MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Bertemu Kembali



" Tadi Oca bilang dia bertemu dengan orang yang menolongnya di restoran tempat kita makan, Ma."


Saat Raffasya dan Azkia masuk ke dalam kamar setelah acara makan malam selesai, Raffasya menceritakan kepada istrinya tentang pertemuan Rosa dengan pria yang menolong Rosa beberapa waktu lalu saat adiknya itu terkena musibah.


" Oh ya? Papa ketemu sama orang yang menolong Oca?" tanya Azkia langsung menoleh ke arah Raffasya yang berjalan di belakangnya.


" Nggak, aku nggak tahu orangnya seperti apa. Tapi tadi waktu aku mau bayar bill makanan, aku lihat Oca berdiri seperti orang melamun. Waktu aku tanya, dia bilang tadi dia bertemu dengan orang yang pernah menolongnya bersama keluarganya. Jadi, Ma ... kamu jangan mikir macam-macam mau menjodohkan Oca dengan orang yang menolong adikku karena pria itu sudah beristri." Raffasya memperingatkan Azkia agar tidak berpikiran akan menjodohkan Rosa dengan pria penolongnya. Karena Raffasya masih menganggap jika keluarga yang dimaksud oleh Rosa adalah istri dari pria itu.


" Jadi cowok itu sudah punya istri, ya? Sayang banget kalau begitu ... bukan rezekinya Oca, dong!" sesal Azkia tertunduk.


" Apaan sih kamu, Ma? Lebay banget, deh!" Raffasya terkekeh melihat Azkia terlihat lemas saat dia memberitahu tentang pria yang menolong Rosa sudah berkeluarga.


" Pa, aku rasa Oca juga butuh seseorang teman cowok yang dekat dengannya. Yang bisa membuat dia merasa aman saat nggak berada di dekat kita." Azkia berpendapat.


" Seperti kamu dan mantan kekasihmu dulu, ya? Yang kerjaannya pacaran melulu ..." Raffasya mulai meledek Azkia.


" Daripada Papa nggak pernah pacaran, weekkk ..." Azkia menjulurkan lidahnya menyindir Raffasya.


" Nggak masalah nggak pernah pacaran juga, yang penting sekarang punya istri dan anak dan hidupku bahagia. Daripada mantan kekasih Mama, pacaran terus tapi nggak jadi nikah juga." Raffasya balas menyindir.


" Jangan gitu deh, Pa. Jangan meledek Kak Gibran! Kak Gibran seperti itu karena ulah siapa coba?" Azkia kini berkacak pinggang.


" Salah dia sendiri nggak bisa mendampingi dan menjaga kamu!" sambar Raffasya cepat.


" Sudah, ah! Jangan bahas masalah itu lagi! Aku kasihan sama Kak Gibran, Papa malah meledek," protes Azkia.


" Cieee, yang sewot mantannya diledekin ..." Raffasya terkekeh melihat Azkia yang tidak suka saat dia meledek soal Gibran.


Dua tahun ini Raffasya benar-benar merasakan nikmatnya kebahagiaan yang selama dia anggap mati. Mencari nafkah untuk membiayai keluarganya. Mengantar dan menjemput adiknya walaupun mereka tidak berasal dari rahim yang sama. Raffasya benar-benar merasakan nikmatnya menjadi seorang suami, Papa, anak dan juga kakak yang paling bahagia di dunia.


Lambat laun kepedihan masa kecilnya tergantikan dengan kebahagian yang semakin hari semakin bertambah. Dan Raffasya sangat bersyukur karena semua itu berawal dari sosok istrinya. Walaupun diawali oleh suatu peristiwa yang tidak berkenan di hati, dan perdebatan di awal pernikahan mereka, namun saat ini semua itu ibarat bumbu yang akhirnya menguatkan cinta mereka berdua.


***


" Pa, boleh Kia bicara?" Azkia mengetuk pintu kamar Nenek Mutia saat melihat Fariz sedang duduk di kursi kamar dengan laptop di atas meja.


Fariz menoleh ke arah Azkia, dia lalu berdiri dan menghampiri menantunya itu.


" Ada apa, Kia? Kamu mau bicara apa?" tanya Fariz kemudian.


" Kia mau bicara sama Papa mumpung Papanya Naufal nggak ada." Azkia memang berencana berbicara dengan Fariz selagi Raffasya sedang berada di cafenya.


" Kita bicara di ruangan keluarga saja." Fariz mengajak Azkia berbincang di ruang keluarga lantai bawah.


" Ada apa, Nak? Apa ada masalah dengan Raffa?" tanya Fariz penasaran saat mereka berdua sudah sama-sama duduk di sofa di ruang keluarga.


" Ini bukan soal suamiku kok, Pa. Tapi ini soal Mama Lusi," ujar Azkia menerangkan apa yang akan dia bahas.


" Soal Mama mertuamu? Ada apa dengan Mama mertuamu itu, Kia?" Fariz semakin penasaran.


" Jadi kapan rencana Papa dan Mama akan menikah kembali?" Azkia memang paling bersemangat dengan rencana bersatunya kedua mertuanya itu kembali.


" Papa masih menunggu keputusan Mama mertuamu kapan dia siap untuk kembali rujuk," jawab Fariz.


" Lantas Papa akan tetap bekerja dengan teman Papa? Apa Papa nggak berencana bekerja di kantor Mama, membantu atau mengantikan posisi Mama di kantor?" Azkia mencoba mengusulkan apa yang menurutnya baik untuk Fariz.


" Perusahaan itu milik Lusi, Papa nggak punya hak dengan perusahaan Mama mertuamu itu, Kia." Fariz menolak apa yang diusulkan Azkia untuk bekerja di perusahaan milik Lusiana, karena dia merasa tidak punya hak di perusahaan tersebut.


" Beberapa waktu lalu Mama pernah curhat ke Kia soal perasaan Mama terhadap Papa lho, Pa." ujar Azkia kemudian.


" Oh ya? Cerita apa?" Fariz benar-benar dibuat penasaran oleh Azkia.


" Mama pernah curhat sama Kia, kalau Mama itu sebenarnya merasa cemburu waktu mendapat kabar Papa Fariz menikah lagi. Mama beranggapan kalau cinta Papa ke Mama dulu itu palsu, karena menganggap Papa begitu cepat berpaling kepada wanita lain setelah bercerai dengan Mama." Azkia membuka rahasia Lusiana kepada Fariz.


Fariz nampak terkesiap mendengar rahasia yang diceritakan menantunya tentang mantan istrinya dulu.


" Lusi bicara seperti itu?" Seakan tak percaya pada pendengarannya Fariz kembali meminta Azkia memastikan jika apa yang dia dengar memang benar adanya.


" Iya, Pa. Kia juga kaget waktu Mama bilang seperti itu. Ternyata sebenarnya Mama itu mencintai Papa begitu dalam sampai Mama nggak bisa move on dari Papa. Tapi rasa egois dan ambisi Mama dalam mengejar karir membuat Mama seolah mengorbankan perasaan cinta Mama terhadap Papa," terang Azkia kembali.


" Beberapa hari lalu, Mama mertuamu itu menelepon Papa, lalu tiba-tiba dia marah dan menangis. Papa sendiri tidak mengerti kenapa Mama mertuamu itu menangis. Tapi memang Lusi sempat bilang kalau dia kesal dengan Papa. Apa ini yang menyebabkan di kesal dengan Papa?" Fariz mencoba menebak-nebak.


" Mungkin saja, Pa. Mama kesal karena Papa menikah lagi, sedangkan Mama masih memendam cinta terhadap Papa. Mama malah sempat menyuruh Kia membayangkan bagaimana rasanya jika menjadi Mama." Azkia menceritakan apa yang pernah dia bicarakan dengan Lusiana. " Masa Kia suruh membayangkan kalau Kia sama Papanya Naufal pisah? Kia nggak mau dong, apa!" protes Azkia.


" Tapi apapun itu, Kia senang Mama sekarang sudah berubah pikiran dan setuju untuk rujuk dengan Papa. Semoga di pernikahan Papa dan Mama yang kedua kalinya, rumah tangga Papa dan Mama lebih berkah dan bisa saling menerima satu sama lain. Dan Kia masih berharap Papa bisa membantu Mama di perusahaan Mama." Azkia masih saja berharap agar Fariz bisa bekerja bersama Lusiana.


" Itu bisa dipikirkan nanti saja, Kia. Kita melangkah satu persatu saja dulu, ya!?" Fariz meminta Azkia untuk bersabar untuk menggapai keinginannya.


" Iya, Pa." sahut Azkia.


" Mamaaa ..," suara Naufal terdengar memasuki ruangan tengah saat Azkia dan Fariz asyik mengobrol.


" Eh, anak Mama sudah bangun, ya?" Azkia melihat Naufal yang tengah digendong oleh Atun.


" Sudah, Ma. Naufal mau mamam sekarang." Atun menurunkan tubuh Naufal sehingga bocah itu berlari ke arah Azkia yang duduk bersama Fariz. " Atun mau siapkan makan untuk Naufal, Mbak." Atun Pamit ingin menyiapkan makanan untuk Naufal.


" Naufal bangun tidur, ya?" Fariz mengusap kepala Naufal membuat anak itu kini berpindah ke tempat Fariz.


" Apaaaa ..." Naufal meminta Fariz menggendongnya dan menunjuk ke teras samping rumah di mana kolam ikan berada di pekarangan samping rumah Raffasya.


" Naufal mau lihat ikan?" Fariz kemudian bangkit dan berjalan ke arah teras memenuhi keinginan cucunya yang ingin melihat ikan-ikan di kolam.


***


" Assalamualaikum, Bu Dzul ..." Gibran menyapa Ibu kantin di tempat dia kuliah dulu saat dia memasuki bangunan kantin kampus.


" Waalaikumsalam ... eh, Mas Gibran. Baru kelihatan lagi, nih!" Bi Dzul menepuk lengan kekar Gibran.


" Iya, Bu. Ada perlu sama Pak Zaenal ..." sahut Gibran kemudian dia memilih meja.


" Sudah bertemu dengan Pak Zaenal nya, Mas?" tanya Bu Dzul lagi.


" Sudah, Bu." jawab Gibran.


" Mas Gibran semakin ganteng saja sekarang." Bu Dzul memuji Gibran membuat Gibran tertawa kecil.


" Mas Gibran mau pesan apa?" tanya Bu Dzul.


" Saya pesan bakso sama es teh manis saja, Bu."


" Ya sudah, Ibu siapkan dulu pesannya ya, Mas." pamit Bu Dzul ingin menyiapkan pesanan Gibran.


***


Rosa mengeluarkan ponsel dari tasnya saat dia mendengar ponselnya itu berbunyi ketika dia keluar dari kelas setelah mengikuti mata kuliah terakhirnya siang ini.


Rosa mengerutkan keningnya saat melihat deretan angka di layar ponselnya yang tanpa nama. Namun Rosa ingat jika nomer itu adalah nomer Gibran yang pernah misscall ke nomer ponselnya.


" Assalamualaikum ..." sapa Rosa saat mengangkat penggilan telepon dari Gibran.


" Waalaikumsalam, halo Rosa. Kamu masih di kampus?" tanya Gibran dari seberang.


" Iya, Kak. Kenapa memangnya, Kak?" tanya Rosa heran.


" Saya juga ada di kampus kamu. Di kantin kampus Bu Dzul." Gibran memberitahukan posisinya saat ini kepada Rosa.


" Kak Gibran ada di sini?" Rosa terkejut saat mengetahui pria yang menolongnya itu ada di kampus tempat dia kuliah.


" Iya, saya tadi ada keperluan dengan dosen di sini. Kamu mau ke kantin, nggak?" Gibran menjelaskan kepada Rosa tentang alasan di berada di kampus tersebut.


" Sebentar, Kak. Nanti saya ke situ." Rosa berniat menemui Gibran di kantin Bu Dzul.


" Oke, saya tunggu di sini, ya! Assalamualaikum ..." Gibran mengakhiri panggilan teleponnya.


" Waalaikumsalam, Kak." Rosa kemudian memasukan kembali ponselnya ke dalam tas.


" Eh, aku duluan, ya!?" Rosa berpamitan kepada teman-temannya.


" Mau ke mana, Ca?" tanya Yanti, teman Rosa.


" Ada temanku yang menunggu," sahut Rosa berlari meninggalkan teman-temannya.


Sesampainya di kantin, Rosa mengedar pandangan mencari sosok Gibran yang dia cari. Dia lalu mendapati pria itu melambaikan tangan ke arahnya membuat Rosa tersenyum lalu berjalan menghampiri Gibran.


" Hai ..." sapa Gibran tersenyum ke arah Rosa.


" Hai, Kak." sapa balik Rosa. Dia tidak menyangka akan bertemu kembali pria baik hati yang pernah menolongnya.


" Kamu mau pesan apa?" tanya Gibran menawarkan makanan untuk Rosa.


" Nggak usah, Kak. Aku belum lapar." Rosa menolak tawaran Gibran.


" Kalau begitu minuman saja nggak apa-apa, kan?" Kali ini Gibran menawarkan minuman untuk Rosa.


" Boleh, deh. Saya pesan juice alpukat saja." Akhirnya karena tidak enak harus menolak, Rosa pun memesan juice alpukat.


" Bu, pesan juice alpukatnya satu, ya!?" Gibran berkata dengan sedikit berteriak kepada Bu Dzul.


" Kakak ada apa datang kemari?" tanya Rosa kemudian.


" Ada perlu sama Pak Zaenal. Kebetulan Pak Zaenal mau menitipkan surat lamaran pekerjaan ke kantor tempat saya bekerja," sahut Gibran. " Kamu pulang sama siapa nanti?" tanyanya kemudian.


" Saya dijemput kakak, Kak." jawab Rosa.


" Kakak kamu itu perhatian dan sayang sekali sama kamu, ya? Padahal kamu pernah bilang kalau kalian itu nggak satu ibu." Gibran ingat kalau Rosa pernah berkata jika dia dan kakaknya itu mempunyai ibu yang berbeda.


" Iya, Kak. Saya beruntung sekali punya Kakak laki-laki dan juga Kakak ipar yang baik, sayang dan perduli sama saya." Rosa memuji kakak dan kakak iparnya.


" Pasti mereka sangat posesif sama kamu termasuk kalau kamu pacaran." Gibran menebak jika Rosa belum mempunyai kekasih karena gadis itu selalu diantar jemput oleh kakak laki-lakinya.


" Hmmm, mungkin, Kak." Rosa tersipu malu saat Gibran menyinggung soal pacar.


" Pasti pacar kamu sering dimarahi dan nggak dipercayai sama Kakak kamu, makanya kamu jarang diantar dan dijemput dari kampus sama pacar kamu, kan?" Gibran memancing pengakuan Rosa soal teman laki-laki dengan pertanyaan yang terkesan sok tahu.


" Saya belum punya pacar, Kak." aku Rosa jujur.


" Oh ya?" Entah mengapa Gibran merasa senang mendengar pengakuan Rosa yang mengatakan jika gadis itu masih sendiri.


" Kenapa belum punya pacar? Padahal kamu cantik, lho!" Gibran bahkan berani memuji Rosa, suatu hal yang jarang dia lakukan kepada wanita kecuali kepada mantan kekasihnya dulu yang mungkin tidak Gibran duga adalah istri dari kakak laki-laki Rosa.


Wajah Rosa setika merona mendengar pujian yang dilontarkan Gibran kepadanya. Suatu hal yang sebenarnya sering dia dengar dari teman-teman pria yang ingin mendekatinya. Namun entah mengapa kali ini Rosa seperti merasa begitu tersanjung dipuji oleh Gibran.


" Masih mau fokus kuliah dulu, Kak." sahut Rosa tertunduk malu.


" Oh, jadi belum buka lowongan, ya?" tanya Gibran terkekeh


Rosa menaikan pandangan mendengar ucapan Gibran. " Lowongan apa, Kak?" tanyanya polos.


" Lowongan jadi cowok kamu lah." Gibran mengulum senyuman membuat semu merah muda langsung terlihat di wajah cantik Rosa.


" Mau menyelesaikan kuliah dulu, Kak." Rosa beralasan.


" Kalau setelah selesai kuliah lalu ada pria yang ingin melamar kamu apa kamu terima?"


" Nggak tahu, Kak. Saya belum memikirkan hal itu."


" Umur kamu berapa sekarang?" tanya Gibran.


" Dua puluh tahun, Kak."


" Sekarang saya dua puluh delapan. Nunggu kamu lulus kuliah umur saya hampir tiga puluh, lho! Lalu sampai umur berapa kamu akan menggantung saya kalau setelah kuliah kamu belum mau memikirkan menikah?" Entah kemasukan dewa apa tiba-tiba Gibran pandai merayu seperti itu.


Sontak apa yang dikatakan Gibran membuat wajah Rosa kembali bersemu. Dia tidak menduga jika Gibran akan meluncurkan rayuan maut seperti itu terhadapnya yang langsung membuatnya salah tingkah.


" Saya cuma bercanda, kok! Jangan dibawa serius, ya!?" Gibran tergelak melihat wajah Rosa yang sudah seperti kepiting rebus.


" Kak Gibran?"


Suara seseorang menyapa Gibran membuat pria itu menghentikan tawanya.


*


*


*


Bersambung ....


Happy Reading❤️