MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Apa Terlihat?



Azkia dan Raffasya tergesa-gesa mengenakan pakaiannya setelah mereka berdua kepergok Natasha yang secara tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.


" Kak Raffa kenapa nggak kunci pintunya, sih?" keluh Azkia sambil mengenakan pakaian dan berjalan ke kamar mandi karena ingin membersihkan sisa-sisa percintaan yang mungkin masih tertinggal di intinya.


" Aku 'kan nggak tahu kalau Mama akan masuk tiba-tiba kayak gini. Dan aku juga nggak menyangka kalau kamu kebelet minta jatah sama aku." Raffasya menyeringai sambil mengekori langkah Azkia untuk membersihkan alat tempurnya sambil memberi alasan.


" Mama 'kan jadi lihat tadi, Kak. Malu-maluin saja, ih!" Azkia memberengut.


" Lagian Mama kamu masuk nggak ketuk pintu dulu, langsung nyelonong saja." Raffasya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. " Tapi Mama kamu juga pasti memaklumi kalau anaknya lagi kangen sama suaminya, deh." Raffasya kembali tertawa kecil. " Atau kita sekarang ulangi lagi adegan tadi tapi pintunya aku kunci dulu?" Raffasya malah menggoda Azkia.


Azkia melirik ke arah Raffasya saat mendengar ucapan nyeleneh suaminya kemudian keluar dari kamar mandi untuk menemui Mamanya diikuti oleh Raffasya yang juga segera mengenakan pakaiannya.


" Ma ..." Azkia langsung menunduk malu saat membuka pintu kamar terlihat Natasha keluar dari kamar Aulia dan Aliza.


" Kalian ini kalau mau begituan pintunya dikunci, dong! Untung saja bukan adik-adik kamu yang tadi lihat." Natasha langsung menegur Azkia dan Raffasya sambil menahan tawa.


" Maaf, Ma." Azkia dan Raffasya menjawab bersamaan.


" Mama kenapa nggak ketuk pintu dulu tadi?" tanya Azkia memberanikan diri menatapkan ke arah Mamanya.


" Mana Mama tahu kalau suami kamu ada di kamar," sahut Natasha yang sesungguhnya pun merasa malu karena memergoki pasangan yang sedang berji ma, apalagi pasangan yang dia lihat itu adalah anak dan menantunya sendiri.


" Kamu kok bisa ada di sini?" Natasha bertanya kepada Raffasya namun arah pandangannya kini beralih kepada Azkia yang menduga jika Azkia telah menghubungi Raffasya.


" Tadi Kak Raffa langsung ke sini waktu tahu aku nggak ada di rumah, Ma." Azkia yang menjawab pertanyaan Mamanya.


" Ya sudah ayo cepat kita ke kamar Mama." Natasha tidak ingin membahas lebih lanjut urusan Azkia dan Raffasya. Dia lalu menyuruh anak menantunya itu bersiap memberikan ucapan ulang tahun kepada Yoga.


***


Natasha membuka pintu kamarnya secara perlahan dan berjalan mengendap ke dalam kamarnya dengan bolu ulang tahun di tangannya, diikuti oleh anak-anak dan menantunya minus Alden yang masih kuliah di Australia.


Sesampainya di dekat tempat tidur, Abhinaya langsung menyalakan api di lilin angka lima puluh yang tertancap di bolu ulang tahun itu.


" Surprise ... Happy Birthday, Pa." Setelah Aulia menyelesaikan tugasnya menyalakan lampu kamar, seluruh keluarga pun langsung membangunkan Yoga yang sedang tidur terlelap hingga membuat pria paruh baya itu menggeliat dan mengerjapkan mata.


" Selamat ulang tahun, Mas. Semoga berkah, sehat selalu, lancar rejekinya dan selalu sayang sama keluarga." Natasha lebih dulu memberikan ucapan selamat dan doa dengan memeluk juga memberikan kecupan singkat di bibir suaminya itu. Sebelumnya dia terlebih dahulu menyerahkan bolu ke tangan Abhinaya.


" Aamiin Ya Rabbal Alamin, Makasih, Yank" sahut Yoga.


" Tiup lilinnya dululah, Pa. Nanti keburu meleleh." Abhinaya menyodorkan bolu ulang tahun ke depan Papanya itu.


" Tiup lilinnya ... tiup lilinnya ... tiup lilinnya sekarang juga ..." Natasha dan anak-anaknya serta Raffasya ikut bernyanyi seraya menepuk tangan.


" Wah, sudah kepala lima Papa, ya?" Yoga terkekeh memandang angka lilin itu.


" Tapi Papa masih ganteng dan gagah, kok!" Azkia langsung menyahuti.


Setelah berdoa terlebih dahulu Yoga pun meniup lilin yang tertancap di bolu ulang tahunnya.


" Happy birthday ya, Pa. Semoga tetap menjadi Papa terbaik dan panutan untuk kami semua." Abhi mengucapkan selamat dengan memeluk tubuh Yoga.


" Aamiin, makasih, Nak." sahut Yoga


" Happy bithday, Papa."


" Panjang umur, selalu diberi kesehatan dan banyak rejeki ya, Pa."


Aulia dan Aliza bergantian mengucapkan selamat kepada Papanya.


" Aamiin, makasih anak-anak gadis Papa." Yoga memeluk dan mengecup kening kedua putrinya.


" Selamat ulang tahun ya, Pa. Semua doa terbaik untuk Papa." Kini giliran Azkia yang memberikan ucapan kepada Yoga dengan memeluk dan menangis dalam pelukan tubuh Yoga.


" Makasih, Sayang. Papa juga selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu, Nak." Yoga pun memberikan kecupan di kening Azkia.


" Selamat ulang tahun, Pa. Terima kasih Papa sudah menjaga Almayra selama ini untuk Raffa." Raffa juga tidak ingin kalah dengan yang lainnya ikut memberikan ucapan selamat juga.


" Kamu kapan datang, Raffa?" tanya Yoga yang menerima ucapan selamat dan pelukan dari menantunya itu.


" Hmmm, tadi jam sepuluhan, Pa." sahut Raffasya.


" Jangan terlalu diforsir tenaga dan pikiran kamu, Raffa. Ingat kesehatan kamu. Kamu sekarang ini sudah bukan pria lajang lagi, ada istri dan calon anak kamu. Kamu juga harus memikirkan mereka." Yoga menasehati Raffasya karena mengetahui Raffasya belakangan selalu pulang larut.


" Iya, Pa." sahut Raffasya merasa tidak enak hati ditegur Papa mertuanya di depan adik-adik iparnya.


" Dan kalau kamu menelantarkan Kia, Mama akan bawa Kia pulang ke rumah ini lagi!" Natasha menimpali dengan ancaman.


Sontak saja ucapan Natasha membuat semua yang ada di kamar itu memusatkan pandangan ke arah Natasha dan suasana menjadi sedikit menegang.


Ddrrtt ddrrtt


Untung saja dering telepon dari ponsel Natasha di atas nakas menyelamatkan Raffasya yang seperti sedang disidang oleh kedua mertuanya.


Natasha langsung meraih ponselnya dan mengangkat panggilan video call yang berasal dari Alden.


" Assalamualaikum, Al." sapa Natasha saat mengangkat video call dari anak pertamanya itu.


" Waalaikumsalam, Ma. Papa mana?" tanya Alden.


" Papa ada, nih ..." Natasha lalu memberikan ponselnya itu kepada suaminya.


Sementara Yoga berbincang dengan Alden,. Azkia langsung menggenggam tangan suaminya. Dia tahu perkataan Papa dan Mamanya tadi membuat Raffasya tidak enak hati. Namun Azkia mencoba menegarkan suaminya itu dengan memberi gengaman tangan kemudian dia merubah posisinya berada di depan Raffasya dan meminta suaminya itu memeluknya dari belakang.


***


Hampir satu jam Yoga berbincang di kamar bersama anak-anaknya, setelah itu semua kembali ke kamar masing-masing.


" Mas, tahu nggak apa yang tadi aku lihat?" Natasha yang merasa geli sendiri saat mendapati anak dan menantunya itu sedang melakukan hubungan in tim tak kuasa untuk menyembunyikan hal itu kepada suaminya.


" Memang kamu lihat apa tadi? Hantu?" tanya Yoga menjawab enteng perkataan Natasha.


" Hahaha, lebih menyeramkan dari hantu malah, Mas."


" Apa sih, Yank? Kok aku makin penasaran, ya?"


" Aku tadi masuk kamar Kia, ternyata dia sama suaminya lagi begituan. Mas."


Yoga langsung menatap serius istrinya dan berkata, " Maksudnya, Yank?"


" Mereka lagi berhubungan in tim." Natasha terkikik.


" Hahh? Kamu lihat itunya Raffa?" tanya Yoga terkesiap.


" Nggak sih kayaknya, Mas. Soalnya terhalang tubuh Kia." Natasha menjelaskan.


" Nggak kebayang kalau sampai terlihat." Natasha masih merasa geli jika mengingat kejadian tadi di kamar Azkia. Namun tiba-tiba dia pun teringat akan masa lalunya bersama Yoga. " Aku jadi ingat kejadian kita dulu saat kepergok Sinta waktu kita bercinta di ruanganku. Mas ingat nggak?"


" Hmmm, yang mana, ya?" Sebenarnya Yoga ingat apa yang dimaksud istrinya namun dia pura-pura tidak mengingat.


" Kejadian di ruangan kerja aku di butik waktu kita asyik main di sofa terus tiba-tiba Sinta muncul bawa bajuku yang Mas minta." Natasha mencoba membuka kembali ingatan Yoga.


" Oh yang waktu itu kamu habis beraksi kayak preman, bertengkar sampai cakar-cakaran sama temannya si Adelia itu, kan?" Yoga pun terkekeh jika mengingat kelakuan istrinya dulu.


" Oh iya-iya, ah ... memalukan sekali kalau ingat hal itu, Mas." Natasha menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


" Hmmm, kalau habis lihat adegan in tim secara live, pasti kepingin praktekin, dong?" Yoga menyeringai mendekat ke arah Natasha.


" Sudah jam satu, Mas. Besok Mas Yoga berangkat pagi, kan?"


" Nggak masalah, masih ada waktu. Kita main sejam saja setelah itu tidur lagi." Yoga memeluk dan menciumi wajah Natasha dan mulai menjatuhkan tubuh istrinya di atas tempat tidur.


" Mas, iihh ...."


" Kenapa? Aku minta kado istimewa dari kamu lho, Yank." Yoga tak memperdulikan Natasha yang terlihat tidak terlalu berminat melakukan hubungan suami istri karena dia berpikir suaminya besok akan berangkat bekerja. Namun Yoga sudah mengurung tubuh Natasha dan memulai aktivitas percintaan mereka dini hari itu.


Sementara di kamar Azkia ...


" Kak, omongan Mama tadi jangan dimasukan ke hati, ya? Tapi Kak Raffa juga harus dengar apa yang Papa bilang tadi. Kak Raffa harus mementingkan kesehatan Kak Raffa, dan harus ingat sama anak dan istri." Azkia memeluk tubuh suaminya.


" Iya, May. Aku nggak akan meninggalkan kamu lagi sendirian lama-lama di rumah. Aku nggak mau kamu kecewa sama aku terus kembali ke mantan kamu."


Azkia menoleh ke arah Raffasya mendengar suaminya itu menyinggung nama Gibran.


" Kok Kak Raffa sampai kepikiran seperti itu, sih?" tanya Azkia mengeryitkan keningnya.


" Aku takut kamu ninggalin aku, May." Raffasya membalas pelukan istrinya.


" Oh ya, May. Ngomong-ngomong Mama tadi melihat punyaku nggak ya, May?" Tiba-tiba Raffasya membahas soal hubungan in tim mereka yang kepergok Natasha.


" Nggak deh kayaknya, Kak. Kan punya Kak Raffa belum dilepas tadi." Azkia terkikik.


" Syukurlah, kalau sampai terlihat aku khawatir Mamamu jadi kepingin ..." Raffasya terkekeh yang langsung dibalas dengan cubitan dan mata melotot Azkia.


" Kan repot kalau Mama sama anak rebutan aku ..." Raffasya justru tertawa puas meledek istrinya itu.


" Sudah, ah. Cepetan tidur, aku sudah mengantuk. Besok kita ke bank pindahkan dana ke rekening Kak Raffa."


" Nggak usah besok, May. Nanti saja, kamu pengang dulu saja. Biar nanti pakai uangku dulu." Raffasya ingin menggunakan uangnya terlebih dahulu sebelum dia menggunakan uang milik Azkia.


" Ya sudah, terserah Kak Raffa saja. Kita tidur yuk, Kak. Aku belum tidur, nih. Ngantuk banget ...."


" Ya sudah, ayo tidur ..." Raffasya langsung mengajak istrinya itu untuk segera mengistirahatkan tubuhnya di atas tempat tidur.


***


Raffasya memenuhi janjinya yang tidak akan meninggalkan Azkia hingga hari ini dia membawa istrinya itu ke Raff Caffee. Bagaimanapun juga dia harus menganggap serius ancaman Mama mertuanya.


" Permisi, Mas Raffa. Ada tamu yang bertemu, namanya Pak Sony." Adam yang masuk ke ruangan Raffasya memberitahukan kedatangan Sony yang ingin bertemu dengan Raffasya.


" Sony? Mau apa lagi sih Dia?" Raffasya terkejut saat mengetahui orang yang pernah menghubungi kemarin kini justru sudah berada di cafenya.


" Memang siapa dia, Kak?" tanya Azkia penasaran.


" Aku juga nggak tahu, May. Tapi orang itu menawarkan diri untuk menanamkan modal di La Grande bahkan menawar ingin membeli cafeku itu." Raffasya menjelaskan. " Padahal kemarin sudah aku tolak dengan tegas, tadi kenapa orang itu masih saja ngotot ingin bertemu?" Raffasya benar-benar tidak tahu maksud dan tujuan Sony sebenarnya.


" Ya sudah tolak saja kalau begitu, Kak." ujar Azkia menyarankan.


" Suruh dia masuk, Dam. Gue penasaran, apa mau dia sebenarnya." Raffasya justru menyuruh Adam mengijinkan Sony masuk ke dalam.


" Baik, Mas." Adam kemudian keluar untuk membawa Sony ke ruangan Raffasya.


" Kok Kak Raffa kasih ijin dia masuk, sih?" tanya Azkia heran karena suaminya itu malah menyuruh orang yang mencurigakan masuk ke dalam ruangan kerja suaminya itu.


" Permisi, Mas ..." Tak lama Adam membawa Sony masuk ke ruangan Raffasya.


Azkia yang mendapati sosok pria yang datang bersamaan Adam seumuran Papanya langsung menatap curiga.


" Silahkan, Pak. Ini Mas Raffa, pemilik cafe ini ..." Adam memperkenalkan Raffasya kepada Sony.


" Selamat siang, Pak Raffasya. Senang akhirnya kita bisa bertatap muka." Sony mengulurkan tangannya ke arah Raffasya.


Raffasya menyambut uluran tangan Sony dan menyuruh Sony duduk sedangkan Adam sudah keluar dari ruangan Raffasya.


" Silahkan ..." Raffasya pun duduk di seberang Sony yang diikuti oleh Azkia.


Sony langsung melirik ke arah Azkia, menatap wajah cantik Azkia dengan lekat lalu turun ke perut Azkia yang membuncit.


" Apakah ini istri Anda, Pak Raffasya?" tanya Sony.


" Iya, dia istri saya!" tegas Raffasya yang mendapati Sony sedang menatap tanpa kedip ke arah Azkia.


" Istri Anda sangat cantik, Pak Raffasya. Mengingatkan saya pada seseorang ..." ujar Sony yang terus saja memperhatikan Azkia.


" Terima kasih atas pujiannya, Pak Sony." Dengan sedikit ketus Raffasya membalas pujian Sony kepada istrinya itu. " May, sebaiknya kamu istirahat di kamar." Raffasya menyuruh istrinya itu untuk segera pergi dari hadapan Sony.


" Aku mau menemani Kak Raffa di sini." Azkia menolak disuruh ke kamar yang ada di ruangan Raffasya.


* Apa kamu senang dia memperhatikanmu terus?" Raffasya berbisik kepada Azkia.


Azkia yang menyadari tamu suaminya itu terus saja memperhatikannya langsung mengerti kenapa suaminya memintanya untuk pergi dari ruangan itu. Dan diapun kemudian segera berjalan menuju arah kamar yang diikuti dengan tatapan mata Sony yang sepertinya enggan memalingkan pandangannya ke arah Azkia.


* Eheemm, jadi apa maksud Pak Sony sebenarnya memenuhi saya?" tanya Raffasya yang merasa risih dengan sikap Sony yang terus saja menatap Azkia.


" Hmmm, seperti yang saya katakan kemarin, Pak Raffasya. saya sangat berminat bekerja sama dengan Anda," ujar Sony.


" Bukankah kemarin saya sudah katakan jika saya tidak ingin menjual La Grande, karena tanah itu adalah pemberian Kakek dan Nenek saya. Dan saya juga tidak berminat untuk menerima investor di sana, karena saya merasa, saya masih bisa mampu menghandle masalah yang terjadi di sana!" ujar Raffasya dengan lugas. " Saya rasa keputusan saya sudah cukup jelas dan tidak ada lagi yang harus kita bicarakan, Pak Sony." tegas Raffasya tak ingin terpengaruh dengan apa yang ingin ditawarkan Sony kepadanya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️