
Raffasya terbangun sebelum Shubuh. Dia menatap Azkia yang masih terlelap, sepertinya istrinya itu masih kelelahan karena pertempuran semalam. Pria itu lalu mengusap wajah sang istri dengan lembut dan penuh kasih sayang kemudian dia mengecup kening Azkia dengan penuh perasaan.
Pandangan mata Raffasya kini beralih ke box baby di samping tempat tidurnya. Dia mendapati bayinya itu terjaga dan menggeliat. Raffasya dengan cepat turun dari tempat tidur dan mendekati tempat tidur anaknya itu.
" Naufal bangun ya, Nak? Kok nggak teriak bangunin Papa sih, Nak?" Raffasya mengambil Naufal dari box bayinya lalu menaruh anaknya itu di atas tempat tidur. Dia juga mengganti diapers Naufal yang sudah basah.
" Mama, bangun, Ma. Naufal sudah bangun nih, Ma." Raffasya bersuara seolah Naufal yang berbicara kepada Azkia sementara tangannya masih mengganti diapers kotor Naufal.
Azkia terbangun dari tidurnya dan melihat suaminya sedang memakaikan Naufal diapers yang baru.
" Jam berapa sekarang, Kak?" tanya Azkia dengan suara parau.
" Jam empat, May. Tadi aku bangun, ternyata Naufal sudah bangun lebih dulu. Tapi dia nggak merengek, lho." Raffasya menjelaskan.
" Benar begitu, Nak? Wah ... hebat anak Mama." Azkia merapat ke arah Naufal ingin menyu sui anaknya itu.
" Dicuci dulu, May. Semalam bekas mulutku, takut masih berasa sapi lada hitam di situ. " Raffasya berkelakar. Dia begitu memperdulikan kesterilan sumber ASI untuk Naufal, hingga menyuruh Azkia mencuci pa yu daranya terlebih dahulu karena semalam dia menguasai sumber ASI milik anaknya itu.
Azkia kemudian bangkit dan menuruti apa yang diperintahkan suaminya untuk membersihkan kedua assetnya terlebih dahulu sebelum menyu sui Naufal
" Kak Raffa mandi dulu sana! Katanya mau jalan-jalan ..." Azkia menyuruh Raffasya untuk mandi karena sebentar lagi memasuki waktu Shubuh.
" Kamu nggak capek habis tempur semalam, May?" Raffasya khawatir Azkia masih kelelahan akibat pergumulan semalam di antara mereka.
" Kalau aku capek, tinggal minta pijat saja sama Kak Raffa. Kan Kak Raffa yang bikin aku capek," sahut Azkia manja.
Raffasya terkekeh seraya mengacak rambut Azkia. " Kalau urusan pijat memijat sih, bereslah ... Cup ..." Sebuah kecupan mendarat di kening Azkia sebelum Raffasya berjalan ke kamar mandi.
***
Minggu pagi ini Raffasya, Azkia beserta Naufal menikmati suasana car free day di kota Jakarta. yang pagi ini cuacanya terlihat sangat cerah. Banyak warga Jakarta yang juga melakukan aktivitas kebugaran di pagi hari tanpa polusi udara, sekedar berjalan kaki, berlari atau bersedia. Dari anak kecil, remaja, orang dewasa juga paruh baya semua bercampur menikmati Hari Bebas Kendaraan Bermotor.
Raffasya yang bertugas menggendong Naufal sedangkan Azkia membawa tas perlengkapan untuk Raffasya. Mereka sengaja meninggalkan stroller di mobil dan tidak menggunakan karena Raffasya bersedia menggendong Naufal.
Sudah pasti gaya cool Raffasya yang berjalan dengan menggendong Naufal layaknya seorang ibu menggendong anaknya menyita perhatian beberapa orang yang juga menikmati jalan santai di sana. Tak sedikit ibu-ibu dan wanita muda terkagum dengan apa yang dilakukan oleh Raffasya.
" Hot Daddy banget nggak, sih?" bisik seorang wanita muda kepada temannya saat berjalan melintasi Raffasya.
" Baby nya lucu, cakep dan memggemaskan, kayak Papanya. Jadi pengen cubit Papanya, deh!"
" Gue juga maulah punya suami kayak dia, suamiable banget."
" Mbak, boleh pinjam suaminya nggak buat foto bareng?"
Entah berapa lagi ucapan-ucapan yang keluar dari para wanita-wanita yang melihat sosok Raffasya. Hal itu tentu saja membuat telinga Azkia memanas.
" Dasar cewek kegatelan! Nggak lihat apa ada istrinya di sebelah? Masih digodain juga!" gerutu Azkia menanggapi celetukan nakal beberapa wanita yang melintas di hadapannya.
" Sabar, May. Anggap saja itu ujian punya suami ganteng."
Azkia langsung mendelik mendengar celetukan Raffasya yang tertawa melihat kecemburuannya.
" Senang dikagumi banyak cewek?" sindir Azkia.
" Siapa yang nggak senang disukai banyak cewek cantik." Raffasya sengaja menggoda Azkia.
" Awas saja! Nanti kalau ada cowok ganteng godain aku, Kak Raffa jangan marah, ya!?" Azkia menantang suaminya agar tidak cemburu jika ada pria yang menggodanya.
" Hahaha, siapa yang mau godain ibu-ibu kayak kamu, May?" sindir Raffasya.
" Lihat saja nanti! Nih, pegang!" Azkia menyerahkan tas kepada Raffasya kemudian dia berjalan menjauh dari Raffasya.
" Kamu mau ke mana, May?" tanya Raffasya bingung melihat istrinya berjalan meninggalkannya.
" Nanti Kak Raffa akan tahu!" seru Azkia menjawab tanpa menolehkan wajahnya. Dia kemudian berlari kecil mendekati beberapa pria-pria muda milenial yang terlihat sedang berkumpul di tepi trotoar.
" Aakkhh ..." Azkia sengaja pura-pura terkilir saat melintasi beberapa pemuda tampan yang sedang berkumpul itu.
Sontak beberapa pria yang berkumpul itu langsung menghampiri Azkia dan menolong Azkia yang terduduk memegangi pergelangan kakinya.
" Kamu kenapa, cantik?" Salah seorang pria berwajah blasteran bahkan langsung menyentuh pergelangan kaki Azkia.
" Dibawa ke trotoar dulu, Jim! Kamu bisa berdiri? Sini gue bantu." Satu pria lainnya bahkan bersedia menyodorkan pundaknya agar Azkia bisa melingkarkan lengannya dan membantu Azkia berdiri. " Kamu sendirian saja?" tanyanya kemudian.
Sementara dari kejauhan Raffasya yang mendapati aksi Azkia yang sengaja menarik perhatian para pria-pria muda langsung bergegas mendekat.
" Maaf-maaf, dia istri saya!" Raffasya menepis tangan pria yang memegang kaki dan tangan Azkia.
Pengakuan Raffasya yang menyebut Azkia sebagai istrinya membuat para pria itu langsung menatap ke arah Raffasya.
" Bangun, May!" Raffasya mengulurkan tangannya meminta agar Azkia segera bangun dan menyudahi sandiwaranya.
" Istri lu jatuh terkilir, Bro!" ujar pria berwajah blasteran itu.
" Lu bilang bini lu, tapi lu nggak ada mesra-mesranya jadi suami. Masa bini jatuh bukannya khawatir atau diobati, ini malah disuruh bangun. Terkilir itu sakit, Bro!" komentar pria lainnya bernada mencibir.
Raffasya yang tidak ingin membongkar dan mempermalukan Azkia lalu merangkul dan mengangkat tubuh Azkia hingga berdiri.
" Terima kasih atas pertolongan kalian, permisi." Raffasya memilih meninggalkan kumpulan pria itu dan membawa Azkia pergi.
" Kamu apa-apaan sih, May? Senang ya dipegang-pegang pria lain?" Setelah menjauh dari pria-pria itu, Raffasya langsung menggerutu dengan sedikit kesal kepada Azkia.
" Nggak enak 'kan rasanya melihat aku didekati pria lain? Aku juga nggak suka Kak Raffa digodain cewek lain!" Azkia menyampaikan keluhannya yang berbau kecemburuan.
" Aku didekati wanita bukan karena kemauanku, May! Lagipula kamu nggak perlu khawatir lah, May. Aku nggak akan mempan digoda wanita manapun. Aku nggak akan mengecewakan kamu dan Naufal. Untukku kalian berdua lebih berharga dibanding jutaan wanita cantik manapun." Raffasya langsung mengecup kening Azkia mencoba meyakinkan istrinya.
" Ya ampun, so sweet banget sih, Kak." Tiba-tiba seorang wanita berteriak saat melihat Raffasya berani mengecup Azkia di depan umum.
Raffasya dan Azkia langsung tersipu malu saat aksi mereka tertangkap mata beberapa orang yang ada di sekitarnya.
" Dunia serasa milik berdua ya, Kak?" celetuk teman wanita itu.
" Bukan milik berdua tapi bertiga sama dia." Raffasya tersenyum menunjuk ke arah Naufal dalam gendongannya. " Permisi ya, adek-adek." Raffasya berpamitan kepada beberapa wanita yang berbicara dengannya tadi.
Setelah dirasa cukup berkeliling, Raffasya menyudahi jalan paginya dan mencari tempat makan untuk sarapan pagi. Azkia sebenarnya sudah mengisi perutnya terlebih dahulu sebelum berangkat, karena sebagai ibu menyu sui dia tidak boleh telat makan agar Naufal mendapatkan ASI yang selalu terjaga nutrisinya.
" Kamu mau makan lagi, May?" tanya Raffasya saat mereka sampai di mobil.
" Kak Raffa mau makan apa?" tanya Azkia.
" Apa saja deh seketemunya," sahut Raffasya.
" Kalau makan bubur aku mau, tapi kalau nasi nggak deh, Kak." Sepertinya Azkia akan merasa kekenyangan jika harus menyantap nasi kembali.
" Ya sudah, kita cari bubur saja, deh." Raffasya memulai menjalankan mobilnya sementara Azkia menyu sui Naufal yang mulai mengantuk.
" Kak Raffa nggak apa-apa makan bubur? Nanti nggak kenyang, lho."
" Lihat kamu saja aku sudah cukup kenyang, May." kelakar Raffasya terkekeh.
Sekitar lima ratus meter dari dia memarkirkan mobilnya, Raffasya akhirnya menemukan kedai penjual bubur ayam.
" Di sini mau?" tanya Raffasya.
" Ya sudah, nggak apa-apa." Azkia merapatkan kain gendongannya agar tidak terlihat jika dia sedang menyusui Naufal karena dia akan turun ke tempat makan itu.
" Kita makan di mobil saja, May." Raffasya ingin Azkia tidak perlu turun dari mobil.
" Nggak apa-apa Kak. Makan di sana saja." Azkia menolak dan memilih makan di kedai itu.
" Ya sudah, ayo ..." Raffasya keluar lebih dahulu dari mobil kemudian membukakan pintu untuk istrinya dan membantu Azkia turun dari mobil.
Saat hendak memasuki pintu kedai bubur ayam tiba-tiba seseorang orang pria mengenali Raffasya.
" Eh, lu ini ... kalau nggak salah lu orang yang waktu itu pernah tabrakan itu, kan? Yang mobilnya pernah diserempet orang dengan sengaja sampai akhirnya lu nabrak pohon." Orang yang tak lain adalah Diding mengingat Raffasya.
" Lu masih ingat gue, nggak? Gue yang bawa lu ke rumah sakit ketemu mertua lu yang dosen di sana," lanjut Diding.
" Oh, iya, iya ... Bapak yang menolong saya waktu di TKP, ya?" Setelah sadar, Raffasya sempat bertemu dengan Diding dan mengucapkan rasa terima kasihnya karena telah ditolong oleh pria itu.
" Iya, benar. Gue Diding, lu masih ingat juga, ya?" Diding berpikir mungkin Raffasya sudah lupa dengannya.
" Nggak mungkin saya lupa dengan pertolongan Bapak," sahut Raffasya.
" Ini bini lu yang melahirkan itu, ya?" tanya Diding saat melihat Azkia bergandengan tangan dengan Raffasya.
" Iya, Pak. Ini istri sama anak saya," jawab Raffasya.
" Oh ya, ngomong-ngomong orang-orang yang kemarin mencelakai lu sudah beres urusannya? Sudah masuk penjara belum? Jahat banget itu orang!" Diding teringat akan pelaku yang menabrak Raffasya.
" Hmmm, sudah sedang diproses hukum, Pak." Raffasya melirik ke arah Azkia, karena sampai saat ini istrinya itu belum mengetahui jika kecelakaan yang menimpanya dulu memang ada unsur kesengajaan.
" Syukurlah kalau begitu, lain kali lu hati-hati menghadapi orang-orang jahat seperti mereka." Diding menasehati.
Azkia mengeryitkan keningnya mendengar percakapan antara suaminya dengan pria yang menolong suaminya, saat tertimpa kecelakaan ketika dia sedang berjuang melahirkan Naufal.
" Iya, Pak. Oh ya, Bapak mau narik angkot, ya?" Raffasya sengaja mengalihkan pembicaraan agar Azkia tidak menjadi curiga. Raffasya tahu dari Abhinaya jika penolongnya itu berprofesi sebagai supir angkot.
" Iya, tapi angkot lagi sepi saja. Seputaran cuma narik dua penumpang. Ampun jaman sekarang nyari duit," keluh Diding.
" Hmmm, saya bisa minta nomer telepon Pak Diding? Siapa tahu saya ada perlu bantuan Pak Diding, jadi saya bisa kontak Bapak." Raffasya meminta nomer telepon Diding karena dia tidak sempat menyimpan nomer telepon Diding sebelumnya.
" Boleh, nomer telepon lu berapa? Nanti gue miscal nomer lu." Diding mengambil ponselnya dan siap menyimpan nomer telepon Raffasya.
" 0811 xxxx xxx ..." Raffasya menyebutkan nomer ponselnya.
" Gue miscal nomer lu sekarang," ujar Diding.
" Oke, makasih, Pa. Nanti saya save," sahut Raffasya.
" Ya sudah, kalau gitu gue duluan, ya!" Diding berpamitan dan meninggalkan kedai tersebut sementara Raffasya langsung mencari tempat duduk dan memesan makanannya.
" Kak, apa maksud dari perkataan Bapak tadi yang bilang orang yang mencelakai Kak Raffa sudah dihukum? Memang ada yang mau berbuat jahat kepada Kak Raffa? Apa kecelakaan Kak Raffa waktu aku melahirkan itu memang disengaja?" Azkia yang penasaran dan curiga langsung menghujani Raffasya dengan pertanyaan-pertanyaan.
" Sudahlah, kamu nggak usah pikirkan itu, May. Yang penting sekarang sudah aman." Raffasya tidak ingin membuat Azkia khawatir jika dia mengatakan hal yang sebenarnya.
" Kak, jujur sama aku, ada apa sebenarnya? Apa ada yang disembunyikan dari aku?" Azkia memaksa agar Raffasya terbuka dan bercerita kepadanya.
Raffasya menarik nafas dalam-dalam lalu menggenggam tangan istrinya.
" Tapi kamu harus tenang dan jangan panik kalau aku kasih tahu, ya!?"
" Ada apa, Kak?" Azkia semakin dibuat penasaran.
" Waktu aku ingin ke rumah sakit ingin mendampingi kamu melahirkan memang ada orang yang sengaja membuntutiku, sampai orang itu berhasil menghantam mobilku dan membuat mobilku oleng dan menabrak pohon dan hampir masuk ke parit" Raffasya akhirnya menceritakan hal yang sebenarnya kepada Azkia.
" Astaghfirullahal adzim ... siapa yang tega berbuat itu, Kak? Siapa yang berniat mencelakai Kak Raffa? Apa Kak Raffa punya musuh?" Azkia seketika cemas, namun tiba-tiba. matanya terbelalak saat mengingat nama yang mungkin sakit hati terhadap Raffasya. " Bukan Kak Gibran 'kan, Kak?" Entah kenapa nama Gibran terlintas dibenaknya mengingat Gibran sangat marah atas keputusannya menerima ajakan menikah dengan Raffasya.
" Kenapa kamu berpikir seperti itu, May? Gibran nggak mungkin tega mencelakai aku, kan?" Raffasya terkekeh menanggapi tuduhan Azkia.
" Lalu siapa, Kak?"
" Kekasihnya Gladys, dialah yang menyuruh orang untuk mencelakaiku."
" Om Sony?"
" Ya ampun, May. Kamu kok jadi ngaco gini pikirannya. Memangnya setelah Pak Sony tahu siapa aku, dia masih berani mencelakaiku? Cari mati itu namanya."
" Oh iya, Si Gladys punya pacar baru 'kan, ya?" Azkia pun teringat cerita Raffasya soal kekasih baru Gladys.
" Iya, sepertinya dia dendam denganku karena aku mengancam Gladys dan mendorong dia hingga terpental."
" Jadi mereka diproses hukum, Kak?"
" Tindakan mereka adalah kejahatan dan mesti ditindak hukum termasuk saat penjebakan kamu di Bandung," ujar Raffasya.
" Teman-teman wanita Gladys juga sudah. dipanggil sama pihak berwajib, mereka akan. menerima resiko dari tindakan yang sudah mereka buat terhadap kamu, May." lanjut Raffasya.
" Kak, aku nggak mau publik tahun soal apa yang kita lakukan di Bandung." Apa yang terjadi dengannya dan Raffasya adalah sebuah aib dan Azkia dia tidak ingin kejadian itu sampai terpublish.
" Kamu tenang saja, May. Papa sama Uncle kamu sudah mengatur agar berita itu tidak terendus ke publik. Lagipula itu sudah menjadi keputusan Papa untuk membawa mereka ke jalur hukum, jadi kamu harus percaya semua pasti akan baik-baik saja." Raffasya kembali mencoba meyakinkan Azkia agar tetap tenang.
" Permisi ..." pelayan kedai bubur tiba membawa dua mangkuk bubur dan kerupuk serta dua botol air mineral.
" Makasih, Mbak." sahut Raffasya. " Ya sudah kita makan dulu. Kamu susah nggak makannya? Mau aku suapi?" Karena Azkia masih menggendong Naufal, Raffasya khawatir gerak Azkia kesulitan untuk makan.
" Nggak usah, Kak. Aku bisa sendiri, kok." Azkia menolak disuapi oleh suaminya.
" Ya sudah buruan dimakan! Jangan pakai sambal dulu, jangan makan pedas kasihan Naufal." Raffasya melarang Azkia mengambil sambal.
" Sedikit saja, Kak. Makan bubur nggak pedas itu nggak enak." protes Azkia.
" Mau melawan suami? Lebih penting lidah kamu sendiri daripada Naufal?" Raffasya sudah melotot mengancam.
" Iya deh, iyaaa ..." Azkia mencebik dan akhirnya menyantap bubur yang tak pedas dengan sangat terpaksa setelah membaca doa terlebih dahulu.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️