MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Ijinkan Gibran Menikahi Kia, Om!



Sorot mata Yoga kini mengarah ke arah Azkia yang sedang tertunduk duduk di tepi tempat tidurnya. Dengus nafas terdengar kencang dari pria setengah baya itu. Semalam dia mendapatkan kepastian jika ketakutan akan kehamilan Azkia terbantahkan dengan pernyataan Gibran dan sanggahan dari Azkia yang menyatakan jika mereka berdua tidak melakukan tindakan yang melanggar aturan.


Sedangkan Natasha terus saja menangis, karena hal menyeramkan yang belakangan ini mengganggu pekirannya ternyata benar terjadi. Sementara ketiga anak Yoga dan Natasha lainnya menunggu di luar dengan penuh tanda tanya karena Yoga meminta anak-anak lainnya untuk tidak ikut masuk ke dalam kamar Azkia.


" Kia, bisa kamu jelaskan kepada Papa dan Mama, tentang alat ini?" Yoga menunjukkan alat test kehamilan di tangannya.


" Mama nggak menyangka kenapa kamu tega bikin malu Papa sama Mama seperti ini, Kia?" Natasha masih menyudutkan Azkia.


" Papa benar-benar kecewa dengan kamu dan Gibran ..." ucap Yoga dengan rasa kecewa.


" Mama akan telepon Gibran, sekarang! Dia harus bertanggung jawab dengan perbuatannya!" Natasha ingin mengambil ponsel Azkia dan menghubungi kekasih Azkia itu.


" Bukan Kak Gibran, Ma." lirih Azkia menghentikan langkah Natasha


Ucapan Azkia membuat Natasha dan Yoga semakin terperanjat. Kenyataan Azkia hamil saja sudah merupakan pukulan untuk mereka, ditambah lagi dengan peryataan Azkia yang mengatakan bukan Gibran pelakunya.


" Apa maksud kamu, Kia? Apa maksud Kia dengan mengatakan bukan Gibran?" Yoga kini mendekat ke arah Azkia. Dia menarik kursi dari meja rias dan duduk di hadapan putrinya itu


" Kia, jangan bilang kamu selingkuh dari Gibran! Kenapa kamu tega berbuat seperti itu ke Gibran?!" Natasha berkata dengan sedikit menyentak.


" Kia, apa yang sebenarnya terjadi?" Yoga berkata dengan nada yang lebih lembut ketimbang istrinya. " Kamu selama ini selalu sama Gibran, bagaimana bisa Kia bilang itu bukan Gibran?" Yoga menggenggam tangan putrinya.


Azkia memberanikan diri menatap Papanya. Dibalik ketenangan sikap yang ditunjukkan oleh Yoga, dia tetap dapat melihat kekecewaan dari sorot mata Papanya.


" Siapa yang melakukan ini kalau bukan Gibran, Almayra?" tanya Yoga lebih serius. " Katakan sama Papa dengan siapa kamu melakukannya?"


" Kia ... Kia dijebak, Pa." Azkia menghentikan ucapannya karena dia kembali menangis. Rasanya dia tidak sanggup untuk menyampaikan hal itu kepada kedua orang tuanya.


Yoga dan Natasha kembali terbelalak seraya saling berpandangan. Natasha bahkan kini duduk di samping Azkia.


" Apa maksudnya kamu dijebak, Kia? Siapa yang menjebak kamu, Kia?" Setiap kata yang keluar dari mulut Natasha selalu dibarengi air mata.


" Kia nggak tahu, Ma." Azkia memilih tidak mengatakan siapa saja orang yang menjebaknya, padahal dua orang wanita yang menjebak dirinya ditahui sebagai teman dari Gibran.


" Bagaimana kamu tidak tahu, Kia? Lalu apa alasan kamu dijebak? Dan jebakan apa yang Kia maksud?" selidik Yoga.


" Kia nggak tahu, Pa. Tiba-tiba saja Kia dijebak." Kini Azkia menoleh ke arah Natasha. " Mama ingat kejadian waktu ada penipu yang ingin mengajak bekerja sama? Di sanalah Kia dijebak. Kia diberi obat ..." Azkia menceritakan kejadian yang sesungguhnya dengan suara bergetar dan berlinang air mata. Namun sekali lagi dia tidak menceritakan siapa orang-orang yang telah menjebaknya dan siapa orang yang telah merenggut kesuciannya.


" Astaghfirullahal adzim ...!" Yoga dan Natasha dibuat terkejut berkali-kali.


" Ya ampun, Kia ..." Natasha langsung memeluk putrinya, dia tidak menyangka hal buruk dan mengerikan itu terjadi kepada putrinya. Saat muda dia pun pernah mengalami hal buruk namun beruntung dia tidak sampai terenggut kesuciannya. Dan kini justru putrinya lah yang mengalami hal mengerikan seperti itu.


" Siapa mereka yang sudah menjebak kamu, Kia?" Ada nada getir di kalimat yang diucapkan Yoga saat ini. Sepertinya ada tangis yang berusaha ditahan oleh pria itu.


Azkia menggelengkan kepalanya. Karena dia tidak ingin berurusan lagi dengan mereka-mereka yang menjebaknya.


" Kia, kamu jangan menutupi dari Papa dan Mama! Apa yang terjadi kepadamu adalah suatu kejahatan. Kenapa Kia tidak menceritakan hal ini sejak awal kepada Papa dan Mama?" sesal Yoga. Dia teringat saat itu Azkia memang susah untuk dihubungi, dia tidak menduga jika saat itu anaknya sedang berada dalam masalah besar.


" Kia nggak ingin melihat Papa sama Mama sedih." Memang itulah yang alasan Azkia menutupi masalah yang dia hadapi.


" Dan dengan yang terjadi sama kamu sekarang, apa Kia berpikir Papa dan Mama nggak menjadi sedih?" Yoga mengusap kepala Azkia yang masih saja terisak. Dia terus mencoba mencari jawaban terutama siapa orang yang telah membuat putrinya itu hamil.


Sementara di luar kamar Azkia, ketiga adik Azkia duduk menunggu di ruang keluarga di lantai dua. Setelah Yoga mengetahui Azkia mengalami masalah, dia menyuruh anak-anak yang lainnya menunggu di luar dan tidak mengijinkan mereka masuk ke dalam Azkia.


Abhinaya yang merasakan jika masalah yang sedang dialami oleh kakaknya adalah hal yang serius langsung turun ke bawah dan berlari ke arah rumah Gavin.


" Assalamualaikum, Uncle, Auntie ...!" Abhi mengetuk pintu dan membunyikan bel rumah Gavin.


" Waalaikumsalam, Mas Abhi? Ada apa Mas Abhi?" ART di rumah Gavin yang membukakan pintu rumah Gavin.


" Bi, Uncle mana?" tanya Abhi langsung masuk ke dalam rumah Om nya itu.


" Abhi? Ada apa?" Azzahra dari arah tangga menyahuti pertanyaan Abhi.


" Auntie, Uncle mana?" Abhi berlari menghampiri Azzahra.


" Memang ada apa pagi-pagi Abhi cari Uncle?" tanya Azzahra heran. karena keponakan suaminya itu mencari Gavin pagi-pagi.


" Kak Kia, Auntie."


" Kia? Ada apa dengan Kia, Abhi? Apa sakitnya kambuh lagi?" Gavin yang muncul di belakang Azzahra langsung menanyakan apa yang terjadi kepada Azkia, karena dia teringat semalam diminta Natasha untuk menghubungi dokter keluarganya.


" Sepertinya terjadi sesuatu dengan Kak Kia, Uncle. Sebaiknya Uncle ke rumah, saat ini Papa sama Mama sedang bicara dengan Kak Kia di kamar Kak Kia." Abhi menyampaikan apa yang terjadi di rumahnya.


" Ya sudah, ayo kita ke sana, Honey!" Gavin segera mengajak Azzahra untuk segera ke rumah Yoga dan Natasha.


Sesampainya di rumah Yoga, Gavin langsung menaiki tangga dan dia mendapati kedua adik perempuan Azkia sedang terduduk di sofa di ruang keluarga di lantai atas. Gavin kemudian mendekat ke arah pintu kamar Azkia.


" Kia ...! Ini Uncle, tolong buka pintunya!" Gavin mengetuk pintu kamar Azkia karena pintu kamar Azkia terkunci dari dalam kamar.


Tak lama setelah Gavin mengetuk pintu, pintu kamar Azkia terbuka dengan Natasha yang membukaan pintu.


" Alexa, Kia kenapa?" Gavin langsung menerobos masuk ke dalam kamar Azkia. Gavin melihat Azkia yang duduk di hadapan Yoga dengan bola mata yang mengembun. Aura kesedihan menyelimuti wajah orang-orang yang ada di dalam kamar Azkia.


" Ada apa ini? Ada apa dengan Kia, Alexa?" Gavin merasakan ada yang tidak beres dengan Azkia.


" Kia hamil, Kak." Natasha tidak bisa menyembunyikan berita yang membuat syok keluarganya itu.


" Astaghfirullahal adzim ...!" Gavin dan Azzhara tak kalah terkejutnya dengan Yoga dan Natasha saat mengetahui kehamilan Azkia. Azzahra kini merangkulkan tangannya ke pundak Natasha karena dia bisa merasakan Natasha begitu terpukul dengan nasib yang menimpa Azkia.


Sementara Gavin langsung terlihat menegang wajahnya. Apa yang pernah dia lakukan dulu justru kini menimpa keponakannya. Itu jugalah yang menjadi alasannya, kenapa selama dia sangat posesif menjaga putrinya, Rayya. Karena dia takut hal-hal seperti ini terjadi.


" Apa Gibran sudah diberitahu? Jangan sampai dia lari dari tanggung jawabnya!" geram Gavin.


" Bukan Gibran yang menghamili Kia, Kak." sahut Natasha.


" Bukan Gibran? Lantas siapa?" Gavin menatap heran ke arah Azkia.


" Ada orang-orang yang merencanakan kejahatan pada Kia, Vin." Yoga akhirnya menceritakan pada Gavin dan Azzahra tentang apa yang dia dengar dari Azkia sebelumnya.


" Breng sek!! Siapa orang-orang yang sudah berani melakukan hal itu?! Kia, sayang ... bilang sama Uncle, siapa mereka-mereka itu? Uncle akan buat perhitungan dengan mereka!" Emosi Gavin semakin bergejolak saat mengetahui jika kehamilan Azkia karena suatu peristiwa buruk yang hampir membuat keponakannya itu celaka, bahkan lebih dari yang terjadi sekarang ini.


" Nggak, Uncle! Kia nggak mau berurusan lagi dengan mereka ..." Azkia tetap bersikukuh dengan keputusannya untuk tutup mulut tentang siapa saja pelaku yang sudah membahayakan dirinya beberapa waktu lalu.


" Kia, kamu tidak perlu takut, bilang saja sama Uncle, kalau perlu akan Uncle seret mereka semua ke penjara!" geram Gavin menebar ancaman.


" Kia, mereka harus bertanggung jawab atas apa yang menimpa kamu sekarang ini, Nak. Bilang sama Papa, siapa orang yang sudah menghamili kamu?" Yoga kembali bertanya kepada putrinya itu.


Azkia menggelengkan kepalanya menolak memberitahukan siapa ayah dari bayi yang dikandungnya saat ini.


" Kenapa kamu tutup-tutupi pelakunya, Kia? Sekarang ini kamu hamil! Orang itu harus bertanggung jawab atas kehamilan kamu, Kia!" Kini Natasha yang bersuara.


" Kia nggak mau, Ma! Kia nggak mau orang itu tanggung jawab!" sahut Azkia dengan terisak.


Tentu saja jawaban Azkia membuat Natasha, Yoga, Gavin dan Azzahra saling pandang.


" Apa maksud Kia, Kia nggak ingin orang itu bertanggung jawab?" tanya Yoga.


" Uncle akan seret orang itu kemari kalau orang itu menolak bertanggung jawab atas perbuatannya, Kia!" Gavin kembali menebar ancaman.


" Kia nggak mau orang itu!" tegas Azkia.


" Siapa orang itu, Azkia? Kamu nggak bisa terus-terusan menyembunyikannya! Bayi dalam kandungan kamu butuh pertanggung jawaban papanya. Perut kamu semakin lama akan semakin besar. Orang pasti akan menggunjingkan kamu, menggunjingkan keluarga kita. Kamu nggak kasihan sama Papa kamu, Kia?" Natasha menangis merasa putus asa karena sikap keras kepala Azkia yang tetap menolak memberitahukan si pelaku.


" Yank ..." Yoga kini bangkit dan memeluk Natasha. Dia mencoba menenangkan istrinya agar tidak terus terbawa emosi.


" Ra, bisa tolong bawa Tata ke kamarnya?" Yoga meminta bantuan Azzahra kembali ke kamarnya untuk menenangkan diri.


" Iya, Kang." Azzahra mengiyakan permintaan Yoga. " Ayo, Teh ...."


" Yank, biar nanti aku dan Gavin yang membujuk Kia untuk memberitahukan siapa pelakunya. Tapi kita harus sabar, jangan menekannya seperti tadi. Kia juga pasti sangat terpukul dengan peristiwa itu, dengan kehamilan ini, Yank." Yoga menepuk pundak Natasha memberi pengertian kepada istrinya.


" Suamimu benar, Alexa. Sebaiknya kau menenangkan diri terlebih dahulu. Honey, tolong kau temani Alexa." Gavin sependapat dengan Yoga. Dia lalu meminta istrinya untuk membawa Natasha untuk keluar dari kamar Azkia.


" Iya, By. Teh, ayo aku temani Teteh. Teh Tata butuh menenangkan diri." Azzahra lalu menuntun Natasha yang masih saja tersedu. Azzahra mengerti, Natasha akan sulit menerima kenyataan pahit ini.


***


Sudah berkali-kali Yoga dan Gavin membujuk Azkia, namun anak perempuan Yoga paling besar itu tetap kukuh pada pendiriannya, tak ingin menceritakan siapa pria yang sudah membuatnya hamil. Hingga akhirnya mereka berhenti sejenak mengitrogasi Azkia untuk memberi waktu agar Azkia bisa berpikir lebih jernih.


Gavin dan Azzahra kembali ke rumahnya, sedangkan Natasha sudah kembali ke kamar Azkia dan masih berusaha mencari informasi, sementara Yoga saat ini sedang berada di ruang kerjanya bersama Gibran.


Yoga sengaja meminta Gibran untuk datang ke rumahnya, karena bagaimanapun juga pria itu mesti tahu apa yang terjadi dengan Azkia saat ini. Dan Yoga memilih ruang kerja karena di sanalah yang dia rasa aman untuk berbincang dengan Gibran.


" Gibran, sebelumnya Om minta maaf jika hal yang ingin Om sampaikan ke kamu akan membuat kamu kecewa." Yoga memulai obrolan seriusnya dengan Gibran.


" Ada apa, Om?" Sejak Yoga menghubunginya, meminta dia untuk datang ke rumah orang tua Azkia, dia merasakan ada sesuatu hal penting yang ingin disampaikan Yoga kepadanya, apalagi ini pertama kalinya Yoga membawanya berbincang di ruang kerja dosen yang dulu pernah mengajarnya.


" Ini soal Kia."


" Ada dengan Kia, Om?" Gibran menatap serius ke arah Yoga karena dia merasa kalimat yang diucapkan Yoga terlihat berat sekali diucapkan oleh pria peruh baya itu.


" Benar apa yang kamu katakan pada Om semalam, tentang perubahan pada diri Kia, itu memang ada alasannya." Dengan nada yang sangat berat Yoga mengucapkan kalimat-kalimatnya sementara Gibran terus mendengarkan dengan seksama setiap ucapan Yoga.


" Saat Kia ke Bandung beberapa Minggu lalu, dia mengalami musibah, Gibran." Yoga menjeda kalimatnya, rasanya tak sanggup harus berulang-ulang menceritakan musibah yang menimpa putrinya itu.


" Soal penipu yang ingin bekerjasama dengan butik itu 'kan, Om?" Gibran sudah mendengar cerita dari Natasha soal penipuan yang diceritakan Azkia kepada Natasha, kerena Azkia sendiri awalnya selalu menghindari Gibran sepulang dari Bandung.


" Iya, ternyata itu tidak hanya sebuah penipuan. Om sendiri tidak tahu mereka-mereka itu siapa? Dan apa motif mereka melakukan hal itu kepada Kia. Tapi saat itu mereka menjebak Kia dengan masukan obat ke dalam minuman Kia."


" Obat? Obat apa, Om?" Yang ditakutkan Gibran justru Azkia dicekoki obat-obat terlarang.


" Obat pembangkit ga irah, kamu tahu maksud Om, kan?"


Kening Gibran berkerut dengan alis saling bertautan mendengar soal obat yang dimaksud oleh Yoga.


" Mereka hendak mencelakai Azkia dengan mengumpan Azkia pada dua orang pria yang akan mengeksekusi Azkia dan berencana merekam ulah mereka kepada Azkia." Dengan nada tercekat di tenggorokan Yoga kembali menceritakan musibah yang menimpa Azkia.


" Dan saat itu ada orang yang menolong Azkia terlepas dari mereka yang bermaksud jahat kepada Azkia, tapi justru orang itulah yang akhirnya menodai Azkia dan membuat Azkia saat ini hamil." Bola mata Yoga seketika berembun namun dengan cepat pria itu menyeka air mata sebelum menetes di pipinya.


" Astaghfirullahal adzim ... siapa orang yang tega melakukan hal itu, Om?" Serasa ditikam sembilu hati Gibran mengetahui apa yang dialami oleh kekasihnya saat ini.


" Azkia masih tutup mulut tidak ingin memberitahukan siapa orang yang telah membuatnya hamil."


" Om, ijinkan Gibran menikahi Azkia, Om!" ucap Gibran setelah mendengar apa yang menimpa Azkia.


Yoga menatap Gibran dengan lekat, dia bisa merasakan kasih sayang Gibran kepada Azkia begitu dalam hingga bersedia menikahi Azkia walaupun dengan kondisi Azkia seperti sekarang ini.


" Gibran, Om mengerti kamu sangat menyanyangi Kia, tapi untuk menikahi Azkia ... Om rasa kau harus pikirkan hal itu baik-baik."


" Gibran mencintai Kia, Om. Kia juga mencintai Gibran. Gibran tidak masalah dengan kondisi Kia saat ini sedang hamil. Gibran janji akan menerima dan menyanyangi bayi yang dikandung Kia seperti anak Gibran sendiri, Om." tekad Gibran.


" Gibran, sebaiknya kamu pikirkan hal ini baik-baik. Bukan hanya kamu yang nantinya akan terlibat dalam hal ini tapi juga orang tua kamu. Apa orang tua kamu bisa menerima kondisi Kia sekarang ini? Itu yang harus kamu pertimbangkan." Yoga tidak ingin Gibran bertindak gegabah tanpa memikirkan secara matang tindakan yang akan diambilnya.


" Papa Mama aku pasti akan mengerti, Om. Hal itu terjadi bukan karena kesalahan Kia." Gibran mencoba meyakinkan.


Yoga menarik nafas dalam-dalam, dia merasa kasihan kepada pria muda di hadapannya itu.


" Om tidak bisa putuskan hal itu sekarang, Gibran. Om masih mencoba mencari tahu siapa orang yang bertanggung jawab atas kehamilan Azkia."


" Om, jika orang itu ditemukan dan mau bertanggung jawab, apa Om akan melepas Azkia kepada orang itu?" Ada rasa khawatir di hati Gibran jika dia akan kehilangan Azkia, wanita yang sejak kecil dinantinya.


Yoga kembali menghela nafas, dia juga tidak akan begitu saja memberikan putrinya kepada sembarangan pria, apalagi pria yang telah menghamili Azkia itu belum tentu dia kenal asal usulnya.


" Om masih belum bisa memastikan hal itu, Gibran."


" Sekarang Kia di mana, Om? Apa Gibran boleh menemui Kia?" tanya Gibran.


" Kia ada di kamarnya."


" Gibran ingin bertemu Kia, Om."


***


" Kia, Kia jangan diam saja. Kia jangan bikin Mama pusing seperti ini. Pria itu harus bertanggung atas kehamilan kamu ini." Natasha masih memaksa Azka menceritakan siapa pria yang menghamili Azkia.


" Kia nggak mau, Ma! Kia nggak mau orang itu tahu kalau Kia hamil!" Azkia tetap menolak bercerita.


" Kamu tidak ingin orang itu orang itu tahu? Kenapa, Kia? Siapa orang itu sebenarnya? Lalu kehamilan kamu ini bagaimana, Kia? Perut kamu akan semakin membesar, apa kamu ingin anak kamu lahir tanpa Papanya?"


" Biarkan saja, Ma! Kalau Papa sama Mama malu dengan kehamilan Kia, Kia akan pergi dari sini biar nggak ada orang tahu tentang kehamilan Kia, Ma."


" Azkia! Kenapa kamu bicara seperti itu? Apa dengan kamu pergi dari sini akan bisa menyelesaikan masalah ini? Kenapa kamu berpikiran sempit seperti ini, Kia? Di manapun kamu berada, hal ini akan tetap jadi masalah untuk Papa dan Mama. Papa dan Mama tidak bisa lepas tangan begitu saja menghadapi masalah ini." Natasha merasa kesal karena putrinya tetap keras kepala.


" Tapi Kia nggak ingin sama orang itu, Ma!"


" Iya siapa orang itu, Kia? Bilang sama Mama, apa yang kamu takutkan dari orang itu?"


" Mama jangan paksa Kia, sampai kapanpun Kia nggak akan kasih tahu! Biarkan saja anak ini lahir tanpa ayah atau kalau perlu Kia gugurkan saja anak ini!"


" Astaghfirullahal adzim, Azkia!! Kamu jangan bicara seperti itu! Mengugurkan kandungan itu dosa!" Natasha menegur Azkia.


" Kia ..." Yoga kemudian muncul dari pintu kamar Azkia. " Gibran ingin bicara dengan kamu, Nak." lanjutnya.


Azkia menatap Papanya, sungguh dia merasa malu kepada Gibran dan tidak tahu harus bagaimana menghadapi Gibran sekarang ini.


" Kia nggak mau ketemu Kak Gibran, Pa!" Azkia menolak bertemu dengan Gibran.


" Kenapa Kia nggak mau bertemu Gibran?" tanya Yoga.


" Kia malu, Pa." Azkia beralasan.


" Gibran pasti mengerti, Papa sudah cerita semua tentang kamu pada Gibran. Sekarang Kia temui Gibran ya, dia ada di ruang kerja Papa. Ayo Papa antar Kia ke sana." Yoga menggenggam tangan Azkia kemudian membawa Azkia menemui kekasihnya itu.


" Kia ..." Gibran langsung menghampiri Azkia. Dia lalu menatap Yoga seakan meminta ijin untuk memeluk Azkia. Setelah Yoga menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaannya, Gibran pun lalu memeluk tubuh Azkia. Dan tangis Azkia langsung pecah saat tubuhnya berada dalam pelukan Gibran.


" Kia kenapa nggak cerita sama aku dari awal? Kenapa Kia justru menyembunyikan masalah ini sendirian? Kenapa Kia nggak membagi apa yang sedang Kia hadapi dari awal?" Gibran seolah menyanyangkan sikap Azkia yang tertutup tak menceritakan masalah yang sebenarnya kepadanya.


" Kia ... Kia takut, Kak."


" Maafkan aku, Kia. Kalau waktu itu aku ikut menemani ke Bandung, mungkin kamu nggak akan mengalami hal ini. Ini semua salah aku." Gibran memeluk erat Azkia, dia merasa sangat bersalah atas musibah yang terjadi pada Azkia.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


.


.