MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Jangan Lama-Lama



" Assalamualaikum, Ma." sapa Azkia saat sampai di rumah orang tuanya itu. Azkia mendapati Natasha serang mengatur orang untuk menyusun undangan wedding party nya akhir pekan ini.


" Waalaikumsalam ... Eh, Kia, Raffa ... kebetulan sekali kalian datang. Ini kartu undangan kalian sudah jadi siap untuk dibagikan," tutur Natasha menunjuk tumpukan kartu undangan di hadapannya.


Azkia mengambil satu undangan yang ada di meja ruang tamu rumahnya.



" Sudah ada yang dibagikan, Ma?" tanya Raffasya mengambil undangan dari tangan Azkia.


" Rencananya besok baru disebarkan. Untuk keluarga dan kerabat kamu sudah dipisahkan, barangkali mau kamu bagikan secepatnya," ujar Natasha.


" Untuk teman kamu juga sudah Mama pisahkan, Kia. Untuk teman kampus nanti minta bantuan Atika saja yang sebarkan, gimana?" Natasha meminta persetujuan dari Azkia.


" Terserah Mama saja, deh." sahut Azkia.


" Ma, Raffa permisi ke toilet," Raffasya berpamitan kepada Natasha untuk ke toilet seraya memegang perutnya.


" Silahkan, Raffa ..." sahut Natasha kemudian melirik ke arah Azkia yang terlihat terkikik melihat Raffasya yang sepertinya mengalami masalah dengan perutnya.


" Raffa kenapa, Kia?"


Azkia langsung menoleh ke arah Mamanya yang bertanya kepadanya.


" Apa, Ma?"


" Suami kamu kenapa?"


" Oh, habis Kia kerjai makan gurame cobek pedas, Ma." Azkia menyeringai mengaku kepada Natasha jika dia baru saja mengerjai suaminya.


" Ya ampun, Kia. Kamu jangan iseng seperti itu, kasihan kalau Raffa nanti sakit perut dan harus keluar masuk toilet. Apalagi sebentar lagi wedding party kalian, kalau Raffa sampai sakit, kamu juga yang repot, lho." Natasha menegur Azkia agar jangan terlalu keras terhadap suaminya sendiri.


" Tenang saja, Ma. Kia saja sering makan gurame cobek itu tapi nggak apa-apa, kok." sahut Azkia santai.


" Kamu 'kan biasa makan itu, kalau Raffa belum tentu terbiasa makan pedas. Lagipula kamu sedang hamil jangan makan pedas-pedas, Nak." nasehat Natasha.


" Justru karena Kia nggak makan pedas makanya sambalnya aku suruh Kak Raffa yang habiskan, Ma." Azkia menyeringai. Dan Natasha menggelengkan kepalanya menanggapi sikap putrinya itu.


***


Azkia memperhatikan suaminya yang beberapa kali keluar masuk ke dalam toilet. Bahkan seharian ini suaminya itu tidak ke cafe dan lebih banyak tertidur di kamar.


" Masih sakit perutnya, Kak?" tanya Azkia saat Raffasya keluar dari kamar mandi sembari memegangi perutnya.


Raffasya mengganggukkan kepalanya kemudian merebahkan tubuhnya kembali ke atas tempat tidur.


" Sudah minum obat belum?" Azkia merasa bersalah ternyata efek makan pedas membuat sakit perut Raffasya berkelanjutan.


Raffasya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Azkia.


" Minum obat dulu dong, Kak. Nanti kalau nggak minum obat, nggak akan sembuh-sembuh sakit perutnya." Azkia kemudian melangkah ke luar kamar Raffasya untuk mencari obat untuk sakit perut untuk sang suami.


" Bi Neng, ada obat sakit perut?" tanya Azkia kepada Bi Neng yang sedang duduk menonton televisi di dapur.


" Obat sakit perut untuk siapa, Mbak? Kalau orang hamil nggak boleh minum obat sembarangan, harus konsultasi ke dokter kandungan dulu, Mbak Kia." Bi Neng yang mengira Azkia mencari obat untuk Azkia langsung mengingatkan.


" Bukan buat aku kok, Bi Neng. Buat Kak Raffa." sahut Azkia.


" Oh, ada di kotak obat itu, Mbak." Bi Neng kemudian mengambilkan obat dan menyerahkannya ke Azkia. " Dilihat dulu expired nya, Mbak. Bi Neng setok obat enam bulan sekali, kalo ada yang habis baru dibeli." Bi Neng menerangkan.


" Kak, diminum dulu obatnya." Azkia menyuruh Raffasya yang sedang tidur meringkuk di atas tempat tidur dengan bergelung selimut.


Raffasya kemudian bangkit dan memposisikan tubuhnya duduk di atas tempat tidur dan mengambil obat yang diberikan oleh Azkia.


" Perutnya dioles cajuput oil biar hangat, Kak." Azkia mengambilkan minyak cajuput oil dari atas nakas. " Sini aku olesi perutnya, Kak." Azkia meminta Raffasya membuka bagian perutnya agar dia bisa obat oles penghangat itu. Azkia merasa dialah yang bertanggung jawab dengan kondisi Raffasya sekarang ini.


Raffasya menarik kaosnya ke atas hingga memperlihatkan perut kotak-kotaknya. Sementara Azkia langsung mengoleskan cajuput oil dan mengusap perut suaminya itu perlahan.


" Terus diusapnya sampai bawah perut."


Azkia sontak menoleh ke arah Raffasya saat mendengar ucapan Raffasya dan langsung terbelalak saat melihat suaminya itu menyeringai kemudian terkekeh.


" Masih sakit perut, Kak? Sudah minum obat belum? Perutnya dioles cajuput oil dulu biar hangat." Raffasya mengikuti ucapan Azkia yang tadi terlihat mengkhawatirkannya seraya terpingkal.


" Iiihh, Kak Raffa mengerjai aku, ya??" Azkia langsung memukuli tubuh Raffasya karena ternyata suaminya itu hanya berpura-pura sakit.


" Hahaha ..." Raffasya tertawa senang.


" Iiihh ...!" Azkia terus memukul lengan Raffasya. " Mana sini bawah perutnya? Aku kasih minyak ini sekalian biar panas!" Azkia menuangkan cajuput oil ke perut hingga turun ke bawah.


" Eh, eh ... jangan-jangan! Nanti kalau panas, kamu juga kena getahnya, lho. Kamu mau di sini rasanya jadi semriwing?" tangan Raffasya menyentuh daerah inti Azkia. Kemudian dia menjatuhkan tubuh Azkia hingga kini tubuh istrinya itu berada di bawah tubuhnya.


" Iiihh, awas ...!!" Azkia ingin melepaskan diri dari kungkungan tubuh Raffasya yang berada di atasnya. " Kak Raffa mengerjai aku, kan?!"


" Iya, memangnya kenapa? Kamu saja bisa mengerjaiku, kenapa aku nggak boleh mengerjai kamu?" Raffasya langsung menautkan bibirnya ke bibir Azkia, merasakan daging kenyal yang terasa lembut walaupun kalimat-kalimat yang terlontar dari bibir istrinya itu kadang terdengar sepedas sambal gurame cobek.


Bibir Raffasya terus bergerak tidak hanya menikmati bibir manis Azkia, namun mulai memutari wajah Azkia dan juga membasahi leher Azkia.


Selepas menguasai bagian atas tubuh Azkia, kini Raffasya turun ke bagian dada istrinya setelah dia berhasil melepas satu persatu kancing pakaian yang dikenakan oleh Azkia apalagi saat Azkia tidak menolak apa yang dilakukannya.


Raffasya terlihat asyik menjajah bagian kembar milik Azkia seakan ingin menegaskan bahwa dialah penguasa seluruh tubuh Azkia dari ujung kepala sampai ujung kaki.


" Aakkhh ... Kak, sudah ...!" Azkia meminta Raffasya menghentikan aktivitasnya, kerena Azkia sendiri sudah mulai terbuai dengan sentuhan yang dilakukan oleh suaminya itu.


" Itunya aku rasanya sakit kalau hubungan lagi." Azkia mengatakan jika intinya merasa tidak nyaman kalau harus melakukan hubungan badan lagi saat ini. " Jangan sekarang ..." lanjutnya.


Raffasya kemudian menghentikan aktivitasnya saat mendengar ucapan istrinya. Dia lalu menjatuhkan tubuhnya di samping dengan posisi menghadap ke tubuh Azkia dan tangan kokoh Raffasya memeluk tubuh Azkia.


" Kepalaku bisa meledak kalau sering setengah jalan begini, May." bisik Raffasya di telinga Azkia membuat Azkia menelan salivanya. Dia bisa mendengar suara Raffasya yang sepertinya tersiksa menahan ga irah.


" Ya sudah, tapi jangan lama-lama, Kak. Sebentar saja." Akhirnya Azkia mengijinkan Raffasya mengunjungi bayinya dengan syarat.


Tentu saja ucapan Azkia langsung disambut baik oleh Raffasya hingga kini dia langsung menaiki tubuh istrinya kembali dan mulai menguasai tubuh istrinya untuk menuntaskan aktivitas bercinta yang tadi sempat tertunda.


*


*


*


Bersambung


Hari ini segini saja dulu ya, otakku rasanya ngehank berasa dikejar setoran, nih.


Kalo ada readers yg tanya knp tgl wedding party Kia-Raffa bulan Maret karena dua bulan sebelum wedding day nya Rayya-Rama.😁


Happy Reading❤️