
Natasha memperhatikan Azkia yang menuruni anak tangga yang sepertinya terlihat ingin pergi karena membawa tote bag.
" Kamu mau ke mana, Kia?" tanya Natasha menyambut putrinya itu di ujung bawah tangga.
" Kia mau pergi sebentar, Ma." sahut Azkia.
" Pergi? Pergi ke mana? Apa kamu mau kabur lagi?" Natasha menatap curiga.
" Nggak kok, Ma. Kia cuma ada perlu sebentar." Azkia membantah tuduhan Mamanya yang mengatakan dirinya akan kembali kabur
" Kia, kamu sebentar lagi akan menikah, kamu jangan ke mana-mana!" Natasha melarang Azkia yang ingin pergi.
" Tapi Kia ada perlu sebentar, Ma." Azkia tetap memaksa.
" Mama akan antar kamu kalau begitu." Natasha ingin ke kamarnya untuk mengambil tas karena dia berniat mengantar Azkia pergi.
" Ma ...!" Tangan Azkia lebih dulu mencekal lengan Natasha, dia tidak ingin dia diikuti oleh Mamanya itu. " Kia cuma sebentar dan nggak akan kabur, Ma. Kalau Mama nggak percaya nanti Kia diantar Pak supir saja perginya." Azkia mencoba meyakinkan Natasha dan meminta Natasha tidak mengawasinya.
Natasha menghela nafas panjang menghadapi sikap keras Azkia.
" Ya sudah tapi jangan lama-lama, ya!" Akhirnya Natasha terpaksa mengijinkan putrinya itu yang hendak pergi.
" Iya, Ma. Assalamualaikum ..." Azkia berpamitan sambil mencium punggung tangan Natasha.
" Waalaikumsalam ..." balas Natasha memperhatikan Azkia yang berjalan ke luar rumahnya.
***
" Bagaimana persiapan engagement party Jimmy dan Caroline, Fer?" tanya Raffasya pada Fero yang dia percaya untuk membantunya mengelola La Grande karena dia sendiri lebih duduk di cafe satunya.
" Sudah sembilan puluh sembilan persen, Raf. Hampir beres semua." Fero menyahuti pertanyaan Raffasya.
" Sip kalau gitu." Raffasya tersenyum mendapat jawaban dari Fero.
" Oh ya, Raf. Akhir pekan ini lu bisa ketemu orang, nggak? Ada yang mau pakai tempat ini buat wedding party nya bulan depan. Mereka orang luar Jawa, tapi karena mempelai ceweknya kerja di Jakarta, rencananya mau bikin party kecil pakai cafe ini. Akhir pekan ini calon suaminya itu mau datang ke Jakarta sekalian mau lihat venue sama nego harga." Fero menjelaskan.
" Akhir Minggu ini?" Raffasya teringat jika akhir Minggu ini adalah acara akad nikah dia dengan Azkia, sudah pasti dia tidak bisa bertemu dengan orang itu.
" Iya, lu bisa ketemu, nggak?"
" Kayaknya gue nggak bisa, Fer. Lu saja deh yang handle. Gue ada urusan soalnya." Raffasya beralasan.
" Oke kalau lu sudah serahkan ke gue," sahut Fero. " Cafe ini sering jadi party pertunangan dan pernikahan, gue harap next resepsi pernikahan lu yang akan digelar di sini, Raf." Fero terkekeh menyindir Raffasya yang diketahuinya tidak pernah dekat dengan wanita manapun.
Raffasya melirik ke arah Fero yang menyindirnya.
" Sampai kapan lu betah menjomblo, Raf? Cepatlah menikah! Bumi sudah semakin tua, jangan sampai lu nggak kebagian merasakan nikmatnya surga dunia." Fero menepuk pundak Raffasya seakan melucut agar Raffasya segera melepas masa lajangnya.
Raffasya menarik satu sudut bibirnya ke atas menanggapi sindiran Fero tadi.
" Nanti juga gue bakalan nikah, lu tenang saja, Fer! Nggak usah mengkhawatirkan gue." Raffasya akhirnya menyahuti apa yang diucapkan Fero. Namun Fero hanya membalas dengan tawanya.
" Permisi, Mas Raffa. Ada tamu yang mencari Mas Raffa." Seorang pegawai cafe menyampaikan jika ada seseorang yang mencari Raffasya.
" Tamu?" Mata Raffasya menyipit karena seingatnya dia tidak membuat janji dengan siapapun. Dia juga jarang datang ke La Grande, paling hanya seminggu sekali dia muncul di sana. Dan sekarang ada orang yang mencarinya. Siapa orang itu? Raffasya nampak penasaran.
" Ada apa dia cari gue?" tanya Raffasya kepada si pegawai cafe.
" Saya nggak tahu, Mas. Dia bilang tadi ke Raff cafe dan orang di sana bilang Mas Raffa di sini." pegawai cafe menjelaskan.
" Cowok apa cewek yang cari Raffa, To?" tanya Raffasya kepada Yanto, pegawai cafe tadi.
" Cewek, Mas Fero." Yanto kini menjawab pertanyaan Fero.
Fero terkekeh, baginya tak aneh banyak wanita yang mencari Raffasya meskipun Raffasya jarang merespon mereka.
" Bilang saja gue nggak ada!" Raffasya langsung memutuskan tidak ingin bertemu dengan menyuruh pegawainya itu berbohong.
" Baik, Mas Raffa." Yanto langsung meninggalkan Raffasya dan Fero yang sedang berbincang di sofa ruangan Raffasya di La Grande Caffe.
" Nggak mau dicoba temui dulu, Raf? Siapa tahu cewek itu jodoh lu." Fero terkekeh kembali menyindir Raffasya.
" Nggak perlu!" tegas Raffasya.
" Di mana ruangannya? Mobilnya ada di luar, nggak mungkin nggak ada di sini!"
Raffasya dan Fero langsung menoleh ke arah pintu saat mendengar suara wanita terdengar dengan nada tinggi. Raffasya bahkan langsung bangkit dari sofa karena dia sangat mengenal suara itu milik siapa lalu berjalan ke arah pintu dan membuka daun pintu ruangannya.
" May? Ngapain lu ke sini?" Raffasya terlihat kaget mendapati Azkia yang datang.
" Kak Raffa pasti menyuruh orang ini untuk bohong, kan?" Azkia langsung berkacak pinggang saat melihat kemunculan Raffasya dari ruangannya.
Raffasya langsung menoleh ke arah Yanto yang nampak bersalah karena gagal menghalangi Azkia yang memaksa masuk.
" Masuklah!" Raffasya lalu menyuruh Azkia untuk masuk ke dalam ruangannya dan menyuruh Yanto kembali bekerja lalu menutup pintu ruangan.
" Siapa dia, Raf?" Fero memperhatikan Azkia yang masuk ke dalam ruangan Raffasya.
" Ada apa lu kemari, May?" Raffasya tidak meladeni pertanyaan Fero, dia justru bertanya kepada Azkia yang masih bingung dengan kedatangan wanita itu di La Grande. Apalagi tadi dia ingat saat Yanto mengatakan Azkia sebelumnya datang ke Raffa Caffe terlebih dahulu.
" Lu tadi ke Raff Caffe?" tanya Raffasya kemudian. " Kenapa nggak hubungi gue dulu, sih? Jadi lu nggak perlu repot-repot kemari." Raffasya berpikir dia sudah memberi nomer teleponnya, kenapa Azkia tidak meneleponnya terlebih dahulu jika ingin bertemu.
" Cewek ini siapa, Raf?" Fero yang masih penasaran mencoba mengingat siapa Azkia. " Perasaan pernah lihat, deh." Fero melipat satu tangannya di depan dada sementara tangan lainnya mengusap rahangnya.
" Dia calon bini gue."
" What??" Fero sampai membelalakkan matanya mendengar jawaban dari Raffasya. " Are you kidding me?" Fero benar-benar tidak percaya dengan ucapan Raffasya.
" Gue serius, sebaiknya lu keluar dulu, Fer." Raffasya meminta Fero keluar dari ruangannya karena dia ingin tahu apa alasan Azkia ke tempatnya.
" Oke oke ..." Fero menyeringai masih menatap Azkia. " Boleh juga pilihan lu, Raf" bisik Fero sebelum meninggalkan ruangan Raffasya.
" Ada apa?" tanya Raffasya setelah Fero keluar dari ruangannya.
Azkia lalu mengeluarkan sesuatu dari tote bag nya dan menyerahkan kepada Raffasya.
" Cepat tanda tangani perjanjianya sebelum pernikahannya terjadi!" perintah Azkia.
" Perjanjian apa?" Raffasya menerima kertas yang disodorkan Azkia kepadanya kemudian membaca isi surat perjanjian yang dimaksud oleh Azkia.
" Itu perjanjian agar Kak Raffa nggak ingkar janji, kalau setelah bayi ini lahir, pernikahan harus segera diakhiri." Azkia menegaskan dengan ucapannya apa yang Raffasya baca.
Raffasya melirik ke arah Azkia beberapa saat dengan tangan masih memegangi surat perjanjian yang dibuat oleh Azkia. Dia menghempaskan nafas secara kasar lalu merobek surat perjanjian yang Azkia.
" Gue rasa nggak perlu ada formalitas seperti ini. Gue pasti akan memenuhi janji sesuai apa yang sudah gue ucapkan!" tegas Raffasya.
" Aku butuh bukti yang kuat! Janji saja tidak akan kuat!" Azkia tidak puas dengan janji Raffasya.
" Lu dengar, ya! Gue nggak akan ingkar janji! Jadi nggak perlu ada surat-surat seperti itu!" tegas Raffasya.
" Lu jauh-jauh ke luar dari rumah cuma buat kasih surat ini?" Raffasya menunjuk robekan kertas di genggamannya. " Apa orang tua lu tahu apa yang lu lakukan ini? Bisa nggak sih lu turunin ego lu? Gue bisa saja nggak mengaku menghamili lu, May. Tapi gue bukan pengecut yang lari dari tanggung jawab! Seperti yang gue bilang, kalau lu nggak hamil anak gue, nggak ada peristiwa di Bandung itu, gue juga males nikah sama cewek keras kepala dan bar-bar seperti lu!" Sepertinya Raffasya benar-benar sudah tidak bisa mentolerir sikap Azkia yang terlalu keras kepala.
" Cih, memangnya Kak Raffa pikir aku juga senang, bahagia, bersyukur menikah dengan Kak Raffa? Kalau saja aborsi anak nggak dilarang, nggak dosa, sudah dari kemarin-kemarin aku lakukan, daripada harus membiarkan janin ini tumbuh di rahimku!" Azkia yang merasa tersinggung dengan kata-kata Raffasya langsung membalas dengan nada penuh emosi.
" Almayra!" hardik Raffasya saat mendengar Azkia mengatakan soal aborsi. " Gue nggak akan biarkan lu membunuh darah daging gue!" Bahkan Raffasya kini mencengkram kencang lengan Azkia.
" Jangan sekalipun berpikiran akan menggugurkan kandungan itu!" ancam Raffasya dengan sorot mata tajam menatap Azkia dan rahang yang mengeras.
***
Azkia sedari tadi hanya memberengut menatap makanan di hadapannya yang dipesankan Raffasya untuknya. Saat tahu Azkia datang bersama supir pribadi keluarga Yoga, Raffasya langsung menyuruh Pak supir itu untuk meninggalkan Azkia karena dia lah yang nanti akan mengantar Azkia pulang. Namun karena saat ini sudah masuk waktu makan siang, Raffasya menyuruh Azkia untuk mengisi perutnya terlebih dulu.
" Makanlah! Sudah gue potongkan steak nya." Raffasya menyodorkan plate berisi potongan steak ke depan Azkia.
Azkia menoleh ke arah Raffasya, rasanya dia masih kesal dengan ancaman Raffasya padanya tadi.
Azkia mendengus sebelum akhirnya dia memasukan potongan steak ke dalam mulutnya, namun setelah potong-potongan steak masuk ke dalam mulutnya, tiba-tiba rasa mual kembali mengaduk-ngaduk perutnya.
" Hoek ..." Azkia langsung menutup mulutnya kemudian bangkit dari tempat dia duduk.
" Lu mual lagi?" Raffasya ikut bangkit saat melihat Azkia seperti ingin muntah.
" Di mana toiletnya?" Suara Azkia teredam telapak tangan yang menutup mulutnya.
" Pakai toilet di ruangan gue saja!" Raffasya lalu menarik tangan Azkia dan membawa Azkia ke arah toilet di ruangannya.
" Hoek ... Hoek ..." Azkia mengeluarkan kembali yang tadi masuk ke dalam mulutnya.
Sementara Raffasya membantu memijat tengkuk Azkia dan mengusap punggung Azkia. Dia juga mengikatkan rambut panjang Azkia menjadi satu karena dirasa sangat mengganggu bagi Azkia.
Setelah beberapa saat dirasa mualnya mulai mereda, Azkia mulai menegakkan kepalanya dan mengatur nafasnya kembali.
Raffasya melihat wajah Azkia yang berpeluh, belum lagi air mata yang menggenang di bola matanya yang tak lama akhirnya menetes. Dia merasakan jika Azkia sangat menderita saat ini dengan rasa mual yang menderanya. Apalagi saat ini Azkia memegangi perutnya karena merasakan otot-otot perutnya yang tertarik.
" Perut lu kenapa? Apa terasa sakit? Apa lu sudah minum vitaminnya hari ini?" Raffasya membantu mengusap peluh di wajah Azkia. Dia pun membantu membawa Azkia keluar dari toilet dan menuntunnya ke arah sofa, dan mengambilkan air mineral lalu menyodorkannya kepada Azkia.
" Lu tiduran saja dulu di sofa itu." Raffasya yang melihat wajah Azkia yang memucat menyuruh Azkia untuk beristirahat terlebih dahulu.
" Ini gara-gara Kak Raffa! Kalau Kak Raffa nggak suruh Pak supir pulang dan menyuruh aku makan mungkin aku nggak akan mual kayak gini." Azkia menggerutu karena merasa semua penderitaannya karena Raffasya lah penyebabnya.
" Ya sudah lu istirahat saja dulu. Nanti kalau sudah membaik gue antar lu pulang." Raffasya lalu menyusun beberapa cushion sofa untuk bantalan kepala Azkia.
Azkia lalu mengikuti apa yang Raffasya perintahkan karena dia pun merasakan kepalanya yang berat.
Setelah Azkia merebahkan tubuhnya di sofa dengan memiringkan tubuhnya membelakangi Raffasya, Raffasya lalu melepas jaket denimnya lalu menyelimuti bagian atas tubuh Azkia. Setelah itu dia kembali ke meja kerjanya dengan terus menatap tubuh Azkia yang tertidur di sofa.
Azkia sendiri sudah tidak memperdulikan lagi apa yang dilakukan Raffasya kepadanya karena saat ini rasa mual, kepala yang pusing dan tubuhnya yang terasa lemas menjadikannya tidak punya kekuatan untuk mengajak berdebat Raffasya.
Namun tak berapa lama penciumannya menghirup aroma yang tiba-tiba sepertinya menimbulkan rasa nyaman dan tenang di pikirannya, hingga segala sesuatu yang dia rasakan tadi tiba-tiba menghilang dan menimbulkan rasa kantuk yang membuatnya akhirnya terlelap.
***
" Kia, ada Atika datang ...."
" Wah, Kia nya masih tidur, Tik."
" Aku tunggu saja nggak apa-apa kan, Tan?"
" Ya sudah, tunggu saja nggak apa-apa, kok."
" Aku tunggu di luar saja ya, Tan?"
" Ya sudah, silahkan, Tik."
Azkia mengerjapkan matanya saat mendengar suara-suara di depan kamarnya, membuat dia seketika terbangun dari tidurnya. Azkia mengedar pandangan ke seluruh ruangan. Dia mendapati saat ini sedang berada di kamarnya. Padahal seingatnya tadi berada di cafe milik Raffasya. Azkia melihat tote bag nya masih berada di atas sofa, lalu melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 14.45 menit.
" Ya ampun, kenapa aku malah tertidur, sih? Padahal aku 'kan mesti minta tanda tangan Kak Raffa." Azkia kemudian bangkit dari tempat tidur karena ingin menemui Atika yang suaranya sempat terdengar sepintas mengobrol dengan Mamanya.
Namun saat Azkia bangkit, tiba-tiba dia merasakan sesuatu terjatuh dari tempat tidurnya. Azkia melihat ke bawah untuk mencari tahu apa yang terjatuh ke lantai tadi.
Azkia mengeryitkan keningnya melihat sebuah jaket denim yang terjatuh di bawah. Jaket denim yang dia ingat tadi dipakai oleh Raffasya. Dia lalu mengambil jaket milik Raffasya itu, dan dia kembali merasakan aroma yang menguar dari jaket itu adalah aroma yang tadi tertangkap oleh penciumannya hingga membuat dia bisa mengatasi rasa tak nyaman di perut, kepala dan tubuhnya
Azkia lalu berjalan menuju tote bagnya, kemudian mencari surat perjanjian yang dia buat untuk ditanda tangani oleh Raffasya, ternyata dia tidak menemukan surat tadi.
" Berarti tadi itu bukan mimpi?" gumam Azkia dalam hati.
Satu jam sebelumnya ...
Raffasya terus menunggu Azkia yang tertidur lebih dari setengah jam. Karena dia harus bertemu orang sebelum masuk waktu ashar, akhirnya Raffasya memutuskan membawa Azkia pulang.
Raffasya menyampirkan tali tote bag milik Azkia ke pundaknya lalu mengangkat tubuh Azkia dengan kedua lengannya, kemudian dia berjalan ke luar dari ruangannya.
" Lu mau ke mana, Raf? Dia kenapa? Pingsan? Lu apain dia, Raf?" tanya Fero saat melihat Raffasya yang berjalan ke luar ruangan dengan menggendong tubuh Azkia.
" Gue ada keperluan jadi gue mau antar dia pulang. Fer, tolong bukakan pintu mobil gue, kuncinya ada di saku celana gue." Raffasya meminta bantuan Fero untuk membantunya karena tangannya saat ini tidak bisa dia gunakan untuk mengambil kunci mobil.
" Raf, serius dia itu calon bini lu?" Fero masih penasaran dengan Azkia. Dia lalu melakukan apa yang diminta Raffasya kepadanya.
" Apa untungnya gue bohong?" Raffasya menyahuti keraguan Fero.
" Gue perasaan, kayak pernah lihat dia lho, Raf. Tapi lupa di mana?"
" Ya sudah, sambil lu mikir cari jawabannya, gue mau antar dia pulang dulu." Raffasya menyeringai sambil terus berjalan menuju mobilnya diikuti Fero yang masih dengan rasa penasarannya.
*
*
*
Bersambung ...
Ada yang bisa bantu kasih tau Fero, di mana dia pernah liat Kia?😁
Happy Reading