
Seminggu berlalu, Azkia dan Raffasya sudah kembali ke rumah Raffasya membawa bayi mereka ke rumah di mana seharusnya Naufal berada. Karena di sanalah selama ini Azkia dan Raffasya menghabiskan waktu selama kehamilan Azkia.
Sudah pasti kehadiran Naufal, si bayi lucu nan menggemaskan mampu memukau semua yang melihatnya, termasuk ibu-ibu komplek yang bertetangga dengan Raffasya yang menyempatkan diri menengok Baby Naufal.
" Kia, kamu jangan biarkan sembarang orang gendong Naufal, dong! Kalau nanti Naufal kecetit karena terlalu banyak tangan yang pegang, gimana?" Lusiana memprotes karena banyaknya tetangga seputar komplek rumah Raffasya yang berebut ingin menggendong Naufal.
" Ibu-ibu di sini mau menggendong masa Kia larang, Ma? Kan nggak enak, nanti dibilang Kia sombong lagi ..." Azkia tidak sependapat dengan Mama mertuanya.
" Tapi kalau bikin anak kamu cidera 'kan bahaya juga. Kamu lebih mementingkan omongan orang daripada keselamatan anak kamu sendiri?? Bagaimana kalau tertular virus? Belum tentu mereka itu steril. Siapa tahu ada yang sedang batuk, kena flu, itu sangat berbahaya, karena Naufal itu masih kecil, masih rentan tertular virus-virus begitu." Lusiana masih memprotes, dan tidak ingin cucunya itu banyak disentuh banyak orang.
Azkia hanya terdiam, tak ingin membantah apa yang dikatakan Mama mertuanya karena dia merasa apa yang dikatakan oleh Lusiana memang ada benarnya.
" Oma 'kan nggak mau, cucu Oma yang tampan ini jadi kenapa-napa ya, Sayang?" Lusiana kini mengambil Naufal dari tangan Azkia dan menggendongnya.
" Mama, apa Mama benar-benar nggak ingin tinggal di sini bersama kami?" Azkia mengalihkan pembicaraan dengan Lusiana.
" Nggak enak kalau Mama tinggal di sini. Ini 'kan bukan rumah Mama." Sebenarnya bukan hanya karena rumah itu kini milik Raffa, tapi juga di rumah itu banyak menyimpan kenangan bersama mantan suaminya dulu yang membuat Lusiana enggan tinggal di sana lagi.
" Ini rumah Kak Raffa, Kak Raffa itu anak Mama, kenapa Mama harus merasa nggak enak tinggal bersama anak Mama sendiri?" Azkia merasa tidak ada yang salah jika Lusiana ikut tinggal bersama mereka.
" Kalau Mama tinggal di sini, Kia 'kan jadi ada yang menemani, Ma. Katanya Mama ingin selalu dekat dengan Naufal. Naufal juga pasti senang jika ada Oma di sini. Iya 'kan, Dek?' Azkia seakan meminta dukungan dari Naufal.
" Nanti deh, Mama pikirkan lagi. Tapi sebenarnya Mama lebih senang jika kalian yang tinggal di rumah Mama." Lusiana justru berharap keluarga kecil Raffasya lah yang bisa diboyong ke rumahnya.
" Itu akan susah, Ma. Mama sendiri tahu sendiri anak Mama itu keras kepalanya seperti apa?" Azkia merasa tidak mungkin jika suaminya yang harus mengalah mengikuti keinginan Lusiana. Dia pun menyadari jika kedua anak dan ibu itu sama-sama mempunyai sifat yang sangat keras dan tidak pernah mau mengalah satu sama lain.
" Suami kamu itu memang keras kepalanya kayak batu." Lusiana menyindir sifat putranya itu.
" Sifat Kak Raffa itu mirip Mama atau Papa sih, Ma?" Azkia menyeringai memberanikan diri bertanya. Karena selama Azkia bertemu dengan Papa mertuanya, dia merasa Papa mertuanya itu tak beda jauh dengan Papanya, terlihat tenang dan tak banyak berdebat dengan Raffasya.
" Sudah pasti mirip Papanya lah! Anak laki-laki pasti menurun sifat dari Papanya." Lusiana enggan mengakui jika sifat keras kepala Raffasya itu banyak didominasi dari sifatnya.
" Nanti Naufal kalau sudah besar jangan mengikuti sifat buruk Papamu ya, Nak." Lusiana seakan menasehati Naufal yang terlihat tenang dalam gendongannya. " Lihat nih, Kia. Naufal sepertinya senang digendong Oma." Lusiana merasa bahagia ternyata cucunya tidak rewel berada dalam gendongannya.
" Itu tandanya Naufal ingin Omanya menemani di sini, jadi Oma bisa ketemu dan menggendong Naufal tiap hari." Azkia memang selalu berusaha membuat Mama mertuanya itu agar bisa lebih dekat dan akrab dengan Raffasya. Bahkan semangatnya tidak pernah surut mempengaruhi Lusiana agar mau tinggal bersama di rumah suaminya itu.
" Kamu memang nggak takut dicerewetin Mama kalau Mama ikut tinggal di sini?" Lusiana melirik ke arah Azkia. Karena dari yang dia dengar dari teman-teman sosialitanya, tidak sedikit menantu wanita kurang akrab dengan Ibu mertuanya, karena dianggap Ibu mertua akan ikut campur urusan rumah tangga anaknya, tak jarang malah saling bertentangan, tak sejalan antara menantu wanita dan ibu mertua.
" Kalau urusan cerewet, sih. Kia sudah biasa dicerewetin sama Mama Tata. Lagipula memang apa yang Mama tega cerewetin Kia? Kia 'kan sudah memberikan apa yang Mama inginkan. Menikah dengan Kak Raffa, memberikan cucu yang lucu, membuat hubungan Mama dan Kak Raffa lebih mencair ketimbang sebelumnya. Hanya satu yang belum sempat terwujud ..." Azkia tersenyum menoleh ke arah Lusiana.
" Apa?"
" Bikin Mama dan Papa balikan lagi." Sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Azkia berkata dengan santainya tanpa takut ditentang oleh Lusiana.
" Astaga, Kia. Kamu kok masih saja mikirin hal itu, sih?" Lusiana menggelengkan kepala menanggapi rencana Azkia yang ingin melihatnya rujuk dengan mantan suaminya.
" Tidak ada salahnya orang berusaha 'kan, Ma? Nanti biar Allah yang menentukan. Kalau Papa sama Mama masih jodoh, pasti Allah akan bantu, kok." Azkia terus saja mempengaruhi Mama mertuanya itu untuk mencoba menjalin kembali komunikasi dengan mantan suaminya dulu.
" Sudah-sudah, jangan bicara hal itu lagi! Kamu ini nggak ada obrolan lain apa? Selain membahas tentang itu." Lusiana memang enggan disinggung soal kemungkinan rujuk bersama mantan suaminya.
" Biar Mama nggak merasa sendirian lagi, Ma."
" Siapa bilang Mama sendirian? Ada kamu, ada Naufal juga. Mama nggak sendirian sekarang ini." Lusiana menampik dibilang sendirian oleh Azkia.
" Tapi beda kalau yang menemaninya suami 'kan, Ma?"
" Sudah ah, jangan ngomong itu lagi! Papa mertua kamu itu punya kehidupan sendiri dan juga anak. Belum tentu juga anaknya mau kalau Papanya itu balikan lagi sama Mama." Lusiana beranggapan jika anak tiri akan susah menerima keadiran ibu tiri.
" Mama belum mencoba berkomunikasi dengan anaknya Papa, kan?"
" Untuk apa Mama harus komunikasi? Nanti dia bisa berpikiran macam-macam soal Mama." Lusiana mengedikkan bahunya, dia merasa tidak perlu harus menjalin silaturahmi dengan putri dari mantan suaminya. " Sudahlah, Kia. Kamu jangan pernah berusaha mendekatkan kami lagi." Lusiana lalu menyerahkan Naufal kepada Azkia. " Mama mau kembali ke kantor, nanti pulang kerja Mama mampir lagi ke sini." Lusiana memutuskan pergi dari rumah Raffasya daripada dipusingkan dengan rencana menantunya yang masih saja bersikukuh ingin menjodohkan dirinya dengan Papanya Raffasya.
***
Azkia sedang memakaikan baju Naufal yang baru saja dimandikan oleh Bi Neng. Karena Azkia sendiri masih belum berani untuk memandikan Naufal.
" Bi Neng nggak sangka kalau Mas Raffa sekarang sudah punya anak lho, Mbak. Mana ganteng sekali bayinya." Sebagai orang yang lama bersama Raffasya dan mengetahui bagaimana kehidupan Raffasya, Bi Neng tentu saja merasa senang dengan kehadiran Baby Naufal di rumah itu.
" Karena Kak Raffa selama ini nggak pernah pacaran ya, Bi Neng?" Azkia tertawa menduga karena memang Raffasya tidak pernah dekat dengan wanita manapun yang membuat kehadiran dirinya dan Naufal benar-benar mengejutkan seisi rumah itu.
" Iya, Mbak. Teman wanita yang pernah dikenalkan ke Bu Mutia juga hanya sepupunya Mbak Kia itu, siapa ya namanya?"
" Rayya?"
" Iya, hanya Mbak Rayya. Tapi itu juga sudah lama sekali, Mbak." sahut Bi Neng. " Bi Neng ikut senang melihat Mas Raffa sekarang merasakan kehidupan yang bahagia, Mbak. Bagaimanapun juga Bi Neng sudah menganggap Mas Raffa seperti anak Bi Neng sendiri. Sedihnya Mas Raffa, Bi Neng juga bisa ikut merasakan kesesihannya. Bahagianya Mas Raffa, Bi Neng juga ikut merasakan bahagianya," tutur Bi Neng mengungkapkan perasaannya.
" Oh ya, Bi Neng sudah ada di sini waktu Mama Lusi dan Papa Fariz masih tinggal di sini?" Azkia sengaja mengorek informasi dari ART suaminya itu tentang kehidupan kedua mertuanya.
" Iya, Bi Neng sudah di sini sewaktu Bapak sama Ibu masih menjadi pasangan suami istri," sahut Bi Neng. " Kenapa memangnya, Mbak?" tanya Bi Neng.
" Ya seperti itulah, Mbak. Bapak sama Ibu hampir tiap hari berselisih paham."
" Masalah apa yang membuat mereka berselisih paham, Bi? Bukan soal orang ketiga dalam rumah tangga mereka, kan?" Azkia terus saja menelisik kehidupan mertuanya itu.
" Orang ketiga? Hmmm, bisa dibilang seperti itu, sih." Bi Neng mengusap rahangnya mencoba mengingat.
" Hahh? Jadi Papa Fariz sama Mama Lusi berpisah karena adanya orang ketiga? Mama selingkuh? Atau Papa yang selingkuh?" Azkia terkesiap mendengar jawaban dari Bi Neng.
" Bukan, bukan itu maksud Bibi, Neng!" Bi Neng buru-buru membantah dugaan Azkia. " Maksudnya orang ketiga itu, campur tangan dari Ibu mertua dari Pak Fariz yang terlalu banyak ikut campur dalam urusan rumah tangga orang tua Mas Raffa. Mungkin karena status ekonomi dan juga pekerjaan Bu Lusi lebih mapan dari Pak Fariz, jadi Neneknya Mas Raffa dari Ibu Lusi itu banyak mempengaruhi keputusan Ibu Lusi, apalagi Ibu Lusi dari dulu lebih senang mengejar karir, jadilah keluarganya terbengkalai hingga akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah karena memang sudah tidak satu jalan." Bi Neng menjelaskan.
" Setelah berpisah, Pak Fariz memilih pergi dan pindah ke luar Jawa. Awalnya Pak Fariz ingin membawa Mas Raffa juga tapi Mas Raffa nggak mau, karena Mas Raffa lebih senang tinggal bersama Bu Muti sampai saat ini Mbak Kia tahu sendiri." Bi Neng melanjutkan ceritanya. " Ngomong-ngomong kenapa Mbak Kia tanya soal Papa Mamanya Mas Raffa?" tanya Bi Neng terheran karena tiba-tiba Azkia sepertinya terkesan ingin tahu.
" Hmmm, aku ingin mencoba mendekatkan mereka kembali, Bi." Azkia mengungkap rencananya kepada Bi Neng.
Bi Neng menatap Azkia, mencoba memahami maksud dari ucapan Azkia.
" Maksud Mbak Kia ini ... ah, Mbak Kia ini ada-ada saja, Pak Fariz itu 'kan sudah punya keluarga lagi, Mbak. Masa mau jodohkan Bapak sama Ibu." Bi Neng menganggap rencana Azkia adalah hal yang mustahil.
" Bi Neng nggak tahu kalau Tante Wina sudah meninggal?"
" Hahh?? Meninggal? Innalillahi wa innaillaihi rojiun ... kapan itu, Mbak?" Bi Neng terkejut mendengar kabar tentang istri dari Papanya Raffasya.
" Seminggu setelah Nenek nggak ada, Bi."
" Ya Allah, kasihan Pak Fariz, ditinggal orang-orang yang disayanginya." Bi Neng terlihat turut prihatin.
" Karena itu aku mau coba mendekatkan lagi Papa sama Mama, Bi Neng."
" Apa itu mungkin, Mbak? Dulu saja mereka selalu bertengkar, apa mungkin bisa rujuk kembali?" Bi Neng nampak pesimis dengan rencana Azkia.
" Nggak ada yang nggak mungkin, Bi. Makanya harus dikasih jalan agar mereka bisa dekat kembali." Berbeda dengan Bi Neng, Azkia justru tetap bersemangat dengan rencananya.
" Bi Neng bilang senang kalau melihat Kak Raffa bahagia. Saat ini sudah ada aku dan Naufal. Aku ingin mencoba melengkapi kebahagiaan Kak Raffa dengan menyatukan kembali Papa dan Mama. Karena aku yakin, jauh di lubuk hati Mas Raffa, sebenarnya Mas Raffa itu ingin melihat kedua orang tuanya hidup bersama dan tidak jauh dari dia." Azkia menjelaskan alasannya mengapa bersikukuh dengan niatnya.
" Masya Allah, Mbak Kia. Beruntung sekali Mas Raffa mendapatkan istri Mbak Kia." Bu Neng mengusap lengan Azkia.
" Bi Neng terlalu berlebihan deh, muji aku." Azkia tersipu karena dipuji Bi Neng karena berpengaruh kuat dengan perubahan positif pada diri Raffasya.
***
" Kak, coba deh, Kak Raffa bicara sama Mama."
Raffasya memandang wajah Azkia, dia tak mengerti apa yang harus dia bicarakan dengan Mamanya itu. " Bicara apa?" tanya nya kemudian.
" Bujuk Mama agar mau tinggal di sini."
" Kenapa kamu ingin sekali Mama tinggal di sini? Lagipula Mama pasti nggak akan setuju tinggal di sini. Rumah Mama lebih besar, fasilitasnya lebih lengkap, mana mau Mama tinggal di sini." Raffasya merasa yakin jika Mamanya itu akan menolak tinggal bersamanya.
" Lebih besar, lebih lengkap tapi terasa hampa, merasa kesepian. Mending ngumpul di sini sama kita."
" May, aku nggak ingin ada yang akan mengusik keutuhan rumah tangga kita! Maksudku, aku takut kehadiran Mama di sini nantinya akan membuat kamu nggak nyaman dan berselisih paham ." Raffasya tentu saja tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dengan keluarganya. Apa yang menimpa keluarga orang tuanya yang banyak dipengaruhi oleh Ibu dari Mamanya membuatnya tak ingin mengambil keputusan memberi ijin kepada orang yang ingin masuk dalam keutuhan rumah tangganya meskipun itu adalah Mamanya sendiri.
" Kak Raffa jangan berburuk sangka sama Mama sendiri, dong! Mama Lusi itu bukan orang lain, Mama Lusi itu wanita yang sudah melahirkan Kak Raffa, Oma dari anak kita
Aku justru senang jika ada Mama di sini." Azkia tidak perduli dengan kekhawatiran yang dirasakan oleh suaminya.
" Tapi, May ...."
" Ayolah, Kak ..." Azkia melingkarkan tangannya memeluk pinggang suaminya dan mendongakkan kepalanya tepat menghadap wajah suaminya yang baru datang dari cafe.
" Kak Raffa bujuk Mama, ya!?" Aku yakin kalau Kak Raffa yang minta sendiri, Mama pasti akan setuju." Azkia mencoba merayu suaminya. Karena dia yakin dengan sikap keras kepala Lusiana, jika putranya sendiri yang memintanya untuk tinggal bersama, pastilah tidak akan ditolak oleh Lusiana.
Raffasya terdiam sejenak seraya berpikir.
" Ayolah, Kak ..." Azkia masih terus berusaha membujuk.
" Aku akan mengijinkan Mama untuk menginap di rumah ini, tapi kalau meminta Mama tinggal bersama kita, aku rasa aku punya kewajiban untuk menjaga privacy keluarga aku, May. Aku nggak ingin Mama mengatur kamu harus begini dan harus seperti itu." Raffasya mengambil keputusan yang menurutnya terbaik untuk keluarganya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️