
" Masuk saja, Bi Neng!"
Raffasya langsung menoleh ke arah pintu kamarnya saat mendengar pintu kamarnya dibuka dan terdengar suara istrinya yang berbicara dengan Bi Neng. Mata Raffasya pun mengikuti gerak langkah Azkia sejak muncul di pintu sampai duduk berselonjor di tempat tidur.
" Permisi, Mas Raffa. Bi Neng diminta Mbak Kia untuk memijat." Bi Neng yang melihat Raffasya memperhatikan Azkia langsung mengatakan maksudnya masuk ke dalam kamar majikannya itu.
Raffasya yang mengetahui jika Azkia meminta Bi Neng untuk memijat kemudian bangkit mendekat ke arah istrinya.
" Kenapa?" tanya Raffasya kemudian.
Azkia melirik ke arah suaminya saat suaminya itu menanyakan alasan dia meminta Bi Neng memijatnya.
" Ini gara-gara Kak Raffa! Coba Kak Raffa kasih aku ijin pulang, nggak mungkin jadi pegal-pegal begini!" Azkia mengerucutkan bibirnya.
" Bi Neng keluar saja." Raffasya menyuruh Bi Neng keluar dari kamar Raffasya.
" Kok diusir? Aku mau minta pijat Bi Neng, Kak. Kaki aku sakit semua," protes Azkia karena Raffasya justru menyuruh Bi Neng keluar dari kamar.
" Biar nanti aku yang pijat," sahut Raffasya.
" Nggak, nggak, nggak! Aku nggak mau! Aku nggak mau dipijat Kak Raffa! Aku mau pijat sama Bi Neng saja. Pijatan Kak Raffa itu nggak enak!" Azkia menolak Raffasya yang berinisiatif ingin memijatnya.
" Nggak enak?? Bukannya kemarin-kemarin kamu sampai tertidur karena aku pijat??" sindir Raffasya, mengingat saat malam setelah akad nikah dia memijat kaki Azkia yang pegal karena kelelahan.
" Ya sudah kalau begitu Bi Neng keluar ya Mas, Mbak." Bi Neng berpamitan ingin keluar dari kamar Raffasya.
" Bi Neng jangan dengar Kak Raffa, dong!" protes Azkia kembali. Namun Bi Neng tentu saja lebih menuruti apa yang diperintahkan oleh tuannya daripada mendengarkan apa yang diminta oleh Azkia.
Sepeninggal Bi Neng, Raffasya langsung duduk di tepi tempat tidur di samping Azkia.
" Mana yang terasa pegal?" tanya Raffasya.
Azkia tidak menjawab. Dia hanya mencebikkan bibirnya dengan menatap tajam ke arah Raffasya karena keinginannya tidak dipenuhi oleh suaminya itu.
" Jadi mau dipijat atau nggak? Kalau nggak ya sudah aku mau tidur." Raffasya kembali bangkit dari tempat tidur ingin kembali ke sofa.
Melihat Raffasya bangkit, Azkia pun ikut berdiri.
" Mau ke mana?" tanya Raffasya heran kerena Azkia seperti ingin keluar dari kamarnya.
" Mau ke kamar Bi Neng, mau minta pijat di sana saja!" ketus Azkia bergegas menuju ke arah pintu kamar, namun ketika dia hendak memegang handle pintu tiba-tiba tubuhnya terangkat karena Raffasya langsung mengangkat Azkia dengan kedua lengan kokohnya dan segera merebahkan tubuh Azkia kembali di atas tempat tidur dengan tubuh Raffasya kini berada di atas tubuh Azkia.
" Aaakkhh ... Kak Raffa mau ngapain?" Azkia yang terkejut saat melihat wajah Raffasya yang kini terlihat jelas di depan wajahnya langsung ketakutan. Dia takut jika Raffasya akan melakukan aktivitas seperti di Bandung lagi, atau aktivitas kemarin saat dia keluar dari kamar mandi.
" Aku nggak mau!" Azkia langsung menutup mulutnya saat Raffasya semakin memangkas jarak wajah mereka, dengan bibir Raffasya yang semakin dekat dengan bibirnya.
Raffasya menyingkirkan tangan Azkia yang menutupi mulut istrinya itu.
" Kak Raffa mau apa??" Wajah Azkia semakin menegang.
Pertanyaan Azkia langsung dibalas ci uman oleh Raffasya hingga Azkia terbelalak.
" Kau tahu aku mau apa? Aku mau bikin mulut kamu supaya nggak selalu kasar kalau bicara sama suami." Raffasya kembali melu mat bibir kenyal milik istrinya, sementara tangannya meremas kedua aset kembar istrinya walaupun terhalang baju tidur yang dikenakan oleh Azkia.
" Aaakkhh, s hit!!" Raffasya langsung melepas pagutannya di bibir Azkia saat istrinya itu menggigit bibirnya.
Azkia yang berhasil menghentikan aktivitas suaminya yang menciumnya tertawa puas, apalagi saat melihat suaminya itu kesakitan memegangi bibirnya.
" Makanya jangan suka memaksa sama istri!" cibir Azkia seraya menjulurkan lidah seolah mengejek Raffasya.
Melihat istrinya seolah menikmati penderitaannya, Raffasya kembali memposisikan tubuhnya seperti tadi dengan mengukung tubuh Azkia tanpa menyentuh perut Azkia. Tentu saja dia tidak ingin menyakiti janin yang ada di perut istrinya itu.
Raffasya kembali menenggelamkan ci uman di bibir manis Azkia bahkan kini semakin semangat menikmati kenyalnya bibir istrinya itu. Sementara tangannya kini mulai menyibak baju tidur Azkia dan meraba paha mulus istrinya, bahkan mulai meraba area yang selalu dia sebut gersang itu. Azkia sampai menahan nafasnya saat tangan Raffasya mulai bergerilya di daerah sensitifnya.
" Siap mengulang aktivitas seperti di Bandung kemarin?" bisik Raffasya yang kini sedang menjelajah ceruk leher Azkia. Dan pertanyaan Raffasya dibalas gelengan kepala oleh Azkia.
" Kalau aku mau, kamu nggak boleh menolak keinginan suami kamu." Raffasya menggigit cuping telinga Azkia, belum lagi tangan Raffasya yang bergerak mengusap bagian bawahnya sehingga Azkia mati-matian menahan gelenyar aneh yang kembali hadir saat Raffasya menyentuhnya.
Tangan Raffasya kini beralih mengusap perlahan wajah cantik Azkia hingga turun ke leher jenjang istrinya itu, kemudian kini menanggalkan satu persatu kancing tidur Azkia. Setelah sebagian kancing baju terlepas, Raffasya langsung menyingkirkan kain yang menutupi kedua aset kembar Azkia dan mulai menguasai wilayah itu.
Azkia memejamkan mata seraya menggigit bibirnya. Dia tidak bisa menampik jika apa yang dilakukan suaminya itu menimbulkan rasa yang aneh di tubuhnya. Suatu rasa yang geli namun dia tidak menyangkal jika itu terasa nikmat dan sangat memabukkan hingga membuatnya merinding.
" Aaakkhh ..." tanpa sadar suara itu keluar dari mulutnya padahal sedari tadi bibirnya mengatup untuk menahan serbuan ga irah yang tiba-tiba saja muncul.
Raffasya melirik ke arah Azkia saat mendengar suara yang terdengar seakan menggelitik pendengarannya hingga dia semakin bersemangat menyentuh tubuh menggiurkan istrinya itu.
" Kak, aakkkhh ... sudah, aku sedang hamil ..." Azkia mencoba menahan Raffasya agar tidak melanjutkan aktivitasnya sementara wajahnya sudah memerah.
" Aku bisa melakukannya pelan-pelan," sahut Raffasya dengan tangan perlahan mulai menurunkan kain yang menutupi daerah inti Azkia.
" Kak, badan aku pegal ..." keluh Azkia yang masih berusaha menurunkan serbuan ga irah suaminya yang sepertinya sudah tidak tertahankan.
" Nanti aku pijat kalau sudah selesai." Raffasya seolah tidak ingin dihalangi.
Raffasya seketika menghentikan aktivitasnya menjelajahi tubuh Azkia saat mendengar ucapan istrinya itu. Dia lalu memusatkan pandangannya ke perut datar Azkia, lalu membenamkan kecupan di perut Azkia.
Tak lama dia membaringkan tubuhnya disamping tubuh Azkia. Dia merasakan kepalanya seketika teramat pusing, karena tidak bisa menyalurkan apa yang seharusnya dituntaskan. Raffasya memijat pelipisnya dan memejamkan matanya,
" Kok Kak Raffa malah tiduran? Cepat pijat kaki aku, Kak! Katanya mau pijat ...."
Raffasya menoleh ke arah Azkia yang berbaring disampingnya dengan wajah memberengut. Dia melihat jika istrinya itu tidak perduli dengan penderitaannya menahan ga irah yang meletup-letup. Dan tanpa pikir panjang Raffasya langsung mengurung tubuh Azkia.
" Kak Raffa! Ya ampun ...!!"
" Aku butuh pelepasan ... kita bisa melakukan cara lain tanpa harus menyakiti calon bayi kita." Raffasya kemudian melepaskan kain yang menutupi bagian bawahnya hingga memperlihatkan sesuatu yang menegang.
" Aaakkhh, Kak Raffa gi la!!" Azkia sontak menutup matanya saat melihat Raffasya memperlihatkan alat tempurnya yang pernah Azkia lihat saat dia di Bandung. Tangannya sempat memegang alat tempur itu, bahkan pernah merasakan kesaktian alat tempur suaminya hingga akhirnya membuat dirinya hamil sekarang ini.
" Kamu harus bantu aku, May ..." Raffasya mengajukan permohonan.
Azkia yang melihat kenekatan suaminya itu langsung turun dari tempat tidur dan berlari menuju arah pintu dan keluar dari kamar suaminya itu dengan berteriak.
" Neneeeekkk ...!!"
***
Azkia terbangun dari tidurnya, semalam dia tidur di kamar Nenek Mutia. Dengan jujur dia mengatakan jika Raffasya ingin mengajaknya berhubungan, namun dia takut melakukan hal itu. Tentu saja pengaduan yang Azkia lakukan membuat Nenek Mutia menggelengkan kepalanya mengetahui kelakuan cucu dan istri dari cucunya itu.
" Pagi, Nek." Raffasya menyapa dan mengecup kening Nenek Mutia dan melirik ke arah Azkia dengan sorot mata tajam karena istrinya yang semalam justru meninggalkannya.
" Pagi, Raffa." Nenek Mutia menyahuti sapaan Raffasya. " Lho, kenapa Kia nggak kamu cium juga?" tegur Nenek Mutia karena Raffasya justru langsung duduk di kursi meja makan tak mendekati istrinya.
" Nek, kalau istri itu wajib menuruti apa yang diperintahkan oleh suaminya, kan? Kalau menolak diajak berhubungan itu dosa apa nggak, Nek?" Raffasya sengaja menyindir Azkia dengan mengatakan soal kewajiban istri yang harus menuruti apa yang diinginkan oleh suami.
" Iya benar, selelah apapun seorang istri memang tidak boleh menolak ajakan suaminya ...."
" Tuh, dengar apa yang Nenekku bilang." Raffasya kembali menyindir Azkia.
" Tapi ... yang menjadi suami juga harus mengerti bagaimana kondisi dari sang istri. Seperti Kia ini 'kan sedang hamil muda, dia juga kelelahan karena kemarin kamu seharian bawa pergi keliling-keliling. Harusnya sebagai seorang suami kamu juga harus memahami, tidak boleh egois hanya mementingkan keinginan sendiri saja." Nenek Mutia melanjutkan ucapannya, membuat Azkia tersenyum bahagia.
" Tuh, dengar apa yang Nenek Kak Raffa bilang. Jangan egois, jangan mementingkan keinginan sendiri saja!" Azkia membalas sindiran Raffasya dengan menohok membuat Raffasya terdiam.
Sementara Nenek Mutia tersenyum senang melihat Raffasya dan Azkia. Walaupun mereka terlihat selalu berdebat, namun Nenek Mutia bisa menduga jika lambat laun rasa cinta itu akan tumbuh di hati Raffasya dan Azkia, terlebih apa yang menjadi perdebatan sekarang ini adalah adalah seputar persoalan memenuhi kebutuhan bio logis. Itu suatu kemajuan besar menurutnya.
***
" Kamu pasti mengadu sama Nenek soal semalam, kan?" Raffasya mengikuti langkah Azkia yang berjalan menaiki anak tangga selepas mereka menyantap sarapan pagi bersama.
" Iya, dong. Aku 'kan butuh sekutu di sini," sahut Azkia santai. " Dan buktinya Nenek membelaku, kan?" Azkia merasa senang karena di rumah Raffasya, dia bisa mengandalkan Nenek Mutia yang akan selalu membelanya.
" Awas saja kau, May!" ancam Raffasya.
Ancaman Raffasya membuat Azkia memutar tubuhnya hingga kini menghadap ke arah suaminya.
" Kak Raffa berani mengancam aku? Mau aku adukan lagi ke Nenek?" Azkia balas mengancam.
" Dasar tukang mengadu!" tuding Raffasya.
" Dasar tukang mengancam!" balas Azkia.
" Kalau aku tukang mengancam, kamu mau apa memangnya?" Raffasya berkacak pinggang.
" Kalau aku tukang mengadu, Kak Raffa mau apa memangnya?" Azkia ikut berkacak pinggang. Hingga sepasang suami istri itu kini berdiri berhadapan seperti sepasang musuh bebuyutan yang siap untuk bertarung.
Raffasya kemudian menarik pinggang Azkia hingga tubuh mereka berdua kini merapat.
" Kalau aku mau mengulang aktivitas yang di Bandung, kamu mau apa, hmmm?"
Azkia terbelalak karena suaminya itu masih saja menginginkan mereka melakukan aktivitas berpeluh yang memabukkan seperti yang mereka lakukan di Bandung.
" Nenek, Kak Raf ... humpt ...!"
Raffasya yang menyadari Azkia berteriak langsung membekap mulut Azkia dengan telapak tangannya hingga tak membiarkan istrinya itu terus mengadu kepada Neneknya.
Raffasya pun akhirnya segera membawa tubuh Azkia ke dalam kamarnya untuk menuntaskan aktivitas semalam yang sempat terpending dan memberikan menu penutup sarapan pagi mereka berdua.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️