
Raffasya berdiri dan membiarkan tubuhnya tersiram air dari shower kamar mandinya. Sejak terjatuh dan terbangun dari tidurnya dia tidak bisa melanjutkan tidurnya lagi. Dia terus saja kepikiran tentang mimpi anehnya itu. Bagian dada Azkia yang terlihat begitu menggoda untuk disentuh masih saja terbayang di pelupuk matanya, belum lagi jika mengingat sesuatu yang pernah terlihat di kamar tamu rumahnya dulu, seketika dia mendadak pusing saat teringat bagian-bagian tubuh dari Azkia yang dia lihat dalam mimpi dan juga dikenyataannya.
" Si al! Bisa-bisanya gue mimpiin dia! Mimpi me sum pula." Raffasya mengusap kasar wajahnya yang terkena percikan air shower.
Selesai menyiram tubuhnya untuk melakukan pendinginan Raffasya pun mengambil handuk dan mengusap rambutnya dengan handuk kecil.
" Dasar cewek bar-bar! Di mimpi pun tetap saja bar-bar." Satu sudut bibir Raffasya terangkat mengingat bagaimana di mimpinya tadi Azkia memukulinya.
Sedangkan di kamarnya pun Azkia mengalami susah tidur akibat mimpi yang dianggapnya sangat menyeramkan.
" Kenapa aku mimpi menikah dengan Kak Gibran, ya? Terus kenapa Kak Raffa bisa-bisanya muncul saat aku sama Kak Gibran mau malam pertama?" Azkia benar-benar merasa aneh dengan mimpinya.
" Tadi itu mimpi paling menyeramkan dibanding mimpi dikejar setan." Azkia sampai mengedikkan bahunya. Dia lalu mengambil ponselnya dan mengetik di mesin pencari informasi tentang arti menikah dengan kekasih.
" Astaghfirullahal adzim ..." Azkia menutup mulutnya saat membaca soal arti mimpi menikah apalagi dengan kekasih ternyata pertanda buruk.
" Pertanda buruk apa ya?" Azkia langsung kepikiran soal arti mimpi itu. " Ya Allah, semoga ini hanya bunga tidur dan tidak terjadi satu hal yang buruk dengan hubungan aku dan Gibran." Azkia berdoa agar selalu dilindungi hubungannya dengan Gibran hingga halal menjadi pasangan suami istri.
***
Siang ini Gibran dan Azkia tiba di kota Jambi. Gibran langsung membawa Azkia ke rumah orang tuanya.
" Assalamualaikum ..." Gibran dan Azkia memberi salam saat masuk ke dalam ruang tamu rumah orang tua Gibran.
" Waalaikumsalam ..." Suara beberapa orang dari dalam rumah menyahuti.
" Oh hai, Azkia apa kabar?" Tante Dinar langsung menyambut dan memeluk Azkia.
" Alhamdulillah Kia sehat, Tante." Azkia kemudian meyalami dengan mencium punggung tangan Mama dari Gibran.
" Kamu semakin cantik saja, Kia." Tante Dinar memuji kecantikan Azkia.
" Cantik dong, Ma. Kalau nggak cantik, nggak mungkin anak Mama ini mengejar Kia sampai ke Jakarta." Gibran dengan cepat menimpali membuat Azkia tersipu malu. Azkia buru-buru menyalami Papa dari Gibran untuk menyamarkan kalau dia sedang merona saat dipuji Gibran.
" Anak Papa ini seperti Papanya, pintar cari calon pendamping." Om Fatur segera mengomentari ucapan Gibran seraya membanggakan dirinya.
" Hmmm, Papa sama anak sama saja ..." celetuk Tante Dinar.
" Papa Mama kamu gimana kabarnya, Kia? Sehat?" tanya Om Fatur kemudian.
" Sehat Alhamdulillah, Om." sahut Azkia.
" Sudah lama kami tidak bertemu dengan orang tua kamu," sambung Om Fatur.
" Main ke Jakarta kalau senggang, Om." ucap Azkia.
" Nanti kalau melamar kamu juga Papa sama Mama aku pasti ke Jakarta, kok." Lagi-lagi ucapan Gibran sukses membuat pipi Azkia bersemu.
" Wah, ini anak sepertinya sudah kebelet kepingin nikah, nih!" timpal Tante Dinar.
" Nah tuh, dengar apa kata Mama aku. Jadi kapan nih, adek siap Abang nikahi?"
Wajah Azkia sudah seperti kepiting rebus karena terus menerus digoda oleh Gibran. Tapi Azkia sangat merasa senang karena dia sangat diterima dengan baik di keluarga Gibran.
***
Malam harinya Azkia dan Gibran sudah berada di salah satu convention hall di kota tersebut. Gibran terlihat menyapa beberapa sahabatnya semasa SMA nya dan mengenalkan Azkia sebagai calon istrinya. Azkia sendiri yang memang supel mudah mengakrabkan diri dengan beberapa teman Gibran.
" Gibran jaman SMA dulu banyak didekati oleh cewek tapi nggak ada satupun yang dia jadikan pacar, Kia." ucap Harun, salah satu sahabat Gibran yang mengajak Azkia berbincang.
" Dia bilang sih, dia punya cewek pujaan hati, teman dia waktu SD. Aku pikir itu cuma halunya dia saja, eh ... ternyata benar cewek pujaan hatinya itu ada dan langsung dibawa kemari dikenalkan ke kami semua," lanjutnya.
Azkia melirik ke arah Gibran yang menyeringai seraya menggaruk tengkuknya. Dia benar-benar tidak menyangka jika Gibran telah selama itu menunggunya.
" Tapi untungnya kamu belum punya pacar saat Gibran sekolah di sini," ucap Harun kembali.
" Kebetulan orang tua Kia ini nggak ijinkan Kia pacaran sebelum lulus SMA, jadi aku aman, dong!" Gibran terkekeh.
" Iya memang rezeki kamu, Gibran." ujar Harun ikut terkekeh.
Sementara di sudut berbeda dari ruangan itu terlihat Shendy sedang memperhatikan gerak-gerik Gibran dan Azkia. Dia terlihat kecewa karena ternyata Gibran membawa Azkia di acara reuni itu. Tadinya dia berpikir akan bisa memanfaatkan acara reuni untuk mendekati Gibran, namun rencananya gagal karena Azkia terlihat tak pernah lepas dari Gibran.
" Hai, Shen ...."
Shendy langsung menoleh saat seseorang menyapanya.
" Hei, Gladys ..." Shendy langsung berpelukan dengan Gladys saat melihat kehadiran Gladys. " Kamu datang sama siapa? Mana cowok yang kamu ceritakan itu? Nggak kamu ajak kemari?" tanya Shendy saat melihat kehadiran Gladys sendirian.
" Dia nggak ikut, Shen. Masih agak sulit menaklukan dia." Gladys menampakkan wajah kecewanya.
" Kamu mesti semangat, Gladys." Shendy menepuk pundak Gladys meminta temannya itu untuk tidak menyerah.
" Kamu sendiri datang dengan siapa?" Gladys kini balik bertanya.
" Aku juga datang sendiri, sih." Shendy kembali menatap Gibran yang terlihat melingkarkan lengannya ke pinggang Azkia, membuat Gladys juga mengikuti arah pandangan Shendy.
" Itu Gibran, kan?" tanya Gladys.
" Iya."
" Dia sama ceweknya?"
" Iya."
Kini Gladys yang menepuk pundak Shendy.
" Semangat!! Selama janur belum melengkung, nothing is impossible." Senyum licik terlihat jelas di sudut bibir Gladys. " Kita ke sana, yuk!" Gladys bahkan kini menarik tangan Shendy untuk mengikutinya berjalan mendekati Gibran dan Azkia.
" Hai ... kamu Gibran, kan? Apa kabar, Gibran? Masih ingat aku, nggak? Aku Gladys." Ketika sampai di hadapan Gibran, Gladys langsung menyapa Gibran dengan melakukan cipika-cipiki. Tentu saja apa yang dilakukan Glasys membuat Gibran terperanjat, terlebih lagi Azkia yang nampak kesal saat tiba-tiba ada wanita yang berani menyentuh Gibran di hadapannya.
" Hai, Gib ... senang bisa bertemu kamu lagi." Shendy pun melakukan hal yang sama dengan Gladys.
Sementara setelah menyapa Gibran, Gladys langsung menoleh ke arah Azkia yang tangannya melingkar di lengan Gibran. Gladys nampak terkejut saat melihat Azkia lah yang berada di samping Gibran, karena saat ini dia benar-benar hapal wajah dari Azkia.
" Kamu? Kamu yang waktu itu keluar dari cafe nya Raffasya, kan?" Gladys tentu saja mengingat wajah Azkia, karena saat itu dia sangat cemburu saat tahu jika Azkia lah wanita yang disebut oleh teman-teman Raffasya mendapatkan perlakuan istimewa dari Raffasya.
" Lho, kamu kenal sama Raffasya, Gladys?" Gibran agak terkejut mendengar Gladys menyebut nama Raffasya. Gibran lalu menatap Azkia yang sedang mengeryitkan keningnya untuk mencoba mengingat siapa Gladys? Dan akhirnya Azkia ingat jika Gladys adalah wanita yang pernah datang ke butiknya.
" Tentu saja aku kenal, dia itu 'kan cowok aku." Dengan percaya diri Gladys mengatakan jika Raffasya adalah miliknya sembari melirik sinis ke arah Azkia.
" Kamu ke cafenya Raffa, Yank?" Gibran kini bertanya kepada Azkia.
" I-iya, waktu itu aku janji bertemu sama Atika, tapi aku nggak tahu kalau cafe itu punya Kak Raffa." Azkia langsung menjelaskan kepada Gibran.
" Kamu kenal Raffasya juga, Gibran?" Gladys juga terlihat terkejut karena ternyata Gibran mengenal Raffasya.
" Iya, Raffa itu teman SD aku dan juga Kia. Oh ya, kenalkan ini Azkia, calon istriku." Jika tadi Gladys dengan penuh percaya diri memperkenalkan Raffasya sebagai kekasihnya, Gibran pun tidak mau kalah mengenalkan Azkia sebagai calon istrinya.
" Calon istri, ya? Hati-hati, lho! Kalau masih sekedar calon jangan dikenal-kenalkan dulu. Siapa tahu nantinya selingkuh, gagal nikah, malu, dong! Benar nggak, Shen?" Gladys mulai melakukan aksinya, apalagi saat dia tahu jika kekasih Gibran adalah wanita yang akan jadi pengganjal hubungannya dengan Raffasya.
" Maksud Mbak ini apa, ya?" Azkia tentu saja tidak terima dikatakan akan selingkuh dari Gibran.
" Aku sih bicara tentang fakta. Kamu sedang berusaha menggoda dan mendekati Raffa, kan?" tuding Gladys terang-terangan.
Azkia terkesiap dituduh jika dia sedang berusaha menggoda Raffasya.
" Mbak, tolong kalau punya mulut dijaga, ya! Apa mau merasakan aku tinju wajahnya?!" gertak Azkia emosi dituduh melakukan hal yang tidak dia lakukan sama sekali
"'Ya ampun, Gibran! Cewek kamu ini kasar banget, sih! Pakai mengancam mau meninju Gladys segala." Shendy yang tadi hanya mendengarkan perdebatan antara Azkia dan Gladys langsung berkomentar menyindir Azkia.
" Dia itu jago karate, kalau kalian bikin ulah sama Azkia, jangan kaget kalau bogem mentah akan melayang ke wajah kalian. Apalagi kalian itu sama-sama wanita, Raffa saja sudah pernah merasakan pukulan dan tendangan dari Azkia. Jadi tuduhan kalian terhadap Azkia itu nggak berasalasan. Raffa dan Azkia itu ibarat air dan minyak, nggak mungkin bisa bersatu, jadi jangan bikin gosip murahan seperti yang kamu tuduhkan tadi, Gladys!" Gibran yang sangat mengenal Azkia berusaha membela Azkia dan tak terpengaruh dengan tuduhan yang dilontarkan Gladys kepada kekasihnya.
" Ayo, kita pindah ke tempat lain, Yank!" Gibran yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran Gladys dan Shendy langsung mengajak Azkia berpindah tempat. Sedangkan Azkia langsung mengacungkan jari tengahnya ke arah Gladys dan Shendy saat meninggalkan kedua wanita perusuh itu.
" Kok mereka sampai menuduh kamu seperti itu, Yank?" tanya Gibran heran.
" Mana aku tahu, Kak! Aneh saja aku dituduh menggoda Kak Raffa. Idiiihh, amit-amitlah ..." Azkia mengedikkan bahunya merasa itu adalah suatu yang buruk jika memang terjadi. Namun dia menduga jika Gladys menunduhnya seperti itu karena melihat Raffasya menolongnya saat dia hampir terjatuh hingga membuat Gladys salah paham dan cemburu kepada dirinya.
***.
Sekitar jam sebelas malam Gibran dan Azkia kembali ke rumah orang tua Gibran. Awalnya Azkia memang ingin menginap di hotel selama di Jambi, namun orang tua Gibran melarangnya. Mereka meminta agar Azkia menginap saja di rumah mereka karena ada kamar tamu yang bisa dipakai Azkia daripada Azkia harus menginap di hotel.
." Buruan ganti baju, cuci muka lalu istirahat ya," Gibran menyuruh Azkia untuk segera beristirahat saat dia mengantar Azkia ke kamar tamu.
" Iya, Kak."
Gibran lalu membelai wajah Azkia dan menatap wajah cantik Azkia.
" Kenapa, Kak?" tanya Azkia heran karena melihat Gibran menatapnya dengan tatapan mata yang sulit untuk dipahami.
" Aku sunguh mencintai kamu, Azkia. Aku berharap secepatnya kita bisa menikah." Gibran lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Azkia hingga akhirnya bibir mereka saling bertemu. Gibran memberikan ciuman lembut ke bibir ranum Azkia dan langsung dibalas oleh Azkia, hingga aktivitas sentuhan bibir yang awalnya hanya sebuah kecupan singkat berlangsung hampir satu menit karena mereka sama-sama terbuai dengan pagutan mereka.
" Eheemmm ...!!"
Gibran dan Azkia sama-sama tersentak kaget saat mendegar seseorang berdehem hingga membuat mereka melepas bibir mereka yang saling bertautan selama satu menit itu.
" M-mama ...."
" T-tante ...."
Gibran dan Azkia terkejut saat melihat Tante Dinar lah yang memergoki mereka. Gibran terlihat menggaruk tengkuknya sementara Azkia langsung tertunduk malu.
" Maaf kalau Mama menganggu keasyikan kalian. Mama hanya mengingatkan supaya kalian tidak terlena dan sampai melewati batas. Kalian belum resmi menikah, jadi jangan sampai kebablasan." Dengan bahasa yang santun Mama dari Gibran itu menasehati Gibran dan juga Azkia.
" Iya, Ma."
" Maaf, Tante."
Azkia benar-benar merasa malu dan menyampaikan rasa penyesalannya karena dia ikut terbuai dengan sentuhan yang dilancarkan Gibran kepadanya.
" Iya sudah, kamu cepat istirahat sudah larut malam. Gibran kamu cepat keluar!" Tante Dinar memberi perintah kepada anaknya untuk segera meninggalkan kamar tamu.
" Iya, Ma." sahut Gibran. " Sleep tight, see you in the morning." Gibran mengacak rambut Azkia sambil mengeringkan matanya sebelum akhirnya meninggalkan kamar tamu yang ditempati Azkia diikuti Tante Dinar.
" Astaga, aku malu banget ketahuan Tante Dinar kalau ciuman sama Kak Gibran." Azkia mengigigit bibirnya merasa senewen. " Kak Gibran sih, pakai cium-cium segala!" Azkia merutuki dirinya karena membalas apa yang dilakukan Gibran kepadanya.
" Semoga ini bukan pertanda buruk dari hubungan aku dengan Kak Gibran," harap Azkia. Kemudian dia melangkah ke arah kamar mandi untuk mencuci muka dan mengganti pakaian. Setelah itu dia merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia lalu teringat soal pertemuan dengan dua orang wanita yang dia jumpai di acara reuni tadi.
" Cewek itu bilang Kak Raffa itu cowoknya. Cocok sih sama Kak Raffa, sama-sama menyebalkan!" Azkia menyeringai mengingat kedua orang itu.
" Tapi kenapa cewek itu mengatakan kalau aku menggoda Kak Raffa? Siapa juga yang menggoda Kak Raffa? Aku malah berharap nggak selalu bertemu dengan Kak Raffa," gumam Azkia.
" Apa dia menduga aku menggoda Kak Raffa karena melihat aku sama Kak Raffa waktu di cafe, ya?" Azkia mencoba menduga-duga kenapa Gladys menyebutnya selingkuh padahal Azkia sendiri merasa baru dua kali bertemu dengan Gladys, yaitu di butiknya dan saat reuni tadi. Karena saat di halaman parkir cafe Raffasya saat kedua teman Raffasya mendekatinya, Azkia tidak terlalu memperhatikan keberadaan Gladys.
" Bagaimana kalau dia tahu kalau Kak Raffa sering curi-curi kesempatan peluk-peluk aku, ya? Terus Kak Raffa juga sudah pernah lihat ... oh astaga, jangan sampai hal ini diketahui cewek itu! Bisa terancam hubungan aku sama Kak Gibran kalau hal ini sampai tersebar. Apalagi temannya itu sepertinya sedang mengincar Kak Gibran." Azkia berharap rahasia kejadian di kamar tamu rumah Raffasya hanya akan jadi rahasia dia, Raffasya dan Lusiana saja.
*
*
*
Bersambung ..
Happy Reading❤️