
Azkia tersenyum senang saat menutup pintu kamar milik Raffasya, karena dia berhasil mengusir suaminya dari kamarnya sendiri, hingga akhirnya dia melepas handuk yang hanya mampu menutupi dari dada hingga setengah pahanya dan berjalan ke arah lemari. Namun betapa terkejutnya Azkia saat dia mendapati sosok Raffasya yang sedang berdiri bersandar di samping lemari dengan tangan berlipat di dada,
" Aaaakkhhh !!" Azkia berteriak dan langsung memutar tubuhnya untuk memakai handuknya yang tadi dia taruh di atas tempat tidur. Namun karena terburu-buru, Azkia menginjak tetesan air yang jatuh dari tubuhnya saat dia keluar dari kamar mandi tadi sehingga terpeleset dan hampir terjatuh ke lantai kalau saja tangan Raffasya tidak menahan tubuh Azkia.
" Awas, May!"
Raffasya yang melihat tindakan ceroboh Azkia langsung berlari dan menangkap tubuh polos Azkia.
" Lu ceroboh banget, sih! Kalau tadi terjatuh bisa bahaya buat kandungan lu!" Raffasya menegur Azkia dengan nada menyentak.
Azkia mengerjapkan matanya saat menyadari saat ini dirinya berada dalam pelukan Raffasya.
" Aaakkhh, Kak Raffa ... lepaskan!!" Teriak Azkia sambil meronta ingin melepaskan diri dari pelukan suaminya, karena dia sangat malu karena menyadari saat ini tidak mengenakan sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya.
Namun Raffasya tidak meluluskan permintaan Azkia, dia malah sengaja mengencangkan dekapannya pada wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.
" Kak Raffa, lepaskan!!" Wajah Azkia kini sudah memerah akibat malu dan kesal karena Raffasya tidak juga melepaskannya.
" Kak Raffa!!"
Bukannya melepaskan, Raffasya justru mengangkat tubuh Azkia dengan kedua lengannya.
" Aaaakkkhh ...!! Kak Raffa mau ngapain? Aku nggak mau mengulang kejadian itu lagi!" Azkia terus berontak dalam gendongan tangan Raffasya.
Raffasya bergeming dengan protes yang dilancarkan oleh Azkia, dia kemudian menaruh tubuh Azkia di atas tempat tidur hingga sekarang ini wajah Raffasya dan Azkia nampak dekat berhadapan.
Azkia bahkan harus menahan nafasnya saat wajah tampan suaminya itu berjarak mungkin tak lebih dari dua puluh sentimeter dari wajahnya. Apalagi ketika Raffasya semakin memangkas jarak di antara mereka dengan tatapan mata yang terus menerus menatap bibir ranum Azkia
Azkia seketika menutup matanya mengetahui suaminya itu hendak menciumnya. Dia tak melawan karena dia yakin Raffasya tidak akan melepaskannya.
" Cepat pakai bajunya? Ngapain pakai merem segala? Ngarep gue cium?" Raffasya kemudian bangkit dan menjauh Azkia. Walaupun dia harus mati-matian meredam has rat dan ga irah nya karena mendapati tubuh putih dan mulus istrinya di depan mata. Hubungan dirinya dan Azkia yang sejak kecil terbilang selalu bertentangan membuatnya merasa aneh jika dia harus bersikap in tim kembali dengan wanita itu walaupun sekarang ini sudah berstatus sebagai suami istri.
Dan Azkia sontak membelalakkan matanya mendengar perkataan Raffasya. Dia melihat Raffasya sudah berdiri di tepi tempat tidur dengan terus menatapnya.
" Siapa juga yang berharap dicium Kak Raffa??" Tepis Azkia kemudian mengambil handuk dan melilitkannya untuk menutupi tubuhnya.
Azkia berdiri ingin mengambil baju namun tiba-tiba tangan Raffasya menarik tubuh Azkia dan membelit pinggang wanita cantik itu.
Sekali lagi Raffasya mengangkat tubuh Azkia membuat Azkia memekik kaget, apalagi saat Raffasya meletakkan kembali tubuhnya ke atas tempat tidur dengan Raffasya mengungkung tubuh Azkia. Tak memberikan waktu lama, Raffasya langsung menempelkan bibirnya ke bibir tebal Azkia. Sekuat tenaga dia mencoba menahan, namun has rat nya sebagai laki-laki normal sepertinya sudah tidak bisa dikendalikan.
" Hmmpptt ..." Bahkan suara Azkia yang ingin memprotes tindakkannya tak diperdulikannya.
Tangan Raffasya melepas lilitan handuk di tubuh Azkia hingga kedua pegunungan yang dulu sempat dijelajahinya mengundangnya kembali untuk kembali berwisata di sana.
Azkia terus meronta ingin melepaskan diri namun satu tangan Raffasya berhasil mengunci tangan Azkia ke atas.
Raffasya terus saja menikmati bibir manis yang menggodanya sejak tadi, hingga memaksa Azkia membuka mulutnya. Raffasya tak menyiakan kesempatan untuk mengeksplor rongga mulut Azkia dengan lidahnya. Sementara tangannya sibuk mendaki dan menguasai puncak pegunungan milik Azkia.
Azkia merasakan darahnya berdesir karena gelenyar aneh yang pernah dia rasakan saat dia melakukan hal yang sama dengan Raffasya kembali hadir saat ini. Apalagi saat Raffasya terus menyentuh bagian puncak di dadanya, dia merasakan sesuatu yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata namun dia bisa menikmatinya.
Menikmati? Mungkin itu kata yang lebih tepat Azkia rasakan. Rasa geli bercampur nikmat yang tak terelakkan membuat dirinya hanya pasrah saat Raffasya terus menyentuhnya. Bahkan saat Raffasya terus mengecupnya sampai kini rongga mulut pria itu menguasai kedua bagian kembar yang benar-benar membuat pria itu merasa ketagihan.
" Oouugghh ..." Tanpa sadar de sahan keluar dari mulut Azkia sampai dia menggigit bibirnya agar suara-suara itu tidak terus dia keluarkan.
Seringai tipis terbentuk di sudut bibir Raffasya saat dia melihat Azkia sampai harus menarik kepalanya ke atas karena tidak kuasa menahan rasa yang telah dia timbulkan.
Kini pandangan Raffasya turun ke bawah dan pandangannya disuguhi daerah yang pernah dia lihat sebagian sebelum dia berhasil menaklukannya beberapa waktu lalu di Bandung.
Raffasya kembali menelan salivanya secara kasar, ingin dia mengunjungi tempat itu, namun dia merasa khawatir dengan janin yang ada di dalam rahim Azkia yang masih sangat muda.
Raffasya kini merebahkan tubuhnya di samping Azkia dengan tangan memeluk Azkia dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Azkia. Dia berusaha meredakan has rat nya hingga membuat deru nafasnya terdengar di telinga Azkia.
Azkia membuka matanya dan melirik ke arah Raffasya. Dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan suaminya itu. Apakah merasa kelelahan atau apa? Azkia pun mencoba bangkit dari tempat tidur namun Raffasya menahannya.
" Jangan bergerak! Biarkan seperti ini dulu." Suara parau Raffasya meminta Azkia untuk tidak beranjak dari posisi mereka saat ini. Dan Azkia menuruti apa yang diinginkan Raffasya. Raffasya lalu menarik selimut tebal dan menyelimutkan ke tubuh Azkia, kemudian dia pun memposisikan tubuhnya seperti tadi dengan tangan memeluk Azkia.
" Tidurlah ..." ucap Raffasya di dekat telinga Azkia.
Satu jam kemudian ...
Azkia mencoba menjauhkan tangan Raffasya yang melingkarkan di perutnya saat dia merasa suaminya itu telah terlelap karena dia mendengar dengkuran halus dari suaminya itu. Rasanya dia tidak cukup merasa nyaman harus tidur tanpa menggunakan apapun, apalagi harus berduaan dengan Raffasya. Dia berpikir, bisa saja Raffasya akan menyerangnya saat dia tertidur nanti.
Dengan gerakan perlahan Azkia memindahkan tangan Raffasya yang memeluk perutnya.
" Mau ke mana?"
Azkia terkejut saat mengetahui jika suaminya ternyata terbangun karena gerakannya tadi.
" Ntar gue yang ambil." Raffasya kemudian bangkit dan mengambil baju tidur dari lemari pakaian.
" Pakailah dan cepat tidur." Raffasya menyerahkan pakaian kepada Azkia dan menyuruh Azkia segera tertidur. Sementara dia mengambil bantal dan memilih merebahkan tubuhnya di atas sofa.
***
" Hoek ..." Azkia bergegas menyingkirkan selimutnya saat dia merasakan morning sickness kembali. Dia langsung berlari menuju kamar mandi.
" Kenapa, May?" Raffasya pun langsung terbangun dan mengikuti langkah kaki Azkia.
" Hoek ..." Azkia tertunduk lemas di depan wastafel.
" Lu mual lagi?" Raffasya memijat tengkuk Azkia dan merapihkan rambut Azkia yang terurai. Setelah rasa mual di perut Azkia berkurang, Raffasya pun membantu Azkia dengan melingkarkan tangannya di punggung istrinya itu.
" Lu duduk di sini." Raffasya menyusun bantal untuk bersandar punggung Azkia kemudian berlari ke luar kamarnya menuju arah dapur.
" Bi, kalau buat menghilangkan rasa mual saat hamil apa ya?" tanya Raffasya kepada Bi Neng saat berpapasan dengan Bi Neng di bawah tangga.
" Mbak Kia mengalami mual-mual lagi ya, Mas?" tanya Bi Neng.
" Iya, Bi."
" Nanti Bi Neng buatkan teh jahe." Bi Neng kemudian berjalan ke arah dapur yang diikuti oleh Raffasya.
Bi Neng kemudian mengambil air hangat dari dispenser kemudian mencelupkan satu kantong teh jahe ke dalam cangkir itu.
" Ini, Mas. Suruh Mbak Kia minum teh ini." Bi Neng menyodorkan secangkir teh jahe itu kepada Bi Neng.
" Makasih, Bi."
" Ada apa, Raffa?" tanya Nenek Mutia yang baru saja masuk ke dalam dapur.
" Almayra mual-mual, Nek." sahut Raffasya.
" Mual-mual? Buatkan teh herbal untuk Kia, Neng." Nenek Mutia segera memerintahkan Bi Neng untuk segera membuatkan teh herbal untuk cucu menantunya itu.
" Ini sudah saya buatkan teh jahe, Bu." sahut Bi Neng.
" Ya sudah, cepat kamu berikan kepada Kia." Nenek Mutia kemudian menyuruh Raffasya kembali ke kamarnya.
" Iya, Nek."
Raffasya kemudian berjalan menuju kamarnya. Namun dia tidak mendapati Azkia di tempat tidurnya.
" May ..." Raffasya menaruh cangkir teh di atas nakas kemudian berlari ke arah kamar mandi dan dia melihat Azkia sedang terduduk lemas di atas toilet dengan mata terpejam dan nafas tersengal.
" May, tadi muntah lagi?" Raffasya menghapus peluh ke kening Azkia. Dia lalu mengangkat kembali tubuh Azkia dan membawa ke tempat tidur.
Raffasya mengambil secangkir teh jahe lalu memberikan kepada Azkia.
" Minumlah teh ini." Raffasya membantu memegang cangkir itu saat Azkia menyesap teh yang masih terasa hangat.
" Apa perlu periksa ke dokter?" tanya Raffasya.
Azkia dengan cepat menggelengkan kepala.
" Nggak usah, nanti juga sembuh," sahut Azkia.
" Ya sudah, kamu istirahat lagi saja."
" Aku mau mandi, mau Shubuh dulu."
" Nanti aku siapkan dulu air hangatnya." Raffasya kemudian melangkah ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat di bathtub untuk Azkia.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️