
" Tik, gue boleh pesan beberapa menu, nggak?" tanya Azkia saat melihat-lihat daftar menu makanan yang ada di restoran yang mereka pilih untuk makan siang.
" Asal semuanya bisa masuk ke dalam perut lu sih, nggak masalah," sahut Atika mempersilahkan Azkia memesan lebih dari satu menu makanannya.
" Benar, nih? Nanti lu tekor, nggak?" sindir Azkia tertawa kecil.
" Lu tenang saja, nanti billing nya gue pisah, terus kasih ke suami lu, gue klaim ke dia minta penggantian." Atika tertawa lebih kencang dari tawa Azkia.
" Si alan, lu!" Azkia ikut tertawa mendengar jawaban Atika.
Azkia dan Atika pun kemudian memesan menu yang diinginkannya dan menunggu pelayan restoran menyiapkan makanan yang mereka pesan.
" Sudah berapa lama kita nggak hangout makan bareng gini di luar ya, Tik?" tanya Azkia di sela-sela waktu menunggu makanan dihidangkan.
" Hmmm, terakhir waktu kita ketemuan di cafenya suami lu bukan, ya? Waktu lu hampir terjatuh lalu ada adegan kayak di film-film gitu?" Atika meningingatkan kenangan saat pertama kali dia bertemu Raffasya.
" Itu yang terakhir, ya?" Azkia sendiri sudah lupa kapan mereka pergi berdua seperti sekarang ini.
" Iya, gue ingat waktu itu lu sama Kak Raffa masih seperti tikus sama kucing, hahaha ..." Atika tergelak mengingat bagaimana dulu Azkia dan Raffasya berdebat. " Tapi feeling gue saat itu memang merasa kalau akan ada sesuatu di antara kalian, eh ... ternyata kejadian, kan? Dan lu sekarang merasakan sendiri bagaimana sweet nya Kak Raffa memperlakukan lu 'kan, Az?"
Azkia mengedikkan bahunya, dia tidak memungkiri sikap manis dan perhatian yang diberikan Raffasya kepadanya.
" Iya, Tik. Gue juga nggak sangka di balik sikap keras kepala Kak Raffa, ternyata dia kadang biking gue sampai melted banget."
" Dan sebentar lagi lu on the way ke arah bucin, Az. Cowok seperti suami lu itu banyak jadi incaran cewek-cewek kalau mereka tahu sikap asli Kak Raffa. Kalau lu nggak pintar-pintar, lu bisa disalip pelakor." Atika memperingatkan.
" Coba saja kalau berani! Mau rasakan bogem mentah dari gue??" Azkia menebar ancaman.
" Hahahaha ... gue yakin nggak akan ada yang berani lawan lu, Az. Daripada masuk rumah sakit." sindir Atika seketika teringat jika temannya itu bukanlah tipikal wanita yang lemah. dan mudah diintimidasi.
Pandangan mata Atika kini terpusat pada pria yang baru masuk ke dalam restoran yang mereka kunjungi itu.
" Az, Kak Gibran ..." Atika tiba-tiba berucap dengan nada berbisik kepada Azkia saat dia mengenali pria yang baru masuk ke dalam restoran itu.
" Hah? Mana??" Azkia seketika menoleh ke arah pandangan mata Atika. Azkia melihat pria yang pernah dicintai itu sedang berjalan ke arah meja bersama seorang wanita yang tidak dia kenal. Seketika hati Azkia merasa tercubit melihat mantan kekasihnya itu. Setelah sekian lama, dia baru melihat Gibran kembali, hingga tak terasa cairan bening mengembun di bola matanya.
" Jangan lama-lama lihatnya, Az!" Atika langsung menegur Azkia yang seolah tertegun memandang mantan kekasihnya itu.
Azkia terkesiap hingga kembali menoleh ke arah Atika dan menyeka air mata yang hampir menetes di pipinya.
" Az, lu sekarang istri Kak Raffa, lu jangan melow gitu dong ketemu sama Kak Gibran." Atika menasehati.
" Gue merasa bersalah saja, Tik. Gue merasa ... gue sudah mengkhianati hubungan kami dulu," tutur Azkia dengan nada bergetar.
" Hubungan kalian berakhir karena suatu musibah bukan karena lu mengkhianati dia."
" Kak Gibran juga sebenarnya siap menerima kondisi gue yang hamil, Tik. Tapi gue menolak. Dan gue justru menikah dengan Kak Raffa, padahal Kak Gibran sendiri tahu hubungan gue dengan Kak Raffa kurang baik." Azkia masih terus mengusap cairan yang masih saja mengembun di bola matanya.
" Karena Kak Raffa yang sepantasnya bertanggung jawab atas kehamilan lu, Az. Justru kalau lu nggak menikah dengan Kak Raffa, selamanya Kak Raffa akan dikejar-kejar rasa bersalah. Karena gue lihat dia tipe pria yang bertanggung jawab. Dengan lu menerima tanggung jawab dari Kak Raffa, justru membuat hidup Kak Raffa sekarang lebih damai, kan?" Atika mencoba menasehati Azkia, jika keputusan yang diambil oleh sahabatnya itu adalah hal yang tepat.
" Sudah lu jangan terus nangis, kalau Kak Gibran melihat lu seperti ini, dia pasti akan menganggap kehidupan rumah tangga lu itu nggak bahagia. Padahal lu itu 'kan lagi bahagia-bahagianya sama Kak Raffa," sambung Atika kembali.
Azkia menganggukkan kepala lalu berdiri, " Gue mau ke toilet dulu, Tik." Azkia kemudian melangkah ke arah toilet.
Tak berselang lama dari Azkia berjalan ke toilet, pesanan makanan yang dipesan dua sahabat itu pun sudah dihidangkan di atas meja oleh pelayan restoran.
" Atika?"
Atika terkesiap saat mendengar suara Gibran yang menyapanya.
" Eh, Kak Gibran ..." sahut Atika berpura-pura tidak mengetahui keberadaan pria itu sebelumnya. " Kak Gibran dengan siapa?" tanyanya kemudian.
" Sama teman kantor,* sahut Gibran. " Aku mau ke toilet, tapi lihat kamu di sini," sambungnya.
" Oh ...."
" Kamu sendiri sama siapa, Atika?" tanya Gibran karena dia melihat menu yang tersedia di meja cukup banyak untuk dimakan satu orang.
" Aku juga sama teman, Kak." sahut Atika.
" Oh ya sudah, aku ke toilet dulu." Gibran berpamitan akan menuju kamar kecil.
" Silahkan, Kak." Atika mempersilahkan karena dia tidak ingin menahan Gibran lama-lama agar dia bisa memberitahu Azkia jika saat ini Gibran juga sedang menuju toilet.
Selepas Gibran meninggalkannya, Atika segera menghubungi Azkia.
Ddrrtt ddrrtt
Azkia segera mengambil ponsel di tasnya saat ponselnya itu berbunyi. Dia melihat nama Atika yang muncul di layar ponselnya.
" Atika? Ngapain dia telepon?" tanya Azkia heran.
" Halo, Az. Kak Gibran tadi melihat gue dan menyapa gue. Sekarang dia sedang ke toilet." Suara Atika terdengar saat dia mengangkat panggilan telepon dari sahabatnya itu.
" Kak Gibran ke toilet? Aduh ... jadi gimana, dong? Gue nggak ingin Kak Gibran lihat gue, Tik." Azkia seketika panik.
" Lu di toilet dulu saja sampai gue lihat Kak Gibran keluar dari toilet, nanti gue kabari lu lagi," ujar Atika.
" Tapi lu bilang kalau Kak Gibran tahu keberadaan lu, so pasti dia juga akan tahu kalau gue keluar nanti, Tik."
" Iya sih, tapi lu tenang saja, deh. Semoga saja dia nggak lihat ke meja kita lagi jadi dia nggak lihat keberadaan lu di sini. Sekarang lu di sana saja dulu, tunggu kabar selanjutnya dari gue, oke?!" Atika kemudian menutup panggilan teleponnya.
" Duh, kenapa jadi ribet gini, sih?" Azkia memijat pelipisnya. Dia bingung kenapa dirinya justru seperti buronan yang harus bersembunyi karena melakukan kesalahan.
Setelah beberapa saat menunggu, telepon dari Atika kembali berbunyi dan mengabarkan jika Gibran sudah keluar dari toilet.
Azkia keluar dari toilet dengan mengendap, Dia berjalan ke arah mejanya pun dengan menundukkan kepalanya dengan sedikit menolehkan kepala ke arah kiri agar tidak dilihat oleh Gibran.
" Tik, gue cabut saja deh dari sini." Azkia berniat kabur dari restoran itu.
" Kenapa mesti kabur? Lu makan saja pesanan lu ini. Kalau Kak Gibran akhirnya lihat lu dan menghampiri lu, sebaiknya lu hadapi saja deh, Az. Gue pikir nggak baik juga lu kabur dan menghindar, Az. Kalau kalian harus berpisah, gue rasa semuanya harus baik-baik agar nggak ada rasa sakit hati di antara kedua belah pihak." Atika memberikan solusi karena dia berpikir, jika Azkia terus menghindar dari Gibran bukanlah tindakan yang tepat.
Akhirnya Azkia menuruti apa yang dikatakan oleh Atika. Dia merasa apa yang dikatakan oleh Atika memang benar, dia tidak bisa terus menerus menghindar dari Gibran. Namun untungnya Gibran tidak menyadari keberadaan Azkia di sana, jadi Azkia bisa menyantap makanan walaupun dengan hati yang berdebar-debar.
Hingga menyelesaikan makan dan membayar bill di kasir, Gibran tidak mengetahui keberadaan Azkia di restoran yang sama.
" Syukurlah Kak Gibran nggak lihat gue, Tik." ujar Azkia menarik nafas lega saat keluar dari restoran.
" Iya, Az. Gue juga lega. Gue harap kalau sampai lu berjumpa dengan Gibran, saat itu lu sedang bersama suami lu yang mendampingi, biar lu lebih tegar." sahut Atika membuka pintu mobilnya. " Sekarang kita ke mana?" tanyanya kemudian.
" Gue langsung pulang saja deh, Tik. Kalau gue keluyuran nanti Kak Raffa langsung kasih ceramah panjang lebar." Azkia memutar bola matanya.
" Cieee yang sekarang takut sama suami." Atika meledek Azkia sambil memundurkan mobilnya.
Brraaakkk
" Astaghfirullahal adzim!" pekik Azkia saat dia merasakan benturan mobil Atika dari arah belakang. " Kenapa, Tik?" Azkia menoleh ke arah belakang mobil Atika namun dia tidak melihat apa-apa, hingga akhirnya dia dan Atika pun kemudian keluar dari mobil Atika.
" Lihat-lihat dong kalo mau mundur! Nggak lihat di belakang ada motor saya?!" Seorang wanita yang terjatuh tertimpa motor yang tersenggol bagian belakang mobil Atika terlihat marah-marah.
" Makanya lihat-lihat dulu kalau mau mundur, kalau begini 'kan bikin celaka orang lain!" Wanita itu masih saja mengomel.
" Waduh, maaf, Mbak. Tadi saya sedang ke toilet." Tukang parkir yang bertugas di restoran itu segera membantu mengangkat motor wanita itu yang terjatuh.
" Mbak, apa ada yang luka? Motornya lecet nggak? Biar nanti saya yang ganti biaya perbaikannya." Atika mengatakan niatnya yang bersedia bertanggung jawab atas kesalahannya.
" Azkia? Kamu ada di sini?"
Azkia terperanjat saat tiba-tiba Gibran berjalan menghampirinya.
" K-Kak Gibran?" Azkia terkejut karena akhirnya harus bertatap muka dengan mantan kekasihnya.
Gibran menatap perut Azkia yang sudah terlihat membuncit, lalu pandangannya kini menatap wajah wanita yang sejak kecil begitu spesial di hatinya.
" Kia ..." Rasanya Gibran ingin memeluk tubuh mantan kekasihnya itu.
" Kak Gibran apa kabar?" Azkia mencoba bersikap normal dengan menyapa Gibran.
" Kamu tahu aku nggak baik-baik saja, Kia. Kamu bagaimana? Apa Raffa tidak memperlakukan kamu dengan baik, Kia? Kamu bilang sama aku, aku nggak rela dia menyakiti kamu, Kia." Gibran menyentuh kedua pundak Azkia.
" Nggak kok, Kak. Kak Raffa bersikap baik sama aku." Azkia mencoba menyingkirkan tangan Gibran di pundaknya. " Aku minta maaf, Kak. Karena keputusan aku sudah membuat Kak Gibran kecewa." Azkia menyampaikan permohonan maafnya kembali. " Aku yakin Kak Gibran pasti akan mendapatkan wanita yang terbaik untuk Kakak."
" Tidak ada wanita sebaik kamu, Kia." Percakapan Gibran dan Azkia seolah tidak memperdulikan Atika yang masih berurusan dengan wanita yang terjatuh dari motornya tadi.
" Gibran, Ayo ...!" Wanita yang bersama Gibran yang sudah sampai terlebih dahulu ke mobil Gibran berteriak memanggil nama Gibran.
Azkia dan Gibran spontan menoleh ke arah suara wanita itu.
" Teman Kak Gibran sudah menunggu, tuh." ucap Azkia.
" Dia teman kantor aku, Kia." Gibran seolah ingin menjelaskan kepada Azkia jika dia tidak ada hubungan istimewa dengan wanita yang datang bersamanya.
Azkia menarik satu sudut bibirnya ke atas, " Teman kantor Kak Gibran sudah menunggu, nanti dia bete melihat Kak Gibran bicara sama aku." Azkia lalu menoleh ke arah Atika yang menyodorkan beberapa lembar uang untuk wanita yang ditabraknya tadi.
" Sudah selesai, Tik?" tanya Azkia kemudian.
" Sudah ...."
" Aku duluan ya, Kak." Azkia berpamitan kepada Gibran kemudian berjalan dan masuk ke dalam mobil Atika. Tak lama mobil Atika pun meninggalkan halaman parkir restoran tersebut dan juga Gibran yang masih berdiri memandang kepergian mobil yang membawa Azkia.
***
" Mbak, su su hamilnya jangan lupa diminum." Bi Neng terlihat memasuki kamar Raffasya membawakan segelas su su hamil untuk Azkia.
" Oh iya." Azkia lalu menerima gelas su su dari tangan Bi Neng. " Makasih, Bi Neng."
" Mas Raffa pulang kapan, Mbak?" tanya Bi Neng kemudian.
Azkia melirik ke arah jam di dinding kamar yang susah menunjukan pukul delapan malam.
" Tadi kasih kabar sedang dalam perjalanan pulang, Bi." sahut Azkia.
" Bi Neng senang Mas Raffa sekarang terlihat lebih bahagia sejak menikah dengan Mbak Kia," ungkap Bi Neng, karena dia lama bekerja di rumah Raffasya, hingga Bi Neng merasakan perubahan sikap majikannya itu.
" Masa sih, Bi? Memangnya selama ini Kak Raffa itu hidup menderita, apa??"
" Bukan menderita, Mbak Kia. Tapi bisa dibilang sejak kedua orang tuanya berpisah, Mas Raffa itu seperti kehilangan kebagiaannya. Tapi setelah menikah Bibi melihat Mas Raffa kembali ceria dan bersemangat, Bibi jadi senang melihatnya. Bukan Bibi saja yang senang, Ibu Mutia juga merasakan kebahagian dengan kehadiran Mbak Kia. Rumah ini terasa hidup kembali sejak kehadiran Mbak Kia di sini."
Azkia tersenyum, dia merasa senang kehadirannya sangat berarti untuk orang-orang yang ada di rumah suaminya itu.
" Bibi berharap, rumah tangga Mas Raffa dan Mbak Kia akan langgeng selamanya sampai punya banyak anak dan sampai kakek nenek." Bi Neng berdoa penuh harap.
" Aamiin, Bi Neng." sahut Azkia. " Kia juga senang, Kia di sini diterima dengan baik. Nenek dan Bi Neng selama ini selalu baik sama Kia, jadi Kia betah tinggal di sini."
" Syukurlah kalau Mbak Kia juga betah di sini, karena Bi Neng pernah dengar dari Mas Raffa kalau Mbak Kia itu di rumahnya banyak saudara, takutnya nggak betah tinggal di sini yang sepi."
" Awalnya sih memang begitu, Bi. Tapi lama-lama Kia bisa sudah terbiasa tinggal di sini," ungkap Azkia.
" Ya sudah, kalau begitu Bibi keluar ya, Mbak. Mbak Kia harus istirahat." Bi Neng mengambil gelas kosong bekas su su yang diminum oleh Azkia kemudian keluar dari kamar Raffasya.
Azkia kemudian merebahkan tubuhnya karena rasa kantuk yang tiba-tiba saja menderanya hingga tak membutuhkan waktu yang lama.l wanita itu akhirnya dia terlelap.
***
Azkia mengerjapkan matanya saat dia merasakan sebuah kecupan di pipinya.
" Sudah tidur rupanya." Raffasya terus menghujani ciuman di pipi Azkia hingga Azkia terbangun.
" Kak Raffa? Kak Raffa baru datang? Jam berapa sekarang?" tanya Azkia saat mendapati kehadiran suaminya.
" Sekarang sudah jam sepuluh. Aku telat karena tadi terjebak kemacetan di jalan." Raffasya kemudian bangkit ingin ke kamar mandi.
" Mau ke mana?" tanya Azkia menahan tangan Raffasya.
" Aku mau cuci muka dan ganti baju dulu," sahut Raffasya.
" Sudah nggak usah cuci muka lagi. Buruan ..." Azkia menepuk tempat di sisi sebelah kiri dia berbaring.
Raffasya terkekeh mendapati permintaan Azkia, " Kenapa memangnya? Sudah kangen, ya?" goda Raffasya.
" Sudah cepat sini! Anaknya Kak Raffa ingin tidurnya ditemani Papanya." Azkia beralasan.
" Tapi aku bau keringat, May."
" Buruan deh, Kak! Anaknya sudah mau bobo, nih!" Azkia memaksa Raffasya untuk menuruti permintaannya, membuat pria itu menurut apa yang diminta oleh istrinya.
Raffasya merebahkan tubuhnya di samping Azkia, dan Azkia langsung merubah posisi kepalanya kini berbantalkan lengan sang suami kemudian melingkarkan tangannya di dada suaminya itu.
" Aku bersihkan tubuh sebentar deh, May. Nggak akan lama, kok." Raffasya merasa tidak nyaman karena dia belum membersihkan tubuhnya.
" Hmmm ... nggak apa-apa, gini juga aromanya sudah enak," sahut Azkia tak mengijinkan suaminya itu meninggalkannya.
" Oh ya, bagaimana tadi keluar bareng Atika? Tadi makan siang di mana?"
" May ..." Raffasya menoleh ke arah Azkia karena beberapa saat ditunggu Azkia tidak menjawab pertanyaannya. Dan ternyata dia melihat jika istrinya itu sudah kembali terlelap di sampingnya.
" Cepat sekali tidurnya ..." Raffasya tersenyum melihat Azkia yang sudah tertidur, kemudian dia mengecup kening istrinya itu sebelum dia pun ikut mengistirahatkan tubuhnya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️