
Kehamilan Azkia sudah memasuki usia tiga bulan, dan Azkia memilih untuk melanjutkan kuliahnya, setelah mendapatkan persetujuan dari Raffasya, walaupun awalnya melewati perdebatan yang sangat panjang. Azkia ingin kuliahnya cepat selesai sementara Raffasya tidak ingin Azkia kelelahan, apalagi kemungkinan Azkia akan menghadapi teman-teman di kampusnya jika mengetahui kehamilan Azkia saat ini. Dan setelah bertukar pikiran dengan Yoga akhirnya Raffasya mengijinkan Azkia kembali ke kampusnya.
" Lu masih mengalami mual-mual, Az?" tanya Atika kepada Azkia saat mereka menyelesaikan mata kuliah terakhir dan berjalan keluar kelas.
" Sudah jarang, Tik. Kalaupun gue mual, gue tinggal mencium pakaiannya Kak Raffa saja, mualnya langsung hilang. Ya seperti itulah bayi gue ini, kepinginnya cium aroma Papanya." Azkia menyeringai.
" Itu sih bukan baby nya yang kepingin, tapi lu nya saja kali yang kecanduan nyium tubuh suami lu! Bucin lu lama-lama ...!" cibir Atika menanggapi cerita Azkia.
" Enak saja ngatain gue bucin! Bukan gue kali yang bucin! Kak Raffa itu yang bucin, yang maunya terus-terusan peluk gue, cium gue," sanggah Azkia menolak disebut sudah berubah bucin terhadap Raffasya.
" Iya deh iya, terserah lu saja mau menampik apapun juga." Atika lebih memilih mengalah dari Azkia karena dia paham bagaimana sikap keras kepala Azkia.
" Eh, Kia ... lu sedang hamil ya sekarang?" Salah seorang mahasiswi bernama Mayang yang melintas di hadapan Azkia tiba-tiba bertanya kepada Azkia.
Azkia menjawab pertanyaan sesama mahasiswi kampusnya itu dengan senyuman.
" Cepat juga lu hamilnya. Oh ya, sudah dapat berapa bulan usia kehamilan lu?" tanya mahasiswi lainnya bernama Denisa.
Azkia melirik ke arah Atika mendengar pertanyaan seputar usia kehamilannya.
" Waktu mau nikah, Azkia baru selesai datang bulan, terang saja jadi cepat tumbuh janin di sini." Atika menjawab pertanyaan mahasiswi tadi.
" By the way, cowok lu yang dulu ke mana? Gue pikir lu nikah itu sama cowok lu, soalnya lu lengket banget sama cowok lu itu." Mayang kembali bertanya karena merasa penasaran. Sebenarnya bukan dia seorang, hampir semua yang mengenal Azkia, merasa heran saat mengetahui ternyata bukan Gibran yang menikah dengan Azkia, karena yang mereka ketahui selama ini kekasih Azkia itu adalah Gibran, pria yang sering menjemput Azkia dan juga merupakan lulusan dari kampus mereka.
" Sorry, sekarang ini Azkia sudah menikah jadi jangan mengungkit lagi tentang cowok lain." Atika langsung menegur mahasiswi tadi. " Lagipula yang namanya jodoh itu hanya Tuhan yang tahu." Atika pasang badan berusaha melindungi Azkia dari teman-teman kampusnya.
" Memang ada yang salah dengan pertanyaan kita? Wajar dong kita tanya, karena selama ini cowok yang selalu dekat dia itu cowok yang dulu pernah kuliah di sini, tiba-tiba sekarang nikah sama pria lain, mendadak pula. Kan aneh kelihatannya." Mayang sepertinya merasakan ada yang aneh dengan pernikahan Azkia dan Raffasya.
" Eh, kalian nggak usah julid, ya! Nggak tahu siapa yang sedang kalian julidin ini?" Atika merasa gerah dengan komentar mahasiswi satu kampusnya itu.
" Memangnya kalau dia anaknya dosen kenapa? Nggak mesti kita puji-puji juga, kan?" sahut Mayang yang tidak memperdulikan jika Azkia adalah anak dosen mereka sekalipun.
" Memangnya masalah lu itu apa, sih? Mau gue nikah sama cowok gue atau bukan. Mau gue nikahnya mendadak atau nggak. Memang apa urusannya sama lu? Memang gue merepotkan lu? Memang gue hidup minta dibiayai lu? Minta makan sama lu? Repot banget lu urusin kehidupan gue!" Azkia yang terpancing oleh perkataan Mayang mendadak langsung tersulut emosi.
" Az, sabar ... lu sedang hamil, nggak usah meladeni mereka! Kita pergi saja ..." Atika langsung menarik lengan Azkia agar pergi menghindari Mayang dan Denisa.
" Nggak usah didengar apa yang mereka katakan, Az. Lu mesti menjaga janin di perut lu. Apapun orang bilang tentang lu, biarkan saja! Mereka sendiri belum tentu lebih baik dari kita." Atika memcoba menenangkan Azkia dan menyemangati Azkia agar tidak terpengaruh oleh mereka-mereka yang bermulut nyinyir.
" Gue kesal, Tik. Mereka nggak tahu masalah yang terjadi tapi mulutnya Naudzubullah min dzalik." ujar Azkia mengungkapkan kekesalannya.
" Ya begitulah. Lu sudah mengambil keputusan untuk lanjut kuliah dengan kondisi lu sekarang ini. Jangan heran kalau akan ada yang menggosipkan lu begini. Mungkin itu juga alasan kenapa suami lu melarang lu melanjutkan kuliah saat lu hamil begini."
Azkia mendengus kasar, rasa kecewa dan marah kembali menjalar di hatinya.
Ddrrtt ddrrtt
Suara ponsel Azkia di tasnya berbunyi, membuat dia mengambil alat komunikasinya itu. Azkia melihat nama Raffasya yang muncul di layar ponselnya, dan sebuah pesan masuk dari sang suami.
" Aku sudah di depan kampus, kamu sudah selesai kuliah belum kuliahnya,?"
" Tik, gue duluan, deh. Kak Raffa sudah di depan." Azkia berpamitan kepada Atika karena suaminya sudah menjemputnya.
" Oh, ya sudah, hati-hati, Az. Ingat, jangan stres mikiran mereka yang nyinyir." Atika kembali memeperingatkan.
" Oke, Tik. Bye ..." Azkia kemudian berjalan meninggalkan Atika terlebih dulu ke arah luar kampus menemui Raffasya sementara Atika berjalan menuju parkiran untuk mengambil mobilnya.
Sesampainya di mobil Raffasya, Azkia langsung masuk dan mendudukkan tubuhnya dengan wajah memberengut.
" Kenapa cemberut?" tanya Raffasya melihat wajah istrinya yang ditekuk.
" Bukannya Kak Raffa sudah sering lihat wajah aku cemberut?" Azkia menyahuti.
" Aku memang sering melihat wajah cemberut kamu kalau sedang marah sama aku. Tapi sekarang ini kamu nggak sedang marah sama aku, kan? Aku nggak telat jemput kamu, kan?" Raffasya merasakan sesuatu hal terjadi yang membuat Azkia memberengut.
" Nggak ada apa-apa." Azkia berbohong kepada Raffasya dengan mengatakan jika dia tidak mengalami kejadian apa-apa.
" Jangan bohong sama aku! Apa ada orang yang mengusik kamu?" Raffasya mencoba menebak.
" Sudahlah nggak usah dibahas! Buruan jalan, deh!" Azkia meminta agar Raffasya segera menjalankan mobilnya dan meninggalkan area kampusnya.
Raffasya mengikuti apa yang diminta oleh istrinya. Dia kemudian membawa Azkia ke restoran seafood karena Azkia menginginkan menu makan siang cah kangkung dan udang goreng mentega.
" Kita makan di sini saja, ya? Makanan di sini enak," ucap Raffasya saat memarkirkan mobilnya di pekarangan sebuah restoran Chinese food.
Setelah turun dari mobilnya, Raffasya membukakan pintu untuk Azkia dan mengulurkan tangannya untuk pegangan Azkia yang akan turun dari mobil. Raffasya lalu melingkarkan tangannya di pundak Azkia dan berjalan masuk ke dalam restoran.
" Selamat datang di Leo Sandra Restoran, silahkan ..." seorang pegawai restoran menyambut Azkia dan Raffasya.
" Makasih, Mbak." ucap Raffasya kemudian mencari meja tempat dia dan Azkia akan makan, sementara pegawai itu mengikuti langkah Raffasya dan Azkia.
Sesampainya di meja yang dipilih, Raffasya lalu menarik kursi dan mempersilahkan Azkia duduk terlebih dahulu.
" Silahkan, mau pesan apa, Mas, Mbak?" Pelayan restoran tadi menyerahkan buku menu makanan.
" Aku minta cah kangkung sama udang goreng mentega ya, Mbak. Minumnya air mineral sama orange juice" Azkia memilih menu pesanannya.
" Aku pesan bihun goreng seafood sama air mineral saja, Mbak." sahut Raffasya.
" Baik, saya siapkan dulu pesanannya." Setelah mencatat pesanan Raffasya dan Azkia, pelayan itu kemudian meninggalkan pasangan suami istri itu.
" Bagaimana kuliah hari ini?" tanya Raffasya sambil menunggu pesanan makanan.
" Biasa saja," sahut Azkia.
" Lalu kenapa jadi cemberut tadi?" Raffasya menyampirkan helaian rambut Azkia ke belakang telinga dengan jari tangannya. Dia masih penasaran apa yang membuat istrinya itu terlihat kesal. " Apa ini menyangkut kehamilan kamu?"
" Iya, mereka merasa aneh karena aku mendadak menikah dan sekarang sudah hamil." Azkia mencebikkan bibirnya.
" Itulah alasan aku nggak mengijinkan kamu kuliah sekarang ini, tapi kamu maksa ingin tetap kuliah dengan alasan bosan di rumah."
" Jadi Kak Raffa menyalahkan aku, gitu?" Azkia merasa kalau Raffasya justru menyalahkannya atas keputusannya melanjutkan kuliah.
" Aku bukan menyalahkanmu. Kamu jangan salah paham begitu, dong." Kini kepala Azkia yang dibelai oleh Raffasya. Sejak menikah, Raffasya memang benar-benar ingin merubah hidupnya menjadi lebih baik. Terlebih lagi dia akan mempunyai anak, sudah pasti dia berusaha menjadi sosok suami dan Ayah yang baik untuk istri dan juga anaknya.
" Ya sudahlah, jangan bicarakan itu." Azkia meminta Raffasya tidak membahas masalah yang dirinya hadapi di kampusnya.
" Kalau ada teman yang nyinyirin kamu lagi, kamu kasih tahu aku, nanti aku beri mereka pelajaran agar mereka tidak macam-macam sama kamu," ujar Raffasya terkekeh membuat Azkia memutar bola matanya, hingga pandangannya tertuju pada dua orang wanita yang turun dari tangga lantai atas bangunan restoran. Seketika hatinya seolah tersulut emosi dengan gigi yang seketika mengerat mendapati dua orang wanita yang muncul di hadapannya itu. Azkia bahkan langsung bangkit dari duduknya dengan tangan mengepal.
Raffasya dan terkejut mendapati sikap Azkia yang berdiri dengan menatap tajam ke depan membuat dirinya mengikuti arah pandangan Azkia. Tak kalah dengan Azkia, Raffasya pun terlihat terkejut mendapati Gladys dan Shandy yang sama-sama menggunakan kaca mata hitam terlihat berjalan ke arah kasir. Dia lalu menoleh kembali ke arah istrinya.
" Kamu di sini saja!" Raffasya meminta Azkia untuk duduk kembali. Dia sendiri langsung berjalan mendekati Gladys dan Shandy.
" Akhirnya gue bisa menemukan lu, Gladys!" Raffasya yang berhenti di belakang Gladys dan Shandy langsung menyapa kedua wanita cantik itu.
Gladys dan Shandy sontak memutar tubuhnya saat mendengar suara Raffasya yang berbicara kepada Gladys. Sontak kedua wanita itu langsung terperanjat dan terlihat ketakutan.
" R-Raffa?" Gladys menyapa dengan wajah memucat.
" Kenapa ketakutan lihat gue? Seperti lihat hantu?" sindir Raffasya melihat Gladys yang ketakutan melihatnya.
" Lu tahu, gue sedang mengumpulkan bukti atas kejahatan lu yang menjebak Almayra!" Kalimat yang diucapkan oleh Raffasya terdengar menakutkan untuk Gladys juga Shandy.
" Raffa, tolong maafkan aku, semua ini ... semua ini karena dia!" Gladys melimpahkan kesalahan kepada Shandy.
" Kok aku?" Shandy terkesiap saat Gladys melimpahkan kesalahan kepadanya.
" Kamu 'kan yang suka sama Gibran, kamu bilang cewek itu saingan kamu buat mendapatkan Gibran." Gladys tetap melemparkan kesalahan dan seakan ingin cuci tangan.
.
" Tapi yang punya rencana menjebak cewek itu 'kan kamu, Dys. Kamu yang merencanakan semuanya." Shandy tidak terima disalahkan sendiri oleh Gladys.
" Siapapun yang punya rencana, kalian berdua sama-sama terlibat dan sama-sama bersalah. Dan kalian akan menerima balasan atas apa yang kalian lakukan kepada Almayra!" Raffasya menebarkan ancaman membuat kedua wanita di hadapannya semakin ketakutan.
" Raffa, tolong maafkan aku. A-aku nggak bermaksud menyakiti cewek itu." Gladys langsung melingkarkan tangannya di lengan Raffasya seperti yang biasa dia lakukan kepada pria itu.
" Nggak usah kecentilan jadi cewek!" Sebuah pukulan mengenai tangan Gladys membuat wanita itu terkejut.
***
Azkia yang diminta oleh Raffasya untuk duduk menunggu di meja memperhatikan suaminya yang menghampiri dua dari tiga wanita yang pernah menjebaknya.
Azkia bisa melihat kedua wanita itu terlihat kaget bahkan ketakutan dengan keberadaan Raffasya di hadapan mereka.
" Dasar manusia-manusia licik!" Azkia rasanya tidak bisa menerima tindakan kedua wanita itu yang hampir mencelakainya.
" Permisi, Mbak." Pelayan restoran tadi datang membawakan pesanan makanan untuk Azkia dan juga Raffasya.
" Makasih, Mbak." sahut Azki kepada pelayan itu.
Menatap hidangan yang tersedia di hadapannya dan aroma yang menggoda, ingin rasanya Azkia segera menyantap hidangan itu, namun dia harus menelan salivanya saat dia teringat suaminya masih belum selesai mengurus kedua wanita licik, Gladys dan Shandy, hingga Azkia menole ke arah Raffasya.
Mata Azkia langsung terbelalak saat melihat Gladys sedang melingkarkan tangannya di lengan Raffasya dan bergelayut manja.
" Dasar ulet bulu, kegatelan banget nempel-nempel sama suami orang!" Azkia kemudian mengambil buku menu di meja sebelahnya kemudian berjalan menghampiri Gladys.
Buugghh
" Nggak usah kecentilan jadi cewek!" Azkia langsung memukuli tangan Gladys yang memegang tangan Raffasya.
" Kamu??" Ekspresi wajah Gladys terlihat tidak suka dengan kehadiran Azkia di sana.
" Iya, ini gue. Kenapa memangnya?" Azkia kini melipat tangan di dadanya. " Lu berdua sengaja menjebak gue, kan? Yang satu terobsesi dengan Kak Raffa yang satu lagi nggak punya malu ingin merebut pacar orang!" Azkia menyindir Gladys dan Shandy. " Kalian bekerja sama untuk memenuhi ambisi kalian mendapatkan Kak Raffa dan Kak Gibran. Dan setelah perbuatan kalian terbongkar kalian malah saling melempar kesalahan. Ironisnya kedua pria yang kalian kejar justru nggak kalian dapatkan." Azkia tersenyum sinis mencibir mereka berdua.
Gladys dan Shandy saling lirik mendengar sindiran Azkia.
" Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan untuk menebus kesalahan kalian?" tanya Raffasya seraya merangkulkan tangannya ke pundak Azkia. Tindakan Raffasya sontak membuat Gladys dan Shandy terkesiap.
" Kamu ingin mereka lakukan apa, May?" tanya Raffasya menoleh ke arah Azkia.
Azkia yang merasakan keterjutan Gladys dan Shandy dengan sikap Raffasya terhadapnya langsung melingkarkan tangannya di pinggang Raffasya seraya menyandarkan kepalanya di dada suaminya, sengaja ingin memanas-manasi Gladys.
" Menuruk Kak Raffa, enaknya mereka kita apakan?" Azkia bersikap manja kepada Raffasya membuat Gladys menatap sinis karena dia merasa cemburu kepada Azkia yang sedang memeluk Raffasya. Dia sama sekali tidak menyangka jika Azkia dan Raffasya bisa menjadi sein tim seperti sekarang ini.
" Apapun yang kamu mau, pasti akan aku lakukan untuk memberi mereka pelajaran." Seringai tipis terukir di sudut bibir Raffasya, dia pun lalu menatap istrinya. " Siapapun yang mengusikmu, aku pasti akan membalasannya untukmu." Raffasya mengucapkan ikrarnya.
" Aku rasa kita tak perlu menambah dosa dengan menghukum mereka, Kak. Dia ingin memiliki Kak Gibran, tapi aku yakin setelah Kak Gibran tahu siapa orang yang sudah menjebakku, Kak Gibran nggak akan mau memaafkannya. Dan Dia ..." Azkia kini melirik arah Gladys yang terbakar cemburu dengan kemesraan Azkia dan Raffasya.
" Dia itu 'kan cemburu karena Kak Raffa nggak pernah menanggapi dia, apalagi sekarang ini kalau dia tahu, kita sekarang sudah menikah, pasti semakin kebakaran jenggot." Senyum sinis kembali Azkia berikan saat menatap Gladys.
" Kamu benar, May. Apalagi sekarang sudah tumbuh junior di sini." Tangan kiri Raffasya mengusap perut Azkia. " Rencana lu yang ingin membuat gue jauh dari Almayra justru membuat kami jadi semakin dekat," lanjut Raffasya tersenyum mengolok Gladys.
" Kak, makan yuk, aku sudah lapar, nih." Azkia kemudian mengajak Rafasya kembali ke mejanya.
" Ayo ..." Raffasya menyetujui permintaan Azkia. " Kalian berdua, coba saja kalau kalian masih berani mengusik istri gue! Jangan kalian pikir kalian bisa lepas dari pantauan gue!" Sebelum kembali ke meja mereka, Raffasya sempat memberikan ancaman untuk Gladys dan Shandy.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️