MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Rayuan Raffasya



Keesokan harinya saat Azkia terbangun pagi hari. Azkia mendapati Naufal yang merengek karena merasa tak nyaman dengan diapersnya yang sudah penuh dengan cairan air seninya. Setelah mengganti diapers Naufal, Azkia langsung membawa Naufal turun ke bawah dan meninggalkan Raffasya yang masih terlelap dalam tidurnya.


" Naufal sudah bangun?"


Saat Azkia menuruni anak tangga, terdengar suara Fariz dari kamar Nenek Mutia yang terlihat hendak keluar kamar.


" Iya, Opa. Naufal tadi bangunin Mama." Azkia menyahuti.


" Sini Naufal dipangku sama Opa," Fariz berjalan ke arah sofa di ruang tamu meminta agar Azkia menyerahkan Naufal kepadanya.


" Naufal masih bau acem, Opa. Belum mandi soalnya." Azkia menciumi tubuh bayinya itu.


" Masa sih, bau asem? Sini nggak apa-apa dipangku Opa saja." Fariz tidak mempermasalahkan aroma pada tubuh Naufal.


Azkia lalu mendekati mertuanya dan menyerahkan Naufal kepada Kakek dari anaknya itu.


" Mana yang bau asem? Bau wangi begini masa dibilang bau asem cucu Opa yang Sholeh ini?" Fariz pun menciumi pipi dan badan Naufal yang menguarkan wangi khas bayi. " Raffa sekarang punya mainan baru, ya?" lanjut Fariz berkelakar.


Azkia hanya tersenyum menanggapi guyonan yang dilemparkan Papa mertuanya itu.


" Papa senang melihat perubahan sikap Raffa sekarang setelah menikah dengan kamu, Nak. Dan Papa berterima kasih karena kamu sudah mau menerima Raffa sebagai suami kamu." Perubahan pada sikap Raffasya dirasakan juga oleh Fariz walaupun dia jarang bertemu dengan putranya itu.


" Papa nggak perlu berterima kasih kepada Kia, Pa. Kak Raffa itu sebenarnya pribadi yang baik, dan Kia rasakan hal itu selama kami menikah. Mungkin selama ini Kak Raffa menutupi sikap asli Kak Raffa karena rasa kecewa karena perpisahan Papa dan Mama dulu." Azkia sengaja membahas soal perpisahan mertuanya.


Fariz menghela nafas panjang mendengar ucapan Azkia. Dia juga menyadari jika sikap keras kepala dan pembangkang putranya itu muncul karena Raffasya kecil seakan kehilangan kasih sayang dari dirinya dan Lusiana. Seharusnya diusia Raffasya kala itu, Raffasya mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang penuh dari orang tua.


" Perpisahan Papa dan Mama memang tidak bisa dihindari saat itu, dan ternyata berdampak buruk terhadap perkembangan diri Raffa." Ada nada penyesalan dari kalimat yang diucapkan oleh Fariz.


" Sebenarnya Kia berusaha mendekatkan Kak Raffa kembali dengan Mama, Pa. Bahkan Kia sudah meminta Mama untuk tinggal di sini bersama kami, tapi Mama menolak. Kia juga sebenarnya kasihan sama Mama, karena Kia merasa sebenarnya Mama itu merasa kesepian saat ini karena hidup sendiri." Azkia mulai membicarakan soal Lusiana kepada Fariz.


" Mana mungkin Lusi merasa kesepian, buat dia pekerjaan adalah sahabatnya. Selama dia masih giat bekerja, dia tidak akan merasa kesepian, karena pekerjaan adalah kebahagiaan untuknya."


Azkia melirik Fariz saat mengucapkan kata-kata bernada sindiran untuk mantan istrinya itu.


" Kebahagiaan yang Mama rasakan itu semu, Pa. Mama nggak mungkin selamanya bergelut dengan pekerjaannya. Semestinya di usia Mama yang sekarang ini, Mama bisa ditemani seorang pendamping hidup untuk melewati masa tuanya nanti. Kia pernah bertanya sama Mama, apa Mama nggak pernah kepikiran untuk menikah kembali setelah sekian lama berpisah dari Papa? Mama hanya menjawab ' sekarang Mama sudah tua, mana ada pria yang mau dengan Nenek-nenek seperti Mama?' Padahal menurut Kia, Mama itu masih sangat cantik di usia sekarang ini." Azkia mengatakan apa yang pernah dia dengar dari Lusiana, dan dia juga ingin tahu bagaimana respon Papa mertuanya tentang mantan istrinya itu.


" Itu sudah menjadi pilihan dia, tentu saja dia sudah memikirkan dampak ke depannnya akan seperti apa?" sahut Fariz datar. Mungkin rasa kecewanya pada mantan istrinya itu belum hilang karena sikap Lusiana dulu yang lebih mementingkan mengejar karir daripada keluarganya.


" Mungkin prinsip yang Mama ambil saat itu memang salah, tapi bukan berarti kita harus membiarkan Mama terus-terusan dengan pola pikir Mama yang seperti itu 'kan, Pa? Hmmm, Kia berencana mengenalkan Mama dengan Papa teman Kia. Papa teman Kia itu seorang duda, orangnya baik, menurut Papa gimana?" Azkia sengaja menyamarkan .rencananya dengan mengatakan ingin menjodohkan Lusiana dengan Papa temannya.


Fariz sontak menolehkan wajahnya ke arah Azkia, keningnya seketika berkerut.


" Kamu ingin menjodohkan Lusi dengan orang tua temanmu?" Fariz kemudian menarik satu sudut bibirnya ke atas. " Memangnya siapa pria yang akan tahan dengan sifat Mama mertuamu itu, Kia?" Fariz merasa pesimis, apa mungkin ada pria yang mampu mengimbangi sifat Lusiana.


" Daripada Mama terjebak dengan pria muda yang memanfaatkan Mama, itu lebih bahaya ' kan, Pa? Kia rasa lambat laun Mama akan merubah sifatnya itu, Pa." Azkia tetap optimis jika Lusiana akan berubah dan mulai mengurangi aktivitasnya dengan pekerjaan. Karena selama ini yang dia rasakan, Lusiana sudah bisa meluangkan waktu untuk menemani dia saat dia hamil, dan selalu meluangkan waktu sepulang kerja untuk bertemu dengan Naufal.


Fariz menghela nafas kembali lalu berucap, " Ya, semoga saja apa yang kamu harapkan itu benar, Nak."


Kini Azkia yang menghela nafas, sepertinya harapannya menyatukan kembali Papa dan Mama mertuanya tidak semudah yang dipikirkannya.


***


Raffasya membuka mata, pandangannya mengedar mencari keberadaan Azkia dan Naufal di sampingnya, namun tak dijumpai kedua orang itu di tempat tidurnya. Raffasya melihat jam dinding yang menunjukkan pukul lima pagi. Dia bergegas ke arah kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan kewajiban sholat Shubuh.


Selepas menjalankan sholat Shubuh Raffasya segera turun ke bawah untuk mencari keberadaan istri dan juga anaknya yang dia duga sudah lebih dahulu turun ke lantai bawah.


Raffasya melihat suara tawa Naufal dari ruang tamu. Dia melihat Papanya sedang menggoda Naufal yang sedang berada di pangkuan pria paruh baya itu. Mengajak Naufal bercanda hingga Naufal tertawa riang diajak bermain oleh Kakeknya.


Raffasya pun tersenyum bahagia seraya melangkahkan kakinya mendekat ke arah Papa dan anaknya yang sedang bercanda.


" Wah, pagi-pagi Naufal sudah diajak bercanda sama Opa, ya?" Raffasya lalu duduk di samping Papanya yang sedang menggendong Naufal.


" Anakmu ini senang Papa ajak bercanda, Raffa." sahut Fariz.


" Karena Naufal tahu yang sedang mengajaknya bermain Opanya ya, Nak?" Raffasya mengusap wajah Naufal.


" Apa kamu bahagia, Nak? Fariz bertanya walaupun sebenarnya dia tahu anaknya itu terlihat bahagia.


" Tentu saja Raffa bahagia, Pa. Kehadiran Naufal dan Mamanya adalah anugrah yang tak pernah terduga untuk Raffa, Pa." Raffasya mengatakan dengan jujur apa yang dirasakannya.


" Jagalah anakmu sebaik mungkin, Raffa. Papa harap kamu bisa membesarkan dan merawat Naufal dengan baik." Fariz memberikan nasehatnya.


" Tentu saja, Pa. Raffa nggak mau Naufal mengalami apa yang Raffa alami dulu. Raffa akan membesarkan dan memberi kasih sayang Raffa kepada Naufal dan adik-adik Naufal nantinya," janji Raffasya.


" Kamu ingin punya anak banyak, Raffa?"


" Iya, Pa. Orang tua Almayra 'kan anaknya banyak. Pasti akan ramai suasana di rumah ini jika banyak anak-anak berkumpul." Raffasya terkekeh membayangkan bagaimana ramainya rumahnya itu dengan suara teriakan, tawa dan tangisan anak-anak.


" Papa harap keinginanmu itu akan terkabul, Nak."


" Oh ya, bagaimana usahamu, Nak? Sudah sampai mana renovasi cafenya? Papa ingin lihat-lihat ke tempat usahamu itu, apa boleh?" tanya Fariz.


" Boleh saja, Pa. Nanti Papa ikut Raffa ke cafe. Raffa berangkat jam sembilan kok, Pa." Sudah pasti Raffasya memberikan ijin kepada Papanya yang ingin mengunjungi tempat usahanya. Dia pun ingin membuktikan kepada Papanya jika selama ini dia bisa menjadi pria mandiri dengan usaha yang dia geluti sejak remaja.


***


Azkia memutar kembali langkahnya yang ingin keluar dari dapur saat dia melihat suaminya berjalan ke arah dapur. Azkia pura-pura membuka pintu kulkas yang ada di dekatnya dan sengaja menutupi tubuhnya dengan pintu kulkas seolah dia sedang mencari sesuatu. Akibat perdebatan semalam, sepertinya rasa kesal Azkia kepada suaminya masih belum mereda, sehingga dia enggan bertegur sapa dengan suaminya itu.


Raffasya yang menyadari jika Azkia sengaja menghindarinya dan berdiri di depan kulkas langsung menarik sudut bibirnya ke atas. Dia bisa menduga jika istrinya itu masih merajuk akibat perdebatan mereka semalam.


Raffasya melangkah mendekati Azkia dan berdiri tepat di belakang istrinya itu.


" Mau sampai kapan kamu kuat berdiri kedinginan di depan kulkas hanya kerena ingin menghindariku, May?" bisik Raffasya dari arah belakang.


Azkia mendengus kasar sambil mencebikkan bibirnya. Dia kemudian menutup pintu kulkas dan berniat meninggalkan suaminya namun tangan berotot Raffasya lebih dahulu menahan langkah Azkia yang ingin menjauh dari pria itu.


" Mau ke mana, hmm? Diajak bicara sama suami malah mau ngeloyor pergi. Nggak sopan, tahu!" Raffasya menarik hidung Azkia hingga wanita itu semakin memberengut.


Raffasya terkekeh melihat sikap yang ditunjukkan istrinya itu.


" Mamanya Naufal kalau lagi ngambek tetap kelihatan cantik, sih. Tapi lebih cantik kalau tersenyum." Raffasya berusaha merayu Azkia agar tidak terus merajuk.


" Senyum dong, Mama. Senyum itu ibadah, kan? Apalagi senyum sama suami, pahalanya berlipat-lipat, lho." Raffasya bahkan kini menggoda Azkia.


" Lepaskan, Kak!" Azkia tak terpengaruh dengan rayuan yang dilancarkan suaminya. Dia kini mencoba melepaskan diri dari pelukan lengan Raffasya yang membelit pinggangnya.


" Kok ngambeknya masih berlanjut sih, May? Belum apa-apa saja rencana kamu itu sudah bikin rumah tangga kita memanas karena perdebatan. Kalau memanasnya di atas ranjang sih, aku nggak masalah." Raffasya masih sempat-sempatnya menyelipkan candaan yang mengarah ke aktivitas memenuhi kebutuhan biologis.


" Aku kesal sama Kak Raffa!" Dengan nada bercampur emosi Azkia mengeluarkan unek-uneknya.


" Kalau kamu kesal sama aku, kamu pukul aku saja, deh. Atau tinju mukaku juga nggak apa-apa, asal jangan ditendang juniorku lagi. Aku rela menerima KDRT dari kamu, tapi aku nggak rela kalau didiamkan kamu seperti ini, May."


" Cepat mau pukul yang mana? Pipi kanan? Pipi kiri? Hidung? Perut?" Raffasya justru menawarkan anggota tubuhnya untuk dijadikan pelampiasan kekesalan Azkia.


Azkia yang menganggap Raffasya justru meledeknya semakin kesal hingga dia mendorong tubuh Raffasya kencang hingga dia terlepas dari rengkuhan tangan Raffasya dan membuat dirinya bisa pergi meninggalkan suaminya itu.


Raffasya menggelengkan kepalanya mendapati sikap keras kepala istrinya itu. Dan dia pun kemudian mengikuti arah langkah Azkia yang berjalan meninggalkan dapur.


***


Raffasya memandangi Azkia yang sedang memakaikan baju ke tubuh Naufal sehabis mandi. Setelah memasuki usia satu bulan, Azkia kini sudah berani memandikan Naufal sendiri tanpa meminta bantuan Bi Neng lagi.


Raffasya kemudian menjatuhkan tubuhnya dengan posisi setengah berbaring di samping Naufal.


" Naufal, bantu bujuk Mama dong, Sayang. Mama Naufal lagi ngambek sama Papa, dari semalam nggak hilang-hilang." Raffasya sengaja mengajak bicara putranya yang belum mengerti apa-apa itu.


" Mama Naufal kalau lagi marah serem, deh. Papa takut kalau Mama Naufal marah begini." Raffasya tak memperdulikan wajah Azkia yang memberengut. Dia malah asyik menciumi pipi dan tubuh Naufal yang wangi khas bayi.


" Naufal bilang sama Mama Naufal, Mama marahnya jangan lama-lama, kasihan Papa, gitu! Papa sebentar lagi puasanya mau selesai, kasihan Papa nanti nggak bisa buka puasa kalau Mama Naufal ngambeknya berkelanjutan." Raffasya menyeringai sembari melirik ke arah Azkia yang sudah mendelik tajam mendengar perkataannya tadi.


" Tuh, lihat, Nak! Mama serem kalau mendelik. Papa takut lihatnya." Raffasya justru meledek Azkia melihat Azkia yang melotot ke arahnya.


Azkia yang sudah selesai memakaikan bedak bayi di wajah Naufal dan membaluri baby cologne berniat meninggalkan Naufal bersama suaminya karena dia tindak ingin terus mendengar ledekan suaminya itu.


Raffasya yang melihat Azkia ingin meninggalkannya langsung bangkit dan mengangkat tubuh istrinya itu kemudian meletakan tubuh Azkia ke atas tempat tidur.


" Apa-apaan sih, Kak??" Azkia merasa kesal karena ulah suaminya yang membawanya ke tempat tidur


" Sudah dong marahnya, May. Aku minta maaf kalau kata-kataku kemarin membuat kamu tersinggung dan kesal. Kita lupakan perdebatan kemarin, ya?" Raffasya membelai wajah cantik istrinya itu. " Aku dimaafin, kan?" Raffasya menatap bibir Azkia yang mengerucut, membuatnya tergoda untuk menyentuh bibir ranum Azkia hingga akhirnya dia mendekatkan bibirnya ke bibir Azkia dan memberikan sentuhan yang selalu bisa memabukkan bagi Azkia.


Raffasya yang begitu bersemangat menyentuh bibir Azkia membuat wanitanya itupun akhirnya terhanyut dalam buaian penuh has rat pasangan suami istri yang sama-sama merindukan sentuhan seutuhnya. Hingga suara decapan seakan menghangatkan suasana pagi hari ini di kamar Raffasya dengan ga irah yang meletup-letup di antara mereka berdua walaupun hanya bersentuhan bibir dan saling bertukar saliva.


" Eheeekk ... eheekk ...." Suara rengekan Naufal membuat kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu sama-sama terkesiap


Azkia segera mendorong tubuh Raffasya yang mengungkungnya saat mendengar suara rengekan Naufal karena terlalu asyik bermesraan, mereka berdua seolah tidak menyadari keberadaan anaknya itu di sampingnya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️