah di hadapan mantan suaminya itu.
" Kia, Mama pulang saja deh kalau begitu." Lusiana memutuskan ingin meninggalkan rumah Raffasya saat mengetahui akal bulus Azkia yang sengaja menjebaknya dengan mantan suaminya itu.
" Lho, lho, lho, kok Mama mau pulang, sih? Lalu yang menjaga Naufal nanti siapa, dong?" Azkia yang tadinya berniat meninggalkan Lusiana dan Fariz berdua seketika mengurungkan niatnya.
" Kalau kamu mau, nanti kamu ke rumah Mama saja buat menitipkan Naufal. Mama sih, oke-oke saja dititipi. Naufal, tapi tidak di rumah ini!" tegas Lusiana yang merasa keberatan harus berada di tempat yang sama dengan mantan suaminya itu.
" Memang kenapa Naufal dititipkan, Kia?" Fariz. yang tidak tahu jika nanti malam Raffasya dan Azkia akan pergi ke acara reuni sekolah dibuat bingung.
" Ini, Pa. Nanti malam Kia dan Kak Raffa mau pergi ke acara reuni. Jadi Kia meminta Mama untuk membantu menjaga Naufal di sini dan meminta Mama menginap di sini, Pa. Tapi Mama keberatan karena ada Papa di sini." Azkia menyeringai mengadu layaknya anak kecil yang mengadu kepada orang tuanya.
" Biar Naufal nanti Papa saja yang menjaga, Naufal. Papa juga bisa kamu andalkan untuk menjaga cucu Papa ini." Fariz menawarkan diri untuk menjaga Naufal karena Lusiana keberatan menjaga Naufal di rumah itu.
" Jangan, Kia! Mama nggak setuju kalau Naufal diurus sama Papa mertua kamu ini. Apa kamu percaya dia bisa menjaga Naufal? Lebih baik dititipkan ke Mama saja." Lusiana tegas menentang tawaran Fariz.
" Walaupun Papa laki-laki tapi Papa lebih handal mengurus bayi ketimbang Mama mertuamu ini. Dulu saja Raffa jarang dipegang sama dia, pasti dia tidak bisa mengurus Naufal dengan baik. Yang ada dia asyik menatap laptopnya ketimbang memperhatikan Naufal." Fariz terus menyindir mantan istrinya.
" Mas Fariz jangan menuduh sembarangan, ya! Aku bisa mengurus Naufal, kok!" Lusiana merasa disepelekan oleh mantan suaminya itu yang dianggap tidak bisa mengurus anak. Tentu saja wanita itu tidak terima hingga dia terlihat emosi.
" Opa sama Oma jangan berantem di depan Naufal, dong. Naufal 'kan jadi sedih kalau melihat Opa sama Oma bertengkar." Azkia yang menyadari suasana mulai memanas antara kedua mertuanya sengaja menggunakan alasan Naufal agar Lusiana dan Fariz berhenti berdebat. Dan secara kebetulan Naufal pun sepertinya menyadari situasi menegangkan di antara Opa dan Oma nya hingga wajah bayi itu terlihat ingin menangis.
" Tuh, Naufalnya jadi kepingin nangis, kan?" ucap Azkia menunjukkan bayinya yang mulai merengek.
" Sayang, cucu Oma. Maafin Oma, Oma nggak marah sama Naufal, kok. Sini-sini sama Oma." Lusiana mengambil kembali cucunya itu dari tangan Azkia. " Ini gara-gara Opa yang cari-cari ribut jadi Naufal nangis, ya?" tuduhnya kemudian
" Malah aku yang disalahkan ..." Fariz menolak disalahkan oleh Lusiana.
" Memang Mas Fariz yang ngajak ribut! Kalau Mas Fariz nggak menyindir, aku juga nggak akan emosi." Lusiana masih saja menyalahkan Fariz.
" Itu artinya emosimu masih labil, makanya cepat naik darah disindir begitu." Sepertinya Fariz masih belum puas meledek wanita yang dulu pernah dicintainya itu.
" Sebaiknya Mas Fariz menginap di hotel saja, deh! Jadi aku bisa menjaga Naufal di sini." Lusiana justru menyuruh Fariz untuk pindah ke hotel jadi dia bisa menjaga Naufal di rumah Raffasya sendirian.
" Kamu mengusirku dari rumah anakku sendiri?" Sudah pasti Fariz merasa keberatan diusir seperti itu oleh Lusiana.
" Ini untuk kebaikan Naufal!" Lusiana beralasan.
" Pa, Ma, sudah jangan ribut lagi, dong! Jadi Papa Mama bisa nggak bantu Kia untuk menjaga Naufal nanti malam? Kalau Papa dan Mama nggak mau akur untuk bersama-sama menemani Naufal nanti malam, biar nanti Naufal Kia titipkan ke rumah orang tua Kia saja, deh!" Azkia memberikan ancaman agar kedua mertuanya itu saling mengerti dan mau bekerja sama dalam menjaga Naufal selama kepergiannya.
" Jangan dong, Kia! Kenapa harus dititipkan ke orang tua kamu?" Lusiana dengan cepat memprotes keputusan Azkia.
" Daripada Papa dan Mama sama-sama tidak bisa saling membantu menjaga cucu Opa dan Oma yang ganteng ini, mending Naufal dititipkan ke Papi Yoga sama Mami Tata ya, Sayang?" Azkia yakin jika Lusiana tidak akan setuju dengan rencananya yang akan membawa Naufal ke rumah orang tua Azkia.
" Ya sudah, Mama akan menjaga Naufal di sini. Tapi nanti Mama saja yang mengurusnya, nggak usah minta bantuan Papa mertua kamu itu." Lusiana kemudian berjalan meninggalkan Azkia dan Fariz menaiki anak tangga menuju kamar Raffasya dengan menggendong Naufal di tangannya
" Uni, tolong barang-barang yang saya beli dibawa ke kamar atas!" Lusiana masih sempat memberikan perintahnya sebelum meninggalkan menantu dan mantan suaminya itu.
***
" Kamu kenapa dari tadi senyum-senyum terus, May?" Raffasya sejak tadi beberapa kali menoleh ke arah istrinya yang sejak berangkat dari rumah terlihat seperti menahan tawanya
" Aku keingetan tadi Opa sama Oma nya Naufal berantem, Kak." Azkia masih membayangkan kelucuan saat kedua mertuanya itu berselisih paham.
" Papa sama Mama bertengkar? Kenapa?" tanya Raffasya.
" Mama nggak mau menginap di rumah karena ada Papa," sahut Azkia.
" Aku bilang juga apa, May!? Sebaiknya kamu lupakan rencana kamu menyatukan Papa dan Mama. Mereka itu tidak akan bisa bersama, karena mereka selalu berbeda pendapat dan selalu bertengkar." Raffasya yang memang tidak berharap banyak dengan rencana Azkia yang ingin menyatukan kedua orang tuanya kembali mengingatkan Azkia untuk menghentikan rencananya itu.
" Kak Raffa memangnya nggak lihat sekarang bagaimana? Mama tetap mau menginap di rumah, kan? Optimis dong, Kak!" Azkia mengkritik suaminya yang selalu mencoba mematahkan semangatnya.
" Terus bagaimana sampai Mama akhirnya setuju menginap?" tanya Raffasya yang masih berbagi konsentrasi dengan mengemudi.
" Aku ancam akan menitipkan Naufal ke rumah orang tuaku kalau Mama nggak mau menginap, dan ternyata berhasil." Azkia tersenyum bahagia karena berhasil menjebak Mama mertuanya dan itu membuat Raffasya hanya menggelengkan kepalanya.
" Papa sama Mama Kak Raffa kalau sedang berantem persis seperti kita lho, Kak. Apalagi Papa yang senang meledek Mama, sama persis seperti Kak Raffa kalau lagi julidin aku. Sekarang aku tahu dari mana bakat iseng Kak Raffa, ternyata dari Papa. Kalau bakat keras kepala Kak Raffa itu menurun sifat Mama." Azkia tertawa mengomentari sifat-sifat suaminya yang merupakan perpaduan dari Fariz dan Lusiana.
*
*
*
Bersambung ...
Opanya Naufal
Omanya Naufal
Happy Reading❤️