
Azkia menyendokkan nasi ke atas piring dan mengambil beberapa lauk yang sudah dimasak oleh Bi Neng untuk menu makan malam lalu meletakkannya di atas meja di hadapan Raffasya. Setelah itu dia baru mengambil makanan untuk dirinya sendiri, dan mereka berdua pun menikmati makan malam mereka, sementara Naufal ditinggal di kamar dan ditemani oleh Bi Neng.
" Kak, tadi siang Papa Fariz telepon, katanya pertengahan Minggu depan ada urusan di Jakarta dan akan menginap di sini." Azkia memberitahu rencana Papa mertuanya yang akan datang mengunjungi mereka.
" Oh ya? Hari apa Papa akan ke Jakarta?" tanya Raffasya menanggapi kabar yang disampaikan oleh istrinya.
" Hari kamis, katanya kalau urusannya beres langsung ke sini, dan akan pulang hari Minggu. Aku sudah minta tolong ke Bi Neng untuk merapihkan kamar Nenek karena Papa bilang mau pakai kamar Nenek saja agar nggak harus naik turun tangga," tutur Azkia menjelaskan.
" Ya sudah nggak apa-apa," sahut Raffasya.
" Oh ya, Kak. Nanti kita nggak usah menitipkan Naufal ke Mamaku lagi, ya? Biar Naufal nanti ditemani sama Mama Lusi saja."
Raffasya menghentikan kunyahannya saat mendengar penjelasan Azkia soal Lusiana yang akan mengurus dan menemani Naufal Sabtu malam nanti, jika dia dan Azkia menghadiri acara reuni teman sekolah Raffasya.
" Maksud kamu Naufal akan dibawa menginap di rumah Mamaku?" tanyanya kemudian.
" Bukan Naufal yang menginap di sana, tapi Mama yang menginap di sini." Azkia menerangkan.
" Memang Mama mau diititipin Naufal?"
" Mau dong, Kak! Masa dititipin cucunya sendiri nggak mau? Hari Sabtu Mama 'kan libur, dan Mama sudah setuju Sabtu nanti menginap di sini."
Raffasya mengerutkan keningnya seraya memperhatikan istrinya yang terlihat sangat antusias.
" Kamu memang sengaja menyuruh Mama menginap di sini karena ada Papa, kan?" selidik Raffasya yang bisa menangkap maksud dari sikap yang diambil Azkia dengan meminta Lusiana untuk menjaga cucunya karena ingin memberi peluang agar Lusiana dan Fariz bisa saling akrab kembali.
Azkia menyeringai karena suaminya itu bisa menebak apa yang dia rencanakan.
" Iya, Kak." sahutnya kemudian.
" May, kamu jangan terlalu berambisi untuk membuat Papa dan Mama rujuk kembali, aku takut nanti hasilnya akan mengecewakan." Walau di lubuk hatinya yang terdalam Raffasya tidak memungkiri kalau dia pun menginginkan itu benar-benar terjadi, namun dia tidak ingin terlalu berharap banyak dengan rencana istrinya itu.
" Kak, sebagai manusia kita ini harus optimis jika ingin menjalankan suatu rencana. Kita berusaha semaksimal mungkin dan berdoa agar rencana kita berhasil sambil menunggu bagaimana Allah akan menentukan keputusan-Nya. Yang penting kita sudah berikhtiar dan berdoa. Kalau niat kita baik, Insya Allah, Allah SWT pasti akan mengabulkan keinginan kita." Berbeda dengan suaminya, Azkia justru sangat optimis dan bersemangat dengan rencananya mendekatkan kembali Fariz dan Lusiana.
" Ya sudah, kita lanjutkan saja makannya, membahas masalah itu nanti lagi." Raffasya menyuruh Azkia untuk melanjutkan menyantap makanan dan tidak membahas soal rencana istrinya itu saat ini.
***
" Papa berangkat dulu ya, Sayang." Raffasya menciumi pipi Naufal yang sedang berada di dalam gendongan lengan Azkia saat Azkia berdiri di teras rumah mengantar Raffasya yang ingin berangkat ke cafenya.
" Iya, Papa. Papa jangan sore-sore ya, pulangnya, biar bisa main sama Naufal lagi." Azkia menyahuti Raffasya seraya mengusap wajah Raffasya dengan tangan mungil Naufal yang berisi.
Raffasya tersenyum mendengar jawaban Azkia. Dia lalu mengecup kening istrinya itu dan berucap, " Aku berangkat ya, May."
" Iya, Kak." Azkia lantas meraih tangan Raffasya dan mencium punggung tangan suaminya itu. " Hati-hati di jalan, jangan ngebut bawa mobilnya. Dan jangan terlalu sore pulangnya ya, Kak." Azkia kembali memperingatkan suaminya agar tidak pulang terlalu sore.
" Iya." Raffasya menganggukkan kepala seraya kembali memberikan satu kecupan lagi di kening Azkia.
" Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ..." Azkia menyahuti. " Daaaggg, Papa ..." Azkia menggerakkan tangan Naufal seakan melambaikan tangan ke arah Raffasya yang kemudian berjalan ke arah mobilnya.
Setelah mengantar kepergian Raffasya, Azkia kembali masuk ke dalam rumah, dia mencari keberadaan Bi Neng yang masih terlihat sibuk dengan urusan pekerjaan rumah bersamaUni.
" Bi Neng ...!" Azkia memanggil Bi Neng.
" Ada apa, Mbak Kia? Bi Neng sedang menjemur pakaian," sahut Uni yang keluar dari arah dapur.
" Oh ya sudah, nanti kalau sudah suruh ke kamar aku ya, Mbak."
" Baik, Mbak Kia."
" Oh ya, nanti tolong sprei yang di kamar tamu diganti sama dirapihkan lagi kamarnya, soalnya akhir Minggu Mama mau menginap di sini, Mbak." Azkia memerintah Uni untuk merapihkan kamar tamu di lantai atas.
" Baik, Mbak." sahut Uni.
" Jangan lupa Bi Neng suruh ke kamarku ya, Mbak!" ujar Azkia sebelum meninggalkan dapur menuju kamarnya.
Setengah jam kemudian ...
" Mbak Kia cari Bibi?" Bi Neng terlihat membuka pintu kamar dan menyembulkan kepalanya.
" Iya, Bi. Sini, deh!" Azkia menyuruh Bi Neng masuk ke dalam kamar.
" Ada apa, Mbak Kia?" Bi Neng mendekat ke arah Azkia sementara tangannya langsung mengusap kepala Naufal yang terlihat sedang menatap mainan yang menggantung di baby bouncer.
" Bi, malam Minggu nanti aku sama Kak Raffa 'kan mau ada acara reuni teman sekolah Kak Raffa. Aku sudah minta tolong Mama Lusi untuk menjaga Naufal di sini. Jadi hari Sabtu nanti Mama dan Papa akan berkumpul di sini." Azkia sangat antusias mulai menjalankan rencananya.
" Nanti kalau aku sama Kak Raffa nggak ada, Bi Neng sama Uni ngumpet saja, ya!?"
" Sembunyi di kamar ini saja, Bi. Pasti Papa sama Mama nggak akan kepikiran kalau Bi Neng sama Uni akan bersembunyi di sini."
" Mbak Kia ini ada-ada saja." Bi Neng kembali tertawa. " Memangnya kenapa Bibi sama Uni harus sembunyi, Mbak? Nanti kalau Bapak atau Ibu butuh sesuatu atau Naufal rewel bagaimana?"
" Itu dia, Bi. Biar Papa sama Mama nanti kompak menjaga Naufal dan juga membuat Papa dan Mama bisa kembali dekat. Ini momen yang bagus untuk mulai membuat Papa dan Mama rujuk lagi 'kan, Bi?" Azkia merasa ini adalah waktu yang tepat untuk mulai mendekatkan kedua mertuanya itu kembali.
" Memang benar sih, Mbak. Tapi apa itu akan berhasil? Bapak sama Ibu 'kan sudah lama nggak mengurus bayi lho, Mbak. Jangan sampai rencana Mbak Kia ini malah akan membuat Naufal jadi kenapa-napa?" Bi Neng justru merasa khawatir, apa yang direncanakan Azkia justru akan membuat Fariz dan Lusiana kerepotan mengurus Naufal.
" Bi Neng nggak usah lebay, deh! Masa iya untuk menjaga Naufal saja Papa sama Mama sampai bikin repot kayak gitu?" Azkia menganggap kekhawatiran Bi Neng terlalu berlebihan.
" Bukannya Bi Neng lebay, Mbak. Tapi cuma khawatir." Bi Neng memberi alasan.
" Bi Neng nggak usah khawatir, nggak akan terjadi apa-apa dengan Naufal. Pasti Naufal juga sudah tidur dan nggak akan rewel." Azkia meminta Bi Neng untuk tetap tenang. " Tapi Bi Neng jangan bilang sama Kak Raffa soal rencana ini, ya? Kalau Kak Raffa tau, Kak Raffa pasti nggak akan setuju." Azkia lalu memperingatkan Bi Neng untuk menyembunyikan rencananya itu dari suaminya karena dia yakin kalau Raffasya tahu, suaminya itu tidak akan menyetujui rencananya.
***
Fariz menepati janjinya berkunjung ke rumah Raffasya untuk menemui Naufal. Karena sejak kelahiran Naufal, Fariz belum sempat menjenguk cucu pertamanya itu karena kesibukannya.
Sebelum Maghrib Fariz sampai di rumah Raffasya. Raffasya yang menjemput Papanya itu setelah Fariz melakukan pertemuan dengan kliennya di restoran sebuah hotel ternama di Jakarta.
" Papa masih bisa menggendong bayi, ya?" tanya Azkia saat melihat Fariz terlihat tidak kaku menggendong Naufal dengan satu tangannya.
" Tentu saja masih bisa, Kia. Papa 'kan punya dua anak. Waktu suamimu masih bayi seperti Naufal Papa sering gendong Raffa seperti ini. Dan biasanya Raffa selalu anteng kalau sudah berada di lengan Papa kayak gini. Mirip seperti cucu Papa yang Sholeh ini." Fariz menceritakan kembali kenangan masa lalunya saat ikut mengurus Raffasya kecil. " Dulu itu malah Mamanya Raffa yang kerepotan kalau Raffa merengek saja. Raffa akan tenang kalau sudah digendong sama Papa."
Azkia menoleh ke arah Raffasya yang hanya diam tak merespon perkataan Papanya, Azkia menyadari, mengenang masa kecil bagi Raffasya seakan mengingatkan kembali kekecewaan suaminya itu terhadap perpisahan kedua orang tuanya.
" Opa pindah ke Jakarta saja dong, Opa. Biar Naufal bisa dekat sama Opa. Biar Opa bisa sering menggendong Naufal." Azkia berbicara seolah mewakili putranya.
Raffasya langsung menoleh ke arah Azkia saat Azkia meminta Papanya itu untuk pindah ke Jakarta. Dia tahu tujuan istrinya menyuruh Fariz pindah bukan hanya karena alasan agar dekat dengan Naufal, tapi ada alasan lain yang lebih utama, yaitu mendekatkan Fariz dan Lusiana kembali.
" Kalau Opa pindah ke sini lalu pekerjaan Opa di sana bagaimana, Naufal?" Fariz akhirnya menyahuti permintaan yang diucapkan Azkia tadi.
" Papa 'kan sudah tua, sudah nggak mungkin bisa mencari pekerjaan yang baru. Kia." Fariz memberi alasan dia tidak mungkin pindah ke Jakarta.
" Kalau Papa mau, nanti Kia akan bilang ke Papa atau Uncle, siapa tahu di perusahaan punya Eyang Papih atau Uncle ada posisi yang bisa Papa tempati."
" May ...!" Raffasya langsung memotong perkataan istrinya itu. Raffasya tidak ingin Azkia terlalu jauh mengatur privacy Papanya itu. " Kamu jangan terlalu memaksa Papa! Lagipula nggak enak jika harus melibatkan keluarga kamu untuk urusan ini," protes Raffasya.
" Raffa benar, Kia. Papa nggak ingin merepotkan keluarga kamu. Hanya karena Papa ini adalah Papa mertua kamu, Papa nggak ingin ada anggapan Papa memanfaatkan keluarga kamu, Nak. Lagipula Papa sudah nyaman dengan pekerjaan Papa yang sekarang ini. Dan Papa juga ada anak perempuan yang kuliah di sana, jadi Papa tidak mungkin meninggalkan dia sendiri di tempat Papa sekarang ini."
Azkia terdiam, dia sebenarnya sangat kecewa dengan penolakan Papa mertuanya apalagi Raffasya sendiri terlihat kurang setuju dengan rencananya itu.
" Sebaiknya kamu jangan merencanakan hal yang aneh-aneh deh, May." Raffasya kembali memperingatkan Azkia saat mereka kembali ke kamar setelah mereka berbincang santai dengan Fariz di ruang keluarga selepas makan malam tadi.
" Rencana aneh apa sih, Kak? Aku itu hanya berusaha agar Papa bisa tinggal di sini. Dan aku rasa meminta bantuan Papa sama Uncle nggak ada salahnya, kan? Papa Fariz pasti punya kemampuan yang kapabel dengan keahliannya, siapa tahu bisa diterapkan di perusahan Eyang atau Uncle Gavin." Azkia tetap merasa jika apa yang direncakannya itu bukanlah suatu hal yang aneh.
" Meminta Papa pindah ke Jakarta, apa itu bukan suatu paksaan? May, Papa itu sudah punya keluarga sendiri di sana walaupun Tante Wina sudah meninggal. Papa punya anak yang mesti Papa urus. Nggak mungkin Papa meninggalkan anaknya sendirian di sana apalagi anak Papa itu perempuan."
" Papa bisa saja ajak anaknya untuk pindah di Jakarta 'kan, Kak? Oca bisa kuliah di kampus Papa mengajar. Itu lebih baik jadi Oca ada yang mengawasi juga." Sepertinya Azkia tetap merasa apa yang dilakukannya sudah tepat.
" May, masalahnya nggak sesimple yang ada dipikiran kamu. Papa nggak akan mungkin mau menebeng bekerja di perusahaan Eyang atau Uncle kamu. Dan aku juga nggak setuju jika Papa ikut bekerja di perusahaan keluarga kamu!" tegas Raffasya.
" Kak Raffa nggak usah egois gitu, deh! Kenapa sih, setiap aku menawarkan bantuan dengan melibatkan keluarga aku, kak Raffa selalu menolak? Kita ini sudah menikah, Kak. Nggak ada salahnya kita saling membantu." Azkia merasa kesal karena suaminya itu justru menentang rencananya.
" Aku egois? Lalu kamu sendiri bagaimana? Karena keluarga kamu berkecukupan dan punya banyak perusahaan lalu kamu bisa mengatur semua sesuai keinginan kamu, begitu? Siapa yang lebih egois sekarang?" Raffasya justru balik menuduh Azkia yang bersikap terlalu egois hingga memaksakan kehendaknya.
" Kok Kak Raffa malah menuduh aku yang egois? Egois itu hanya mementingkan diri sendiri, sedangkan aku ... aku ini sedang berusaha menyatukan kembali Papa dan Mama Kak Raffa. Bukan untuk kepentingan pribadi aku, kok. Bukan untuk kesenangan aku sendiri! Lalu Aku egoisnya di mana, Kak?" Sepasang suami istri itu akhirnya kini terlibat perdebatan.
" May, kalau Allah sudah mentakdirkan Papa dan Mama berjodoh kembali, pasti Allah sudah menyiapkan cara-Nya sendiri, tanpa perlu campur tangan kamu."
Sudah pasti perkataan Raffasya membuat Azkia kesal. Azkia merasa suaminya itu tidak mensupportnya, padahal tujuan dia adalah membuat suaminya itu bahagia. Bahkan dengan mudahnya Raffasya mengatakan tidak perlu campur tangan Azkia dalam mendekatkan kembali Lusiana dan Fariz.
" Sudahlah, malas aku bicara sama Kak Raffa!" Azkia yang merasa kesal dan tersinggung langsung memilih naik ke atas tempat tidur dan mendekatkan tubuhnya sejajar dengan Naufal lalu memeluk tubuh anaknya itu dan memejamkan matanya dengan nafas yang turun naik kerena terbawa emosi.
Raffasya mendengus kasar. Setelah sekian lama, akhirnya dia kembali berdebat dengan istrinya itu. Dia menatap Azkia yang tidur memunggunginya. Dia tahu jika Azkia sangat kecewa dengan sikapnya. Tapi dia juga merasa perlu menahan rencana Azkia agar tidak menjadi bumerang untuk hubungan Papa dan Mamanya saat ini. Iya kalau Papa dan Mamanya itu memang bisa bersama, kalau kedua orang tuanya itu tetap memilih hubungan seperti yang mereka jalani sekarang ini, rasanya itu hanya akan mengecewakan dia dan juga Azkia. Belum lagi jika harus melibatkan keluarga Azkia dengan memberikan posisi di perusahaan keluarga istrinya itu kepada Fariz, dia merasa gagal menjadi seorang suami karena orang tuanya bergantung pada keluarga sang istri.
*
*
*
Bersambung ....
Happy Reading❤️