MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Gurame Cobek



Hari ini Azkia dan Raffasya melakukan fotoshoot yang akan dipajang di acara wedding party. Raffasya memilih melakukan sesi pemotretan di sebuah studio foto dan tidak memilih area outdoor.


" Oke, Mas Raffa silahkan dipeluk pinggang Mbak Kia. Saling menatap ya, biar aura cinta kalian itu terpancar jelas." Fotografer mengarahkan gaya Azkia dan Raffasya dalam berpose.


Azkia mengeryitkan keningnya mendengar perintah sang fotografer. Rasanya canggung dia harus sengaja bertatapan mata dengan suaminya, namun dia terpaksa mengikuti apa yang diinginkan fotografer itu.


Azkia menatap Raffasya yang juga menatap wajahnya. Benar-benar terlihat jelas pahatan rahang tegas Raffasya menyempurnakan wajah tampan suaminya itu.


" Mbak Kia, tangannya yang kiri peluk Mas Raffa, tangan kanannya diletakkan di dada Mas Raffa. Ditatap Mas nya penuh perasaan, ya! Senyumnya jangan ketinggalan. Siap ... tiga, dua, satu." Fotografer itu berhasil mengambil gambar Azkia dan Raffasya dari satu pose.


" Masih pose yang sama, agak mendekat wajahnya, sambil menatap ke arah bibir seolah ingin berci uman. Sudah sah 'kan ya? Jadi aman, kan? Oke, lebih dekat lagi, ditatap bibir pasangannya. Tiga, dua, satu ... Oke, sip." ucap fotografer tadi.


Cup


Sebuah kecupan langsung Raffasya layangkan ke bibir milik Azkia yang kini sudah mulai menjadi candunya.


" Satu lagi, Mas Raffa nya peluk Mbak Kia dari belakang. Kepala Mbak Kia agak disandar ke dada Mas Raffa sambil menoleh ke arah Mas Raffa dan Mas Raffa menoleh ke arah Mbak Kia." Fotografer itu kemudian kembali mengarahkan pose mesra Azkia dan Raffasya.


" Oke, sip." Setelah mengambil beberapa pose lagi akhirnya Fotografer menyudahi sesi pemotretan itu. " Nanti tinggal dipilih foto yang mana yang mau dipakai untuk dipajang," lanjut Fotografer.


Setelah selesai fotoshoot, Raffasya memilih beberapa foto yang nanti akan ditaruh di acara resepsi mereka nanti.


***


.


Tidak terasa pernikahan Azkia dan Raffasya sudah memasuki Minggu ketiga, selalu saja ada perdebatan kecil di antara mereka berdua. Azkia pun masih tetap beranggapan jika sikap baik dan perhatian yang belakangan ini ditunjukkan suaminya karena bayi yang dikandungnya.


" Kia, Mama buatkan salmon teriyaki, tumis buncis, wortel, jagung. Ada puding mangga dan orange juice untuk kamu." Lusiana siang ini datang ke rumah Raffasya dan membawakan makanan dan minumam untuk Azkia. " Kamu sudah makan siang belum? Dimakan sekarang, ya! Biar kamu sehat dan bayinya juga mendapatkan asupan gizi. Mama ambilkan nasinya, ya?" Lusiana kemudian menyendokkan nasi ke atas piring kemudian mengambilkan lauknya.


" Ayo dimakan dulu, Kia." Lusiana kemudian menuangkan air mineral ke dalam gelas yang kemudian disodorkan ke hadapan Azkia.


" Mama nggak usah repot-repot begini, Ma. Biar nanti Kia ambil sendiri saja makanannya." Azkia merasa tidak enak dilayani oleh Mama mertuanya itu.


" Nggak apa-apa, Kia. Kamu itu 'kan menantu Mama dan sedang mengandung calon cucu Mama. Jadi Mama harus memperhatikan kalian berdua." Lusiana yang setiap saat selalu memerintah orang dan minta dilayani oleh orang kini rela melayani menantunya itu.


" Tapi Kia jadi nggak enak Mama melayani Kia begini." Azkia menyampaikan rasa tak enak harinya kepada Lusiana.


" Kamu nggak usah sungkan, Kia. Mama itu senang kamu akhirnya menikah dengan Raffa. Itu 'kan impian Mama punya menantu kamu, makanya Mama senang sekali. Ya ... walaupun harus melalui accident dulu, tapi yang penting kalian akhirnya bisa menikah." Aura bahagia masih terpancar di wajah Lusiana jika mengingat harapannya untuk membuat Raffasya dan Azkia bersatu kini menjadi kenyataan.


" Terima kasih, Ma. Mama sudah menerima Kia dengan baik."


" Kamu jangan bicara seperti itu, Kia. Justru Mama yang seharusnya berterima kasih sama Kia karena Kia sudah mau menerima anak Mama yang susah diatur itu menjadi suami kamu, Sayang." Lusiana mengusap kepala Azkia.


" Sekarang kamu makan dulu, mau Mama suapin?"


" Nggak usah, Ma. Biar Kia makan sendiri saja." Azkia buru-buru menyantap makanan yang ada di hadapannya setelah berdoa terlebih dahulu, dia tidak ingin Mama mertuanya itu sampai menyuapinya.


" Oh ya, Kia. Kamu sudah ke salon untuk coba gaun pengantinnya lagi?" tanya Lusiana kemudian.


" Belum, Ma."


" Ya sudah, besok saja kamu sama Raffa ke sana. Buat fitting sekali lagi, barangkali kamu kurang nyaman, apalagi di bagian perut. Jadi bisa segera dirombak mumpung masih ada waktu seminggu lagi," tutur Lusiana.


" Iya, Ma."


" Lusi? Kamu ada di sini?" Nenek Mutia yang baru masuk ke ruang makan terlihat terkejut dengan kehadiran Lusiana.m di sana.


" Mama? Iya, Ma. Aku antar makanan untuk menantu sama calon cucuku, Ma." Lusiana kemudian bangkit dan mencium tangan Nenek Mutia.


" Nek, maaf Kia makan duluan," ucap Azkia karena dia mendahului menyantap makan siang sementara waktu baru menyentuh jam sebelas siang.


" Tidak apa-apa, Kia. Kamu makan saja yang kenyang, Nak." Nenek Mutia kemudian duduk di kursi yang telah disiapkan oleh Lusiana. " Kia makan sama apa?" tanya Nenek Mutia memandang piring di hadapan Azkia.


" Aku bawa salmon teriyaki, sama tumisan, Ma." Lusiana yang menyahuti pertanyaan Nenek Mutia. " Bi Neng masak menu khusus untuk Kia nggak, Ma?" tanya Lusiana kepada Nenek Mutia.


" Iya, Mama sudah suruh Neng untuk memasak menu untuk ibu hamil." Nenek Mutia menyahuti.


" Syukurlah, kalau Bi Neng nggak memasak nanti aku akan pesankan di catering menu khusus untuk bumil, Ma."


" Nggak usah, Lusi. Kalau pakai catering biayanya lebih mahal, mending masak sendiri saja."


" Nggak masalah, Ma. Yang penting menantu dan cucuku terjamin asupan gizinya." Lusiana tak mempermasalahkan biaya untuk menu makanan Azkia.


" Kamu bagaimana, Kia? Mau pesan di catering atau Bi Neng yang buatkan?" Nenek Mutia memberikan pilihan kepada Azkia.


" Nanti Mama yang bayarin." Lusiana menimpali.


" Hmmm, Kia makan masakan Bi Neng saja. Masakan Bi Neng juga enak kok, Ma." Azkia lebih memilih menu masakan Bi Neng daripada merepotkan Mama mertuanya.


" Ya sudah nanti Mama suruh Bi Neng agar masak yang lebih bervariasi biar kamu nggak bosan," sahut Lusiana.


" Iya, Ma."


" Ya sudah kamu lanjutkan makannya. Mau tambah lagi nasinya?" Lusiana kembali menawarkan.


" Nggak, Ma. Ini saja Kia sudah kenyang banget, kok." Azkia menolak seraya mengusap perutnya. Sejujurnya Azkia merasa beruntung bertemu Mama mertua seperti Lusiana. Kadang tidak semua istri bisa mendapatkan Mama mertua yang baik dan menyayangi menantunya. Dan Azkia yakin, Lusiana memperhatikan dan bersikap baik kepadanya bukan hanya karena bayi yang ada di kandungannya saja.


***


" Bagaimana dress-nya, Mbak Kia? Apa nyaman dipakai? Di bagian perut terasa sesak tidak?" Keesokan harinya Azkia dan Raffasya mengunjungi salon untuk fitting terakhir sebelum acara resepsi Akhir Minggu ini.


" Nggak kok, Tan. Sudah nyaman dipakai buat duduk juga."


" Ya sudah, kita ke ruang pemotretan dulu di sebelah, yuk." Ester meminta Azkia dan Raffasya untuk berpindah ke ruang sebelah.


" Difoto untuk apa, Tan?" tanya Azkia.


" Untuk dokumentasi di sini. Nggak apa-apa 'kan, Mbak, Mas Raffa?" tanya Ester meminta ijin.


" Nggak apa-apa,, Tan. Silahkan saja." Raffasya mengijinkan apa yang diminta oleh Ester.


" Ya sudah, ayo kita ke ruang sebelah." Lusiana mengajak pasangan suami istri itu untuk ke ruangan pemotretan.


" Ayo ..." Raffasya menyodorkan lengannya kepada Azkia meminta istrinya itu untuk menggandeng lengannya karena dia pikir Azkia akan kesulitan melangkah dengan pakaiannya.


" Ini dress pengantin modern jadi nggak akan bikin ribet buat. jalan." Azkia yang merasa dress yang dipakainya nyaman dan membuat dia bisa melangkah dengan bebas menolak uluran tangan Raffasya. Sambil menaikan sedikit bagian bawah gaunnya yang menjuntai panjang ke bawah Azkia masuk ke dalam ruangan yang dimaksud oleh Ester.


***


" Kamu mau ikut ke cafe atau mau pulang?" tanya Raffasya setelah mereka menyelesaikan fitting baju pengantin mereka.


" Aku mau ke rumah Mama," ucap Azkia.


" Ya sudah, kita makan saja dulu." Raffasya membukakan pintu untuk Azkia.


" Perjalanan dari sini ke rumah orang tua kamu kalau nggak macet sekitar tiga puluh menit, kalau macet bisa lebih dari itu. Jadi kita makan di luar saja dulu." Raffasya tetap pada pendiriannya ingin mengajak Azkia makan terlebih dahulu sebelum ke rumah orang tua istrinya itu.


" Tapi aku belum lapar." Azkia bersikukuh menolak.


" Kamu belum lapar, tapi bayi di perut kamu itu butuh diberi makan!" tegas Raffasya tak ingin ditentang.


Azkia mendengus kasar sambil mendudukkan tubuhnya di kursi mobil yang pintunya telah dibukakan lebih dulu oleh suaminya.


" Kamu mau makan apa?" tanya Raffasya saat mulai menjalankan mobilnya.


" Terserah!"


" Terserah? Nanti kalau aku yang pilih, kamu nggak cocok dengan menunya," sahut Raffasya


" Kamu mau menu apa? Indonesian food, Japanese food, chinese food, Italian food?" Raffasya menawarkan beberapa restoran yang bisa dipilih oleh Azkia.


" Aku mau gurame cobek."


" Kamu jangan makan pedas, May! Kasihan Bayinya." tegur Raffasya saat istrinya itu memilih makanan yang memakai cabai.


" Ya sudah aku nggak mau makan kalau Kak Raffa nggak membelikan aku gurame cobek." Azkia merajuk dengan mengancam Raffasya.


" Oke tapi sambalnya jangan dimakan banyak-banyak. Kasihan bayi diperut kamu masih kecil sudah dikasih makan pedas." Raffasya memberikan syarat untuk Azkia kalau ingin diijinkan olehnya makan Gurame cobek.


" Iya." sahut Azkia. "Nggak janji." gumam Azkia dalam hati.


Akhirnya Raffasya pun memilih rumah makan Sunda untuk mengisi perut mereka makan siang.


Azkia menelan salivanya melihat sambal yang melumuri Ikan gurame setelah pesanan mereka dihidangkan di atas meja.


" Cepat dimakan jangan dilihatin saja." Raffasya melihat Azkia hanya memandangi saja makanan di hadapannya langsung menyuruh istrinya itu menyantap makanan pesanannya.


" Tangan aku nanti jadi pedas kalau makan ini." Azkia menatap jari-jari tangannya.


" Ya sudah pakai sendok saja makannya."


" Makan beginian kalau pakai sendok rasanya kurang nikmat, Kak. Harus pakai tangan." Azkia menjelaskan. Azkia lalu menatap suaminya.


" Kak Raffa 'kan yang mengajak aku makan di luar, jadi Kak Raffa yang harus bertanggung jawab." Azkia sengaja ingin mengerjai suaminya itu. Dia sudah membayangkan seperti apa panasnya tangan Raffasya jika harus menyuapinya nanti berlumuran sambal pedas.


" Bilang saja minta aku suapi!" sindir Raffasya.


" Siapa juga yang minta disuapi? Kalau Kak Raffa nggak mau bertanggung jawab, ya sudah aku nggak akan makan." Azkia melipat tangannya kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


Raffasya akhirnya memilih mengalah dan menuruti apa yang diinginkan oleh Azkia. Dia menyingkirkan sambal yang menutupi ikan gurame lalu mengambil daging dari ikan itu.


" Dikasih sambalnya dong, Kak. Sambalnya itu buat dimakan bukan buat hiasan. Kenapa harus disingkirkan?" gerutu Azkia.


" Ini pasti rasa pedasnya sudah menyerap ke dalam daging ikannya, jadi nggak usah dikasih ampas-ampas sambalnya lagi pasti sudah pedas," ujar Raffasya.


" Ampas sambal? Justru sambal yang dimakan yang itu, Kak. Masa sambalnya dibuang, sih??"


" Sudah jangan bawel, cepat dimakan!" Raffasya menyodorkan nasi dan potongan ikan dari tangannya ke mulut Azkia.


" Kak Raffa sudah cuci tangan belum?" tanya Azkia sebelum menerima suapan dari tangan suaminya.


" Sudah, aku juga makan pakai tangan. Dan aku sudah cuci tangan dulu sebelum makan," sahut Raffasya.


" Nah, itu ... Pasti tangannya bau mulut Kak Raffa.


Cuci tangannya dulu sana!" Azkia menyuruh Raffasya untuk membersihkan tangannya terlebih dahulu.


" Bau mulutku? Bukankah kamu juga menikmati kalau sedang sedang aku cium dan menikmati aroma nafasku?" Raffasya menyeringai. " Buka mulutnya!" Raffasya memaksa Azkia menerima suapan nasi darinya.


Azkia akhirnya menerima suapan dari tangan Raffasya tanpa menggunakan sendok.


" Mbak!" Azkia memanggil pelayan rumah makan yang melintas di dekat mejanya.


" Iya, Mbak? Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya Pelayan itu.


" Mbak, aku pesan nasi putih lagi, dong!" Azkia memesan satu porsi nasi putih.


" Baik, Mbak." Pelayan itu kemudian mengambilkan pesanan untuk Azkia.


" Kamu mau nambah makan?" tanya Raffasya saat mengetahui istrinya itu memesan nasi lagi.


" Iya. Sayang sambalnya kalau tidak dimakan."


" May, aku 'kan sudah bilang, jangan makan pedas!" Raffasya kembali memperingatkan Azkia.


" Iya aku tahu." sergah Azkia.


" Lalu kenapa kamu bilang sayang sambal ini tidak dihabiskan?"


" Memang sayang kalau tidak dihabiskan, makanya aku pesan nasi lagi."


" Lalu siapa yang akan nasi dan sambalnya?"


" Kak Raffa lah ...."


" Kok aku??"


" Iya daripada sambal itu dibuang, kan mubazir. Ikan juga masih ada. Jadi Kak Raffa makan saja."


" Aku nggak mau, aku sudah kenyang!" Raffasya menolak disuruh menghabiskan sambal dari gurame tadi. " Lagipula aku nggak bisa makan pedas!"


" Mau Kak Raffa yang makan sambal atau aku yang makan?" tantang Azkia kemudian.


" Kamu jangan menyuruh yang macam-macam dong, May!"


" Yang suruh itu bukan aku, Kak! Tapi dia!" Azkia menunjuk ke arah perutnya. " Kalau Kak Raffa nggak menuruti berarti Kak Raffa nggak sayang sama anak Kak Raffa ini!" Azkia tersenyum penuh kemenangan karena berhasil mengerjai suaminya itu.


Raffasya mendengus kasar, dia sebenarnya tahu itu hanya alasan Azkia saja, namun dia tetap melakukannya demi membuat Azkia puas karena berhasil mengerjainya.


*


*


Bersambung


Happy Reading❤️