MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Sudah Nggak Capek



Azkia keluar dari kamar suaminya saat dia mendengar suara Lusiana dari luar kamar. Hari ini dia memang memilih tidak ikut menemani Raffasya ke cafe karena dia ada janji dengan Mama mertuanya yang ingin mengajaknya hangout hari ini.


Awalnya Raffasya tidak menyetujui rencana Mamanya itu yang akan mengajak istrinya pergi bersama Mamanya karena dia tahu, jika wanita sudah berkumpul dan pergi bersama, pasti akan lupa waktu dan hanya akan memikirkan kesenangan semata.


" Raffa, istrimu ini juga perlu refreshing, perlu ngemall, shopping-shopping, relaksasi, spa untuk ibu hamil. Biar pikirannya tenang dan bahagia, jangan disuruh pusing mikirin suami terus!"


Itulah alasan yang diberikan Lusiana sehingga membuat Raffasya mau tidak mau memberikan ijin Azkia pergi bersama Lusiana, apalagi istrinya itupun merengek memintanya untuk mengijinkan mereka pergi bersama. Apalah daya Raffasya diserang oleh dua orang wanita, dia pun akhirnya menyerah namun memberikan syarat supaya Mamanya itu tidak membuat istrinya kelelahan.


" Lebih lelah melayani kamu kali, Raf ketimbang shopping di mall."


Namun Lusiana sempat menyindir dengan kalimat seperti itu.


" Lelah juga bikin nikmat, Ma."


Raffasya pun sempat menangkis dengan kalimat seperti itu. Raffasya memang menyadari, kehadiran Azkia banyak membawa perubahan bagi dirinya, terutama hubungannya dengan sang Mama yang selama ini terlihat kaku.


" Mama ..." Azkia menyapa Lusiana saat mertuanya itu terlihat menaiki anak tangga terakhir menuju lantai atas.


" Kia, kamu sudah siap, Sayang?" Lusiana merentangkan tangannya merengkuh tubuh menantunya itu.


" Sudah, Ma." Azkia tidak lupa mencium punggung tangan Lusiana.


" Ya sudah, kita berangkat sekarang!" Lusiana membantu Azkia menuruni anak tangga secara perlahan.


" Heran deh, si Raffa. Kenapa nggak buat kamar di bawah saja, sih? Kasihan kamu hamil besar begini naik turun tangga." Lusiana menggerutu karena dia merasa kasihan melihat menantunya yang sedang hamil itu harus berjalan melewati anak tangga.


" Besok-besok kalian pakai kamar Nenek saja, supaya kamu nggak kerepotan seperti ini, Kia." lanjut Lusiana.


" Kia nggak apa-apa kok, Ma. Hitung-hitung olah raga." Azkia terkekeh.


" Iya tapi berbahaya juga kalau kamu kelelahan karena harus naik turun tangga, apalagi dengan perut besar begini." Lusiana tetap beranggapan tidak baik jika Raffasya dan Azkia tetap berkamar di lantai atas. Sementara Azkia lebih memilih diam tak menentang apa yang diucapkan Mama mertuanya hingga akhirnya mereka berjalan menuju mobil yang dikendarai oleh Lusiana sendiri.


" Kita cari makan siang dulu, setelah itu cari kebutuhan untuk persalinan kamu lalu spa untuk bumil," ujar Lusiana menyebutkan susunan acara yang dia atur dan akan mereka lewati.


" Memang Mama nggak masalah menemani Kia jalan-jalan? Kerjaan Mama bagaimana?" tanya Azkia tak enak hati membuat Mama mertuanya sampai meluangkan waktu untuknya.


" Nggak apa-apa dong, sekali-kali Mama meluangkan waktu untuk menantu dan calon cucu Mama ini." Lusiana menyentuh perut Azkia sebelum akhinya dia menyalakan mesin mobilnya.


" Makasih ya, Ma. Sudah menyempatkan waktu Mama untuk Kia." Azkia merasa terharu atas kebaikan Lusiana terhadap dirinya.


" Sama-sama, Kia. Mama juga senang bisa keluar jalan-jalan sama kamu lagi." Lusiana menjawab lalu dia mulai menjalankan mobilnya menuju mall yang ingin mereka tuju.


***


Seperti janjinya, Lusiana terlebih dulu mengajak Azkia makan siang di restoran khas makanan Sunda karena tiba-tiba Azkia kepingin makan sayur asam dan gurame goreng.


" Kamu makan yang banyak, Kia. Nasinya mau tambah lagi?" Lusiana berniat menyendokan kembali nasi untuk Azkia.


" Nggak usah, Ma. Kalau Kia terlalu kenyang nanti aku nggak bisa jalan shopping-shopping lagi." Azkia terkekeh menolak secara halus.


" Iya juga, ya ... tadi kenapa Mama siapkan kursi roda untuk kamu, ya? Biar kamu nggak kelelahan kalau nanti kita belanja keperluan persalinan kamu."


" Ya ampun, Ma. Kayak orang sakit saja harus pakai kursi roda segala." Azkia menganggap apa yang dikatakan Mama mertuanya itu terlalu berlebihan.


" Daripada kaki kamu pegal-pegal, nanti Mama kena omel suami kamu itu ..." Lusiana tertawa kecil karena dia dapat menduga jika Raffasya akan menegurnya jika sampai membuat Azkia kelelahan.


" Kan setelah belanja kita mau relaksasi, Ma. Biar pegal-pegalnya langsung hilang," sahut Azkia.


" Ah, iya ... kamu benar." Lusiana tertawa kecil.


Azkia memperhatikan Lusiana yang terlihat tertawa, selama dia mengenal Lusiana, Wanita paruh baya yang adalah Mama dari suaminya itu selalu terlihat ceria, sepertinya tidak ada permasalahan yang muncul dalam hidup Mama mertuanya itu.


" Oh ya, Mama sudah dengar belum kabar tentang Papa Fariz?" Azkia memberanikan diri bertanya dan menyinggung tentang Papa mertua di hadapan Mama mertuanya.


Lusiana langsung menjeda tangannya yang hendak memasukkan nasi ke dalam mulutnya mendengar Azkia menyebut nama mantan suaminya.


" Memang kabar tentang apa?" Lusiana kembali melanjutkan niatnya yang ingin menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


" Tante Wina meninggal karena kecelakaan ..." Azkia memberitahu berita duka yang menimpa istri dari Papa mertuanya.


Lusiana langsung terkesiap, untung saja dia tidak sampai tersedak mendengar berita yang didengar dari Azkia. Dia pun segera menyambar dan meneguk air mineral terlebih dahulu sebelum akhirnya bersuara, " Innalillahi Wa Innaillaihi Rojiun ..." sahutnya kemudian.


" Kamu dapat kabar dari mana, Kia?" lanjutnya.


" Papa Fariz telepon Kak Raffa kemarin siang. Kasihan Papa Fariz ya, Ma? Baru ditinggal Mamanya sekarang ditinggal istrinya."


" Yaaaa ... namanya orang hidup, nggak akan ada yang tahu kapan kita akan berpulang."


" Ma, Kia boleh tanya sesuatu, nggak?" tanya Azkia hati-hati.


" Tanya apa?"


" Apa Mama masih menyimpan rasa sayang kepada Papa Fariz?"


Lusiana membuatkan matanya mendengar pertanyaan Azkia.


" Maksud kamu?" Lusiana menatap curiga ke arah menantunya yang kini sedang mengembangkan senyuman.


" No, no, no ..." Lusiana menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. " Jangan bilang kamu berniat menjodohkan Mama dengan Papa mertuamu itu, Kia!" Lusiana sepertinya paham dengan maksud Azkia yang ingin menyatukan dia dengan mantan suaminya itu.


" Memang kenapa, Ma? Papa Fariz dan Mama 'kan dulu hidup bersama. Mama sampai saat ini hidup sendiri sedangkan Papa sekarang duda. Siapa tahu jodoh, Ma." Azkia menyeringai, dia kini bahkan tidak takut membahas soal rencananya menjodohkan kembali Mama mertuanya dengan Papa mertuanya itu.


" Kamu jangan macam-macam, Kia! Mama sama Papa mertuamu itu sudah pernah gagal dalam membangun rumah tangga, artinya kami ini tidak berjodoh." Lusiana mementang pendapat Azkia.


" Jodoh itu hanya Allah yang tahu, Ma. Buktinya Kia sama Kak Raffa, dulu kami saling bermusuhan. Secara logika kami ini nggak akan mungkin bisa saling mencintai, nyatanya ... kalau Allah sudah menetapkan jika kami berjodoh, akhirnya kami menikah dan semakin hari rasa sayang dan cinta itu semakin tumbuh." Azkia sudah seperti orang yang paling berpengalaman menasehati Mama mertuanya.


" Tapi itu nggak mungkin terjadi kepada kami, Kia." Lusiana cepat-cepat membantah.


" Tapi Mama masih ada rasa sayang 'kan sama Papa?" Azkia penasaran berusaha mengorek lebih dalam perasaan Lusiana kepada mantan suaminya.


" Kita nggak usah bicara tentang hal ini, Kia. Mama nggak suka!" tegas Lusiana.


" Maaf, Ma. Kalau Kia lancang. Tapi Kia ingin sekali melihat Kak Raffa bahagia. Di lubuk hati Kak Raffa yang paling dalam, Kak Raffa itu sangat mendambakan orang tuanya bersatu dan saling menyayangi. Dulu Azkia pikir itu nggak mungkin karena Papa Fariz sudah mempunyai keluarga baru, tapi setelah mengetahui berita meninggalnya Tante Wina, Azkia rasa asa itu bisa tumbuh kembali. Bukannya Kia ikut senang atas meninggalnya Tante Wina, tapi dalam setiap musibah pasti akan ada hikmah yang bisa kita ambil, kan?"


" Ma, percayalah, Kia juga ingin melihat Mama bahagia. Mama sudah seperti Mama Kia sendiri. Jadi kewajiban anak adalah memberikan kebahagiaan untuk orang tuanya," lanjut Azkia.


" Anak dan Mama sama saja," gumam Azkia dalam hati karena baik Raffasya maupun Lusiana sama saja tidak memperbolehkan dia terlalu memikirkan rencana mendekatkan kembali Papa dan Mama mertuanya itu.


Setelah makan siang, perjalanan mereka berlanjut hunting keperluan persalinan dan kebutuhan untuk si ibu dan bayi. Dari bedak bayi sampai box bayi semua dibeli oleh Lusiana.


" Ma, ini banyak banget, lho! Gimana kita bawanya?" tanya Azkia kebingungan saat Lusiana membayar semua belanjaan di depan kasir.


" Kamu nggak usah pusing, nanti biar pihak toko ini yang antar ke rumah." Lusiana mengeluarkan debit card nya dan membayaran belanjaannya itu.


Selesai berbelanja Lusiana pun kemudian membawa Azkia ke spa ibu hamil untuk memberikan relaksasi kepada menantunya itu.


***


" Tadi siang ke mana saja sama Mama?" tanya Raffasya setelah mereka beristirahat setelah sholat Maghrib dan makan malam.


" Makan, belanja, sama spa ..." sahut Azkia menyandarkan kepalanya di bahu sang suami saat mereka berdua duduk di sofa kamar tidur mereka.


" Aku lihat banyak sekali belajaannya. Habis berapa? Nanti aku ganti uangnya." Raffasya memainkan anak rambut Azkia dengan jari-jarinya.


" Nggak usah, Kak. Semua itu Mama Lusi yang bayar."


" Mama sayang banget ya sama kamu ..." Raffasya terkekeh menanggapi kedekatan istri dengan Mamanya.


" Harusnya Kak Raffa bersyukur punya istri seperti aku, dong."


" Kenapa memangnya?"


" Iya karena aku akrab dengan Mama, artinya Kak Raffa nggak dipusingkan dengan masalah perseteruan menantu dan mertua." Azkia tertawa kecil.


" Memang ada ya perseteruan menantu dan mertua?"


" Ada kalau aku baca di novel-novel atau di film-film, mertua yang memusuhi menantunya. Apa nggak pusing tuh, yang jadi suami. Pilih istri atau orang tua sendiri?"


" Gitu, ya? Alhamdulillah kalau begitu aku dapat istri kamu. Aku juga senang kamu bisa cocok dengan karakternya Mama."


" Istri yang pintar, dong!"


" Istrinya siapa?"


" Istrinya orang."


" Orangnya yang mana?"


" Orangnya yang ganteng ini ...." Azkia menyeringai seraya menunjuk ke dada Raffasya.


Raffasya menatap wajah Azkia dengan lekat. " I love you, Almayra." ucapnya seraya mengecup singkat bibir Azkia.


Azkia hanya tersenyum mendengar ucapan kata cinta dari suaminya, tanpa membalasnya. Tentu saja dia sangat merasa bahagia bisa dicintai oleh suaminya seperti ini. Kalau boleh jujur, saat bersama Gibran dia tidak pernah merasa sebahagia seperti sekarang ini menjadi setelah menjadi istri Raffasya. Bukan hanya karena hubungan in tim yang sering mereka lakukan, tapi karena sikap dan perhatian Raffasya yang selalu diberikan kepadanya. Raffasya benar-benar ada di saat dia mendapat masalah. Terlepas dari sikap Raffasya kemarin yang mendiamkannya, sesungguhnya Raffasya begitu sangat perduli kepadanya, dia menganggap suaminya itu selalu memperlakukannya seperti seorang ratu. Wanita manapun pasti akan bahagia diperlakukan begitu istimewa oleh suaminya.


" Kok nggak dibalas?" tanya Raffasya karena Azkia tak membalas ucapan cintanya.


Tangan kanan Azkia mengusap rahang Raffasya. " Rasanya menyenangkan mendengar ucapan cinta dari Kak Raffa, pria dulu sangat menyebalkan ...."


" Oh ya? Sekarang sangat apa?"


" Sangat ... sangat apa ya?" Kening Azkia berkerut seakan berpikir. " Sangat me sum lebih tepatnya." Azkia tergelak memberikan jawaban itu.


" Aku me sum? Oke kita lihat seberapa tingkat keme sumanku ini." Raffasya lalu mengangkat tubuh Azkia dengan lengannya dan langsung membawanya ke atas tempat tidur.


" Kita mau ngapain, Kak?" tanya Azkia, padahal dia sudah pasti tahu apa maksud suaminya itu membawanya ke tempat tidur.


" Mau berbuat me sum," sahut Raffasya jujur.


" Ya ampun, Kak Raffa. Ini belum masuk waktu sholat Isya. Aku nggak mau mandi malam-malam."


" Siapa suruh kamu mancing-mancing aku?"


" Jangan sekarang, Kak. Sumpah aku nggak mau mandi lagi. Nanti saja kalau sudah sholat Isya."


" Janji, ya? Habis Isya?"


" Insya Allah kalau aku nggak capek."


" Alasan ...."


" Ya ampun, aku benar capek, Kak. Tadi siang jalan-jalan itu kaki aku pegal, Kak." Azkia beralasan.


" Kalau begitu besok-besok aku nggak mengijinkan kamu sama Mama pergi jalan-jalan lagi kalau bikin kamu capek begini!" Raffasya langsung memberikan ancaman.


Azkia terbelalak mendengar ancaman yang diucapkan oleh suaminya, tentu saja dia tidak ingin dilarang berpergian dengan Mama mertuanya oleh suaminya itu.


" Jangan gitu dong, Kak. Masa nggak boleh jalan ke luar sama Mama lagi, sih?" Azkia memberengut.


" Daripada bikin kamu capek dan kelelahan seperti ini."


" Aku sudah nggak capek kok, Kak! Kan tadi sudah spa."


" Jadi sudah nggak capek sekarang?"


" Nggak!" Azkia menggelengkan kepala dengan mantap agar dia tidak dilarang suaminya berpergian dengan Mama mertuanya.


" Bagus ... berarti nggak masalah kalau habis Isya aku nengokin dedek bayi, dong?" Raffasya menyeringai seraya memainkan kedua alisnya karena berhasil menjebak istrinya itu.


*


*


*.


Bersambung ...


Happy Reading❤️