MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Gue Habis Bertobat



Tangan Raffasya terus menggera yangi tubuh Azkia hingga wanita itu harus terus-terusan menahan gelenyar aneh di tubuhnya saat itu, dengan detak jantung yang lebih kencang dari biasanya.


" Siap mengulang yang kemarin di Bandung? Gue kepingin lihat seagresif apa jika lu dalam keadaan sadar." Bibir Raffasya mendekat di telinga Azkia.


Azkia terbelalak mendengar apa yang diucapkan Raffasya tadi. Namun dia tidak kehilangan akal, saat Raffasya terus asyik menggodanya, Azkia menghantamkan kepalanya ke wajah Raffasya.


" Aaaakkkhh, sh_it!!" Raffasya langsung melepas Azkia dan memegangi tulang hidungnya yang terasa ngilu karena terkena hantaman kepala Azkia.


Azkia yang terlepas dari Raffasya langsung bergegas keluar dari kamar mandi dan berlari ke luar kamarnya.


" Makanya jangan berani macam-macam!" Azkia merasa senang karena berhasil mengalahkan Raffasya.


" Kan kita nggak tahu, Yank. Apalagi saat mereka berduaan di dalam kamar. Apapun bisa terjadi jika mereka selalu bersama."


Suara Yoga terdengar dari arah ruangan sholat di lantai bawah.


Beberapa saat sebelumnya, setelah menjalankan sholat Shubuh berjamaah antara Yoga, Natasha dan Papih Prasetya terlibat perbincangan serius.


" Pih, menurut Papih, apa Kia dan Raffa harus menikah kembali saat Kia sudah melahirkan nanti?" tanya Yoga setelah melakukan dzikir setelah selesai melaksanakan sholat Shubuh berjamaah.


" Iya memang banyak silang pendapat tentang perlu atau tidaknya menikah ulang bagi pernikahan dalam keadaan hamil setelah melahirkan. Papih juga sudah tanyakan kepada beberapa kyai dan juga sudah tanya pada orang yang bekerja di kantor KUA tentang masalah ini. Ada yang mengatakan pernikahan hamil di luar nikah itu sah ada juga yang mengatakan tidak sah dan harus diulang." Papih Parasetya menjelaskan tentang hukum pernikahan yang dilakukan oleh Azkia dan Raffasya. **


" Kalau berdasarkan mazhab Imam Syafi'i dan Imam Hanafi, pernikahan wanita yang hamil asalkan bukan dari pernikahan yang sah atau bayi itu tidak punya nasab pada ayahnya maka pernikahannya itu sah dan tidak perlu diadakan pernikahan ulang setelah si bayi ini lahir. Sementara pendapat berbeda dari mazhab Imam Hambali dan Imam Maliki, yang berpendapat pernikahan hamil di luar nikah itu tidak sah oleh si pelaku pria yang menghamili atau bukan pria yang menghamili," lanjut Papih Prasetya. **


" Maksudnya hamil bukan dari pernikahan yang sah boleh dinikahi itu maksudnya gimana, Pih?" tanya Natasha bingung.


" Yang dimaksud wanita hamil di sini bukanlah istri orang, misalnya seorang istri yang suaminya meninggal saat sedang hamil, itu tidak boleh dinikahi oleh pria lain sebelum masa Iddah nya itu selesai, karena apa? Karena si bayi itu mempunyai nasab pada ayah kandungnya yaitu suami sah si wanita itu. Sementara wanita di luar nikah itu tidak memiliki masa iddah. Dan ketetapan yang berlaku di negara kita memakai mazhab dari Imam Syafi'i sehingga memutuskan jika pernikahan wanita hamil di luar nikah hukumnya sah, asalkan mereka berdua bertobat dan syarat serta rukunnya terpenuhi, adanya mempelai pria dan wanita, wali nikahnya ada, ada dua orang saksi laki-laki dan ada ijab qobul." Papih Prasetya terus menerangkan. **


" Berdasarkan hukum Islam yang ditetapkan oleh negara juga menyebutkan tiga perkara,. Pertama , seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikawinkan dengan laki-laki yang menghamilinya.. Kedua, perkawinan dengan wanita hamil yang disebut tadi dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih duhulu kelahiran anaknya. Ketiga, dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir." **


" Jadi nggak perlu dilaksanakan nikah ulang, Pih?" tanya Yoga lagi.


" Seperti yang Papih terangkan tadi ada perbedaan pendapat yang menyatakan halal dan ada yang mengharamkan, tinggal bagaimana kamu meyakininya. Kalau kamu merasa kurang afdol dan merasa akan lebih tenang jika pernikahan mereka diulang, kamu bisa melakukan nikah ulang terhadap Kia dan Raffa setelah anak mereka lahir." Papih Prasetrya menjelaskan dengan bahasa yang sangat santun walaupun yang mendengarkannya adalah anak dan menantunya yang sudah pasti berusia jauh di bawahnya. **


" Berarti mereka boleh melakukan hubungan suami istri atau tidak, Pih?"


Natasha langsung menoleh Yoga saat suaminya itu menayakan soal hubungan suami istri.


" Hal itu tergantung bagaimana kamu meyakininya. Jika kamu meyakini mahzab dari Imam Syafi'i dan Hanafi, karena Raffa adalah pria yang menghamili Kia, maka hubungan itu diperbolehkan. Tapi kalau mengikuti mazhab Imam Hambali dan Maliki tentu saja tidak boleh karena pernikahan yang sah menurut beliau berdua itu setelah bayi itu lahir." Papih Prasetya tersenyum saat menjelaskan soal hal itu **


" Lagipula nggak mungkin Kia sama Raffa akan melakukan hubungan itu lagi, Mas. Mas Yoga tahu sendiri bagaimana mereka berdua itu nggak pernah akur," celetuk Natasha menganggap tidak mungkin Azkia dan Raffasya mengulang aktivitas itu mengingat bagaimana permusuhan dan sikap keras kepala putri dan menantunya itu.


" Kan kita nggak tahu, Yank. Apalagi saat mereka berduaan di dalam kamar. Apapun bisa terjadi jika mereka selalu bersama." Yoga terkekeh menyahuti ucapan istrinya.


" Lantas bagaimana nasib anak yang dikandung Kia, Pih? Hubungannya dengan Raffa bagaimana, Pih?" tanya Natasha.


Papih Prasetya menghela nafas panjang beberapa saat.


" Anak yang lahir di luar nikah itu terputus nasabnya dengan sang ayah biologis. Dia tidak bisa memakai bin atau binti sang ayah. Jika anak itu laki-laki dan nanti mempunyai adik perempuan, maka dia tidak bisa menjadi wali nikah adik perempuannya. Dan jika anak itu perempuan, maka saat menikah tidak bisa diwalikan oleh Raffa. Dan anak itu tidak akan mendapatkan hak waris dari Raffa." Papih Prasetya kembali.


" Kasihan dong anak itu, Pih. Apalagi jika menikah nanti, pasti akan menjadi pergunjingan jika nama ayahnya tidak disebut." sahut Natasha sedih.


" Itulah makanya kita harus menjauhkan anak-anak dari perbuatan zinah. kasihan kepada anak yang tidak berdosa itu harus menanggung atas perbuatan ayah dan ibunya," ujar Papih Prasetya.


" Papih pernah mendengar ada ulama yang mengatakan alasan mengapa pernikahan itu dianggap sah dan boleh dilaksanakan karena untuk menyelamatkan mereka agar tidak melakukan dosa besar itu kembali dengan pernikahan, dan juga sebaik-baiknya umat muslim adalah menutupi aib saudaranya sendiri, karena mengumbar aib seseorang itu tidak baik," lanjut Papih Prasetya.


Sementara Azkia yang ikut mencuri dengar percakapan antara Eyang dan kedua orang tuanya kini terduduk di anak tangga.


" Ya Allah, kasihan sekali kamu, Nak." ucap Azkia sendu lalu mengusap perutnya yang masih rata seraya menghempas nafas panjang lalu bangkit dan kembali masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam kamarnya Azkia mendapati Raffa yang sudah menyelesaikan mandinya.


" Dasar cewek bar-bar!!" umpat Raffasya melihat kehadiran Azkia.


Azkia tidak memperdulikan Raffasya akan membalas dendam atas apa yang dilakukannya tadi kepada pria itu. Dia justru merebahkan tubuhnya kembali ke atas tempat tidur dengan posisi miring.


Raffasya yang melihat Azkia tidak merespon umpatannya justru terheran karena tidak biasanya Azkia tidak merespon ejekannya.


" Lu kenapa, May?" Raffasya lalu duduk di tepi tempat tidur.


Azkia tetap diam tak menjawab pertanyaan Raffasya.


" May, lu kesambet, ya?" tanya Raffasya sambil memegangi lengan Azkia, apalagi saat Azkia tiba-tiba menangis membuatnya semakin kebingungan.


" May, lu kenapa nangis? Lu tenang saja, gue nggak akan balas perbuatan lu tadi karena lu sedang hamil anak gue." Raffasya menduga jika Azkia takut dia akan membalasnya. Namun perkataan Raffasya membuat Azkia semakin terisak.


" Kenapa nangisnya tambah kencang? May, lu jangan buat gue bingung, dong! Sebenarnya kenapa lu nangis?" Raffasya semakin penasaran.


Azkia kemudian bangkit dan terduduk di atas tempat tidur seraya menatap Raffasya.


" Kak Raffa kenapa sih waktu itu nggak ninggalin aku sendirian saja?? Kenapa Kak Raffa malah meladeni aku? Kalau Kak Raffa membiarkan aku sendirian saat itu, aku pasti nggak akan hamil dan akan jadi seperti ini!" Azkia terisak dengan kedua tangan menutup wajahnya.


" Gue nggak tega ninggalin lu tersiksa seperti itu, May." jawab Raffasya.


" Tapi jadinya 'kan aku hamil, anak ini nantinya akan menanggung malu atas perbuatan kita dulu." Azkia masih belum bisa menerima nasibnya saat ini.


" Tadi Eyang Papih bilang, kalau anak ini seperti anak yang tidak punya ayah. Dia yang akan menanggung malu atas perbuatan kita dulu."


" Maksud lu gimana, May? Gue Papanya, gue yang menghamili lu, anak itu punya Papa." Raffasya yang tidak paham langsung mengatakan apa yang ada dipikirannya.


***


Setelah semua keluarga menyantap sarapan pagi, Raffasya mencoba mencari jawaban atas apa yang dikatakan oleh Azkia tadi. Tentu saja apa yang dikatakan oleh Azkia itu sangat mengganggu pikirannya. Dia pun lalu bertanya kepada Papih Prasetya. Dari kakek mertuanya itu Raffasya mendapatkan pengetahuan tentang nasib dari anaknya itu. Dia sungguh merasa menyesal atas apa yang dia perbuat kepada Azkia. Dia berpikir dengan bertanggung jawab atas perbuatannya dan menikahi Azkia, masalahnya akan kelar sampai di situ. Namun masalahnya tidak sesimple yang dia bayangkan. Akan ada hukum yang berlaku dengan anak yang terlahir karena perbuatannya dengan Azkia sebelum mereka menikah.


" Apa Raffa tidak berhak menafkahi anak itu, Eyang?" tanya Raffasya penuh kekecewaan.


" Anak itu juga punya hak mendapatkan nafkah darimu. Kamu bisa memberikan biaya untuk kehidupannya untuk biaya sekolahnya. Namun dia tidak memiliki hak waris atas kamu. Tapi dia memiliki hak waris dari Kia." Papih Prasetya menjelaskan.


Raffasya kembali terdiam, dia benar-benar merasa kecewa mengetahui status darah dagingnya tersebut. Seketika dia benar-benar menyesal dengan perbuatannya itu.


***


Azkia membulatkan matanya saat dia mendapati Raffasya yang sedang bersujud di atas sajadah. Dia sampai mengerjapkan matanya, karena dia tidak pernah melihat pria itu menjalankan ibadah, bahkan mengucapkan salam Assalamualaikum saja sulit sekali diucapkan oleh pria itu.


Azkia cukup lama memperhatikan Raffasya karena setelah selesai melaksanakan sholat, Raffasya nampak tertunduk, yang dia duga jika Raffasya sedang berdzikir dan berdoa.


" Tumben Kak Raffa sholat," celetuk Azkia saat melihat Raffasya menyudahi doanya. Dia pun nampak terkesiap melihat mata Raffasya yang memerah menandakan jika pria itu habis menangis.


" Gue habis bertobat," sahut Raffasya melipat sajadahnya.


" Alhamdulillah, kalau sudah tobat berarti nggak akan bikin kesal aku lagi," celetuk Azkia.


Raffasya tidak ingin meladeni sindiran istri. Dia lalu menurunkan tas koper Azkia dari atas lemari.


" Kenapa koper aku diturunkan?" Azkia terlihat kaget saat Raffasya tiba-tiba mengambil kopernya.


" Lu cepat kemasi pakaian lu, karena besok kita akan pindah ke rumah gue. Gue sudah dapat ijin dari Papa lu."


" Apa??" Azkia nampak terkejut mendengar ucapan Raffasya.


" Gue akan bawa lu pindah ke rumah gue, kita akan tinggal di sana," ujar Raffasya.


" Aku nggak mau! Aku nggak mau pindah ke rumah Kak Raffa!!" tolak Azkia.


" Lu harus mau! Karena gue adalah suami lu dan lu sebagai istri wajib ikut gue!" tegas Raffasya kemudian membuka pintu lemari Azkia.


" Mana saja yang mau dibawa?" tanya Raffasya kembali.


* Kak Raffa jangan paksa aku, dong! Kalau aku nggak mau, artinya aku nggak akan ikut Kak Raffa!"


Raffasya tidak mendengarkan Azkia, dia malah memilih baju Azkia yang akan dibawa ke rumahnya.


" Kak Raffa apa-apaan, sih?!" Azkia langsung menghalangi Raffasya dengan menarik lengan Raffasya.


Namun apa yang dilakukan Azkia tak mampu menghentikan Raffasya yang mengambil pakaian Azkia dari dalam lemari.


" Kak Raffa!!" bentak Azkia yang merasa kesal.


" Lu bisa diam, nggak? Apa lu mau gue packing juga ke koper?" Raffasya yang mendengar Azkia sejak tadi berteriak langsung memberi ancaman.


Diancam oleh Raffasya bukannya membuat Azkia menurut justru membuat Azkia nampak semakin emosi hingga dia menggigit lengan Raffasya.


" Aaaakkhh!!" pekik Raffasya.


Saat Raffasya meringis kesakitan, Azkia lalu menjauh dari Raffasya. Melihat Azkia yang menghindarinya, Raffasya mendekati istrinya itu membuat Azkia berlari ke luar kamarnya seraya berteriak.


" Mama ...!!!"


*


*


*


Bersambung ...


** Ada perbedaan pendapat soal hukum nikah saat hamil di luar nikah. Ada yang mengatakan sah ada yang mengatakan tidak sah. Dan sudah pasti akan menjadi perdebatan yang sangat panjang. Kembali kepada keyakinan yang lebih cocok di hati kita. Seperti yang dikatakan oleh Papih Pras jika kita nggak yakin sebaiknya lakukan nikah ulang setelah bayi itu lahir. Mohon maaf jika ada salah mohon dikoreksi soal hukum nikah untuk hamil di luar nikah ini 🙏 Dan semoga kita dan keturunan kita terhindar dari musibah seperti itu, Aamiin🤲


Happy Reading❤️