
Jakarta, 12.30
Praannggg
" Astaghfirullahal adzim ...!"
Gelas yang sedang dipegang Natasha saat mengisi air dari galon tiba-tiba merosot jatuh dari genggaman tangan Natasha, membuat Natasha memekik kaget apalagi saat ada pecahannya yang menggores punggung kakinya hingga membuat cairan darah menetes di kaki wanita paruh baya itu.
" Hati-hati, Yank! Kenapa bisa jatuh begitu, sih?" Yoga yang sedang duduk di depan meja makan langsung bangkit dan mendekati Natasha. Sementara Abhi langsung bangkit mengambil kotak P3K.
" Aulia, Aliza diam di tempat! Banyak pecahan kaca nanti terkena kaki kalian!" Yoga memperingatkan kedua putrinya untuk tidak ikut membantu.
" Bi! Bi Jun ...!" Aulia justru memanggil nama ART nya.
" Kamu, duduk dulu, Yank! Hati-hati ..." Yoga menuntun Natasha sampai ke kursi makan setelah Aulia menggeser kursinya terlebih dahulu.
" Sakit ya, Ma?" tanya Aliza.
" Tentu sakitlah, Dek. Orang berdarah kayak gitu, kok!" jawab Aulia.
" Bi, tolong ambilkan air hangat sama waslap dan handuk kecil!" perintah Yoga saat ART nya mendekat.
" Baik, Pa." Bi Jun langsung melaksanakan perintah dari Yoga.
" Ini P3K nya, Pa." Abhi menyodorkan kotak berisi obat-obatan. " Masih ada pecahan kaca yang menempel nggak, Pa?" tanya Abhi kemudian.
" Sepertinya nggak ada. Abhi tolong ambilkan ember dan air di botol buat bersihkan darahnya. Pakai air mineral saja kalau susah!" perintah Yoga kemudian. " Hati-hati kena pecahan kaca!"
" Iya, Pa."
" Ini air hangatnya, Pa." Bi Jun lalu meletakan baskom air hangat dan waslap di samping Yoga yang diduduk berlutut di bawah Natasha.
Yoga lalu mengompres luka dengan air hangat dan membersihkan darah yang menempel di kaki Natasha.
" Kamu melamun ya, Yank?" tanya Yoga kepada Natasha seraya mendonggak ke arah istrinya.
" Nggak tahu, Mas. Gelasnya kayak merosot gitu saja, terus perasaan aku juga tiba-tiba nggak enak banget lho, Mas." Natasha merasakan hatinya berdebar-debar tak karuan yang membuatnya tiba-tiba gelisah.
" Memang kamu sedang memikirkan apa sampai gelisah seperti ini?" tanya Yoga kembali.
" Aku tiba-tiba keingetan Azkia, Mas." sahut Natasha.
" Kia sedang bertemu relasi bisnis di Bandung, kan? Dia sudah kasih kabar kalau sudah sampai di sana?" tanya Yoga lagi.
" Sudah, tapi katanya masih menunggu karena orang itu belum datang di tempat yang dijanjikan bertemu." Natasha menjelaskan.
" Abhi, coba kamu hubungi Kak Kia, sudah bertemu sama orangnya belum? Soalnya Mamamu ini kepikiran sama Kakakmu itu!" Yoga yang melihat Abhi sudah mengambilkan apa yang dimintanya langsung menyuruh Abhi kembali.
" Iya, Pa." Abhi lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mencoba menghubungi Azkia.
" Nggak diangkat, Pa." ujar Abhi setelah dia melakukan panggilan telepon selama dua kali.
" Sedang dijalan mungkin, nanti kalau sudah berhenti dan melihat ada panggilan masuk juga Kia pasti telepon balik," ujar Yoga.
Yoga kemudian membilas luka Natasha dengan air mengalir dari botol air mineral lalu mengeringkannya dengan sapu tangan handuk kemudian membalut luka itu dengan perban.
***
Beberapa jam berlalu, Azkia yang akhirnya tertidur setelah meminum obat sakit kepala dan pereda nyeri kini terbangun saat merasakan sesuatu yang berat menimpa pahanya.
Azkia mengerjap dan ingin tahu apa yang membuat kakinya sulit bergerak. Dan matanya terbelalak saat dia melihat sebuah kaki melingkar di pahanya saat itu. Sontak Azkia menoleh ke arah samping kanannya, dan bola matanya semakin melebar saat dia mendapati Raffasya tidur di sebelahnya.
" Aaakkkhh ...!! Kak Raffa ngapain tidur di sini?!" Azkia langsung memukuli tubuh Raffasya hingga membuat pria itu terbangun kaget.
" Dasar pria me sum! Kak Raffa sudah ngapain saja di sini?" Azkia langsung bangkit dari tempat tidur dengan berkacak pinggang. Azkia justru semakin terkesiap saat dia melihat noda merah di sprei yang dia tiduri tadi. Dia pun masih merasakan nyeri di bagian intinya. Azkia memijat pelipisnya, dia mulai mengingat jika dia sudah melakukan hubungan badan dengan Raffasya. Dia masih mengingat bagaimana Raffasya menguasai tubuhnya.
" Dasar pria breng sek! Kak Raffa sudah per kosa aku, kan?!" Azkia kembali menyerang Raffasya dengan pukulan-pukulan.
" Eh, eh, eh, gue ini nolongin lu, ya! Seharusnya lu itu bilang terima kasih sama gue! Kalau nggak ada gue, lu itu sudah jadi santapan orang-orang suruhan Gladys! Lu nggak sadar kalau lu itu dijebak pakai obat perang sang, kan?" Raffasya menangkis semua serangan Azkia hingga Azkia menghentikan pukulannya.
Azkia terduduk di tepi tempat tidur dengan memijat kembali pelipisnya.
" Lu yang punya masalah sama Gladys, gue hanya menyelamatkan lu dari niat jahat Gladys dan teman-temannya! Lu itu dijebak pakai obat biar has rat bira hi lu itu tinggi dan mereka menyuruh dua orang cowok buat melayani lu. Terus mereka berencana merekam aktivitas lu dengan kedua teman pria Gladys. Lu bisa bayangkan kalau video itu nantinya tersebar ke masyarakat luas? Nama baik lu dan keluarga lu akan tercemar! Sudah bagus lu gue tolongin!" Raffasya yang melihat Azkia malah menyudutkannya langsung melakukan pembelaan dengan menceritakan semua kejadian yang sesungguhnya.
" Lalu kenapa Kak Raffa bawa aku ke hotel? Apa yang Kak Raffa lakukan ini bukan kejahatan?!" tuding Azkia kembali.
" Terus gue mesti bawa ke mana? Lu nggak ingat lu itu gelisah kayak cacing kepanasan kemarin di mobil sampai buka baju segala? Lu mau gue bawa balik ke Jakarta dan jadi tontonan orang karena lu terus meracau nggak jelas sampai telan jang?" sanggah Raffasya.
Azkia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Dia juga bisa merasakan siang tadi dia seperti diserang hawa panas di tubuhnya, hingga dia membutuhkan sesuatu untuk menyalurkan gelora panas di tubuhnya itu.
" Sekarang aku sudah nggak perawan." Azkia seketika terisak jika mengingat sesuatu yang berharga bagi seorang wanita yang selama ini dia jaga hanya untuk suaminya kelak, kini terenggut sudah oleh pria yang selama ini selalu berdebat dengannya.
" Gue minta maaf untuk itu."
" Kata maaf Kak Raffa itu nggak cukup untuk membuat kesucian aku kembali!" hardik Azkia emosi.
" Gue nggak sepenuhnya salah, ya! Lu sendiri menikmati, kok! Dan lu sendiri yang awalnya mancing-mancing gue, cium-cium gue! Apa lu lupa semua itu?!" bentak Raffasya tak ingin disalahkan sendiri.
Azkia menarik nafas yang terasa sesak. Dia memang mengingat potongan-potongan adegan hingga akhirnya tubuh mereka bersatu. Azkia tidak menduga jika itu nyata karena baginya itu seperti sebuah mimpi.
Azkia kemudian mencari sesuatu di atas nakas.
" Mana tas aku?" tanya Azkia.
" Tertinggal di mobil sepertinya."
" Mana kunci mobilku?"
Raffasya kemudian mengambil jaketnya dan mengeluarkan kunci mobil Azkia dari dalam saku jaketnya itu. " Ini." Raffasya menyodorkan kunci itu yang langsung diambil dengan kasar oleh Azkia.
Azkia lalu memakai sepatunya dan berjalan ke luar kamar hotel dengan Raffasya mengekor di belakangnya. Sesampainya di mobil Azkia lalu membuka pintu mobil dan duduk di belakang kemudi lalu menyalakan mesin mobilnya setelah dia melihat tasnya tergeletak di kursi belakang.
" May, lu mau ke mana?" Raffasya mengetuk jendela pintu mobil Azkia namun Azkia tidak memperdulikannya.
" Almayra! Buka pintunya dulu!" Raffasya kini lebih kencang menepuk kaca jendela itu, membuat Azkia akhirnya menurunkan kaca jendela mobilnya.
" Lu mau ke mana sekarang?" tanya Raffasya khawatir karena dia merasa saat ini pikiran Azkia tidak tenang atas peristiwa yang menimpa gadis itu.
" Aku mau ke mana nggak ada urusan sama Kak Raffa!" Azkia kini menoleh ke arah Raffasya. " Dan untuk masalah yang sudah terjadi dengan kita, aku nggak mau Papa Mama, Tante Mara dan Om Radit tahu soal ini! Anggap nggak pernah terjadi sesuatu antara kita di tempat ini!" Cairan bening kemudian menetes di pipi Azkia bersamaan kaca mobil yang kembali tertutup.
" May, tunggu dulu! Kita bicara baik-baik soal ini!" Raffasya kembali mengetuk kaca mobil Azkia namun Azkia tidak memperdulikan dan kemudian menjalankan mobilnya keluar dari halaman penginapan itu.
Air mata Azkia terus menetes hingga dia memilih menepikan mobilnya setelah menjauh dari penginapan. Azkia seketika terisak dengan menelungkupkan wajahnya di atas tangannya yang memeluk stir mobil.
" Astaghfirullahal adzim, Ya Allah ... kenapa aku harus mengalami hal ini?" sesal Azkia terus terisak hingga beberapa saat.
Azkia kemudian mengambil tas nya dari kursi belakang kemudinya. Dia mengambil ponselnya dan mendapati beberapa pesan dan panggilan tak terjawab dari Papanya, Mamanya, Adiknya, Neneknya dan juga Gibran, kekasihnya. Azkia mengusap kasar wajahnya. Apa yang harus dia katakan kepada mereka? Dia tidak ingin kejadian buruk yang dia alami diketahui oleh mereka semua. Azkia membayangkan jika mereka semua akan kecewa dan merasa sedih jika tahu jika dia kini bukan seorang gadis yang suci lagi.
Azkia menyandarkan kepalanya menengadah dengan mata terpejam. Dia kemudian melirik waktu yang ada di ponselnya yang menunjukkan pukul 20.15 lalu mengirimkan pesan kepada Natasha.
" Assalamualaikum, Ma. Maaf Kia tadi nggak bisa terima telepon. Kia ini baru selesai dan sekarang mau jalan ke rumah Nenek."
Tak butuh waktu lama, ponsel Azkia langsung berbunyi dan itu berasal dari Mamanya.
Azkia menghela nafas terlebih dahulu sebelum mengangkat panggilan telepon dari Mamanya.
" Assalamualaikum, Ma."
" Papa?"
" Kamu sejak siang dihubungi nggak diangkat, kenapa, Nak?" tanya Yoga kemudian.
Azkia menelan salivanya saat mendengar pertanyaan Papanya.
" Kia lagi di jalan ke rumah Nenek, Pa. Tadi Kia memang sedang ada kena masalah." Azkia mencari alasan yang tepat agar Papanya tidak curiga.
" Masalah? Masalah apa, Nak?" Suara Yoga terdengar cemas.
" Hmmm, orang yang mau bekerjasama dengan Alexa Butique ternyata penipu, Pa."
" Astaghfirullahal adzim, lalu bagaimana?" Yoga makin cemas.
" Semua sudah beres kok, Pa. Makanya ini Kia mau langsung ke rumah Nenek." Azkia berbohong kepada Papanya, tentu saja dia tidak berani mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya yang dijebak oleh komplotan orang yang mengaku ingin bekerjasama hingga akhirnya dia harus kehilangan mahkotanya sebagai seorang wanita.
" Ya sudah kamu hati-hati di jalan, ya! Kalau sudah sampai rumah Nenek kabari Papa atau Mama." Yoga menasehati.
" Iya, Pa."
" Papa tutup teleponnya sekarang ya, Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ...."
Azkia menjalankan mobilnya kembali setelah panggilan telepon dengan Papanya berakhir.
***
Setelah mobil Azkia meninggalkan halaman parkir, Raffasya mencoba hubungi Harlan. Dia meminta temannya itu menjemputnya di penginapan di mana dia dan Azkia tadi mengalami hal indah yang tidak mungkin akan bisa dia lupakan begitu saja.
" Cewek itu mana? Lu tinggal dia sendirian di sini?" tanya Harlan saat Raffasya naik ke dalam mobil Raffasya yang tadi dibawa oleh Harlan.
" Dia sudah pergi," sahut Raffasya diakhiri sebuah dengusan.
" Hahaha, itu yang namanya habis dipakai terus ditinggalin. Biasanya itu ceweknya yang ditinggalin, lah ini malah cowoknya yang ditinggal. Kasihan banget lu, Bro. Hahaha ..." Harlan terus saja meledek Raffasya.
" Berisik banget, lu! Sudah cepat jalan!" Raffasya menyuruh agar Harlan segera menjalankan mobilnya meninggalkan penginapan.
" Eh, serius gue tanya, kalian beneran sampai gituan, kan?" Harlan menyeringai.
" Kepo banget sih, lu!" Raffasya nampak terganggu dengan Harlan yang terlalu ingin tahu apa yang terjadi dengannya.
" Kepolah, kapan lagi gue lihat lu urusan sama cewek." Harlan kembali menyeringai. " Eh, berarti lu sama cewek itu beneran sudah enak-enak, ya? Wah sebentar lagi lu kawin, dong! Eh, nikah maksud gue, kawin mah sudah tadi." Harlan terbahak kencang hingga memekakkan telinga Raffasya,
" Berisik, lu!"
" Sekarag lu mau ke mana? Mau baik ke Jakarta atau menginap di rumah gue?" tanya Harlan kali ini lebih serius.
" Cariin gue hotel, deh!" ucap Raffasya.
" Kalau mau cari hotel ngapain juga lu keluar dari penginapan tadi?" tanya Harlan heran.
" Lu bawel banget sih, Lan! Tinggal ikuti saja apa yang gue mau!"
" Iya, iya, kepala lu masih pusing, ya? Akibat aktivitas tadi?" Harlan terkekeh.
" Kalau lu nggak diam, gue turunin lu di tengah jalan!" ancam Raffasya.
" Hahaha, yang pegang kemudinya saja gue, gimana lu mau turunin gue, Bro?" Harlan kembali tergelak, dia tahu jika Raffasya saat ini sedang merasa gugup karena pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya kepada pria itu.
***
Sekitar empat puluh menit waktu yang dibutuhkan Azkia untuk sampai ke rumah Mama Nabilla, Ibu dari Mamanya. Azkia kemudian turun dari dalam mobilnya dan berjalan menuju teras rumah Mama Nabilla. Azkia lalu memencet bel pintu rumah Mama Nabilla.
" Assalamualaikum ..." sapa Azkia saat pintu rumah Mama Nabilla terbuka dan menampakkan seorang gadis seumuran Aulia yang membukakan pintu untuknya.
" Waalaikumsalam, Teh Kia?" Lulu, adik sepupu dari keluarga Papa Farhan yang ternyata membukakan pintu untuknya.
" Nenek mana, Lu?" tanya Azkia.
" Nenek di kamar, Teh." Lulu kemudian mencium punggung tangan Azkia. " Sejak tadi Nenek tunggu Teh Kia. Kata Uwa Tata, Teh Kia mau mampir ke sini. Uwa Tata dari siang telepon Nenek tanya Teh Kia sudah sampai ke sini atau belum," sahut Lulu menjelaskan.
" Oh, ya sudah ... Teteh ke kamar Nenek dulu." Azkia kemudian berjalan ke arah kamar Neneknya itu.
Tok tok tok
" Assalamualaikum, Nek." Setelah mengetuk pintu Azkia kemudian membuka pintu kamar Neneknya.
" Waalaikumsalam ... Azkia? Kamu sudah sampai, Nak?"
Azkia melihat Mama Nabilla yang sedang duduk di kursi santai dengan memegang buku di tangannya.
" Iya, Nek." Azkia kemudian menghampiri Mama Nabilla untuk memeluk dan mencium tangan Neneknya.
" Mama kamu baru saja telepon Nenek, katanya kamu kena masalah, Masalah apa, Nak?" tanya Nenek Nabilla mengusap kepala Azkia.
" Nggak apa-apa kok, Nek. Semua bisa Kia atasi." Azkia tidak ingin membuat Neneknya itu cemas.
" Syukurlah kalau begitu."
" Nek, Kia lelah sekali, Kia mau istirahat, ya." Azkia berpamitan kepada Neneknya untuk segera masuk ke kamarnya.
" Ya sudah, istirahat dulu sana. Kia pasti capek sekali."
" Iya, Nek. Kia ke kamar dulu ya, Nek. Nenek juga cepat istirahat."
Setelah berpamitan meninggalkan kamar Neneknya, Azkia kini melangkah ke kamarnya di rumah Mama Nabila.
Azkia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur seraya memijat pelipisnya. Dia masih menyesali apa yang sudah terjadi dengan dirinya hari ini.
Ddrrtt ddrrtt
Azkia menoleh ke arah tasnya saat terdengar ponselnya berbunyi. Azkia lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya itu.
Azkia menghela nafas panjang saat dia melihat nama L❤️VE diponselnya itu. Hatinya serasa tercubit membayangkan seandainya Gibran tahu apa yang sudah terjadi dengannya saat ini. Gibran pasti akan kecewa bahkan mungkin meninggalkannya saat pria itu tahu jika kini kesuciannya telah terkoyak oleh pria lain.
Azkia mengusap kasar wajahnya. Dia sepertinya tidak mampu berkata-kata pada Gibran, hingga akhirnya dia memilih mengabaikan panggilan masuk dari kekasihnya itu.
Azkia lalu beranjak ke arah lemari dan mengambil bathrobe, karena dia ingin membersihkan tubuhnya dari noda yang melekat yang dia sendiri tidak tahu apakah noda itu akan bisa benar-benar luntur dari tubuhnya akibat aktivitas terlarang yang dia lakukan bersama Raffasya tadi.
Azkia memandang tubuhnya di depan cermin di kamar mandinya. Dia melihat beberapa tanda merah di beberapa bagian tubuhnya. Dia tahu bagaimana tanda itu berasal. Azkia memejamkan matanya. Masih terlintas di benaknya bagaimana perbuatan dosa yang dia dan Raffasya lakukan. Dan betapa malunya Azkia saat teringat betapa agresifnya dia tadi saat terus meminta Raffasya untuk menyentuhnya.
" Ya Allah ..." Azkia kembali menangis dengan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️