MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Mengembalikan Kebahagiaan Papa



" Emmmmuuuuaaahhh ... selamat pagi Mama Naufal."


Azkia membuka matanya perlahan saat merasakan sebuah kecupan di pipinya dan suara bisikan di telinganya.


Azkia kemudian menggeliat untuk merenggangkan otot-ototnya dan melihat ke arah jendela kamar karena matahari sudah membias masuk ke dalam kamar.


" Jam berapa sekarang, Kak?" Azkia bertanya kepada Raffasya yang masih duduk di tepi tempat tidur.


" Jam delapan, May."


" Hahh?? Aku kesiangan, dong!" Azkia langsung bangkit dan mencari keberadaan Naufal yang saat ini tak ada di sampingnya. " Naufal di mana, Kak?" tanyanya bingung karena merasa kehilangan Naufal.


" Sedang berjemur sama Bi Neng." Raffasya lalu bangkit dan mengambil nampan berisi sepiring nasi dan sayuran serta air mineral juga potongan buah. " Kamu sarapan dulu, nih! Aku sudah buatkan sup untukmu."


" Ya ampun, Kak Raffa ini makin hari makin sweet saja, deh." Azkia menempelkan kedua telapak tangannya di dadanya. Dia merasa haru dan bahagia karena selalu diperlakukan istimewa oleh suaminya itu.


" Supaya kamu nggak menyesal menikah denganku, May." sahut Raffasya menyeringai.


" Ya ggak lah, Kak. Mana mungkin aku menyesal punya suami yang ganteng, pengertian dan perhatian banget seperti Kak Raffa ini." Azkia mengusap rahang Raffasya.


" Ya sudah sekarang buruan dimakan dulu nasinya, nanti keburu dingin."


" Nanti saja, Kak. Aku mau mandi dulu." Azkia menyibak selimutnya dan beranjak ke kamar mandi.


" Sikat gigi saja dulu lalu makan, May. Mandinya nanti lagi. Mumpung sayurnya masih hangat. Ini harus segera dimakan, biar nanti kalau kamu menyu sui Naufal, ASI nya cukup gizinya." Raffasya menyarankan Azkia untuk menggosok gigi saja dan tak perlu mandi dulu agar bisa menyantap sarapan yang sudah dia siapkan.


" Iya, Kak." seru Azkia menyahuti dari dalam kamar mandi.


Setelah mencuci wajah dan menggosok giginya, Azkia keluar dari kamar mandi namun dia tak menemukan suaminya di sana. Nampan berisi makanan yang tadi disiapkan suaminya itu kini tergeletak di meja di samping sofa.


" Kok ditinggalin? Kirain mau disuapin ..." gumam Azkia karena dia berpikir Raffasya akan memanjakannya dengan menyuapinya makan seperti saat hamil dulu.


Azkia lalu duduk di sofa dan mengambil nasi dan juga sayuran serta lauk lainnya sebagai menu sarapannya pagi ini. Setelah membaca doa dia pun mulai menyantap sarapannya itu.


Tak berapa lama pintu kamar dibuka dan muncullah Raffasya yang menggendong Naufal dengan kedua tangannya.


" Mama sudah belum mamamnya? Naufal sudah lapar nih, Ma." tanya Raffasya menirukan suara anak kecil.


Azkia segera menghentikan makannya dan menaruh piring kembali di atas meja.


" Naufal lapar, ya? Maafin Mama ya, Sayang. Mama telat bangunnya, ya?" Azkia lalu berdiri dan mengambil Naufal dari tangan Raffasya.


" Habiskan dulu makanannya, May." Raffasya melihat Azkia tak menghabiskan makanannya.


" Nanti deh, Kak. Naufal nya sudah lapar banget kelihatannya." Setelah memutar sumber ASI anaknya itu beberapa kali, Azkia pun menggeluarkan salah satu asset kembarnya dan mengarahkan puncaknya ke mulut Naufal yang langsung disambut dengan antusias oleh mulut mungil Naufal.


" Naufal sama kayak Papa ya kalau menghisap punya Mama." Raffasya menertawakan tingkah anaknya yang tidak jauh berbeda dengan dirinya jika melihat kedua bukit yang putih mulus dan menggoda itu.


" Naufal ketularan Papanya ..." Azkia menyahuti dan tertawa.


Raffasya kembali melihat piring nasi yang baru dimakan setengah oleh Azkia. Dia lalu mengambil piring tersebut dan mengarahkan sendok yang sudah dia isi nasi dan sayuran ke mulut Azkia. " Naufal makan, Mamanya juga harus makan, dong!" Raffasya berinisiatif menyuapi makanan Azkia yang belum habis.


Azkia langsung membuka mulutnya dan menerima suapan demi suapan dari tangan suaminya hingga habis tak tersisa.


" Dulu aku pikir kamu senang aku suapi ini karena faktor bayi dalam perut kamu, ternyata kamu memang senang ya aku suapi, May?" ledek Raffasya seraya membuka seal air mineral dan menyerahkannya kepada Azkia.


" Iyalah, pasti senang. Jarang-jarang ada suami seperti Kak Raffa, istri lagi repot menyu sui anaknya, suaminya membantu nyuapin istrinya. Hanya Kak Raffa yang bisa begini." Azkia dengan bangga memuji Raffasya.


" Lihat nih, Dek. Papa Naufal hebat, kan?" Azkia gemas menekan-nekan pipi kanan dan kiri Naufal yang semakin hari semakin berisi dan menggemaskan.



" Kamu tahu, May? Kehadiran Naufal memberikan kebahagiaan berlipat-lipat untukku." Raffasya menatap putranya yang begitu lahap dan tenang saat menyu sui.


Azkia menatap wajah suaminya yang memang memancarkan kebahagiaan karena kehadiran putra mereka. " Aku senang jika Kak Raffa merasa bahagia." Tangan kiri Azkia mengusap kepala yang ditumbuhi rambut lebat milik suaminya itu.


" Karena itu aku ingin punya banyak bayi-bayi yang lucu lagi biar kebahagiaan aku semakin berlipat-lipat, May." Kini pandangan mata Raffasya mengarah ke Azkia dengan senyuman nakal di sudut bibir pria itu.


" Astaga, Kak Raffa. Setiap bicara ujung-ujungnya pasti ke arah sana." Azkia memutar bola matanya.


" Hahaha, maklum, May. Efek stres kelamaan nggak masuk lobang." Raffasya tergelak mengucapkan kalimat absurd membuat Azkia menggelengkan kepalanya.


" Sabar dong, Pa. Kan Mama habis melahirkan Naufal, Pa." Azkia memainkan tangan Naufal dengan memukul wajah Raffasya yang kini menciumi pipi Naufal.


" Berapa hari lagi nifasmu selesai, May?" tanya Raffasya kemudian.


" Baru sebulan, sekitar sepuluh harian lagi selesai, Kak."


" Lama nian, Ya Rabb ..." Raffasya menjatuhkan wajahnya di paha Azkia dengan lemas. " Apa nggak bisa dipercepat waktunya, May? Aku mupeng lihat Naufal menguasai daerah jajahan favoritku ini, May." Raffasya lalu melirik ke arah Naufal yang kebetulan terlihat sedang melengkungkan senyuman walaupu bibirnya masih belum terlepas dari pu ting Azkia.


" Tuh lihat, Ma. Naufal pasti lagi meledek Papa tuh, senyum-senyum begitu ... Pasti Naufal bilang, 'weeekk ... Papa nggak kebagian, ini punya Naufal sekarang' Naufal senang ya bikin Papa menderita." Raffasya yang gemas justru mencium gemas perut Naufal hingga Naufal melepas ASI nya dan tertawa karena merasa geli.


" Papa sabar dong, Pa. Nanti kalau Naufal sudah nggak ne nen Mama, ini pasti buat Papa lagi, kok." Azkia terkekeh melihat suaminya yang merasa cemburu dengan anaknya.


" Sabarlah, Kak. Wanita yang habis melahirkan itu ibaratnya kalau kendaraan sih, seperti habis turun mesin, butuh pemulihan agar organ repruksinya pulih kembali untuk kehamilan berikutnya." Azkia menjelaskan agar suaminya lebih sabar menanti dia selesai melewati masa nifasnya.


" Yes, berarti bisa langsung bikin kamu hamil lagi 'kan, May?" Raffasya menyeringai sambil memainkan alisnya.


" Nantilah, Kak. Nunggu Naufal besar dulu, dua atau tiga tahun lagi baru punya anak lagi."


" Masa harus nunggu dua tiga tahun? Kelamaan dong, May." Raffasya terlihat frustasi.


" Dua atau tiga tahun nambah anak laginya, Kak. Tapi kalau untuk senang-senang, selepas nifas 'kan sudah mulai bisa digarap lagi, Kak." Kini Azkia yang menyeringai.


" Tapi kalau sebelum dua tahun kamu hamil lagi gimana, May? Aku 'kan tok cer, sekali tanam langsung hasil." Raffasya tergelak, karena kehadiran Naufal juga hasil sekali berhubungan dengan Azkia.


" Nanti aku mau pasang KB dulu sebelum mulai hubungan lagi. Aku konsultasi dulu sama Mama KB yang bagus pakai apa? Kalau sistem KB kalender aku takut Kak Raffa nggak sabaran," sindir Azkia yang merasa suaminya tidak akan tahan jika dilarang melakukan hubungan suami istri jika dia menggunakan metode ritme tanggal.


" Iyalah, May. Empat puluh hari disuruh puasa,, masa harus ditahan-tahan lagi. Kamu itu sudah jadi candu untukku, Almayra." Raffasya kini mendekatkan bibirnya dengan bibir Azkia dan memberikan lu matan pada daging kenyal sen sual istrinya itu.


" Eheeekk ... eheeekk ...."


" Ya ampun, Naufal. Nggak senang ya lihat Papa bahagia?" Raffasya yang merasa anaknya mengganggu aktivitasnya langsung menghujani ciuman di pipi anaknya itu hingga membuat Naufal menangis.


" Papa nakal ya, Dek." Azkia berusaha menenangkan Naufal.


" Naufal gimana, Kak? Masih kecil nggak mungkin dibawa, kan?"


" Kita titipkan ke Mamamu saja, boleh, kan?" Raffasya lalu duduk di samping Azkia dan melingkarkan lengannya di pundak Azkia.


" Nanti aku bilang sama Mama, deh."


" Ya sudah, kamu mandi dulu sana, biar Naufal aku yang gendong." Raffasya meminta Azkia menyerahkan Naufal kepadanya. Dan menyuruh Azkia mandi dulu sebelum Raffasya berangkat ke cafenya.


***


Azkia melihat ponselnya yang dia taruh di atas nakas berbunyi. Dia kemudian mengambil ponsel tersebut untuk mengetahui siapa yang menghubunginya.


" Papa Fariz?" Azkia mengeryitkan keningnya saat melihat nama Papa mertuanya yang saat ini melakukan panggilan video call kepadanya.


" Halo, Assalamualaikum, Pa ..." Azkia segera mengusap ke atas layar ponselnya hingga memperlihatkan wajah Papa mertuanya.


" Waalaikumsalam, Kia. Mana cucu Papa? Papa mau lihat, May." sahut Fariz dari seberang.


" Naufal sedang santai, Opa." Azkia lalu mendekatkan layar ponselnya menghadap Naufal. " Dek, ini ada Opa, nih."


" Halo, cucu Opa. Sedang apa anak sholeh? Naufal kelihatan semakin berisi ya, Kia?" Fariz mengomentari Naufal yang memang semakin berisi diusia yang sudah mendekati satu bulan ini.


" Iya, Pa. Sudah mulai kerasa berat kalau gendong Naufal lama-lama." Azkia setuju dengan pendapat Papa mertuanya.


" *Oh ya, May. Insya Allah mid week pekan depan Papa ada keperluan ke Jakarta, jadi Papa akan mampir ke sana nengokin cucu Papa*." Fariz menjelaskan rencananya.


" Papa mau ke sini?" Azkia nampak surprise mendengar rencana Papa mertuanya itu.


" Iya, hari Kamis Papa ada janji bertemu dengan orang, jadi Jumat sampai Minggu Papa bisa menemui kalian."


" Wah, Naufal mau ketemu Opa, nih. Opa mau ke sini, mau ketemu Naufal, mau gendong Naufal ya, Opa?"


" Iya, semoga pertemuannya cepat beres jadi Papa bisa langsung ketemu sama Naufal."


" Iya, Opa. Naufal doakan supaya kerjaan Opa lancar jadi Opa bisa cepat ketemu Naufal." Nada bicara Azkia meniru anak kecil.


" Berarti Kamis sore Papa ke sininya, ya? Nanti Kia suruh Bi Neng untuk merapihkan kamar. Papa mau pakai kamar Nenek atau kamar tamu, Pa?" tanya Azkia kemudian.


" Kamar Nenek saja, biar nggak usah capek turun naik tangga, Nak."


" Baik, Pa. Nanti Kia suruh Bi Neng merapihkan lagi kamar Nenek."


" Kamu sama Raffa bagaimana kabarnya, Nak? Renovasi cafe sudah beres?"


" Kia sama Kak Raffa Alhamdulillah sehat dan baik, Pa. Renovasi cafe masih berjalan dan Alhamdulillah juga nggak ada kendala," sahut Azkia menjelaskan.


" Syukurlah kalau begitu. Ya sudah, Papa tutup dulu teleponnya. Nanti kalau Papa di Jakarta, Papa kabari kamu atau Raffa."


" Iya, Pa."


" Naufal, Opa tutup dulu teleponnya ya,. Nak. Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam,. Opa." Setelah sambungan telepon dengan Fariz berakhir Azkia tidak langsung menaruh ponselnya itu. Dia berpikir sejenak sampai akhirnya dia menghubungi seseorang dengan ponselnya.


" Assalamualaikum, Ma. Mama sedang sibuk?" Azkia menghubungi Lusiana, karena momen kehadiran Fariz tentu saja bisa dia gunakan untuk mendekatkan kembali kedua mertuanya itu.


" Waalaikumsalam, Mama baru mau keluar makan siang, kenapa memangnya, Kia? Kamu ingin makan sesuatu? Nanti biar Mama belikan sekalian." Lusiana menyahuti panggilan telepon dari menantunya.


" Nggak kok, Ma. Mama mau ke sini nengok Naufal, nggak?" tanya Azkia.


" Mungkin nanti sekalian pulang dari kerja saja Mama ke sana, soalnya jam setengah dua ini Mama ada janji bertemu relasi." Lusiana memberikan alasan jika dia tidak bisa mengunjungi cucunya siang ini.


" Oh ya sudah kalau begitu, Ma."


" Mama mau lihat Naufal, ganti video call saja, ya, Kia?" Lusiana kemudian mengganti panggilan menjadi video call dengan Azkia. " Naufal, cucu Oma sedang apa, Sayang?"


" Disuruh bobo siang nggak mau nih, Oma. Maunya ne nen saja, tapi nggak mau bobo." Azkia mengadukan kelakuan putranya kepada Lusiana.


" Naufal kenapa nggak bobo, Sayang?"


" Naufal mau bobo digendong sama Oma deh kayanya." Azkia terkekeh.


" Nanti kalau Oma pulang kerja, Oma ke sana ya, Nak."


" Oh ya, Ma. Weekend nanti menginap di sini dong, Ma. Temani Naufal, soalnya malam Minggu Kia sama Kak Raffa mau datang ke acara reuni sekolah Kak Raffa dulu." Azkia menemukan alasan agar Mama mertuanya itu bisa menginap di rumah Raffasya. Awalnya dia dan Raffasya ingin menitipkan Naufal ke Natasha namun karena rencana Fariz yang akan datang ke Jakarta, membuatnya menyusun rencana ulang dengan meminta Mama mertuanya itu menginap di rumah Raffasya juga di waktu yang bersamaan dengan kehadiran Fariz.


" Ya sudah, nanti Mama menginap di sana kalau Naufal nggak ada yang jaga," sahut Lusiana.


" Mama repot nggak, nih? Tadinya mau Kia titip di rumah orang tua Kia kalau Mama nggak bisa."


" Jangan, jangan, biar Mama saja yang jaga Naufal. Sabtu Mama libur, kok. Jadi Mama bisa ke sana menemani Naufal." Lusiana tidak ingin jika Natasha yang kebagian tugas menjaga Naufal, karena dia tidak ingin kalah dengan Nenek Naufal dari pihak Azkia dalam mengurus cucunya itu.


" Makasih ya, Ma. Ya sudah, kalau Mama mau keluar makan. Kia tutup dulu teleponnya. Assalamualaikum, daaaggg, Oma."


" Waalaikumsalam, daaaggg Naufal." Tak lama Lusiana pun mematikan panggilan video call mereka.


Azkia kemudian menaruh ponsel di atas nakas dan kembali menemani Naufal yang terus menggeliat di atas tempat tidur.


" Naufal, nanti Papa sama Mama mau pergi, Naufal nanti yang jaga Opa sama Oma. Nanti Naufal harus bisa membuat Opa sama Oma dekat, ya!? Biar Naufal punya Kakek Neneknya komplit dan dekat sama Naufal. Ada Papi, Mami, Opa sama Oma." Azkia seakan mengajari anaknya itu agar mau bekerjasama dengannya mendekatkan Lusiana dan Fariz kembali.


" Papa pasti senang kalau Opa sama Oma bersatu lagi, Nak. Papa pasti akan bahagia, dan kita harus berusaha mengembalikan kebahagiaan Papa yang hilang dulu ya, Nak." Azkia memberitahu rencananya kepada anaknya walaupun dia tahu Naufal masih belum memahami rencana yang ada di kepala Azkia.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️