MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Majikan Yang Baik



Lusiana tidak menyangka jika hari ini dia kedatangan mantan suaminya di kantornya dan maksud kedatangan Fariz ke kantornya itu dengan alasan untuk mengajaknya mempertimbangkan saran dari menantu mereka yang menginginkan mereka rujuk kembali.


" Mas, kita itu sudah pernah gagal dalam berumah tangga, aku rasa apa yang diinginkan Azkia itu tidak mungkin bisa berhasil." Lusiana tidak yakin mereka akan bisa memulai kembali hubungan mereka. " Suatu hubungan yang dijalankan dengab terpaksa tidak akan mungkin berjalan dengan baik," sambungnya.


" Kamu pikir anakmu itu menikah dengan Kia bukan karena keterpaksaan? Kalau bukan karena kejadian di Bandung dan bukan karena Kia hamil, belum tentu mereka menikah. Dan apa yang terjadi pada mereka sekarang? Mereka hidup bahagia, kan? Seharusnya kamu bisa belajar dari anak dan menantumu itu, Lus." ujar Fariz kemudian.


Lusiana terdiam tak membalas perkataan Fariz.


" Okelah, aku rasa itu saja yang ingin aku sampaikan. Sebaiknya kamu pertimbangan baik-baik. Kita ini sudah tidak muda lagi, jangan terlalu dikendalikan emosi. Aku pulang sekarang, Assalamualaikum ..." Fariz kemudian berpamitan dan meninggalkan Lusiana sendiri di ruangannya.


" Waalaikumsalam ..." sahut Lusiana saat Fariz sudah keluar dari ruangannya.


Setelah kepergian Fariz, Lusiana kembali ke mejanya. Dia lalu melirik laci bagian bawah dari meja kerjanya itu. Perlahan dia membuka laci paling bawah mejanya. Wanita itu mengambil sebuah figura dari dalam laci. Dia lalu menatap foto dirinya, Fariz dan juga Raffasya saat masih bayi. Dia masih menyimpan foto lama itu. Sejujurnya dia memutuskan untuk tidak menikah lagi karena dia memang belum bisa seutuhnya melupakan perasaannya kepada mantan suaminya itu. Namun dia berusaha menutupinya dengan bersikap ketusnya kepada Fariz setiap kali bertatap muka.


" Apa aku memang ditakdirkan untuk kembali dengan Mas Fariz? Tapi rasanya hatiku masih sakit, saat dia memutuskan menikah lagi setelah bercerai, sepertinya mudah sekali untukmu berpaling pada wanita lain, Mas?" Lusiana mengusap wajah Fariz dalam foto berfigura itu.


***


" Bagaimana, Tante? Apa sudah terlihat jenis kelaminnya?" tanya Azkia setelah selesai diperiksa oleh Dessy saat mereka check up kehamilan.


" Sepertinya Naufal akan punya adik cantik seperti Mamanya, nih!" ucap Dessy setelah mengetahui hasil jenis kelamin bayi yang dikandung Azkia yang kini sudah memasuki usia lima bulan.


" Bayinya perempuan, Tante? Alhamdulillah ... Kia senang akan punya anak perempuan, Tan." Azkia terlihat bahagia saat Dessy menyebutkan jenis kelamin calon bayinya.


" Kondisi bayinya bagaimana, Dok?" Raffasya kemudian menanyakan kondisi janin di perut istrinya.


" Kondisi janinnya bagus dan sehat," jawab Dessy.


" Alhamdulillah, syukurlah ..." sahut Raffasya yang sedang memangku Naufal.


" Oh ya, Naufal apa masih menyu sui ASI?" tanya Dessy.


" Sudah nggak mau, Tan. Dia pakai sufor saja sekarang." Azkia menjawab pertanyaan Dessy.


" Nggak apa-apa ya, Sayang." Dessy mengusap wajah Naufal. " Yang penting makanan sehatnya sayuran dan buah juga jangan ketinggalan agar gizinya tetap didapat." Dessy menasehati.


" Iya, Tan. Kebetulan Naufal suka sekali kalau dikasih buah-buahan," ucap Azkia.


" Bagus kalau suka, karena ada juga anak yang nggak suka mengkonsumsi buah," sahut Dessy kemudian menyerahkan resep untuk Azkia.


" Ini resep vitaminnya, diminum seperti biasa, ya!?"


" Baik, Tante. Kalau begitu kami pamit pulang dulu ya, Tan." Azkia segera berpamitan.


" Salam untuk Mamamu, ya!?" sahut Dessy.


" Iya, Tan. Assalamualaikum ...."


" Terima kasih, Dok. Assalamualaikum ...."


Azkia dan Raffasya berpamitan bersamaan.


" Waalaikumsalam, sama-sama, Raffa ..." Dessy menyahuti sebelum Azkia dan Raffasya meninggalkan ruangannya.


" Kita langsung pulang?" tanya Raffasya setelah sampai di dalam mobil.


" Kita ke mall dulu ya, Pa!?" Azkia meminta suaminya untuk mengantarnya ke mall terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah mereka.


" Nanti ngeluh kecapean lagi ..." sidir Raffasya.


" Tenang saja, kan ada suami yang siap memijat." Azkia terkekeh menyahuti sindiran suaminya.


" Pakai plus-plus, ya?" Raffasya mengulum senyuman dengan mengedipkan matanya.


" Beres ..." sahut Azkia terkekeh menunjukkan jempolnya.


Akhirnya Raffasya pun mengalah mengikuti apa yang diminta istrinya untuk pergi ke mall.


***


" Bagus yang mana, Pa?" Azkia menunjukkan dua buah kemeja berwarna biru dan matcha kepada Raffasya.


" Untuk siapa, Ma?" tanya Raffasya mengeryitkan keningnya.


" Untuk Papa lah, memangnya boleh aku kasih buat pria lain?" Azkia memutar bola matanya seraya mencibir.


" Coba saja kalau berani!" Raffasya dengan cepat menanggapi.


" Jadi mau yang mana?" tanya Azkia.


" Yang biru saja ..." sahut Raffasya.


" Coba dulu, nih!" Azkia menyuruh suaminya itu mencoba pakaiannya di fitting room.


Raffasya pun menuruti perintah Azkia dan menyerahkan Naufal untuk dipegang Azkia.


" Naufal di sini dulu sama Mama, Papanya mau coba baju dulu." Azkia menggandeng tangan Naufal yang hendak menyusul Raffasya.


Setelah selesai mencoba, Raffasya pun menyerahkan pakaian tadi kepada Azkia.


" Bagaimana, Pa?" tanya Azkia menerima kemeja dari suaminya


" Enak, nyaman dipakainya. Sudah pas size nya," sahut Raffasya.


" Oke, Mbak saya ambil yang model ini, ya!" Azkia menyerahkan pakaian yang dia pilih kepada SPG mall tersebut.


" Size nya yang ini, Kak?" tanya SPG itu.


" Iya, tapi saya minta yang baru jangan yang dipajang ini." Azkia meminta kemeja yang masih terlipat rapih di display bukan yang tergantung, yang biasanya sudah dicoba oleh beberapa calon pembeli.


" Baik, Kak." sahut SPG itu lalu mengambil items yang diminta oleh Azkia.


" Kalau yang ini mau nggak, Pa? Ini juga bagus, lho!" Azkia menunjukkan kemeja lainnya kepada Raffasya.


" Yang tadi saja, Ma." jawab Raffasya yang sibuk mengawasi Naufal yang mulai aktif berjalan dan tidak betah digendong lama-lama.


" Yang tadi itu pasti, Pa. Ini beli motif yang lain." sahut Azkia.


" Kenapa nggak beli di butik kamu saja, Ma? Jadi uangnya masuk ke pemasukan butik, kan?" Raffasya berpikir lebih ekonomis.


" Selama ini juga 'kan aku sering beliin baju Papa dari butik, sekali-kali beli brand lain diluar Alexa Boutique nggak apa-apa, kan?" sahut Azkia.


" Ya sudah terserah saja, tapi jangan banyak-banyak, deh! Cukup dua saja." Raffasya meminta Azkia tidak membelanjakan uangnya hanya untuk membeli pakaiannya.


" Kemeja dua, celananya juga dua, ya!?" Azkia menawarkan pilihan lagi.


" Nggak usahlah, Ma. Celana masih banyak, kok. Lagipula aku nggak kerja di lapangan jadi awet juga, kan?" Raffasya menolak keinginan Azkia yang akan membelikannya celana panjang.


" Yakin?"


" Yakinlah! Cowok itu 'kan nggak ribet kayak cewek yang selalu memperhatikan pakaian," ucap Raffasya membandingkan cara berpikir pria dalam hal memilih gaya berpakaian yang lebih simple ketimbang wanita yang lebih ribet. Mungkin bagi wanita membeli pakaian termasuk kebutuhan rutin setiap bulan apalagi jika wanita itu adalah pekerja, berbeda dengan pria yang mungkin akan membeli pakaian setahun sekali, itupun kalau sempat seperti yang biasa Raffasya lakukan dulu.


" Kalau punya istri punya butik, style nya jangan malu-maluin, dong!" ujar Azkia.


" Butik juga punya Maminya Naufal, bukan jerih payah sendiri." Raffasya menyindir Azkia yang membanggakan butik yang sebenarnya bukan milik Azkia dan bukan didapat dari hasil jerih payah istrinya itu.


Azkia langsung menoleh ke arah Raffasya saat suaminya itu memberikan sindiran menohok.


" Itu gara-gara, Papa! Kalau aku nggak hamil, mungkin aku bisa cari pekerjaan dan bisa cari uang sendiri!" Azkia berkelit dengan melempar kesalahan kepada Raffasya.


" Cari kerja apa? Bukannya kamu memang sudah pegang butiknya Mamamu dari kuliah? Kelar kuliah juga pasti nggak jauh-jauh ngurus usaha orang tua." Raffasya meremehkan kemampuan istrinya.


" Iiihh ...!" Azkia refleks memukul Raffasya dengan baju yang dipegangnya karena merasa kesal Raffasya memperoloknya.


" Kok sewot? Memang kenyataannya begitu, kan?" Raffasya terkekeh mengusap lengannya yang tadi kena sabetan dari baju di tangan Azkia.


" Ini notanya, Kak." Tiba-tiba Mbak SPG mendekat seraya menyerahkan nota kepada Azkia membuat perdebatan pasangan suami istri itu terhenti seketika.


" Tambah yang model ini, Mbak." Azkia lalu menyerahkan baju yang dia pilih terakhir.


" Oh, baik, Kak. Sizenya sama, ya?" tanya Mbak SPG.


" Iya, minta yang baru juga ya, Mbak!"


" Baik, Kak. Sebentar saya carikan dulu." Mbak SPG kembali mencari baju yang diminta Azkia.


" Setelah ini mau cari baju buat Bi Neng, Mbak Atun sama Mbak Uni ya, Pa." Azkia meminta persetujuan suaminya untuk membelikan pakaian baru untuk ART nya.


" Ya sudah nggak apa-apa." Raffasya menjawab sambil tersenyum. dia teringat akan pergunjingan para ART nya beberapa hari lalu.


" Kenapa senyam-senyum begitu, Pa?" tanya Azkia heran karena dia melihat senyum penuh arti di bibir suaminya.


" Nggak ada apa-apa, aku hanya senang saja ternyata istriku ini sangat baik dan perhatian kepada ART kita." Raffasya yang kini sudah berhasil menggendong Naufal kini melingkarkan lengannya di pundak Azkia.


" Mereka itu 'kan sudah bekerja dengan baik di rumah, sudah setia juga sama kita, jadi kita harus kasih perhatian juga 'kan, Pa? Sama nanti jangan lupa kasih bonus akhir tahun biar mereka betah bekerja sama kita," sahut Azkia mengusulkan.


" Iya, nanti diatur saja, deh." Raffasya menyetuju usulan yang diberikan istrinya tersebut.


***


" Bi Neng, ini aku beli pakaian untuk Bi Neng, Mbak Atun sama Mbak Uni." Azkia menyerahkan paper bag kepada Bi Neng berisi baju-baju baru yang dia beli di mall tadi bersama Raffasya dan Naufal.


" Ini buat kami, Mbak Kia?" tanya Bi Neng saat mengintip paper bag yang diserahkan Azkia.


" Iya, semoga suka sama model dan motifnya," sahut Azkia.


" Makasih ya, Mbak Kia. Semoga Mbak Kia dan Mas Raffa selalu dikasih sehat dan lancar rezekinya." Bi Neng langsung mendoakan majikannya itu.


" Aamiin, Bi Neng." sahut Azkia kembali.


" Uni, Atun, ini Mbak Kia belikan baju untuk kalian." Bi Neng menunjukkan baju yang dibeli Azkia sapa Uni dan Atun yang baru muncul di dapur.


" Aduh, jadi merepotkan Mbak Kia, tapi makasih ya, Mbak. Bajunya bagus ..." Uni yang melihat baju yang ditunjukan Bu Neng langsung mengucapkan terima kasih.


" Makasih ya, Mbak Kia." Atun pun tak ketinggalan mengucapkan terima kasihnya.


" Sama-sama, Mbak. Syukurlah kalau kalian suka ... semoga kalian semua betah bekerja di sini." ucap Azkia senang karena ART bergembira atas pemberiannya.


" Sudah pasti betah dong, Mbak! Kami senang mempunyai majikan yang baik kayak Mbak Kia sama Mas Raffa," sahut Uni cepat.


" Eheemm ... tapi kalau punya majikan yang baik jangan sampai digosipin ya Ni!" Suara Raffasya yang tiba-tiba muncul di dapur membuat ketiga ART nya kaget.


" Eh, Mas Raffa ..." Uni dan Atun tersenyum kaku mendengar ucapan bernada sindiran dari Raffasya.


" Memang gosipin apa?" Azkia memang tidak tahu jika dia pernah dijadikan bahan perbincangan ART nya karena Raffasya memang tidak menceritakannya kepada Azkia.


Raffasya mengedikkan bahunya. " Nggak ada apa-apa kok, Ma. Sudah yuk, ke kamar. Naufal sudah ngantuk, nih!" Raffasya tidak ingin memperlebar masalah kalimat yang dia katakan tadi dengan mengajak istrinya itu segera pergi ke kamar mereka.


*


*


*


Bersambung ...


Makasih yang udah ralat tentang kota tempat Papa Fariz tinggal, sejujurnya aku sendiri lupa apa sebelumnya pernah menyebut nama kotanya apa ngga? 😁😁


Happy Reading❤️