MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Penghuni Baru



Raffasya kembali keluar dari kamarnya saat dia tak mendapati Azkia dan Naufal di dalam kamar sepulangnya dari cafe. Dia memang pulang lebih cepat karena terlalu rindu pada anak dan istrinya, dua orang yang merupakan keajaiban yang dia dapatkan dalam hidupnya itu.


" Uni, Almayra sama Naufal mana?" tanya Raffasya berjalan menuruni anak tangga. Dia melihat Uni sedang menyapu lantai di ruang tamu


" Mbak Kia sama Naufal sedang lihat ikan di pekarangan samping, Mas Raffa." Uni dengan cepat menjawab pertanyaan majikannya itu.


" Oh, oke ..." Raffasya segera berjalan menuju samping rumahnya. Dia melihat Naufal sedang didudukan di baby chair dan Azkia yang sedang menyuapkan makanan ke mulut anaknya itu.


" Assalamualaikum, Naufal sedang dikasih apa, Ma?" tanya Raffasya, karena ini pertama kalinya dia melihat Naufal diberi makan oleh istrinya.


" Waalaikumsalam, wah ... Papa sudah pulang tuh, Nak." Azkia kemudian herdiri menyalami tangan Raffasya. " Naufal lagi mamam, Pa." Setelah menyalami tangan suaminya, Azkia kembali duduk di lantai dan menyuapkan lagi MPASI untuk Naufal yang kini sudah genap berusia enam bulan.


" Oh iya, Naufal sudah enam bulan, ya? Nggak kerasa kamu sudah cepat besar ya, Nak? Perasaan baru kemarin kamu lahir, Nak." Raffasya membelai kepala anaknya lalu mengecup pucuk kepala putranya itu.


Naufal yang sepertinya merasakan kasih sayang yang diberikan oleh sang Papa spontan melengkungkan senyuman di bibirnya yang belepotan dengan makanannya.


" Naufal pintar, ya? Dicium Papanya langsung senyum." Azkia langsung mengomentari sikap anaknya itu.


" Iya dong, Ma. Pasti Naufal pintar, anaknya siapa dulu? Anaknya Papa sama Mama ..." sahut Raffasya bangga.


" Naufal dikasih makan apa, Ma?" tanya Raffasya melihat mangkuk makanan Naufal.


" Aku kasih biskuit bayi, Pa." Azkia menjelaskan.


" Naufal suka sama makanannya ya, Nak?" Raffasya duduk berjongkok karena dia melihat Naufal sangat lahap menyantap makanan yang diberikan oleh Azkia.


" Suka dong, Pa. Nanti Papa belikan makanan cemilan buat Naufal ya, Pa." ujar Azkia meniru suara anak kecil.


" Memang cemilannya apa saja, Ma?" tanya Raffasya.


" Biskuit bayi atau sereal. Buah-buahan juga boleh, Pa. Pisang, pepaya, buah naga, asal jangan buah durian saja. Nanti bikin Mamanya Naufal mabok, deh!" Azkia terkekeh.


Raffasya ikut tertawa menanggapi ucapan istrinya.


" Ya sudah, nanti Papa belikan di mini market buat anak Papa ini. Sekarang Naufal habiskan dulu makannya, ya!?"


" Iya, Papa ..." sahut Azkia. " Oh ya, Papa kok sudah pulang jam segini?" tanyanya kemudian karena saat ini baru jam empat sore.


" Papa sudah kangen sama Naufal."


" Cuma sama Naufal saja kangennya? Sama Mamanya Naufal, nggak?" Azkia mencebik.


" Sama Mamanya Naufal sudah pasti kangen juga, dong! Naufal sama Mamanya 'kan sudah satu paket." Raffasya merangkul Azkia lalu mengecup kening sang istri.


Secara kebetulan Naufal tertawa saat melihat Raffasya mencium Azkia.


" Idih, Naufal ketawa lihat Papa cium Mama. Naufal suka ya, lihat Papa mesra-mesraan sama Mama?" Azkia gemas melihat anaknya itu tertawa.


" Jangan-jangan dia sering mengintip kita kalau sedang tempur di ranjang, Ma." kelakar Raffasya. " Aaawww ..." Raffasya kemudian tertawa saat Azkia menyikut pinggangnya.


" Jangan ngaco deh, Pa!" protes Azkia menanggapi kelakar suaminya tadi.


" Oh ya, Papa mau mandi? Aku siapkan dulu pakaiannya, ya! Bi Neng, tolong gantikan Kia suapin Naufal, dong! Kia mau siapkan pakaian untuk Papanya Naufal." Azkia meminta Bi Neng menggantikannya karena dia ingin melayani suaminya dulu.


" Nggak usah, Ma. Aku mandinya nanti saja setelah Naufal selesai makan." Raffasya menolak, karena dia juga ingin menemani anaknya makan. " Sini, Papa juga mau suapin Naufal." Raffasya berminat belajar menyuapi Naufal.


" Papa mau suapin Naufal?"


" Iya, dong! Papa 'kan jago suapin Mamanya Naufal, masa suapin Naufal saja nggak bisa?" Raffasya terkekeh lalu mengambil mangkuk makanan Naufal.


" Aaa, Sayang!" Raffasya meminta Naufal membuka mulutnya.


" Dorong pakai air, Pa." Azkia menunjuk air di mug. " Pakai sendok saja nggak apa-apa biar makanannya tertelan." Azkia menjelaskan.


Raffasya mengikuti petunjuk yang disarankan oleh istrinya hingga anaknya itu sudah menghabiskan makanannya.


***


" Nanti aku tanyakan dulu ya, Rat. Aku nggak tahu masih butuh pekerja atau nggak? Memang manjikanku punya anak balita, tapi kayaknya nggak kepingin pakai baby sitters deh, Rat."


" Ya sudah, nanti aku tanyakan lagi, kalau memang butuh, aku hubungi lagi ke nomer kamu ini."


Raffasya memperhatikan Uni yang terlihat sedang berbincang di teleponnya saat Raffasya ingin mengambil sesuatu yang dimint Azkia di dapur. Dia sendiri tidak tahu ART nya itu sedang berbincang dengan siapa? Namun dia mendengar jika Uni menyinggung soal dirinya.


" Kamu bicara dengan siapa, Uni?" tanya Raffasya kemudian.


" Eh, Mas Raffa ..." Uni tersentak kaget, karena tidak menyadari kehadiran Raffsya di dapur.


" Siapa yang telepon tadi? Aku dengar kamu bawa-bawa soal keluarga di sini," selidik Raffasya.


" Hmmm, itu, Mas. Anu ... tadi itu teman saya dari kampung. Dia sedang cari pekerjaan, dia tanya apa di sini masih membutuhkan pegawai lagi atau nggak?"


" Teman kamu perempuan atau laki-laki memangnya?" tanya Raffasya merespon.


" Perempuan, Mas Raffa. Seumuran saya."


" Sudah pernah bekerja sebelumnya?"


" Dulu di kampung pernah kerja di toko kelontong. Tapi di Jakarta ini katanya pernah jadi Baby sitters, cuma majikannya itu pindah ke luar pulau jadi dia nggak bisa ikut majikannya itu." Uni menjelaskan soal temannya.


" Hmmm, ya sudah, kamu coba suruh ke sini saja, nanti saya lihat dia bisa nggak berkerja di rumah ini." Raffasya menyuruh Uni membawa temannya itu karena sejak Azkia melahirkan, sebenarnya dia berminat menambah ART nya, untuk menghandle pekerjaan Bi Neng. Wanita paruh baya yang sudah lama mengabdi bekerja di rumahnya sejak dia kecil, sekarang ini banyak membantu Azkia dalam mengurus Naufal. Karena Raffasya ingin orang yang mengurus anaknya adalah orang yang berpengalaman dalam mengurus anak.


" Baik, Mas Raffa. Terima kasih ya, Mas." ucap Uni.


Setelah mengambil keperluan yang diminta Azkia, Raffasya kembali ke kamarnya.


" Kok lama sekali ambilnya, Pa?" tanya Azkia saat Raffasya agak lama kembali ke kamarnya.


" Tadi aku bicara sama Uni, Ma. Katanya ada temannya yang sedang cari pekerjaan. Aku suruh temannya itu datang ke sini, siapa tahu bisa bekerja di sini." Raffasya memberikan alasannya kenapa telat kembali dari dapur.


" Memangnya kita mau tambah ART, Pa?"


" Iya buat ganti kerjaan Bi Neng, karena Bi Neng banyak bantu kamu urus Naufal, kan?"


" Iya juga, sih." Azkia pun sependapat dengan suaminya soal perlunya orang yang dapat menghandle pekerjaan Bi Neng.


***


Tok tok tok


" Mbak Kia ...!"


Azkia mendengar ketukan pintu dan suara Uni memanggilnya dari luar kamar.


" Masuk saja, Mbak!" Azkia menyuruh Uni masuk ke kamarnya.


" Maaf, Mbak Kia. Teman saya yang disuruh datang ke sini sudah sampai, Mbak." Uni memberitahukan saat masuk ke dalam kamar.


" Ya sudah, suruh tunggu Papanya Naufal saja deh, Mbak." ujar Azkia.


" Baik, Mbak. Saya permisi, Mbak." Uni kemudian keluar dari kamar Azkia.


Sore harinya, Azkia ingin memberi makan Naufal. Dia turun ke bawah untuk meminta Bi Neng menyiapkan makanan untuk Naufal.


" Bi Neng, tolong siapkan makan untuk Naufal, Naufal sudah kepingin makan nih, Bi Neng." ujar Azkia saat masuk ke ruang makan. Namun dia terkejut saat melihat seorang wanita yang wajahnya pernah dia lihat sedang mengobrol dengan Uni di kursi meja makan.


" Eh, Naufal mau makan, ya? Bi Neng sedang sholat Ashar, Mbak. Mau Uni siapkan, Mbak?" Uni yang melihat kehadiran Azkia di ruangan makan segera bangkit dan mendekat ke arah Azkia.


Azkia tak menanggapi pertanyaan Uni, dia lebih terfokus kepada wanita yang juga ikut berdiri mengikuti Uni. Wanita itu pun sama terkejutnya saat melihat Azkia.


" Ini temannya Mbak Uni?" tanya Azkia masih menatap dengan penasaran wanita teman Uni itu.


" Iya, Mbak. Ini Ratih, teman saya yang ingin mencoba bekerja di sini." Uni memperkenalkan Ratih pada Azkia. " Rat, ini Mbak Kia, majikan aku."


" Ratih ..." Ratih mengulurkan tangannya ke arah Azkia.


" Kayak pernah lihat, deh. Tapi di mana, ya?" Azkia yang merasa pernah berjumpa dengan Ratih mencoba mengingat di mana dia pernah melihat wanita itu.


" Lho, Mbak Kia pernah bertemu dengan teman saya ini, Mbak?" Uni pun kaget saat Azkia mengatakan pernah bertemu dengan Ratih.


" Iya, kayak pernah ketemu ..." sahut Azkia.


" Teman saya ini dari kampung, baru sekitar tiga bulan ini ada di Jakarta, Mbak." jawab Uni.


Sementara Ratih hanya tertunduk karena Azkia terus memandang penuh selidik kepadanya. Dia sebenarnya ingat jika Azkia adalah istri dari orang yang pernah manabraknya dulu.


" Iya, tapi wajahnya kayak familiar gitu, deh." Kening Azkia sampai berkerut mengingat Ratih, namun tak lama bola matanya membulat saat tiba-tiba dia teringat akan wanita teman dari Uni itu adalah wanita yang pernah ditabrak oleh suaminya.


" Kamu yang waktu itu jatuh dari motor keserempet mobil suami saya, kan?"


" Lho, kamu pernah keserempet mobil Mas Raffa, Rat?" Uni kembali terkejut mendengar perkataan Azkia.


" I-iya ..." sahut Ratih dengar suara nyaris tak terdengar.


" Mbak Kia tadi panggil Bibi, ya?" Bi Neng yang selesai mengerjakan sholat Ashar segera keluar dari kamarnya dan menghampiri Azkia hingga mengalihkan obrolan antara Azkia, Uni dan juga Ratih.


" Iya, Bi Neng. Tolong siapkan makanan untuk Naufal, Bi." Azkia menyahuti. " Tolong dibawa ke kamar saja ya, Bi. Aku mau kasih makan di teras balkon saja." Azkia kemudian berjalan meninggalkan ruangan makan,


Sesampainya di kamarnya, Azkia segera meletakan Naufal di atas playmat. Dia lalu menghubungi Raffasya karena dia ingin memberitahukan soal teman Uni yang ingin bekerja di rumah mereka.


" Assalamualaikum, ada apa, Ma?" Raffasya menjawab panggilan suara dari Azkia.


" Waalaikumsalam, Papa sudah jalan pulang?" tanya Azkia kemudian.


" Sebentar lagi aku pulang, kok. Kenapa? Sudah kangen banget ingin ketemu, ya?" Raffasya menggoda Azkia.


" Pa, temannya Uni sudah datang. Papa tahu nggak temannya itu siapa?"


" Mana aku tahu, Ma. Kan belum lihat, memangnya siapa teman Uni itu?"


" Dia itu orang yang pernah Papa tabrak dulu waktu kita pulang menjenguk Baby Aisha."


" Oh ya?" Nada suara Raffasya terdengar terkejut saat mengetahui orang yang ingin bekerja di rumahnya adalah korban yang pernah ditabraknya.


" Iya, Pa."


" Ya sudah, kalau begitu kita terima saja, hitung-hitung nolong dia, nggak enak juga dulu aku pernah hampir bikin dia celaka." Rasa bersalah Raffasya masih tetap ada pada orang yang pernah dia tabrak dulu.


" Tapi kita 'kan belum tahu dia itu bagaimana orangnya, Pa! Kita harus selektif milih ART, lho! Jangan sembarang ambil orang buat bekerja, apalagi bekerja di dalam rumah." Azkia nampak tidak setuju dengan keputusan Raffasya yang langsung menyetujui Ratih bekerja hanya karena rasa bersalah Raffasya.


" Dia teman Uni, kan? Kamu sendiri lihat bagaimana pekerjaan Uni, jadi aku yakin, temannya itu nggak beda jauh dengan Uni." Raffasya menyakinkan Azkia.


" Tapi, Pa ...."


" Ma, kita jangan su'udzon sama orang. Kita lihat saja dulu kerja dia bagaimana? Kalau kerja dia bagus ya kita bisa lanjut mempekerjakan dia, tapi kalau kerjanya nggak bagus kita bisa berhentikan dia. Tapi sementara ini kita terima dulu sajalah, kasihan dia sedang mencari pekerjaan di Jakarta ini." Sejak menikah, Raffasya memang banyak berubah, dia terlihat sangat perduli terutama kepada orang yang terkena musibah karena perbuatannya, tak beda jauh dengan apa yang dia perbuat pada Azkia dulu, hingga dia bersikeras ingin bertanggung jawab dengan menikahi Azkia walaupun saat itu dia belum mempunyai rasa cinta pada istrinya itu.


***


Azkia sengaja ikut mendampingi Raffasya saat suaminya itu ingin menemui Ratih. Selepas Maghrib, sebelum makan malam, mereka berkumpul di ruang tamu untuk membicarakan apa yang harus dilakukan Ratih di rumah itu


Raffasya duduk santai memangku Naufal yang belum tertidur, sementara Azkia duduk di sampingnya dengan ekpresi lebih serius.


" Kebetulan sekali ya, ternyata Mbak ini temannya Uni," ucap Raffasya dengan tenang. Setelah berumah tangga, pria itu memang berubah menjadi pribadi yang lebih baik, dan berpikiran dewasa serta lebih bijaksana dalam bersikap. Pengaruh Papa mertuanya mungkin banyak membantunya perlahan merubah tabiat-tabiat buruknya selama ini terutama ketika dia masih menjadi pria single.


" Sejauh ini yang kami butuhkan adalah orang yang ingin bekerja sebagai ART, apa Mbak ini nggak keberatan bekerja sebagai ART?" tanya Raffasya kepada Ratih yang duduk berdampingan dengan Uni dan Bi Neng.


" Panggil Ratih saja, Mas Raffa. Ratih ini seumuran Uni, kok." Uni meminta agar Raffasya menyebut dengan panggilan Ratih tanpa embel-embel Mbak.


" Oke, apa kamu bersedia bekerja seperti Uni di sini? Mungkin Uni juga sudah menjelaskan apa saja pekerjaan dia di sini, kan?" tanya Raffsya kemudian.


" Nggak masalah kok, Mas. Saya juga biasa melakukan pekerjaan rumah tangga," sahut Ratih yang tak berani menatap Raffasya, karena bersitatap dengan pria tampan itu membuat jantungnya berdegup kencang.


" Panggil Pak saja jangan panggil, Mas!" Azkia langsung memprotes panggilan Mas yang disebut Ratih untuk Raffasya.


" Ma ..." Raffasya mengusap lengan istrinya saat istrinya itu berkata cukup ketus.


" Maaf, Bu, Pak." Ratih buru-buru minta maaf.


" Okelah, kalau kamu nggak keberatan. Kamu bisa bertanya kepada Uni dan Bi Neng apa saja yang mesti kamu kerjakan di rumah ini. Uni dan Bi Neng juga nanti akan menjelaskan aturan apa saja yang harus dipatuhi sebagai penghuni baru di rumah ini." Raffasya menjelaskan.


" Baik,,Pak. Terima kasih, Pak, Bu." Ratih langsung menyahuti dengan mengucapkan terima kasih.


" Untuk sementara kamu tidur di kamar Uni saja, nanti saya siapkan kamar di belakang untuk kamu," ujar Raffasya kembali.


" Baik, Pak."


" Ya sudah, saya rasa itu saja sudah cukup, sekarang kamu bisa bantu Uni menyiapkan makan malam." Raffasya menyuruh Ratih untuk memulai aktivitasnya mulai malam ini.


" Baik, Pak, Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih atas kebaikan Bapak dan Ibu yang sudah menerima saya bekerja di sini." Setelah mengucapkan hal tersebut, Ratih pun berpamitan kepada Raffsya dan Azkia untuk ikut membantu Uni menyiapkan makan malam.


" Ma, jangan jutek-jutek gitu, dong! Kasihan, lho! Nanti dia takut melihat kamu jutek seperti itu." Raffasya menegur Azkia yang bersikap kurang bersahabat.


" Biar dia nggak berani macam-macam sama kita!" tegas Azkia.


Raffasya terkekeh mendengar jawaban Azkia.


" Macam-macam bagaimana sih, Ma?"


" Siapa tahu dia lama-lama jadi baper sama sikap Papa, karena Papa itu baik banget sama cewek. Jangan sampai dia jadi suka dan berharap ingin memiliki Papa." Azkia menjelaskan alasannya kenapa bersikap ketus kepada Ratih. Sementara Raffasya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat sikap cemburu istrinya itu.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️