
Sony sedang memimpin rapat di perusahaannya bersama anak buahnya dari beberapa divisi membahas soal penurunan omzet yang terjadi di Megantara Poetra beberapa bulan terakhir, saat tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Sony sempat melirik layar ponselnya dan ternyata Gladys lah yang menghubunginya saat ini. Dia segera menyalakan mode pesawat di ponselnya tersebut dan memilih fokus dengan rapat yang dipimpinnya karena tentu saja masalah yang menimpa perusahaan milik Dirga yang dia kelola lebih penting daripada meladeni wanita simpanannya itu.
Beberapa saat setelah mengakhiri rapatnya, Sony kembali mengaktifkan kembali ponselnya dan segera menghubungi Gladys.
" Halo, Sayang. Maaf Papih tadi sedang rapat jadi nggak bisa mengangkat telepon dari kamu."
" Berarti Papih nggak datang kemari siang ini?" tanya Gladys yang menjawab panggilan telepon Sony.
" Nggak, Sayang. Mungkin nanti sepulang dari kantor Papih akan menemui kamu," sahut Sony.
" Tapi aku mau shopping, Pih. Sekalian mau ke salon juga, mau treatment biar segar kalau melayani Papih di atas ranjang," ujar Gladys dengan suara manja.
" Ya sudah, nanti Papih M-banking ke rekening kamu untuk shopping dan ke salon, ya?"
" Oke, Pih. Makasih ya, mmmuuuaaaaccchhh ... daagghh Papih ..." Gladys segera mematikan ponselnya setelah mendapatkan kepastian dari Sony jika sugar daddy nya itu akan mentransfer uang untuknya.
Lewat jam enam petang Sony menemui Gladys di apartemen wanita itu. Gladys menyambut Sony hanya dengan mengenakan lingerie transparan warna nude setengah paha sehingga memperlihatkan tubuh indah miliknya.
" Papih pasti lelah, ya?"Gladys merangkulkan tangannya di lengan Sony kemudian membawa pria itu duduk di sofa.
" Iya, ada masalah dengan perusahaan, Sayang. Perusahaan mengalami penurunan omzet dalam beberapa bulan terakhir, dan itu memengaruhi karir Papih di perusahaan itu. Jadi tadi siang itu Papih benar-benar harus fokus dengan pekerjaan." Sony menjelaskan.
" Oh ya, Papih sudah menyusun rencana untuk mengambil cafe itu?" tanya Gladys.
Sony menolehkan wajahnya ke arah Gladys.
" Sayang, sebaiknya kamu lupakan saja tentang hal itu. Kalau kamu ingin mempunyai cafe sendiri nanti Papih akan buatkan untukmu." Sudah pasti Sony memikirkan faktor Yoga sebagai temannya dan Dirga sebagai atasannya jika dia tetap menjalankan rencana Gladys.
" Lho, memang kenapa, Pih? Aku itu nggak mau punya cafe sendiri. Tujuan aku itu ingin menghancurkan Raffa." Sebenarnya tujuan utama Gladys dengan mengambil alih La Grande, tentu saja karena dia ingin mendekati kembali pria yang dia sukai itu dan membuat Raffasya jatuh bertekuk lutut kepadanya, karena dia tahu La Grande sangat berarti untuk Raffasya.
" Maaf, Papih nggak bisa bantu untuk itu, Sayang." sesal Sony.
" Kok gitu, Pih? Kenapa nggak bisa? Papih janji mau bantu aku." Gladys merajuk dengan memberengutkan wajahnya.
" Pria itu ... pemilik cafe itu ternyata menantu teman kuliah Papih dulu, Sayang. Mana mungkin Papih menghianati pertemanan Papih dengan teman Papih dengan menghancurkan menantunya." Sony menjelaskan alasan tidak bisa membantu Gladys.
" Jadi Papih lebih memilih teman Papih daripada aku, gitu?" Gladys melipat tangan di depan dadanya masih dengan mode merajuk.
" Bukan hanya itu saja, Sayang. Teman Papih itu ternyata calon besan bos besar Papih. T'idak mungkin Papih mempertaruhkan pekerjaan Papih hanya untuk memenuhi keinginan kamu mengbil alih cafe itu. Yang ada jabatan Papih yang diambil dan Papih dipecat dari perusahaan yang Papih kelola sekarang ini. Kalau Papih kena pecat, bagaimana Papih bisa kasih uang ke kamu, Sayang?" Sony terus mencoba memberi penjelasan kepada Gladys agar Gladys mengerti.
" Kalau Papih nggak bisa bantu Gladys, sebaiknya mulai sekarang Papih nggak usah temui Gladys lagi!" tegas Gladys yang merasa kecewa karena Sony tidak bisa membantunya.
" Sayang kenapa begitu? Papih 'kan sudah jelaskan alasan Papih tidak bisa membantumu. Itu terlalu beresiko pada karir Papih, Sayang." Sony membelai kepala Gladys, berusaha menenangkan kemarahan wanita selingkuhannya itu.
" Papih 'kan bisa menyuruh orang, tidak harus Papih sendiri yang bertindak!"
" Tidak sesederhana itu, Sayang. Kau tidak tahu bagaimana pengaruh dari seorang Dirgantara Poetra Laksmana. Dia bisa menyewa beberapa orang suruhannya untuk menyelediki kasus-kasus pelik." Sony sendiri merasa ngeri jika harus melawan bosnya itu. " Saat ini Papih butuh memperbaiki nama baik Papih karena masalah perusahaan, bukan malah menghancurkan nama baik Papih dengan membantu kamu, Sayang." Sony memang harus berpikir berkali-kali lipat jika harus menentang arus.
" Sebaiknya Papih pulang saja, deh! Percuma kalau Papih nggak bisa membantu aku!" Galdys langsung bangkit dari tempat duduk dan mengusir Sony dari apartemennya.
" Lho, kamu kok usir Papih?" Sony mengerutkan keningnya karena Gladys mengusirnya padahal dia telah memberikan penjelasan yang sangat masuk akal.
" Mulai sekarang hubungan kita putus! Papih nggak usah datang lagi kemari dan nggak usah hubungi aku lagi!" Gladys menarik lengan Sony secara paksa hingga sampai dekat pintu.
" Iya!"
" Sayang, sebaiknya kamu tenang ... jangan emosi." Sony ingin mengusap lengan Gladys namun Gladys menepisnya.
" Nggak usah sentuh-sentuh!"
" Ya sudah, Papih pulang dulu. Papih juga lelah sekali hari ini." Sony pun memilih keluar dari apartemen Gladys.
Setelah Sony keluar dari apartemennya, Gladys langsung menutup pintu dengan kencang.
" Dasar tua bangka nggak ada gunanya!" umpatnya dengan nada kesal.
***
Azkia memperhatikan tubuh bagian perutnya yang sudah semakin membuncit saat dia berdiri di depan cermin.
" Ya Allah, aku nggak sangka di usia aku yang baru dua puluh dua tahun ini sudah mau jadi seorang Mama." Azkia mengusap perutnya.
" Tapi aku masih cantik 'kan biar perut buncit begini? Masih sek si juga, kok." Azkia mengomentari penampilannya sendiri yang menggunakan night gown warna maroon.
" Mama sudah nggak sabar deh, ingin cepat-cepat melihat kamu lahir." Azkia memang sangat menunggu kelahiran bayinya itu. " Pasti kamu akan setampan Papa." Azkia tersenyum membayangkan akan seperti apa wajah anaknya nanti. " Nggak apa-apa setampan Papa, sebaik Papa, perhatian seperti Papa. Asal jangan jutek saja sama cewek, kayak Papa dulu ke Mama." Azkia seolah menasehati calon anaknya itu.
" Jadi kamu lebih suka kalau aku ramah, murah senyum sampai bikin semua cewek jadi baper gitu?" Suara Raffasya yang muncul dari arah pintu membuat Azkia terkesiap.
" Ya ampun, Kak Raffa bikin aku kaget saja, deh." Azkia memegangi dadanya karena degup jantungnya terasa lebih kencang karena terkejut dengan kedatangan Raffasya.
" Kaget karena ketahuan sedang menggosipkan aku dengan dedek bayi, ya?" Raffasya berjalan mendekat ke arah Azkia lalu terduduk berlutut di depan perut Azkia.
" Papa nggak sabar ingin melihat kamu." Raffasya menciumi perut Azkia.
" Baru juga sampai rumah sudah ribut mau lihat dedek bayi. Pikirannya jangan me sum terus dong, Kak!" celetuk Azkia langsung menimpali ucapan suaminya.
Raffasya yang mendengar ucapan Azkia langsung melirik hingga membuat dia menaikkan kembali tubuhnya. Bahkan kini satu sudut bibirnya tertarik ke atas penuh arti.
" Yang me sum itu sebenarnya aku atau kamu, May?" Raffasya lalu memperhatikan penampilan Azkia yang terlihat menggoda malam itu.
" Maksud aku nggak sabar ingin melihat itu, aku ingin cepat-cepat melihat anak kita ini lahir, bukan melihat karena ingin berhubungan in tim seperti yang ada di otak kamu ini." Raffasya menarik gemas hidung Azkia.
" Aawww ..." Azkia mengusap hidungnya.
" Aku itu jadi curiga, jangan-jangan otak kamu ini sedang memikirkan hal-hal me sum, ya? Sampai memakai baju begini?" Raffasya menyeringai melihat Azkia yang seketika salah tingkah karena salah menafsirkan maksud perkataannya tadi.
*
*
*
Bersambung ....
Happy Reading ❤️