MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Dedek Bayi Kangen Sama Papanya



Azkia terlihat gelisah di kamarnya. Sebenarnya dia ingin memberitahu suaminya tentang keberadaannya saat ini, namun Natasha melarangnya. Bahkan Natasha menyuruhnya untuk tidak mengaktifkan ponselnya agar Raffasya tidak bisa menghubunginya.


Azkia menoleh ke arah jam dinding, saat ini waktu sudah hampir mendekati setengah sebelas malam.


" Kak Raffa pasti sudah sampai di rumah." Azkia berdebar-debar. Dia menduga suaminya itu sudah berada di rumahnya. Mungkin kalau ponselnya dalam keadaan menyala, Raffasya pasti akan menghubunginya saat suaminya itu menyadari dirinya tidak ada di sana.


Sementara itu mobil yang dikendarai Raffasya terlihat hendak memasuki gerbang komplek perumahan milik orang tua istrinya yang menggunakan one gate system'.



" Malam, Pak." Raffasya menyapa dua orang security yang berjaga di pos satpam.


" Selamat malam. Mas ini menantunya pak dosen, ya?" tanya security yang tidak ingat nama Raffasya namun dia tahu jika Raffasya adalah menantu dari Yoga, penghuni yang sudah cukup lama tinggal di cluster itu.


" Benar, Pak. Saya Raffa, menantunya Papa Yoga." Raffasya menjelaskan agar security tak mempersulitnya masuk ke komplek perumahan mewah itu.


" Oh, silahkan, Mas." Security itu membuka pintu gerbang yang selalu dijaga ketat karena kebanyakan penghuni cluster itu adalah orang-orang yang berkantong tebal.


" Makasih, Pak." Raffasya melanjutkan perjalanannya sampai akhirnya dia berhenti di depan rumah mertuanya itu.


Raffasya melihat rumah Yoga yang terlihat sudah sunyi dengan lampu teras menyala dan lampu kamar Azkia yang berada di atas terlihat redup. Raffasya mengira jika istrinya itu sudah terlelap. Dia lalu keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah teras rumah Yoga.


Dia tahu, bertamu malam hari adalah tindakan tidak sopan, namun dia merasa jika dia adalah suami dari Azkia, jadi dia pikir tidak masalah jika dia harus menekan bel di dekat pintu rumah Yoga.


Sepuluh menit Raffasya menunggu sambil berharap ada penghuni atau ART yang masih terjaga dan membukakan pintu. Nyatanya tidak ada seorang pun yang membukakan pintu untuknya. Raffasya tidak ingin menekan bel berkali-kali karena dia tidak ingin mengganggu semua penghuni rumah yang mungkin sudah beristirahat.


Raffasya lalu mencoba menghubungi Abhinaya, adik iparnya itu. Dia berharap Abhinaya masih terjaga dan mau membukakan pintu untuknya.


" Assalamualaikum, Bhi. Sorry gue ganggu. Lu bisa tolong bukakan pintu? Gue ada di depan rumah." Raffasya langsung meminta bantuan Abhinaya saat panggilannya terhubung.


" Waalaikumsalam, Kak Raffa ada di sini?"


" Iya, tadi gue tekan bel tapi nggak ada yang bukakan pintu, mungkin ART sudah pada tidur." Raffasya menjelaskan.


" Oke, bentar, Kak. Abhi ke bawah."


" Thanks, Bhi. Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ...."


Raffasya menarik nafas lega karena ternyata ada salah satu penghuni rumah mertuanya yang masih terbangun dan bisa membantunya membukakan pintu rumah.


" Masuk, Kak. Memang Kak Raffa nggak bilang mau ke sini sama Kak Kia?" tanya Abhinaya saat membukakan pintu.


" Ponsel dia nggak aktif jadi gue nggak bisa hubungi dia."


" Oh ... ya sudah, Abhi balik ke kamar ya, Kak!"


" Oke, thanks, Bhi." Di ujung tangga Raffasya dan Abhinaya berpisah arah menuju kamar yang berbeda.


Di depan kamar Azkia, Raffasya berhenti. Dia mencoba membuka handle pintu yang ternyata tidak terkunci.


" Kak Raffa?" Azkia yang baru saja keluar dari kamar mandi terkesiap saat melihat pintu kamarnya dibuka oleh Raffasya.


" Kamu ke sini kenapa nggak kasih tahu aku?" Raffasya langsung menodong Azkia dengan pertanyaan saat mendapati istrinya itu keluar dari kamar mandi. " Aku baru sampai rumah dan melihat kamu nggak ada di rumah. Aku langsung panik saat Bi Neng bilang Mama jemput kamu. Apa kamu mengadu sama Mama sampai Mama membawa kamu pulang ke sini?" Ada nada kesal dalam ucapan Raffasya.


Azkia memberengut mendengar Raffasya mengomel kepadanya. Namun dia bisa memaklumi bagaimana kesalnya suaminya itu. Sudah pusing dan capek dengan urusan cafe sampai di rumah ternyata dirinya tidak ada hingga harus menyusul kemari.


" Maaf, Kak."


" Kita pulang sekarang!" Raffasya ingin mengajak Azkia kembali ke rumahnya.


" Pulang? Tapi ini sudah malam, Kak."


" Kenapa kamu nggak bilang kalau akan pergi sama Mama? Pakai non aktifkan ponsel segala!" ketus Raffasya.


Azkia menyeringai mendengar suaminya yang terus mengomelinya.


" Kak Raffa khawatir sama aku, ya?" tanya Azkia kemudian berjalan mendekati suaminya dan bergelayut manja seraya melingkarkan lengan di leher suaminya.


" Habis aku kesepian di rumah. Kak Raffa selalu pulang malam. Kalau Kak Raffa seperti ini terus, mending aku ikut Papa Mama saja, deh. Di sini aku banyak yang menemani dan nggak kesepian," keluh Azkia.


" Suami kamu punya rumah, kenapa harus tinggal di rumah orang tua kamu?"


" Suami aku punya rumah, tapi selalu telat pulang dan nggak ada waktu buat istri. Jadi untuk apa aku tinggal di sana?" sindir Azkia tak mau kalah berargumentasi.


" Kenapa kamu nggak kasih kabar aku? Apa kamu berniat kabur dari rumah?" tanya Raffasya menyelidik.


" Memang Kak Raffa nggak lihat di lemari kalau pakaianku masih lengkap? Aku ke sini nggak bawa pakaian hanya menempel yang di badan, kenapa Kak Raffa bilang aku kabur?" tanya Azkia menahan tawa. Benar dugaan Mamanya jika Raffasya pasti akan panik jika dia tidak pulang tanpa memberi kabar.


" Aku nggak kepikiran ke arah sana." Raffasya menyadari, karena saking paniknya dia melihat istrinya tidak berada di kamar, apalagi saat tahu Natasha membawa Azkia pergi, dia sampai tidak kepikiran mengecek lemari pakaian.


" Aku tadi ketemuan dan berbicara sama Mama." Azkia lalu mengurai tangannya yang melingkar di tengkuk Raffasya kemudian berjalan ke lemari pakaiannya. Dia mengambil sesuatu di laci lemari pakaiannya itu.


" Kenapa Kak Raffa nggak cerita sama aku soal La Grande? Aku sudah minta ijin Mama untuk memakai uangku. Ini buku tabunganku. Sejak kita menikah aku nggak sempat mengeprint bukunya, saldo sekarang ini lebih dari yang tertera di buku itu. Kak Raffa bisa pakai uang itu untuk renovasi La Grande, daripada harus meminjam uang ke bank." Azkia menyodorkan buku tabungannya kepada Raffasya.


Raffasya hanya menatap dan tak menerima buku tabungan yang diserahkan Azkia kepadanya.


" Aku nggak mau memakai uang kamu, May." ucap Raffasya.


" Kak, kita ini sekarang sudah menikah. Selayaknya suami istri itu harus saling berbagi, bukan hanya berbagi kesenangan, tapi juga keluh kesah. Aku nggak mau dianggap sebagai istri yang nggak mau mengerti kondisi yang sedang dihadapi oleh suami. Apapun masalah yang sedang Kak Raffa hadapi, akan kita hadapi bersama. Itulah gunanya kita berumah tangga. Atau ... apa niat Kak Raffa menikahi aku hanya sekedar ingin bertanggung jawab atas bayiku saja? Tidak ada niat baik yang lainnya?" tanya Azkia.


" Tapi aku nggak ingin menyusahkan kamu, May."


" Kak Raffa itu bikin susah aku kalau Kak Raffa nggak mau bersikap terbuka sama aku." Azkia mengucapkan kalimat ini dengan nada seolah merajuk.


Raffasya tersenyum walaupun samar, siapapun pasti tidak akan awet marah jika menghadapi istri menggemaskan seperti Azkia.


" Oke, tapi kalau usahaku sudah normal, nanti aku akan kembalikan uangmu ini." Raffasya akhirnya menyetujui bantuan dari Azkia.


" Nggak usah mikirin itu dulu, Kak. Yang penting La Grande bisa operasional lagi seperti semula, itu yang mesti Kak Raffa pikirkan." Azkia meminta agar Raffasya tidak memikirkan soal pengembalian uang miliknya.


" Ya sudah, sebentar lagi jelang dini hari, kami mau memberi kejutan ulang tahun buat Papa, jadi malam ini aku menginap di sini. Kak Raffa juga menginap di sini saja, besok baru bisa pulang." Azkia menyuruh suaminya itu untuk ikut menginap di rumah Yoga.


" Nggak usah, aku mau cuci muka saja."


" Ya sudah, aku siapkan pakaiannya." Azkia segera mengambilkan pakaian yang biasa dikenakan Raffasya untuk tidur, celana boxer dan kaos tanpa lengan hingga memperlihatkan otot-otot liatnya. Sementara Raffasya melangkah menuju kamar mandi.


***


Azkia melirik ke arah jam yang sudah hampir jam sebelas malam. Dia lalu menoleh ke arah suaminya yang berbaring di sampingnya dengan mata terpejam. Dia sendiri berbaring dengan kepala beralaskan lengan suaminya dan memeluk tubuh suaminya. Dia menikmati aroma maskulin dari tubuh Raffasya yang sudah menjadi aroma favoritnya.


" Kak ...."


" Hmmm ..." sahut Raffasya tanpa membuka matanya.


" Dedek bayi kangen sama Papanya, ingin ketemu." Entah kenapa Azkia tiba-tiba ingin merasakan hubungan in tim dengan suaminya itu, hingga dia memberanikan diri meminta terlebih dahulu. Walaupun dia tahu jika suaminya sedang pusing dan penat. Tapi dia berpikir jika suaminya juga butuh penyemangat untuk mengatasi setiap masalahnya. Dan melakukan hubungan suami istri dia harap bisa membangkitkan semangat suaminya.


Raffasya langsung membuka matanya saat mendengar permintaan istrinya yang merupakan kode mengajaknya bercinta. Dia lalu menoleh ke arah istrinya yang sedang mengembangkan senyuman dan menatapnya.


" Boleh nggak, Pah?" tanya Azkia seraya mengusap rahang Raffasya.


Raffasya menatap lekat wajah cantik istrinya. Dia tidak menyangka jika istrinya itu berinisiatif meminta melakukan hubungan suami istri terlebih dahulu. Dia pun menyadari sudah lebih dari seminggu dia tidak menyentuh istrinya padahal sebelumnya, rasanya kurang afdol jika seminggu dia absen tidak mengunjungi anaknya itu.


Raffasya mengangkat kepala lalu menyanggah dengan tangan bertumpu pada siku.


" Yang kangen dedek bayi atau Mamanya?" tanya Raffasya masih menatap wajah Azkia.


" Kalau Mamanya kangen, memang Papanya nggak kangen juga?" Azkia memainkan kembali jarinya dengan menyelusuri wajah tampan sang suami.


Raffasya tersenyum, tentu saja dia sangat merindukan. Dia tak menjawab namun dia mengambil tangan Azkia yang sedang mengusapnya lalu menciumi tangan Azkia.


Raffasya lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Azkia dan menyatukan bibir mereka, memberikan ciuman penuh has rat yang seminggu ini tertahankan. Azkia pun menyambutnya dengan suka hati. Dia membalas ciuman Raffasya dengan berga irah seakan melepaskan kerinduan mereka masing-masing atas kein timan yang beberapa hari tidak mereka rasakan.


Azkia menaikkan kaos yang digunakan Raffasya hingga meloloskannya dari leher sang suami. Sementara Raffasya pun membalas dengan mulai melucuti kancing baju tidur yang dikenakan Azkia.


Raffasya kembali menyatukan bibir mereka, hingga suara decapan terdengar akibat aktivitas mereka berdua yang betukar saliva.


Setelah cukup lama mereka bercum bu dengan


menautkan bibir mereka, Raffasya kini beralih mengeksplor sekitar leher Azkia meninggalkan tanda-tanda merah di leher mulus istrinya sementara tangannya asyik melakukan dua bukit kembar yang terlihat segar dan mengencang dengan puncak yang menjulang seolah menantang untuk didaki.


" Aaakkhh ..." De sahan mulai keluar dari bibir Azkia karena merasakan kenikmatan atas setiap sentuhan yang diberikan oleh Raffasya.


Raffasya sudah mulai menguasai kedua perbukitan yang menjulang milik Azkia. Memberikan permainan lidah dan mulutnya yang terlihat lihai hingga terus membuat Azkia tak bisa untuk tidak mengeluarkan de sahan dan lenguhan.


" Kak ...."


Raffasya menghentikan aktivitasnya saat Azkia memanggilnya.


" Kenapa?" Raffasya mencium kembali bibir Azkia.


" Jangan acuhkan aku lagi, aku sedih kalau Kak Raffa jauhi aku ..." pinta Azkia seraya menangkup wajah Raffasya. Yang segera ditanggapi Raffasya dengan menganggukkan kepalanya.


Raffasya lalu mengecup kening, mata, hidung, bibir dan kini perut buncit Azkia.


" Dedek bayi kangen ketemu Papa, ya?" Raffasya mengusap perut Azkia seraya melirik Azkia. " Yang lebih kangen Papa itu dedek bayi. atau Mamanya?" sindir Raffasya.


" Dua-duanya ..." Azkia terkekeh menyahuti pertanyaan Raffasya.


" Kamu bangun, May." Raffasya meminta Azkia bangun dari tidurnya seraya mengulurkan tangannya ke arah istrinya.


Azkia menuruti apa yang diminta oleh Raffasya dengan menerima uluran tangan suaminya.


" Berbaliklah ...!" Raffasya menyuruh Azkia berganti posisi dan membalikkan tubuh hingga membelakanginya.


Azkia pun kembali melakukan apa yang diinginkan oleh Raffasya. Dan Raffasya langsung memeluk Azkia dari belangkang dengan tangan yang meremas kedua bongkahan kenyal milik Azkia lalu menciumi ceruk leher Azkia.


Raffasya lalu menyuruh Azkia berposisi seperti hendak merangkak dengan tubuh bertumpu dengan kedua tangannya. Dia juga membuka paha Azkia. Dia sempat mencium bo kong istrinya terlebih dahulu sebelum akhirnya dia melepas boxernya yang sejak tadi membunyikan alat tempurnya yang sudah menegang, dan langsung mendekatkan alat tempurnya itu ke dekat sumber kenikmatan dunia milik Azkia.


" Oouugghh, Kak!" Azkia yang merasakan senjata milik suaminya memasukinya langsung memekik kaget. Karena ini adalah pertama kalinya mereka melakukan gaya bercinta seperti itu. Dia merasakan sensasi yang berbeda dengan percintaannya sekarang ini.


" Raffasya menarik tubuh Azkia dengan melingkarkan lengannya di leher istrinya itu dan mulai bergerak di dalam inti Azkia.


" Ooouuugghh, yes ... Aaakkhh, Kak. Enak banget ..." Azkia seakan melayang karena sentuhan yang dirasakan saat ini benar-benar terasa nikmat hingga mulutnya terus meracau.


Azkia mengerang lebih kencang, bahkan kuku jarinya mencengkram kuat ke lengan sang suami karena dia benar-benar tidak tahan akan segera mendapatkan pelepasan dari aksi suaminya saat ini.


" Enak 'kan, Sayang?" bisik Raffasya.


" Banget, Kak." suara Azkia terdengar seperti orang yang benar-benar sudah dalam pengaruh ga irah.


" Aku suka saat kamu memintanya lebih dulu, May." bisik Raffasya kembali dengan mempercepat gerakannya.


" Aakkhh, Kak ...."


" Oouugghh, May ...."


Raffasya mengakhiri penyatuan tubuh mereka setelah mereka sama-sama mendapatkan pelepasan,. dengan tubuh Raffasya masih mendekap Azkia dari belakang. Dan Azkia yang lemas langsung menyandarkan punggungnya ke tubuh Raffasya dengan nafas tersengal-sengal.


" Kia, ayo kita siap-siap ..." Suara Natasha dengan suara pintu terbuka membuat Azkia dan Raffasya langsung terperanjat. " Astaghfirullahal adzim ...!" Natasha bahkan sampai memutar badannya kembali dan keluar sambil menutup pintu kamar Azkia dengan kencang.


" Mama?" Raffasya dan Azkia yang terkejut dengan kemunculan Natasha di kamarnya segera melepaskan penyatuan mereka dan bergegas memakai pakaian sebelum menemui Natasha. Sudah dipastikan saat ini wajah mereka berdua memerah akibat menahan malu karena ketahuan sedang melakukan aktivitas hubungan suami istri oleh Natasha.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️